
Malam harinya tanggal 6 Juni 2018, dimana setelah usainya pertandingan semi final kedua tournament Toulon antara Indonesia dan Meksiko.
Para pemain Indonesia sudah berada di hotel mereka tempat menginap, para pemain juga sudah melakukan makan malam bersama.
Setelah para pemain kembali dari makan malamnya, para pemain juga di bebaskan hanya saja jangan terlalu malam berkeliaran di luarnya dan jangan kurang tidur.
Dengan kebebasan seperti itu, ada beberapa pemain yang memilih untuk berjalan jalan di luar.
Dan ada beberapa yang memilih untuk nongkrong seperti biasanya.
Sedangkan Sean, dia sedang sendirian di kamarnya karena dia lebih memilih untuk tinggal di kamarnya saja.
Dia tak mau waktu yang ada ini harus di pakai untuk lebih memforsir staminanya lagi.
Dia juga tak mau nantinya kelelahan dan staminanya tak stabil saat pertandingan final nanti.
Meski masih ada sisa 3 hari lagi, namun mengembalikan stamina yang drop sangat sulit.
Sean yang berada di kamarnya sendiri itu memilih melakukan latihan yoga ringan, apalagi badannya terasa keras dan pegal, untuk melunakkan badannya dia memilih melakukan ini dari pada harus pergi ke tempat pijat.
Saat sedang fokus berlatih yoga, ponsel Sean berdering tanda ada panggilan masuk ke ponselnya.
Sean pun menghentikannya dan mengangkat panggilan itu, ternyata itu dari Silva.
"Ada apa malam malam begini?" Tanya Sean.
"Bagus, kerja bagus."
"Mereka mengirimi ku pesan lagi."
Sean yang mendengar itu tentunya tertegun namun setelah berpikir beberapa saat dia langsung teringat ucapan Silva saat itu.
Dia langsung senang dan bersemangat.
"Jadi bagaimana?" Tanya Sean.
"Mereka akan melaporkan hasil laporannya pada klub malam ini, dan mencoba agar mereka menyetujui permintaan mereka secepat mungkin karena mereka takut kamu akan di curi oleh yang lain."
"Pihak mana yang bilang begitu?" Tanya Sean.
"Semuanya."
"Jadi mereka sudah saling tahu?"
"Tidak, tapi para pengintai itu jeli dan tahu apa yang di lihatnya juga dirasakannya jadi mereka pasti berpikir begitu untuk memberitahu pihak klubnya."
"Oh, aku senang mendengarnya." Ungkap Sean.
"Baiklah, pertandingan mu hari ini bagus dan berjalan sangat baik."
"Kamu hanya tinggal 1 gol lagi dari Diego Lainez yang kini sudah mendapatkan 6 gol di tournament ini."
"Di pertandingan final, ku harap kamu bisa cetak 1 gol."
__ADS_1
"Dengan itu, kamu bisa mendapatkan penghargaan sebagai pencetak gol terbanyak."
"Untuk mendapatkan penghargaan pemain terbaik, Indonesia harus menang dan kamu harus melakukannya."
"Kamu harus tahu, dengan 2 modal penghargaan ini, hargamu akan sangat baik dan kamu juga akan mendapatkan gaji yang banyak untuk membantu orang tuamu menjalankan usahamu." Ungkap Silva.
"Bukan hanya itu saja, dengan 2 penghargaan ini, petinggi petinggi klub lain juga akan mendengar berita ini dan mereka akan langsung berburu mendapatkanmu."
"Jadi ketika kamu mendapatkan penghargaan ini, bukan pengintai itu saja yang berusaha mendapatkanmu, tapi yang lain juga."
"Dengan begini, kesempatanmu memilih tim lebih banyak." Ungkap Silva.
Sean mendengar semua perkataan Silva dengan jelas dan mencoba memahami semuanya.
"Aku mengerti, aku akan berusaha setidaknya 1 gol dan pencetak gol terbanyak akan ada padaku."
"Tapi jika untuk menang, aku juga harus mengandalkan rekan timku, bukan aku saja."Ungkap Sean.
"Aku tahu, maka dari itu, kamu harus benar benar bermain lepas layaknya kamu bermain di Arouca."
"Jika kamu bermain seperti di Arouca mungkin kamu akan lebih banyak dan besar untuk meraih kemenangan nantinya."
Setelah perkataan Silva, Sean juga ragu ragu.
Pasalnya dia selalu merasakan kurang ketika tampil di tournament ini tapi tidak tahu apa.
Ketika mendengar ini, tentunya Sean tahu bahwa dia tidak sepercaya diri seperti di Arouca.
"Apakah karena aku membela negaraku dan aku merasa gugup dan kurang maksimal?"Tanya Sean.
"Apalagi masyarakat di negara mu tahu kamu bermain di Eropa tentunya mereka lebih banyak berharap padamu yang membantu tim meraih juara."
"Jadi itulah penyebabnya, dimana beban yang dipikul olehmu dari masyarakat Indonesia yang menaruh kepercayaannya padamu"
"Dengan begitu, kepercayaan dirimu juga sedikit menurun karena takut mengecewakan mereka."
"Aku mengerti Silva."Ungkap Sean tiba tiba dengan suara yang dalam.
Silva yang mendengar suara Sean seperti ini tersenyum. Dia sudah kenal dengan Sean cukup lama jadi dia tahu apa yang dilakukan Sean dan apa yang akan dilakukannya kedepannya.
Mendengar suaranya seperti ini saja, Silva senang karena Sean sudah kembali percaya diri dan sudah sangat serius.
"Baiklah, itu saja."
"Jika ada kabar lagi, akan ku sampaikan secepatnya supaya kamu bisa memilih."
"Oke terima kasih Silva." Ungkap Sean lalu menutup panggilannya.
Sean memilih menghentikan latihan yoganya dan berpikir sebentar.
"Rasanya benar benar berbeda."
"Iya memang berbeda."
__ADS_1
"Aku baru mengetahuinya setelah merasakannya di beberapa pertandingan."
"Meski aku merasa seperti biasa, tapi orang yang dekatku tentu tahu apa yang sedang ku alami."
"Silva mengetahuinya dan membantuku."
"Aku memang kurang maksimal, aku seperti tidak percaya diri dan seperti tidak mau terlalu mencolok."
"Apakah harus begini atau bagaimana?"
"Aku tak mau mengecewakan mereka yang menaruh kepercayaannya padaku, aku menanggung beban yang besar."
"Aku sudah siap sebelum di panggil tim nasional, jadi harus lebih kuat agar tahan terhadap cacian dan makiannya nanti jika aku kurang maksimal."
Sean membuat tekad yang bulat. Saat sedang fokus berbicara sendiri, ponsel Sean berdering lagi, tapi suara deringnya berbeda.
Mungkin itu adalah sebuah pesan yang masuk saja.
Sean mengintipnya sedikit dengan mata yang melirik ke samping ke arah ponselnya berada.
Saat melihat itu dari seseorang, Sean langsung diam.
"Ngapain dia?" Tanya Sean bingung.
Sean lalu mengambil ponselnya dan membuka pesannya itu.
"Selamat atas kemenanganmu. Aku akan menonton laga final nanti." Itulah isi pesan yang di terima oleh Sean.
Pesan yang di baca itu di kirim dari Giselle yang akhir akhir ini lebih sering berkomunikasi dengan Sean melalui chat.
Namun dalam chat itu, Sean tetap polos dan tak tahu bagaimana, tapi tidak tahu bagaimana, Giselle selalu menemukan topik agar terus mengobrol dengan Sean melalui chatnya itu.
"Bukannya tadi dia juga menonton? Kenapa bilangnya akan menonton saat final?" Pikir Sean.
Sean pun memilih membalasnya, "Bukannya tadi kamu menonton?"
"Tidak." Balas Giselle dengan cepat.
Sean membacanya dan bingung, dia jelas melihat Giselle di parkiran tadi sore.
'Apakah aku terlalu sering berkomunikasi jadi pikiranku melayang padanya terus?' Pikir Sean.
'Tidak tidak.'
"Oh begitu, kalau begitu tontonlah sesukamu." Balas Sean pada pesan Giselle.
Sean pun menyimpan kembali ponselnya dan merapikan matras kecil tempat ia berlatih yoga tadi.
Ia memilih untuk berhenti latihan karena menurutnya sudah sangat larut, jika dia berkeringat lagi dia harus mandi lagi.
"Sekarang jam 8 pas."
"Masih ada waktu 30 menit sampai 1 jam lebih sebelum tidur."
__ADS_1
Sean pun mengambil ponselnya lagi.