
Pukul 3 sore di tanggal 5 Januari, Sean yang sedang asyik mengobrol dengan ayahnya mendapat panggilan dari teman temannya.
"Ada apa?"
"Mau ikut ga?"
"Kemana?"
"Camp."
Sean mendengar ini sangat tertarik, dia belum pernah melakukan ini, tapi waktu yang tersisa juga sangat sedikit dan tak mungkin untuk melakukannya.
"Ga bisa, aku bentar lagi juga pulang lagi ke sana, jadi aku harus menjaga kondisi." Ucap Sean.
"Baiklah kalau begitu." Panggilan juga di akhiri.
Sean juga menyimpan kembali ponselnya dan kembali mengobrol bersama ayahnya.
Malam harinya dia juga melakukan panggilan video dengan Callista untuk mengobrol.
Keesokan harinya, Sean juga sudah menyiapkan pakaian yang akan di bawa ke Inggris untuk salin, meski memang ada banyak tapi Sean masih tetap membawanya.
"Kamu mau kemana hari ini?" Tanya ibunya.
"Tidak kemana mana Bu, memangnya apa?"
"Mending kamu anterin adikmu untuk membeli buku di toko buku. Katanya adik mu saat ini sedang tertarik pada novel novel."
"Ya baiklah kalau begitu, mana Salma nya?"
"Dia sudah bersiap sedari tadi."
Sean mendengar ini menggelengkan kepalanya, adiknya ini pasti meminta tolong pada ibunya untuk meminta Sean agar mau mengantarnya makanya dia sudah siap.
"Salma, tunggu di luar! Kakak mau ambil jaket dulu." Teriak Sean.
Salma juga keluar dan menunggu di halaman bersama ayahnya yang sedang menyirami tanaman di halaman depan.
Setelah beberapa saat, Sean selesai memakai jaket, dia mengirimkan pesan pada Callista untuk menemuinya di toko buku tertentu.
Kemudian Sean juga mengendarai mobil ayahnya ke toko buku untuk mengantar adiknya itu.
"Kenapa kamu tertarik pada novel?" Tanya Sean.
"Pengen aja, mengisi waktu aja sehabis mengerjakan tugas tugas."
"Bukannya lebih baik membaca buku pelajaran?"
"Pusing kakak, kakak enak tidak sekolah." Ucap Salma sambil cemberut.
"Jangan gitu, kakak begini juga kan akhirnya bisa menghidupi keluarga, bisa membiayai sekolah mu nanti untuk ke SMA dan ke perguruan tinggi."
Keduanya juga mengobrol sambil mobil yang terus berjalan menuju toko buku.
Sesampainya di toko buku, Salma langsung mencari buku buku yang menarik.
Sean juga melihat lihat dan membaca sedikit sedikit.
Tak lama, ponselnya menerima sebuah pesan.
"Di dalam, di rak E." Balas Sean di pesannya.
Kemudian tak lama, Sean melihat Callista yang menggunakan masker di wajahnya.
Sean melihat ini juga tertegun, "Aneh."
"Ga biasanya."
"Banyak fotographer yang mengikuti ku akhir akhir ini." Sahutnya.
"Oh, mungkin mereka sedang mencari uang. Kenapa tidak kamu bantu." Jawab Sean sambil membukakan masker di wajah Callista.
"Kamu ini!"
__ADS_1
"Bukannya tak masalah, kan sudah ketahuan ini, kenapa harus di tutup tutupi?" Tanya Sean.
Callista pun akhir nya pasrah, "Kakak, aku udah ambil novelnya." Ucap Salma yang datang.
"Ah."
"Ada kakak cantik." Ucap Salma pada Callista kemudian dia berlari dan memeluknya.
"Berapa yang kamu beli?"
"2, tapi masih ada yang bagus cuma aku akan menundanya buat nanti aja."
"Kenapa ga sekalian?" Tanya Sean.
"Yaudah aku ambil lagi." Ucap Salma menurutinya.
Sean sengaja menyuruhnya agar tidak bolak balik dan merepotkan orang tuanya nanti untuk mengantar kembali ke toko buku untuk membeli novel lagi.
"Kamu mau kemana hari ini?" Tanya Sean.
"Tak kemana mana, aku di rumah, kamu aja yang mengirim pesan jadi aku kesini."
"Di rumah mu ada siapa?" Tanya Sean.
"Orang tuaku."
"Apartemen mu?"
"Kosong." Jawab Callista.
"Yaudah kita ke sana nanti." Ucap Sean.
"Mau ngapain?"
"Maksiat." Sahut Sean sambil tersenyum.
Kemudian Callista langsung menjauh, dia tahu bahwa Sean bercanda tapi dia juga sengaja menjauh agar terlihat bahwa dia tidak murahan.
"Ada lagi?"
"Atau mau langsung pulang?" Tanya Sean pada Salma.
"Emangnya kakak mau kemana?" Tanya Salma.
"Ga kemana mana."
"Kalau begitu yaudah langsung pulang aja, kakak cantik juga ikut kan?" Tanya Salma melirik Callista.
Sean kemudian memberikan jempol pada adiknya itu.
Kemudian Sean membayar pembelian untuk Salma dan mereka juga langsung pulang, tak lupa mereka juga mampir untuk membeli camilan camilan dulu di super market.
Sesampainya di rumahnya, ibunya Sean juga menyambut kedatangan Callista.
Mereka pun akhirnya mengobrol, Sean kembali ke kamarnya dan menyalakan sebuah film di televisi nya melalui platform online.
Adiknya juga sudah masuk ke kamarnya.
"Yasudah, naik ke atas sana!" Ucap ibunya Sean pada Callista karena tahu bahwa Sean sudah ada di atas.
"Emang tak apa Bu?"
"Tak apa, memangnya kamu berani melakukan macam macam di rumah?" Tanya ibu sinis.
"Tidak bu." Ucap Callista.
Kemudian dia juga naik ke lantai 2 tepatnya kamar Sean.
Di kamarnya, Sean sedang memainkan ponsel dia melihat rumor tentang pemain yang akan di rekrut oleh Liverpool dan ini benar benar penyerang.
"Ollie Watkins, bukannya dia penyerang utama Aston Villa, apakah memang benar dia mau pindah?" Pikir Sean.
"Sedang apa?"
__ADS_1
"Ini lihat pemain yang akan di beli oleh tim."
Sean kemudian melakukan screen shoot dan mengirimkan postingan ini pada Felix, dan menanyakan apakah ini benar.
Felix hanya menjawab bahwa bos hanya akan membeli pemain sebagai pelapis lini depan saja, dan tidak mungkin pemain sepertinya mau pindah.
Sean beranggapan sama dengan Felix ternyata.
Kemudian Sean menyimpan ponselnya, dia akan mengobrol dengan Callista namun terganggu karena Felix melakukan panggilan Video.
Sean mengangkatnya.
"Ada apa?"
"Kamu kapan kembali?"
"Tanggal 8."
"Hah?" Ucap Felix tertegun saat melihat ada rambut wanita di sisi Sean.
"Siapa itu?" Tanya Felix.
"Nona Lisa kah?" Tanya Felix lagi.
"Hallo." Ucap Callista masuk ke dalam layar.
"Magui mana?" Tanya Callista.
"Ini aku." Ucap Magui yang masuk ke layar juga.
"Kamu terus aja berduaan." Ucap Sean pada Felix.
"Bukannya kalian ya?"
"Kamu kapan kembali?" Tanya Sean.
"1 hari setelah mu."
Kemudian keduanya melakukan panggilan video dan terus mengobrol.
Setelah selesai, Sean juga menonton film dan memakan camilan yang di belinya tadi.
Sean menonton film film yang di perankan oleh Callista, ini adalah series.
Sean sengaja menontonnya karena dia belum tahu film film terbarunya.
"Kamu sudah sangat berkembang jauh lebih baik dari sebelumnya." Ucap Sean mengagumi keterampilan akting dari Callista.
"Siapa dulu?"
"Huh." Sahut Sean sinis.
Kemudian keduanya menonton film.
Sementara itu, di tim atau di Inggris, bos sedang berdiskusi dengan staf scouting dari klub.
"Bagaimana?" Tanya bos.
"Memang bos, pemain ini sanggup untuk di jadikan pelapis, hanya saja mungkin dia membutuhkan menit bermain yang banyak." Ucapnya.
"Kemampuannya juga jika di simpan sebagai pelapis terus akan menurun." Ucap pengintai dari klub.
"Tapi bagaimana kualitasnya? Sesuai?"
"Ya cocok dengan gaya permainan tim, dia juga memiliki kecepatan dan finishing yang tajam."
"Pemanfaatan peluangnya selalu dia lakukan dengan baik, mencari posisi juga selalu dia lakukan dengan sangat baik, dia juga selalu sadar dengan perangkap off side."
"Apalagi dia memiliki lari, hanya saja dalam sundulan terlalu kurang." Ucap pengintai.
Bos kemudian merenung dan berpikir, apakah akan di lanjutkan dengan transfer atau terus memantaunya lagi sampai dia lebih berkualitas.
"Baiklah, simpan catatan mu dan vidio vidio yang telah kamu rekam, biar aku menontonnya dulu." Ucap bos pada pengintai.
__ADS_1