
27 Desember 2017,
Hari ini harusnya menjadi hari yang paling membahagiakan bagi Sean karena dirinya berulang tahun yang ke 18 tahun.
Apalagi ini juga pertandingan terakhir di musim pertama, setelah itu Liga Pro akan istirahat selama 2 pekan.
Namun, Sean sedikit tidak nyaman karena dirinya tidak turun bermain lagi di pertandingan ini.
Pelatih membiarkannya duduk di bangku cadangan lagi. Sean sekarang sedang duduk di bench pemain karena tidak di mainkan.
Pertandingan ini merupakan pertandingan antara Arouca yang bertamu ke tim Gil Vicente.
Pemainan di lapangan hijau juga sudah memasuki menit ke 37, namun skor yang ada di pertandingan ini adalah Gil Vicente unggul 1 gol dari Arouca.
Gol itu terjadi di menit menit awal pertandingan di mulai, Arouca kecolongan dan kehilangan fokus saat itu.
Selama 30 menit lebih, Arouca berusaha menyamakan kedudukan, namun masih belum bisa mencetak gol 1 pun walaupun peluang sudah banyak di miliki.
Entah itu dari Beto, Lopes, Kuca, Santos dan Ericson yang melakukan tendangan di luar kotak penalti.
Sean memperhatikan pertandingan dengan tenang sambil tersenyum, meski begitu ia merasa tidak nyaman karena hari ini tidak bermain lagi.
Selama beberapa hari ke belakang, pelatih Jorge Costa hanya membiarkannya dan tidak seperti biasanya.
Sean hanya bisa pasrah dengan sikap pelatih itu.
Waktu terus berlanjut, pertandingan di lapangan hijau juga sudah menuju ke additional time, kini Arouca sedang melakukan serangan.
Kuca sedang menggiring bola di sisi lapangan sebelah kiri, tempat biasa Sean bermain.
Kuca terus menggiring melewati 1 dan 2 pemain, saat sudah memasuki kotak penalti, Kuca tidak melakukan operan pada Beto atau Lopes, melainkan melakukan tembakan sendiri.
Dengan keegoisan Kuca yang menembak sendiri di ruang yang sedikit tidak mungkin, bola pun hanya tertendang dengan pelan dan mudah di selamatkan oleh penjaga gawang tim Gil Vicente.
Penjaga gawang segera melakukan tendangan ke depan, dan saat bola melambung, peluit wasit berbunyi tanda berakhirnya babak pertama.
Para pemain kembali ke ruang ganti sedangkan Sean memasuki lapangan seperti biasa.
Di ruang ganti,
Para pemain memiliki wajah yang tidak puas karena mereka tertinggal 1 gol dan selama babak pertama menyerang terus tapi tidak ada 1 gol pun.
Assisten pelatih yang sudah mengamati semua ini berbisik pada pelatih Jorge Costa.
__ADS_1
"Kenapa tidak mainkan Sean saja?"
Pelatih Jorge Costa melirik asisten pelatihnya, "Belum saatnya, dia sekarang sedang naik naiknya, aku sengaja mengabaikan dia supaya dia mengerti kesulitan dan kepahitan hidup di lingkungan sepak bola."
"Aku juga tahu bahwa dia sedang resah sekarang, tapi aku sengaja supaya dia bisa berkembang lebih baik lagi ke depannya."
"Aku tak mau melihat pemain seperti dia hancur oleh media dan pemain pemain yang tak bertanggung jawab." Ungkap pelatih Jorge Costa pelan pada assisten pelatihnya.
Jadi alasan pelatih Jorge Costa tidak memainkan Sean karena sekarang nama Sean sedang booming boomingnya di antara pelatih, agen dan juga tim scouting.
Pelatih Jorge Costa tidak mau Sean terlalu terlena dengan semua perhatian ini, dia sengaja tidak memainkannya untuk menurunkan ritme tentang Sean di luaran sana supaya Sean bisa lebih tenang lagi.
Pelatih Jorge Costa juga mengetahui bahwa Sean juga sekarang sudah masuk ke dalam daftar 50 pemain muda berbakat, dan dia juga berada di posisi ke 4.
Dengan banyaknya pujian dari luar, pelatih Jorge Costa takut Sean akan terbuai dan hilang kendali sehingga membuat karirnya hancur.
"Apakah tidak mungkin sama sekali menurunkan dia?" Tanya pelatih asisten pelatih lagi khawatir.
"Tidak perlu, kita bisa mencetak gol di babak ke 2 nanti."
"Kita juga harus membiasakan tanpanya, karena dia juga hanya pemain pinjaman."
Setelah beberapa obrolan singkat pelatih mulai memberikan instruksi pada pemain yang sudah menunggu lama selesainya obrolan kedua pelatih mereka.
Beberapa menit kemudian, waktu istirahat juga habis dan pertandingan harus segera di mulai.
..
Malam harinya, setelah pulang dari pertandingan dengan Gil Vicente, Sean mendapatkan kejutan dari Silva yang memberikan hadiah untuk ulang tahunnya ke 18.
Silva memberikan hadiah sepatu bola pada Sean, dimana sepatu itu adalah sepatu yang di lihat Sean di toko olahraga, Sean juga memberitahu pada Silva tentang sepatu itu.
Saat Sean senang dengan hadiahnya, Sean bertanya pada Silva uang dari mana namun Silva menjawab bahwa itu uang dari gaji Sean dan Silva hanya menambahnya sedikit.
Untuk membeli sepatu itu, memang tidak menghabiskan banyak dari gaji Sean tapi lumayan cukup banyak.
Tak mempermasalahkan masalah keuangan, Sean kembali ke topik yang Silva datang dan memberikan kejutan. Sean tahu bahwa Silva datang tidak hanya untuk memberikan hadiah.
"Jadi ada apa?"
"Kamu tidak mainkan lagi di pertandingan hari ini, setelag ku pikir lebih dalam aku mungkin mengerti maksud pelatih." Ungkap Silva.
Sean terdiam, Silva pun melanjutkan dan menjelaskan kepada Sean sama dengan apa yang di ucapkan oleh pelatih Jorge Costa di ruang ganti tadi.
__ADS_1
Sean juga diam, dia tidak menyangka pelatih berpikir panjang dan sangat mempedulikannya, untung saja dia tidak berprasangka buruk pada pelatih Jorge Costa.
"Meski tim seri lagi, setidaknya kamu sudah mengetahui alasannya jadi jangan terlalu terpuruk."
"Baik terima kasih."
"Jadi apakah kamu akan pulang ke Indonesia?" Tanya Silva.
"Tidak."
"Aku akan pulang nanti setelah liga selesai."
"Aku akan berlatih di sini."
"Kabari orang tuamu dulu, aku menanyakan ini lagi karena aku mengerti bagaimana perasaan orang tua dan keluargamu yang jauh disana, mereka sangat mengkhawatirkanmu."
"Aku mengerti."
"Jadi ada apa lagi?"
"Ada beberapa petinggi dari klub klub yang mencari ku dan menanyakan tentangmu." Ungkap Silva sambil tersenyum.
"Terus bagaimana?"
"Mereka menanyakan detail tentangmu, aku menjawab semuanya. Mereka juga senang, mereka hanya ingin melihat bagaimana kamu berkembang lagi di musim ke 2 nanti. Jadi untuk urusan klub kamu tidak usah khawatir." Ungkap Silva.
"Baiklah, terima kasih."
"Jadi bekerja keraslah."
"Okee, baiklah aku pulang."
Dengan itu, Silva pun pulang meninggal Sean sendirian.
Sean di asramanya membuka ponselnya dan membuka instagramnya, dia melihat banyak notifikasi pesan yang memberikan tag pada story instagram mereka.
Sean melihat bahwa orang orang ini mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Sean memilih beberapa untuk memposting ulang cerita mereka di ceritanya.
Sean juga melihat bahwa ada akun media sepak bola asal Indonesia yang mengucapkan selamat ulang tahun. Dia juga merepostnya.
Sean melihat akun media sepak bola itu dan akun sepak bola ini sudah membahas tentang dirinya.
Sean tidak tahu dari mana mereka mendapatkan beritanya, apalagi ada satu postingan yang memposting Sean ketika di sekolah dan membandingkannya dengan photo dirinya sekarang sedang berseragam Arouca.
__ADS_1
"Sepertinya semakin banyak yang tahu tentangku, ini juga tanggung jawab yang besar bagiku sebagai pemain asal Indonesia yang bermain di Eropa."
"Aku tidak tahu berapa banyak pemuda Indonesia di Eropa, tapi mungkin juga ada banyak yang sepertiku. Semoga saja mereka juga bangkit dan bisa mengharumkan nama Indonesia." Ungkapnya.