
-Tiga bulan kemudian-
Setelah pertemuan itu, Rama dan Gita tak pernah bertemu lagi. Gita sungguh merasa bersalah pada Rama. Gita menyuruh Rama pergi menjauh dan membuang semua rasa cintanya pada Gita, karena Gita akan hidup bahagia dengan Gilvan. Rama mengalah, ia tak bisa memaksa keinginan Gita. Rama hanya berharap, kalau mereka berjodoh, pasti akan bertemu kembali.
Rama hancur, ia memang terluka. Tetapi, kali ini karena Gita yang menyuruhnya pergi ia bisa menerimanya. Tak seperti dulu, ketika tak ada ucapan perpisahan dari Gita. Rama mencoba mengikhlaskan Gita, meskipun itu sangat sulit.
Rama melalui masa-masa sulit tanpa Gita. Ia belajar menerima kenyataan bahwa dirinya dan Gita tak bisa bersatu. Rama mencoba kuat ketika dihadapan kawan-kawannya, tapi ketika ia sendiri, ia tak kuasa menahan rasa rindunya pada Gita.
Gita pun demikian. Jika didepan Gilvan ia terlihat hangat dan penuh kasih sayang, tetapi ketika ia sedang sendiri, ia menangis mengingat betapa kejamnya ia terhadap Rama. Ia menyesal telah melakukan ini semua. Andai dulu Gita tak membuat keputusan sulit seperti ini, ia dan Rama pasti bisa bersatu dan hidup bahagia.
Berpura-pura itu memang sulit. Tetapi, jika harus larut dalam kesedihan pun hidup akan lebih berantakan. Hidup harus terus berlanjut, Rama semangat menjalani hari-harinya. Ia sangat mengerti kalau saat ini cintanya sedang terbang bermain-main, dan akan kembali ke sangkarnya ketika ia sudah bosan.
***
Kehamilan Gita sudah memasuki trimester dua, atau sudah menuju enam bulan. Gilvan tak mau memaksakan Gita bekerja, Gilvan tak tega dengan perut Gita yang semakin membesar.
"Sayang, lebih baik kamu tinggal dirumah saja, tak usah bekerja lagi! Kamu pasti lelah, kasihan bayi kita!" Ucap Gilvan
"Tapi, aku bosan dirumah! Aku ingin beraktifitas, Mas!" Gita sudah terbiasa menyebut Gilvan dengan sebutan Mas.
"Kamu kan bisa bermain ketempat Ibumu! Itu tak akan membosankan, bukan?" Ucap Gilvan
"Ibu sama Ayah kan sebentar lagi akan pulang ke Bandung! Nanti aku sendirian disini." Ucap Gita
"Kamu mau pulang juga?" Ucap Gilvan
"Emang boleh?" Tanya Gita
"Kenapa tidak?" Ucap Gilvan manis
"Kamu serius, Mas?" Ucap Gita
"Aku serius, kita pindah saja ke Indonesia. Sebentar lagi kamu akan melahirkan, kita harus dekat dengan saudara-saudara kita." Ucap Gilvan
"Pekerjaan kamu gimana?" Gita sedikit cemas
"Aku sudah punya cukup tabungan untuk kita, nanti aku akan mencari pekerjaan di Jakarta. Tapi, apa kau tak mengapa tinggal di Jakarta? Aku sudah punya rumah disana!" Tanya Gilvan
"Aku senang sekali mendengarnya, Mas! Terimakasih" Gita memeluk Gilvan
Gita sudah terbiasa dengan kehadiran Gilvan disisinya. Ia memang belum sepenuhnya mencintai Gilvan, tetapi Gita tetap mencoba untuk menganggapnya sebagai seorang suami.
Ibu dan Ayah Gita akan kembali ke Bandung. Karena kontrak ayah Gita selesai bulan ini. Betapa bahagianya Gita mendengar Gilvan juga mengizinkannya pulang. Gita sudah rindu dengan Indonesia, rindu orang-orangnya, dan juga rindu makanannya.
Rindu, kata yang sangat ingin ia ucapkan pada Rama, sang cinta pertama yang selalu melekat dihatinya. Rindu, satu kata yang sangat ingin ia ucapkan pada Rama, tanpa rindu hatinya akan hampa, Rindu yang sungguh menyiksa, menyesakkan jiwa.
***
Gita dan Gilvan mempersiapkan kepulangan mereka ke Indonesia. Ibu dan Ayahnya sudah pulang terlebih dahulu. Gita akan menyusul beberapa hari lagi, karena menyelesaikan proses pemutusan hubungan kerja dengan perusahaan tempat mereka bekerja.
Setelah persiapan selesai Gita segera mengabari kawan-kawannya yang ada di Bandung, dengan penuh antusias. Untungnya, Gilvan tak pernah sedikitpun melarang atau marah padanya. Apapun yang Gita sukai dan inginkan, ia pasti menyetujuinya.
***
Kini, Gita sudah berada di Jakarta. Dia sangat bahagia bisa menginjakan kakinya lagi di tanah air tercintanya. Gita tinggal dirumah Gilvan, rumahnya tak terlalu luas tetapi tetap nyaman. Gilvan membuat rumahnya menjadi sangat nyaman, agar Gita betah tinggal disini.
__ADS_1
Sudah hampir seminggu Gita berada di rumah Gilvan. Perutnya sudah mulai buncit, ia tak bisa pergi kemana-mana, untuk sekedar membeli sayur kedepan saja dia sudah mulai sering lelah. Tetapi, aktifitasnya di Jakarta benar-benar membosankan. Rasanya, Gita ingin menemui Ibu dan Ayahnya. Ia ingin pergi ke Bandung. Ia ingin bertemu kawan-kawannya.
"Mas?" Panggil Gita
"Kenapa sayang?" Jawab Gilvan yang sedang menyemprot tanamannya
"Aku rindu Ibu dan Ayahku, aku juga rindu teman-temanku!" Ucap Gita menunduk
"Kau ingin pergi menemui mereka?" Tanya Gilvan lembut
"Iyaaaaaa!" Gita menganggukkan kepalanya
"Baiklah, kita pergi besok. Siapkan bajumu, kau boleh menginap di sana selama kau mau." Ucap Gilvan sambil mengusap lembut rambut Gita
"Terimakasih, Mas. Kau memang suami yang baik." Ucap Gita
Gilvan memang tak pernah menolak semua kemauan Gita. Bahkan, jika Gita memintanya pergi, Gilvan pasti akan pergi. Jika Gita memilih Rama, ia dengan senang hati melepaskannya agar Gita bahagia. Tetapi, ternyata Gita malah memilihnya dan meninggalkan Rama.
Gilvan meminjam mobil pribadi milik orangtuanya. Ia tak mau membawa Gita yang sedang hamil dengan motornya, ia takut terjadi apa-apa pada janin yang sedang dikandung Gita.
"Ini gak apa-apa mobil Mama dipakai, Mas?" Tanya Gita
"Tidak apa-apa. Dia malah menyuruhku untuk membawa mobil. Apa kita membeli mobil saja nanti?" Tanya Gilvan
"Jangan dulu, kita masih banyak keperluan yang lain. Sebelum kamu dapat kerjaan, kita harus berhemat." Ucap Gita
"Kau memang istri yang baik" Ucap Gilvan
Perjalanan ke Bandung memakan waktu tiga jam. Gita telah sampai dirumah orangtuanya. Gita sangat bahagia sekali bisa berkumpul dirumah ini lagi dengan formasi keluarga yang lengkap. Ibunya pun senang mendengar kehamilan Gita, Ia tak menyangka kalau Gita hamil diluar nikah, karena semuanya telah di manipulasi oleh Gilvan, kandungan Gita ditulis baru jalan lima bulan, agar orangtuanya percaya.
"Sayang, besok kita harus pergi kerumah sakit!" Ucap Gilvan
"Ayo pergi ke dokter kandungan, kita melakukan USG untuk bayi kecil ini" Gilvan mengelus perut buncit Gita
"Tapi, aku tidak ada keluhan apa-apa kok!" Ucap Gita
"Tidak harus ada keluhan. USG itu penting untuk perkembangan janin. Apakah posisinya sudah benar, apakah berat badannya seimbang dengan usianya, apakah ada tali ari-ari yang melilit ditubuhnya, itu semua penting sayang!" Gilvan menjelaskan
"Kamu kok bisa tahu sih!" Ucap Gita
"Ini alasan aku ada disini. Aku membantumu, aku menjadi solusi atas permasalahan mu kan? Kalau dulu aku tak mengajakmu menikah, apa kau akan se-perhatian itu pada bayimu?" Tanya Gilvan
"Maafkan aku!" Gita menunduk
"Sudah, ayo kita tidur!" Ucap Gilvan
"Aku ingin minta maaf lagi!" Ucap Gita
"Kenapa lagi?" Tanya Gilvan lembut
"Aku belum bisa memenuhi kewajiban ku sebagai istrimu. Aku belum siap, sungguh maafkan aku!" Ucap Gita
"Aku mengerti. Sudah, kau tak perlu memikirkan itu. Pikirkan saja bayimu, jangan pikirkan aku. Aku tak mengapa." Ucap Gilvan
Gita tersenyum. Gilvan tak menuntutnya harus menjadi istri sebagaimana mestinya. Entah kenapa, Gita seperti trauma dengan hal seperti itu. Ia tak ingin melakukannya. Gilvan tak pernah memaksa, dia memang pria baik hati yang turun dari langit.
__ADS_1
Keesokan harinya, Gita dan Gilvan pergi kerumah sakit Theresia. Itu adalah Rumah Sakit terbesar di Bandung. Tempatnya, tidak jauh dari perusahaan Rama. Ketika di perjalanan, Gita melewati perusahaan Rama, Gita melihat disekelilingnya, banyak kenangan yang hinggap dihatinya. Dia melihat gerbang depan perusahaan, ia ingat ketika Rama memaksanya mengajak Gita pulang bersama Hatinya seperti ditusuk-tusuk duribyang tajam.
Sesampainya di dokter kandungan, Gita menunggu sampai dokter tiba. Untungnya, hari itu tak banyak pasien yang kontrol ke dokter kandungan.
Tak lama, Gita diperiksa dan segera di USG. Tak banyak memakan waktu lama, bayi Gita sangat sehat, berat badannya sesuai dengan usianya, tetapi detak jantungnya sangat cepat, seperti ia sedang gugup atau khawatir.
Antrian menunggu obat sangat lama, karena disatukan dengan pasien lain. Gita sangat kesal, dan merasa bosan. Gita memutuskan untuk pergi ke taman rumah sakit, dan Gilvan menunggu antrian obat.
Gita berjalan menikmati pemandangan sekitar Rumah Sakit, udaranya sangat segar. Ia melihat banyak kupu-kupu yang hinggap pada bunga yang telah bermekaran. Ada satu kupu-kupu yang membuat Gita tertarik, kupu-kupu itu berwarna pink dan keemasan, warna yang sangat unik. Gita ingin menggapainya, berjalan menuju kemana kupu-kupu itu pergi. Ia sulit untuk didapatkan, hingga suatu ketika kupu-kupu itu hinggap pada bunga disebelah seorang lelaki yang sedang duduk ditaman.
Lelaki itu sedang duduk sendiri, dan kupu-kupu itu mendekatinya. Gita pun mendekat, tetapi kenapa makin dekat ia melangkah menuju kupu-kupu yang berada di punggung lelaki itu, Gita seperti mengenali tubuh tersebut. Gita seperti melihat Rama dari belakang, tapi itu tak mungkin, pikirnya.
Gita penasaran, ia tetap mendekat kearah lelaki itu karena ingin segera menangkap kupu-kupu yang telah diinginkannya sejak tadi. Gita memegang pundak lelaki itu. Tetapi, kupu-kupunya tak tertangkap.
"Eh, maaf! Maaf sekali." Ucap Gita
Lelaki itu menoleh, dan betapa kagetnya mereka berdua.
"Kak Rama?" Ucap Gita melongo
"Gita?" Ucap Rama kaget
Gita mendekat kearah Rama,
"Kak Rama apa kabar? Lama tak bertemu." Gita sangat bahagia
"Aku baik-baik saja. Kamu sudah pulang ternyata!" Ucap Rama tanpa ekspresi
Kenapa dia biasa saja melihatku? Kenapa tak seperti dulu ia sangat sangat merindukanku? Kenapa sekarang dia seperti tak perduli padaku. Aku sakit, hatiku sangat sakit. Apakah dia telah menemukan pengganti diriku? -Gita dalam hati-
"Aku merindukan kak Rama!" Ucap Gita berani
"Bayiku sudah besar ternyata." Rama tak menganggap perkataan Gita
"Aku habis USG hari ini." Ucap Gita sedikit sedih
"Bagaimana keadaannya?" Rama bertanya dengan tatapan biasa saja
"Dia sehat, hanya saja tadi detak jantungnya berdetak sangat cepat, seperti ia sedang khawatir." Ucap Gita
"Itu karena ia akan bertemu ayahnya!" Ucap Rama tajam
"Eh, benarkah begitu?" Gita kikuk
"Tolong jaga bayiku, suatu saat nanti aku akan mengambilnya. Jangan berkata tidak! Aku pun berhak atas hak asuh anak ini." Rama berdiri akan pergi meninggalkan Gita
"Kak Rama kenapa begini? Kenapa kau berubah?" Gita mulai menitikkan air mata
"Kau yang memintaku, aku menuruti keinginanmu. Hanya, aku akan mengambil bayiku ketika ia sudah lahir. Untungnya aku bertemu bayiku disini. Urusanku denganmu hanya sampai disitu saja. Karena kau telah mengucapkan kata perpisahan untuk kita." Rama dengan tatapan dingin
"Kak, kumohon jangan berkata seperti itu. Hatiku sakit!" Ucap Gita
"Sudah, kau kembali sana! Suamimu sudah menunggumu! Aku pergi" Rama pergi meninggalkan Gita
Tanpa Gita sadari, Gilvan sedang melihat mereka. Rama menyadari kehadiran Gilvan, ia memutuskan pergi. Berbohong itu menyakitkan, berpura-pura tegar itu sungguh perih, membohongi hati yang ingin mengutarakan hasrat rasa rindu yang terpendam selama ini, sungguh membuatnya terpuruk.
__ADS_1
Rama mencoba menerima kenyataan. Mencoba tegar menghadapi semua ini, meskipun ia harus berpura-pura tak peduli pada Gita, sesungguhnya dalam hatinya ia sangat ingin memeluk Gita, mengatakan kerinduan yang selama ini ia pendam, sungguh hanya Gita yang ada didalam hidupnya. Tetapi, ego mengalahkan semuanya. Ia terpaksa bersikap tak peduli terhadap Gita, hanya peduli terhadap bayi yang dikandungnya.
*Bersambung*