
7 Juni 2018, dimana 1 hari setelah laga semi final antara Indonesia melawan Meksiko di gelar.
Sean dan rekan rekannya sedang berlatih di lapangan yang sudah biasa di pakai tempat berlatih semenjak mereka datang ke sini.
Pelatihan ini masih dalam intensitas rendah karena habis bertanding kemarin dan besok akan menjadi intensitas sedang meski keesokannya harus bertanding.
Tapi latihan yang di lakukan nya akan pagi hari sehingga para pemain bisa beristirahat dengan tenang untuk menjelang pertandingan final keesokan harinya.
Dalam pelatihan kali ini, hanya ada latihan taktik dan latihan teknik saja, tidak ada latihan fisik karena stamina nya akan sangat terkuras.
Ini di lakukan karena jadwal yang padat kemarin kemarin dan takut para pemain akan cedera jika latihan fisik setelah selesai pertandingan.
Meski intensitas rendah, tapi siapa yang tahu dengan yang terjadi di depan nanti, besok juga jika latihan fisik dengan intensitas sedang, pelatih hanya akan melakukannya dalam tahap minimum saja sehingga para pemain juga tidak kelelahan dan otot ototnya tidak tegang.
"Lari ke kiri, jangan ke kanan." Teriak pelatih Indra Sjafri saat melihat Egy salah berlari setelah memberikan operan.
"Witan kamu tetap diam di tempat, jangan bergerak."
"Kamu hanya akan jadi pemantul saja kali ini."
"Ayo biasakan."
"Sean beri lagi!" Teriak pelatih.
Sean pun kemudian memberikan operan pada Egy lagi kemudian dia lari lurus ke depan seakan bergerak mencari ruang.
Egy yang menerima bola segera melakukan operan langsung pada Witan yang di tengah, Rafli yang berada sejajar dengan Witan juga berlari ke arah tempat Egy tadi untuk mengisi ruang kosong itu.
Witan yang menerima operan dari Egy itu menyodorkan bola lagi ke arah kanannya dimana itu merupakan wilayah tembak Egy.
Egy yang tadi sudah memberikan operan pada Witan juga berlari ke kiri, dimana itu adalah kanannya Witan.
Saat Egy akan menembak, Irianto selaku pemain bertahan menutup ruangnya.
"Jangan tembak, gunakan matamu bagian sisimu untuk melihat sekitar dengan cepat!" Teriak pelatih.
Egy yang mendengar itu juga teringat Sean yang tadi berlari di sisi kirinya namun Sean sudah lebih maju sedikit di banding Egy.
Egy kemudian memberikan passing pada Sean.
Setelah Egy memberikan operan itu, Witan berlari ke kotak penalti, sedangkan Egy mengisi tempat Witan barusan.
Sean yang menerima bola itu langsung melakukan umpan silang ke dalam kotak penalti.
__ADS_1
Namun karena ketinggian, Witan tak mampu menyundulnya dengan baik, tapi untung saja ada Rafli di sebelah kanan muncul dari tempat Egy tadi.
Dia yang masuk ke dalam kotak penalti itu langsung melakukan tendangan setengah voli.
Rafli tidak mengontrol bolanya terlebih dulu, karena menurutnya posisi bola nya pas karena sedang turun.
Saat Rafli sudah melakukan tembakan, pelatih Indra yang melihat ini tersenyum dan mengangguk.
Itu menandakan bahwa skema nya memang berjalan asalkan harus terus di asah.
Tendangan setengah voli Rafli itu sayangnya tidak masuk hanya berada tepat di sisi kanan tiang gawang.
Namun Rafli senang karena dia mendapatkan momentum yang pas tadi, dia merasakan sensasi yang membara.
Dimana darahnya mendidih dan ingin melakukan hal seperti itu lagi.
Rafli kemudian mengacungkan jempol pada Sean di sisi kiri, menandakan operannya bagus.
Sean kemudian tersenyum.
"Ayo ulangi."
"Coba Rafli yang di posisi Witan, Egy yang memberikan operan pada Sean sekarang." Teriak pelatih meminta agar aksi tadi di ulangi namun dalam keadaan yang berbeda, dimana Egy yang harus memberikan operan pertama pada Sean dan nanti Sean melanjutkannya pada Rafli.
Rafli menyodorkan bola pada Sean, lalu Sean memberikan operan pada Egy lagi di sisi kanan, setelah itu Egy akan melakukan crossing pada Witan yang mengisi ruang Sean tadi.
Sedangkan pelatihan untuk gelandang, mereka melakukan kucing kucingan bersama pemain yang lainnya.
Ini di gunakan agar melatih akurasi operan gelandang dalam tempo yang cepat karena situasi yang tertekan.
Untuk penjaga gawang jelas berbeda, mereka di latih oleh pelatih penjaga gawang, mereka akan di beri pelajaran dengan tendangan tendangan keras dari jarak dekat untuk melatih refleks mereka.
Saat pukul 6 sore, pelatihan juga di hentikan karena waktu untuk latihan sudah selesai.
Para pemain kemudian bersalin di atas rumput lapangan karena tak ada ruang ganti.
Setelah selesai bersalin, para pemain kembali ke busnya untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Di dalam bus, Sean memejamkan matanya dengan kondisi punggung yang tersandar pada bantalan jok.
Sean tak mendengarkan musik karena ia tak membawa ponselnya.
Memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya, Sean juga mendengar ******* nafas rekan rekannya yang lumayan kelelahan akibat latihan barusan.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, bus juga sampai di hotel, Sean dan para pemain juga turun dan langsung menuju kamarnya untuk mandi.
Suhu di tubuh mereka juga sudah turun karena AC yang ada dalam bus dan juga waktu yang di gunakan dalam perjalanan sudah cukup untuk membuat suhu tubuh turun.
Sean dan Firza sudah sepakat bahwa yang mandi terlebih dulu adalah Sean.
Sean yang memasuki kamarnya langsung menyimpan tasnya dan membawa handuk lalu beberapa baju dari tas lainnya.
Berjalan ke kamar mandi, Sean membuka seragam latihannya.
Kemudian mulai mandi.
Sekitar 15 menit lebih, Sean keluar dari kamar mandi tanda dia sudah selesai dengan mandinya dan dia juga sudah berpakaian santai.
Menggunakan kaos pendek polos dengan celana pendek bermotif garis garis, meski garis garis itu bukan sembarang garis garis.
Celana pendek ini, Sean beli ketika dia di Portugal. Dia membelinya dari sebuah mal dan brandnya juga sangat terkenal.
Ia nama brandnya tak lain adalah Burberry's.
Sean duduk di ranjang kasurnya dengan kaki yang terentang di lantai.
"Tuh udah kosong!" Ucap Sean pada Firza yang sedang melakukan video call bersama kekasihnya.
Itulah kebiasaan Firza, sebelum dan sesudah latihan sudah di pastikan akan berkomunikasi dengan kekasihnya.
Meski waktunya berbeda, kekasihnya selalu ada dan selalu mengangkat panggilan Firza.
Sean juga bingung dengan hubungan Firza dan kekasihnya itu.
Dia tak menyangka sampai segitunya jika harus berhubungan dengan sang kekasih.
'Ribet.' Pikir Sean.
"Oke tunggu." Ucap Firza.
"Yaudah, sini ponselmu! Biar aku yang mengobrol sama pacarmu itu." Ucap Sean bercanda.
Firza yang mendengar ini melihat ke arah Sean dengan wajah curiga.
"Kenapa? Tak mau? Gak bakal di rebut, santai."
"Kamu tahu aku kan?" Ungkap Sean bercanda.
__ADS_1
Firza mendengar itu buru buru meminta izin pada pacarnya untuk mandi lalu mematikan panggilan dan berlari ke kamar mandi dengan segera untuk membersihkan tubuhnya.
Sean yang melihat ini hanya menggelengkan kepalanya saja.