I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 102.


__ADS_3

Terlihat bahwa di cafe itu masih ada Sean yang masih diam.


Sean diam karena kejadian yang barusan terjadi benar benar di luar dugaannya.


Mungkin bisa di bilang bahwa itu semua hanya mimpi, namun sekarang ini benar benar terjadi.


Setelah sadar, Sean juga langsung mengirimkan pesan pada Silva.


Memberitahu bahwa ada seorang yang mendatanginya dan Silva tidak perlu lagi melakukan obrolan obrolan dengan direktur olahraga dari tim tim lain.


Sean benar benar sudah memutuskan saat itu juga, dia tidak ragu lagi.


Sean sengaja mengirimkan pesan karena tidak mau mengganggu Silva.


Selesai mengirim pesan, Sean kemudian menghabiskan jus nya yang masih tersisa dan kemudian bangkit dari duduknya.


Dia berjalan dan meninggalkan cafe tersebut.


...


Di sebuah parkiran, terdapat mobil mewah yang terparkir.


Namun di samping mobil mewah itu terdapat 1 orang yang sedang berdiri di depan mobilnya.


Seperti sengaja menjaga mobil itu.


Tak lama, salah satu pintu mobil terbuka dan munculah seorang pria berjas.


Dia membawa tas yang di gandeng di tangannya.


Keluar dari mobil itu, pria berjas itu langsung pergi ke arah pintu keluar.


Di perjalanan menuju pintu ke luar, pria itu membuka ponselnya. Dia sudah merasakan bahwa ada pesan masuk tadi, tapi dia tidak membukanya karena masih mengobrol.


Setelah membuka pesan masuk tersebut, pria berjas yang tidak lain adalah Silva itu, mematung.


Silva yang awalnya membuka dan membaca pesan masuk di ponselnya sambil berjalan juga tiba tiba berhenti setelah membaca isi pesan tersebut.


'Apakah nyata?'


'Heii.'


Silva langsung melakukan panggilan pada Sean karena merasa Sean pasti berkhayal.


Tak lama panggilan pun terhubung.


"Ada apa?" Tanya Sean.


"Itu tentang pesan yang kau kirim, apakah nyata?"


"Nyata."


"Sungguh?" Tanya Silva.


"Iya."


"Jadi kamu sudah memutuskannya?" Tanya Silva.

__ADS_1


Dia menanyakan ini karena di isi pesan tersebut, Sean benar benar ingin pergi ke sana.


Silva ragu apakah Sean terpaksa atau apa.


"Sudah, itu pilihannya."


"Apakah masalah?" Tanya Sean langsung.


"Tidak, tidak masalah. Hanya saja apakah kamu benar benar sudah memutuskannya?" Tanya Silva lagi.


"Iyaa."


"Mari bicara setelah aku pulang." Ucap Silva.


"Baik."


Dengan itu panggilan juga di akhiri, Silva segera berjalan mendekati sebuah mall dekat tempat parkiran tadi, namun dia tidak memasuki mall tersebut, dia berbelok dan masuk ke dalam mobil.


Mobil yang Silva gunakan tadi dia simpan atau parkir sengaja jauh dari tempat pertemuan.


Ia tak mau ada yang melihatnya, meski masih agen kecil, tapi ada beberapa media yang sering terlihat, dimana mereka mencoba mencari tau tentang Sean yang kini sedang ramai di perbincangkan publik.


Namun itu hanya sesaat, karena tak lama berita Sean naik, berita piala dunia muncul.


Dan yang terjadi, berita Sean pun tertutup.


Silva mengendari mobilnya menuju hotel tempat ia tinggal, dimana itu adalah hotel yang sama dengan Sean hanya berbeda kamar saja.


Sementara itu, di sebuah mobil yang terlihat sederhana, ada seorang pria dengan stelan biasa saja.


Orang itu adalah orang yang berbicara dengan Sean tadi di cafe.


"Lanjut ke pertemuan itu pak?" Tanya supirnya.


"Iya langsung." Sahut pria yang duduk di belakang.


"Meski Mbappe sangat bagus dan benar benar sesuai rencana ku, tapi biaya pembelian dia terlalu mahal, dan mana mungkin PSG melepasnya."


"Para petinggi juga berkata bahwa mereka ingin Mbappe datang, tapi modal yang di berikan hanya sedikit."


"Sudahlah, dengan anak itu yang ku ambil, rencana masa depan klub tentang ganti regenerasi akan di mulai."


"Ku harap dia tidak mengecewakan." Ungkapnya sambil tersenyum.


"Pasti media akan kaget ketika tahu bahwa anak itu datang ke tim." Ucapnya dengan sedikit tawa.


Dia sudah membayangkan bagaimana reaksi negatif dari banyaknya media atau fans yang tak mungkin akan percaya pada pembeliannya kali ini.


Namun dirinya tak akan gentar, karena dia melakukan ini untuk rencana masa depannya, dimana 2 - 3 tahun, klub akan di regenerasi oleh yang muda.


Supir yang menyetir mobil juga mendengarkan dan hanya diam saja, dia terbiasa dengan sikap tuannya itu.


...


Malam harinya,


Silva dan Sean sedang mengobrol di kamar Sean.

__ADS_1


Keduanya duduk berhadapan dengan sebuah meja yang di atasnya ada sebuah alkohol ringan milik Silva.


Sean sudah melarangnya untuk tidak minum di depannya, namun Silva menghiraukannya.


Silva pernah bilang bahwa ini hanya penghangat saja. Memang benar, Silva juga jarang sekali melakukan ini, jadi Sean membiarkannya.


"Seperti nya dia sedang merencanakan untuk masa depan klub."


"Dia sendiri datang kesini, dia juga berbicara dengan mu langsung."


"Melihat sikap yang dia tunjukan ini, ini benar benar tulus." Ungkap Silva.


"Jadi apakah kamu sudah benar benar tak akan memiliki penyesalan nantinya?" Tanya Silva.


"Tidak, sudahlah Silva. Jangan tanya aku dengan pertanyaan seperti itu." Ucap Sean.


"Aku sangat ingin sekali bermain di bawah asuhannya."


"Apalagi tim yang dia bela adalah tim yang sudah ku favoritkan sebelum aku berangkat ke Eropa."


"Jadi sampai di sini mungkin kamu paham? Bahwa ini benar sejalan dengan cita citaku."


"Aku juga tak menyangka ini terjadi begitu cepat padaku." Ucap Sean.


"Beruntunglah kamu, tapi ingat, kamu harus kerja keras dan tetap konsisten."


"Jadi ketika nanti 3 tahun ke depan kamu bisa langsung bermain di tim utama tanpa harus di pinjamkan terlebih dulu." Ucap Silva.


"Aku mengerti."


Sean dengan tekad yang kuat telah memutuskan kemana dia selanjutnya.


Dia tak masalah mengulang kembali semuanya dari akademi atau tim U 23, asalkan masa depan nantinya terjamin.


Sean belum berbicara dengan orang tuanya mengenai masalah hari ini, dia tidak akan memberitahu orang tuanya untuk saat sini.


Bukan karena apa apa, tapi dia ingin memberikan surprise untuk orang tuanya. Karena klub yang akan Sean tuju sekarang adalah klub yang di favoritkan ayahnya Sean juga.


Sean bisa memfavoritkan klub ini karena ayahnya selalu berkata tentang klub ini, Sean juga lama kelamaan menjadi jatuh cinta dan mulai memfavoritkan nya.


Duduk berhadapan dengan Silva, Sean terus mengobrol ke sana kemari bersama Silva.


Topik yang mereka bicarakan juga tak tentu, namun mereka terus saja mengobrol, mereka juga tak bosan.


Sean sengaja juga karena sambil menunggu waktu tidurnya.


Saat jam menunjukan pukul 21.03, Silva berdiri dan membawa alkohol ringan di mejanya Sean itu.


"Sekarang kamu tidur, besok kita harus bersiap dengan rapi." Ucap Silva.


Sean mengerti dan mengangguk.


Silva keluar dari kamar Sean, Sean yang di tinggalkan sendiri di kamarnya kemudian menaiki ranjang kasurnya dan menarik selimut.


Namun sebelum tidur, dia melamun sebentar.


Tak tahu apa yang di lamunkan Sean, namun dari ekspresi yang ada di wajahnya, sepertinya itu adalah hal yang sangat indah.

__ADS_1


__ADS_2