
Pertandingan antara Arouca dan Real yang di gelar di Estadio Municipal Arouca sudah memasuki babak ke 2, namun skor masih berimbang 0 0.
Arouca mempunyai banyak peluang untuk mencetak gol, tapi dari semua peluang yang di ciptakan dari tembakan ataupun sundulan tidak ada yang menjadi sebuah gol.
Kadang penjaga gawang lawan akan menyelamatkan setiap tembakan atau sundulan dengan mudah.
Kadang juga tendangan atau sundulan yang di lakukan oleh para pemain Arouca melenceng dari gawang.
Babak ke 2 menit ke 76, Sean masih duduk di bangku cadangan, ia tidak tahu kenapa pelatih Jorge Costa belum menurunkannya.
Setiap beberapa saat, pelatih Jorge Costa pasti memberikan perintah pemanasan pada pemain cadangan, tapi selama ini belum ada pergantian juga.
Sean dan pemain cadangan lainnya tetap melakukan pemanasan sesuai perintah meski belum ada perintah untuk melakukan pergantian.
Pada menit 81, pelatih Jorge Costa memanggil Alves untuk menggantikan Valente.
Sean hanya tetap tidak menggantikan pemain lainnya.
Setelah memasukan Alves, permainan memang banyak berubah.
Meski memang dari awal Arouca sudah menekan dan menguasai bola dengan adanya Valente, tapi berbeda dengan adanya Alves yang hampir mempunyai kemampuan seperti Valente tapi dia juga memiliki kemampuan seperti Santos.
Serangan menjadi lebih cair, umpan umpan pun semakin akurat dan lebih lancar.
Sean tetap menonton, sampai menit ke 89, pelatih belum juga menurunkannya. Sean hanya bisa diam di bench dengan yang lainnya sambil menonton.
Setelah menit 90, bersamaan dengan staff official yang memberikan tanda tambahan waktu 4 menit, pelatih memanggil Palocevic yang merupakan seorang gelandang lagi.
Palocevic kemudian masuk menggantikan Ericson.
Ericson yang datang ke bench datang dan duduk di samping Sean.
"Kenapa pelatih tidak memainkanmu?" Tanya Ericson.
"Tak tahu."
"Aneh, padahal kita masih imbang dan belum mencetak 1 gol tapi pelatih masih belum menurunkanmu. Apakah pelatih berniat amal poin pada tim Real?" Pikir Ericson.
Valente yang ada di sebelah Sean dan Ericson juga mendengar pembicaraan keduanya.
"Mungkin, tapi apakah kamu mempunyai masalah dengan pelatih baru baru ini? Ini aneh sekali."
"Mana mungkin aku membuat masalah, mungkin yang terbaik bagi pelatih adalah aku tidak main." Sean tetap tenang, tapi kakinya sudah panas dan ingin bermain.
Setelah beberapa menit, pertandingan pun usai dan berakhir dengan skor imbang.
Real berhasil membawa pulang 1 poin dari tim Arouca di home Arouca.
Arouca juga meski imbang tapi tetap tak bergeser dari puncak klasemennya.
__ADS_1
Setelah semuanya kembali ke ruang ganti, pelatih tidak marah ataupun kecewa saat pertandingan berakhir imbang.
Namun semua ini menjadi pertanyaan bagi para pemain, pasalnya mereka sedang berada di puncak, dan setiap pertandingan sangat penting tapi pelatih seakan akan bahwa pertandingan ini tidak berarti apapun.
Setelah beberapa saat, para pemain juga pulang ke tempat masing masing setelah turun dari bus.
Sean juga kembali ke asramanya, namun dalam kepalanya banyak sekali pikiran. Ia bertanya tanya apakah dia menyinggung pelatih baru baru ini atau tidak.
Ia juga bingung kenapa tidak di mainkan yang membuat tim meraih imbang.
Sesampainya di asrama, Sean pun duduk di ranjang kasur dan merenungkan dan mencoba mengingat kejadian kejadian beberapa hari yang lalu.
Setelah beberapa saat, "Tidak ada, aku tidak menyinggung apapun."
"Ini aneh, tau ah."
Sean pun merebahkan tubuhnya di kasur sambil memikirkan masa depannya.
..
Keesokan harinya, setelah selesai latihan bersama Arouca dan latihan tambahan yang merupakan rutinan Sean, Sean kembali ke asramanya.
Dia menemukan bahwa di asramanya, Silva sudah menunggu di luar pintu.
Sean pun mendatanginya, "Kenapa kamu tidak bilang kamu akan datang?" Tanya Sean.
"Aku kemari karena ada hal penting."
"Hal penting apa?" Tanya Sean sembari membuka pintu asrama yang ia kunci.
Setelah keduanya memasuki asrama Sean, keduanya langsung duduk di tempat yang biasanya mereka sering duduk.
"Jadi ada apa?"
"Aku mendengar kabar dari orang dalam di Boavista, sepertinya mereka tidak bisa memainkanmu di tim Boavista untuk musim depan." Ungkap Silva yang sudah mengetahui kabar dari beberapa temannya.
"Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Apakah kamu menyinggung pelatih Boavista?"
"Pelatih Boavista sepertinya tidak menyukaimu." Ungkap Silva.
Sean tertegun mendengar ini, kenapa bersamaan dengan pelatih Arouca, ada apa ini.
"Kenapa bisa bersamaan dengan pelatih Jorge Costa yang mendiamkanku selama latihan hari ini, bahkan kemarin aku tidak di turunkan bermain."
Silva yang mendengar penjelasan Sean juga bingung dengan kejadian yang hampir sama ini.
"Apakah kamu menyinggung pelatih Arouca juga?"
__ADS_1
"Mana ada, aku latihan seperti biasanya, tanya saja pada senior dan rekan lainnya di tim." Ungkap Sean.
'Ini kenapa ya?' Pikir Silva.
Silva juga berpikir sebentar.
"Baiklah, kabar yang ku terima dari beberapa orang Boavista itu ketua sedang memikirkan keputusan pelatih utama yang tidak bisa memainkanmu di tim utama untuk musim depan."
"Aku juga tahu bahwa kamu mungkin tak mau lagi di pinjamkan ke tim lain, karena aku pikir juga kamu sudah mempunyai kekuatan dan kemampuan bermain di Primeira Liga."
"Jadi untuk kedepannya bermainlah sebaik mungkin dan tambahkan catatan statistikmu, aku akan berusaha mencari klub lain untukmu dari pada di pinjamkan lagi." Ungkap Silva.
Sean juga yang mendengarnya sedikit lega, namun dia masih memiliki banyak pikiran dalam kepalanya.
Semua ini seperti bersangkutan menurut Sean.
Sebelum Silva pergi, keduanya mengobrol lebih banyak sebentar.
Setelah Silva pergi, Sean sendirian lagi di asramanya.
Dia merebahkan tubuhnya di ranjang kasur dan memikirkan semua kejadian yang menimpa dirinya baru baru ini.
"Awalnya semua terasa mudah, aku naik dengan cepat, berkembang dengan cepat, sekarang masalah menimpa, sekarang giliran apakah aku mampu melewatinya atau tidak."
"Perkembanganmu juga ada di dalam masalah ini, jangan terlalu terbebani dengan masalah yang ada."
"Yang harus ku lakukan adalah berlatih dengan rajin, bermain dengan usaha keras agar di setiap pertandingan memberikan yang terbaik."
"Biarkan semua ini menjadi ujianku untuk berkembang lebih jauh lagi."
"Ayo semangat Sean."
Sean terus menyemangati dirinya sendiri, meski masalah yang ia hadapi sekarang terlihat sangat rumit dan berat.
Dia juga tidak akan memberitahu orang tuanya, ia akan berusaha menyelesaikan ini bersama Silva.
Silva yang menyelesaikan urusan masalah di luar lapangan dan mencari berita nya, Sean hanya perlu membuktikan di lapangan dengan setiap permainan apiknya.
Tak terasa, setelah banyak berpikir, Sean juga lelah, dia tertidur di ranjang kasurnya tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dulu.
Saat bangun di sore hari, Sean juga kaget bahwa dirinya tertidur tiba tiba.
"Aku ketiduran, aku terlalu lelah."
Sean berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam asramanya untuk mandi.
Setelah beberapa saat, Sean juga sudah selesai membersihkan tubuhnya, ia kemudian melakukan ibadah menurut agamanya.
Dia juga tak lupa berdoa memohon bantuan, meminta segala urusannya di berikan jalan dan di permudah, ia juga berdoa agar di kuatkan dalam menghadapai semuanya sendirian.
__ADS_1