I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 100.


__ADS_3

Sementara itu, Sean yang sudah kembali ke hotel pun duduk di ranjang kasurnya dengan wajah yang jelek.


Sean sudah bersama Silva sedari siang dan menemui beberapa direktur olahraga dari beberapa tim yang tertarik untuk merekrutnya.


Di pertemuan pertemuan itu, ada 2 klub asal Premier League namun mereka menawarkan bahwa Sean hanya akan bermain di akademi saja.


Itu karena aturan yang di sebut sebagai home grown player.


Sean tidak bisa di sebut home grown player meski dia sudah menghabiskan 3 tahun di Eropa.


Itu karena Sean menghabiskan 3 tahunnya di akademi Portugal dan bukan Inggris. Jadi jika Sean ingin bermain di Inggris, Sean tentunya harus memulai dari awal lagi.


Dimana Sean harus berada di akademi atau tim U 23 dari tim liga Inggris tersebut selama 3 tahun.


Dengan umurnya yang sekarang genap 18 tahun, jika Sean menghabiskan 3 tahun di akademi atau tim U 23, tentu nya Sean bisa menjadi home grown player dari tim tersebut.


Karena Sean sudah bermain di liga Inggris selama 3 tahun tepatnya sebelum usia nya lebih dari 21 tahun.


Dengan alasan begitu, Sean tentu perlu memikirkannya, apakah ini yang dia inginkan atau bagaimana.


Dia juga bingung.


Dia ingin sekali bermain di liga Inggris atau lima liga utama Eropa.


Tapi aturan aturan di sana sangat ketat.


Terkecuali jika nantinya Sean terus bermain di liga Portugal dan menjadi andalan dari sebuah tim, lalu dirinya di beli oleh tim dari lima liga utama, Sean tak perlu memikirkan lagi alasan alasan seperti home grown player atau apapun.


Sean bisa langsung bermain karena nantinya tim yang membeli Sean akan meminta surat izin kerja untuk Sean sebagai pemain Uni Eropa di timnya.


Kenapa tidak sekarang di saat Sean umur 18? Itu karena kebanyakan tim sulit mempercayakan kuota asing atau kuota pemain Uni Eropa pada pemain muda.


Maka dari itu alasan alasan dari klub asal Inggris yang berniat merekrut Sean hari ini semuanya beralasan yang sama.


Sean juga bingung dengan semua ini.


Sean juga tak menyangka bahwa tidak hanya dari klub Inggris saja, tapi memang benar benar ada banyak.


Dan itu hampir mencakup beberapa tim dari lima liga utama, tapi karena alasan yang sama, Sean perlu memikirkannya.


Di kamar hotelnya, dimana kamar hotel yang Sean pakai tinggal adalah hotel di Paris.


Sean dan Silva sudah pindah hotel.

__ADS_1


Sean mengambil ponselnya dari saku jaketnya dan melakukan panggilan pada ibunya yang ada di Indonesia.


"Halo bu." Ucap Sean setelah panggilannya di jawab oleh ibunya.


"Ada apa? Tumben." Sahut ibunya.


Ibunya sudah di beri kabar oleh Sean bahwa Sean tidak pulang bersama tim nya karena harus mengurus karir selanjutnya.


Ibunya juga mendoakan agar Sean bisa memilih yang terbaik bagi karirnya dan tidak terburu buru.


"Tidak apa Bu, hanya resah dan bingung saja."


"Oh, ayo ceritakan pada ibu." Ungkap Ibunya meminta Sean bercerita.


Sean juga tak malu dan langsung menceritakan setiap kejadian yang di lalui nya hari ini saat bertemu dengan beberapa direktur olahraga dari tim tim yang tertarik untuk mengontraknya.


Dengan panjang lebar Sean bercerita, namun ibunya juga tak memotong cerita Sean, dia terus mendengarkan dengan tenang.


Ayah Sean juga ada di sisi ibunya dan mendengarkan cerita Sean.


Setelah Sean bercerita, suasana juga hening.


"Apa yang paling kamu inginkan?" Tanya ayah Sean.


Sean tentu saja kaget dengan suara ayahnya itu. Dia tidak tahu bahwa ayahnya akan ikut mendengarkan ceritanya saat ini.


"Itu kamu sudah tahu, jadi tak perlu bingung lagi." Ungkap ayahnya.


"Apa maksud ayah?" Tanya Sean semakin bingung.


"Kamu bilang kamu hanya ingin bermain di setiap pertandingan, apakah pertandingan pertandingan di tim akademi atau U 23 adalah masalah?" Tanya ayahnya.


"Iya masalah."


"Apa masalahnya?" Tanya ayahnya.


"Masalahnya adalah hanya akan sedikit perkembangan bagiku nanti. Yang paling ku butuhkan adalah pertandingan pertandingan profesional yang membuat diriku semakin berkembang dan melampaui batas." Ucap Sean.


"Terus apa yang membuat mu bingung sekarang? Bukannya sudah jelas jika seperti itu, kamu hanya bisa memilih di Portugal saja." Ucap ayah Sean.


"Apakah ada tim tim di Portugal yang tertarik padamu?" Tanya ayahnya langsung.


"Ada." Jawab Sean.

__ADS_1


"Terus kenapa masih bingung?"


Sean diam saja dan tak menjawab perkataan ayah nya itu.


"Sekarang mending pikirkan dulu olehmu jangan gegabah membuat keputusan." Ungkap Ibunya dengan lembut.


"Baik Bu."


"Kalau begitu sudahi, di sana sudah malam kan, mending sekarang tidur dulu saja." Ucap Ibunya.


Sean menutup panggilan dengan ibunya, lalu menyimpan ponsel di pinggir nya.


Dia memejamkan matanya dan mencoba memfokuskan apa yang paling di inginkan oleh hatinya, dan mencoba membayangkan menggunakan pikirannya tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan.


Dengan cukup lama Sean seperti itu, dia akhirnya membuka matanya itu.


Kemudian dia mengambil ponselnya dan menelpon Silva untuk berbicara beberapa hal.


Sementara itu, di Indonesia.


Tempat keluarga Sean tinggal, ibunya dan ayahnya Sean sudah mengetahui tentang klub klub yang tertarik pada Sean.


Mereka menanyakannya pada Silva setelah menutup panggilan tadi bersama Sean.


"Jadi bagaimana menurutmu?" Tanya Ibunya Sean pada ayahnya Sean.


Karena menurutnya, ayahnya Sean tahu lebih baik mana yang harus di pilih agar karir Sean semakin maju dan berkembang.


Dari penjelasan Silva barusan, klub klub yang tertarik juga menawarkan beberapa kondisi seperti menit bermain untuk Sean dan fasilitas fasilitas yang di dapatkan Sean nantinya.


Ayahnya Sean juga sedang berpikir, dia merasakan apa yang dirasakan Sean saat ini.


"Apakah menurutmu anakku akan menerimanya jika aku menawarkan untuk pergi ke tim sana?" Tanya ayah Sean pada ibunya Sean.


Ibunya Sean yang di tanya juga diam, dia tidak tahu apakah anaknya akan menerima keputusan suaminya atau tidak.


Tapi dia juga ingin suaminya membantu agar anaknya tidak salah dalam mengambil keputusan.


Silva juga tidak terburu buru sebagai agen karena dia sudah berjanji pada Sean bahwa dia akan melakukan yang terbaik untuk menaikan dan mengembangkan karir Sean.


Silva tentunya juga sedang berpikir mana yang lebih baik bagi Sean. Dia juga perlu memikirkannya dan nanti harus berbicara lagi dengan Sean apakah keputusan yang di buatnya akan di terima oleh Sean atau tidak.


Jika keputusan Silva baik bagi Sean, belum tentu Sean mau karena di setiap hubungan agen dan pemain akan ada masalah seperti ini.

__ADS_1


Meski Sean sudah mempercayai Silva, Silva tidak gegabah karena dia tidak mau karir pemainnya juga rusak di tangannya sendiri.


Jadi dia harus memikirkan bagaimana perasaan pemain nya sendiri supaya tidak terlalu terlihat bahwa dirinya sangat mementingkan dirinya sendiri sampai lupa apa yang di rasakan pemainnya.


__ADS_2