
2 hari kemudian, tepatnya tanggal 31 Desember di sore hari, Sean sudah mendarat dengan selamat di Indonesia.
Saat ini dirinya sedang dalam perjalanan menuju rumahnya bersama keluarga yang menjemputnya.
Mereka juga berbincang bincang di dalam mobil.
"Jadi kamu hanya sekitar 1 mingguan di sini?" Tanya ibunya.
"Iya Bu, memangnya kenapa?"
"Biasanya kamu memilih untuk tetap di sana, tapi sekarang sepertinya ada sesuatu." Ucap ibunya sambil tersenyum, dia sudah tahu tentang Sean.
"Iya Bu, teman teman juga pulang jadi dari pada bosan di rumah sendiri mending pulang aja lumayan 1 Minggu."
"Sambil nemenin si ini nih." Ucap Sean sambil mencubit pipi adiknya itu.
"Sakit kakak." Ucap nya lucu.
Sean tidak mendengarnya dan tetap saja memainkan pipi adiknya itu.
"Ibu, lihat, kakaknya dia tidak mau berhenti." Ucap Salma.
Sean akhirnya berhenti setelah ibu meliriknya.
Di dalam mobil, adiknya Sean yaitu Salma saat ini sedang fokus dengan boneka yang di beli oleh Sean.
Dia juga mengeluarkan banyak jaket jaket yang di beli oleh kakaknya itu dan mencobanya di dalam mobil.
Dia bertingkah imut dan menanyakan pada Sean, "Apakah ini bagus? Ini lucu? Aku imut kan pakai yang ini?" Ucapnya centil, Sean melihat ini hanya tersenyum bahagia saja.
Dia bisa membahagiakan keluarganya melalui kerja kerasnya ini dan tidak sulit untuk membelikan apapun, meski adiknya jarang meminta tapi Sean akan turuti jika adiknya mau apapun.
Sean juga berencana menyekolahkan adiknya ke sekolah yang bagus supaya terjamin kualitas pembelajarannya tapi itu juga harus di seleksi dulu karena sekolah sekolah juga bagus hanya saja ada saja yang cara mengajarnya masih kurang berkualitas.
"Bu, Salma sekarang kelas 8 kan?" Tanya Sean.
"Iya, ada apa?"
"Rencana Salma mau sekolah SMA dimana?" Tanya Sean.
"Masih jauh, masih ada 1 tahun lagi." Sahut ayahnya yang sedang menyetir.
"Jangan begitu yah, seharusnya kita cari sekarang, lihat dulu kualitasnya yang bagus dan cara mengajarnya juga yang bagus dan efektif bagi muridnya."
"Tapi tetap, kalau bisa Salma jangan bersekolah di sekolah sekolah Elite, supaya Salma juga tidak jadi wanita yang aneh nantinya." Ucap Sean.
"Aneh bagaimana?" Tanya ibunya bingung.
"Ibu, kebanyakan di sekolah seperti itu, nanti kebanyakan gaul dan di sana juga bukan sembarangan orang kan?"
"Apa yang akan terjadi sama Salma nantinya jika dia terbawa arus?" Tanya Sean.
"Sekolah biasa saja, asalkan kualitasnya bagus dan cara mengajarnya juga bagus."
"Kalo bisa, ibu segera mencari dan menyeleksi mereka." Ucap Sean memberikan saran.
Sean berani begini karena nantinya biaya sekolah Salma juga akan Sean yang mengurus, tentunya dia ingin yang terbaik untuk adiknya itu.
__ADS_1
"Kamu pintar padahal kamu ga melanjutkan sekolah." Ucap ibunya sinis.
Sean langsung diam, tak lama dia membalas perkataan ibunya.
"Bu, jangan gitu. Lihat sekarang kan? Aku berhasil dan tidak mengecewakan kalian, aku juga akhirnya bisa membantu kalian, ini merupakan bakti ku pada kalian." Ucap Sean.
Ibu dan Ayah Sean mendengar ini merasakan hangat di hatinya, mereka tidak merasa tersakiti dengan ucapan Sean yang seperti ini, justru mereka bangga karena pemikiran dan pola pikir Sean sudah berkembang seperti layaknya orang dewasa.
"Kamu terlalu banyak bergaul dengan bapak bapak jadi begini." Ucap ayahnya.
"Bapak bapak siapa?" Tanya Sean bingung dan belum sadar.
"Itu bos mu, staf mu, pemain lainnya yang sudah memiliki anak." Ucap ayahnya sambil tersenyum.
Sean akhirnya tersadar dan hanya tertawa, "Itu sudah wajar kan, karena sering mengobrol juga jadi pandangan ku sedikit lebih terbuka dari sebelumnya."
"Iya itu bagus, itu merupakan pengalaman bagimu, ambil yang baiknya saja, jangan di contoh yang buruknya." Ucap ayahnya.
"Aku mengerti ayah."
Mereka kemudian mengobrol sambil mobil yang mereka kendarai terus melaju menuju rumah Sean.
Kedatangan Sean ke Indonesia saat ini, bukan hanya untuk berlibur saja, tapi juga untuk melakukan pemotretan dengan brand dari Indonesia yang ingin mensponsorinya.
Mereka ingin menggunakan nama Sean, supaya produk mereka juga semakin terlihat dan di pandang lagi lebih luas, apalagi Sean berada di luar negeri ini memungkinkan produk mereka untuk bisa terus berkembang dan berkesempatan untuk meluas ke luar negeri seperti brand dari perusahaan Sean, Arunika yang kini sudah benar benar ada di luar negeri.
Meski belum setenar dan sepopuler brand brand lain, tapi itu sepertinya layak untuk di banggakan karena ini merupakan perusahaan baru.
"Ibu belum masak, kamu mau makan apa?" Tanya ibunya saat melihat jalan kerumahnya sudah sangat dekat.
"Terserah ibu saja, aku sudah lama, jadi semuanya juga enak." Jawab Sean.
Sean mendengar ini terkejut dan menoleh pada adiknya, "Tumben, kenapa?"
"Pengen aja." Jawabnya.
"Yasudah nanti ya, kakak usahain beresin dulu kerjaan kakak baru kita ke pantai." Jawab Sean.
"Oke janji."
"Iyaa janji."
Sean kemudian memikirkan jadwalnya berada di Indonesia.
Besok dia mungkin bebas dan dia harus menandatangani kontrak dari brand itu, Silva juga sudah menandatangani nya melalui tanda tangan elektronik sehingga deal deal saja.
Tinggal Sean saja yang belum, Sean belum karena dia ingin sekalian untuk langsung melakukan pemotretan nya supaya mempersingkat waktu dan dia punya banyak waktu luang nantinya.
"Ayah, besok aku pinjam mobil." Ucap Sean.
"Mau kemana?" Tanya ayahnya yang sudah turun dari mobil karena sudah sampai di rumah.
"Tanda tangan kontrak dengan KK-ABIM." ucap Sean.
"Oh, bagus. Itu merupakan produk minuman lama jadi terpercaya." Ucap ayahnya.
"Di bayar berapa?"
__ADS_1
"Di atas Nike." Jawab Sean.
Mendengar ini, ayah Sean langsung tertegun.
"Berarti lebih dari 1 milyar lagi?"
"Iya." Jawab Sean sambil mengangguk.
"Berapa spesifiknya?" Ucap ibunya penasaran.
"2,5 Milliar per tahun karena mereka bukan produk global jadi harganya sedikit tinggi, itu di negosiasikan Silva." Ucap Sean.
"Bagus, agen mu sangat cakap." Ucap ayahnya tersenyum.
"Tapi kamu harus ingat, tanggung jawab mu juga besar jika menjadi Brand Ambassador seperti itu."
"Aku tahu ayah, mereka juga kemungkinan ingin lebih memperluas lagi dan memanfaatkan aku yang di Eropa." Ucap Sean.
"Iya, jadi usahakan minumnya di rumah mu saja dan upload saja di sosial media mu, karena kalau ketika bersama tim kan ada asupan khusus dari tim." Ucap ayah nya.
"Aku mengerti ayah."
"Baiklah, besok mobil boleh kamu pakai." Ucap ayahnya sambil melemparkan kunci.
Sean menangkapnya dan langsung memutar kunci mobil di jarinya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Saat baru saja masuk ke dalam rumah, ponsel Sean berbunyi.
Sean mengangkatnya, "Ada apa?"
"Ada apa ada apa, kamu tidak mengabari ku kalau sudah sampai di Indonesia." Ucapnya.
"Kamu tahu dari mana?"
"Ibumu memberitahuku." Ucapnya.
Sean langsung melirik ibunya yang sedang tersenyum sendiri.
"Oh gitu, jadi ada apa?"
"Kamu kapan bebas?" Tanya Callista.
"Besok aja antar aku!" Ucap Sean singkat.
"Antar kemana?"
"Ikut aja." Jawab Sean singkat.
Kemudian Sean mengobrol sambil masuk ke dalam kamarnya lalu menyimpan tas yang dia bawa di bawah ranjang kasurnya.
"Kamu dimana?"
"Di lokasi."
"Bukannya ga ada kerjaan?" Tanya Sean bingung.
"Iya sedang mengantar teman SMA ku dulu, dia ingin menjadi seperti aktris sepertiku, jadi dia sedang melakukan casting untuk sebuah peran, aku mengantarnya, siapa tahu sutradara memberikan wajah padaku dan memberikan peran pada temanku."
__ADS_1
"Ngarep." Kemudian Sean terus mengobrol selama beberapa menit.