
"Selamat karena telah mendapatkan klub baru dan itu adalah klub favoritmu, semoga sukses di sana." Isi pesan yang di kirim.oleh Callista pada Sean.
Sean membacanya dengan cermat karena dia baru menerima pesan lagi dari Callista.
"Terima kasih, aku akan bekerja keras di sana." Balas Sean terhadap pesan dari Callista.
"Bagaimana kabarmu beberapa hari terakhir?" Pesan tambahan dari Sean.
Tak lama balasan juga muncul, "Aku baik." Jawaban yang sangat singkat dari Callista membuat Sean merasa semakin tak enak karena dia merasa bahwa mungkin waktu itu dirinya terlalu kasar dan frontal untuk berbicara dan tidak terlalu memikirkan konsekuensinya.
Sean kemudian hanya membacanya saja dan kemudian menyimpan ponselnya.
"Huuuuh." Sean melepaskan embusan nafasnya keluar dan melentangkan badannya di atas ranjang kasur.
"Sulit sekali, benar benar tidak cocok jika aku memiliki hubungan dengan seorang wanita."
"Mungkin hal itu lain kali saja, sekarang fokus pada karirmu yang akan segera di mulai lagi." Ungkap Sean dengan kelima jari di kedua tangannya yang terjalin menyatu.
...
3 hari kemudian,
Tersisa 2 hari lagi bagi Sean untuk tinggal di Indonesia sebelum dirinya berangkat lagi ke Eropa, lebih tepatnya Inggris.
Di meja makan rumahnya, semua anggota keluarga Sean yang berisikan empat orang itu sedang mengadakan makan malam bersama.
"Nak, apakah kamu sudah mempersiapkan semua kebutuhan yang akan di bawa nanti?" Tanya ibunya.
"Belum Bu, besok saja." Ucap Sean.
"Kalau begitu, selesai makan, ibu bantu kamu menyiapkan semuanya." Ucap Ibunya sambil tersenyum.
"Aku ikut, aku ikut." Girang Salma.
Sean awalnya akan menolak tapi melihat tatapan ibunya, Sean kemudian akhirnya terpaksa menerima.
Sean juga mengerti mungkin ibunya ada sesuatu yang harus di bicarakan dengannya.
Selesai makan, Sean, adiknya dan juga ibunya pergi ke kamar Sean untuk menyiapkan perlengkapan dan kebutuhan Sean untuk tinggal di sana.
"Nak, sejak kapan kamu mengenal dengan aktris yang ibu bicarakan itu?"
"Sejak aku di Prancis." Ucap Sean spontan.
"Oh, terus kenapa tidak bilang."
"Kami hanya teman bu, jadi tak usah berlebihan begitu."
"Sekarang juga sudah tidak berkomunikasi lagi."
"Oh, baiklah." Ucap Ibunya singkat.
__ADS_1
Kemudian ibunya Sean mengambil baju baju yang akan di butuhkan Sean di lemari dan memasukannya ke dalam koper.
Sean juga hanya membantunya dengan mencari perlengkapan dan kebutuhan lainnya yang akan di bawa nanti.
Sedangkan adiknya ikut sibuk membantu ibunya, tak tahu apa yang di bantunya, mungkin hanya ingin ikut ramai ramai saja.
"Nak, selama di sana, jangan lupakan ibadahmu."
"Nanti ketika bulan suci juga jangan lupa kamu harus menjaga ibadahnya."
"Meski ibu percaya kamu pasti melakukannya, ibu hanya tak ingin anak ibu menjadi lupa dengan kewajibannya ketika tidak ada yang memantaunya." Ucap Ibunya sambil terus merapikan baju dan memasukannya ke dalam koper.
Sean hanya diam dan mendengarkan.
"Di sana, di Inggris mungkin pergaulannya lebih lebih bahaya dari pada saat kamu di Portugal."
"Jadi ibu harap kamu bisa menjaga diri kamu sendiri."
"Kamu di sana tinggal di sebuah apartemen, jangan membawa gadis sembarangan nantinya."
"Ibu tahu kamu tak mungkin melakukannya, tapi ibu tidak tahu kedepannya akan seperti apa kamu nantinya."
"Ibu hanya mengingatkan saja."
"Aku mengerti dengan semua itu Bu, jadi ibu tenang saja." Ucap Sean yang merasa sudah sangat mengerti kekhawatiran ibunya itu.
"Jika ada sesuatu, tolong hubungi kami secepatnya."
Keduanya terus mengobrol dan ibunya Sean terus mengingatkan Sean akan banyak hal.
Meski Sean sudah tahu semuanya tapi dia tetap mendengarkan karena sudah terbiasa, dia juga tak mau menjadi anak yang tidak mendengarkan nasihat orang tuanya.
"Nanti jika kamu tidak bisa pulang setiap liburan, ibu dan yang lainnya usahakan untuk menjenguk mu ke sana tiap 3 bulan sekali."
"Mungkin nanti kamu sibuk harus mengembangkan kemampuan mu agar bisa beradaptasi dengan tim utama."
"Baik Bu, terima kasih." Ucap Sean sambil memeluk ibunya.
Ibunya Sean juga membalas pelukan anaknya itu.
'Kamu sudah sangat besar, tapi ibu tak bisa melepaskan kamu seperti orang tua lainnya. Ibu khawatir akan segalanya yang akan menimpamu di depan nanti.'
Kemudian keduanya terus mengobrol sampai menjelang waktu tidur, adiknya Sean yaitu Salma, dia sudah lama tertidur di pangkuan ibunya.
Sean yang kini di tinggalkan sendirian di kamarnya akhirnya mengeluarkan air mata sedikit.
"Bu, aku janji, aku tidak akan menyusahkan kalian."
"Aku akan berusaha agar bisa menghadapi setiap masalah sendiri dan tidak merepotkan kalian."
"Aku harus sukses."
__ADS_1
Sean kemudian mengelap tetesan air matanya.
Dia kemudian menarik selimutnya dan mencoba untuk tidur.
Sementara itu, di tempat lain.
"Bos, apakah kamu tidak salah?" Tanya Neil pada Bos.
"Tidak, biarkan dia menjadi kapten tim."
"Kenapa begitu?"
"Dia mempunyai kepercayaan diri, mental, dan moral yang bagus, sikap kedewasaannya juga menunjukan bahwa dia pantas."
"Cocok di jadikan kapten di banding pemain yang lebih tua usianya di tim U 23 itu."
"Apakah tidak akan menimbulkan iri pada pemain lainnya?" Tanya Neil.
"Biarkan dulu mereka berlatih bersama dan merasakan bagaimana Sean di lapangan nanti." Ucap Bos.
Bos sudah melihat banyak Vidio Vidio Sean dalam setiap pertandingan, entah itu ketika di Arouca atau kemarin di tournament Toulon.
Meski Sean tidak menjadi kapten tim, Sean menunjukan semua sikap sebagai kapten di lapangan di bandingkan kapten sebenarnya di lapangan.
Bos juga tak menyangka bahwa anak berusia 18 tahun itu memiliki semua yang di miliki oleh seorang kapten veteran.
Dimana semua itu seharusnya di dapatkan dari pengalaman.
Mungkin jika bagi tim muda, itu di dapatkan dari pengalaman hidupnya selama di luar lapangan ketika bermain dan bergaul di luaran sana.
"Baiklah, kalau begitu." Ucap Neil.
"Ada lagi?" Tanya Bos.
"Apakah dia bisa bermain di kedua sisi nantinya?" Tanya Bos.
"Aku belum melihatnya di semua Vidio yang kulihat, tapi cobalah nanti olehmu. Jika cocok dan bisa itu lebih bagus dan lebih bisa di andalkan nantinya."
"Oke, jangan terlalu terbebani dengan adanya pemain yang ku titipkan di timmu, itu akan membantumu untuk mencapai target nantinya." Ucap bos sambil tertawa.
Neil tidak merasa tersinggung dengan ucapan Bos tapi merasa senang karena Bos percaya bahwa dirinya bisa mencapai target yang di berikan oleh direktur tim pada tim U 23.
Dimana tim U 23 harus setidaknya menjuarai satu kompetisi selama 1 tahun ini.
Entah itu FA CUP atau Liganya.
Untuk U 23, kompetisinya hanya ada 2 yaitu FA Cup dan Liga saja.
•Banyak yang request buat up di kolom komentar atau request langsung lewat tombol 'minta update.' Sekarang udah ku kasih nih 5 chptr buat 1 hari. Giliran kalian yang minta up Mulu buat vote sama kasih hadiahnya.•
•Ini stok yang ada juga di pakai biar kalian betah baca kedepannya karena permintaan kalian udah di kabulin.•
__ADS_1
•Terimakasih•