I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 43.


__ADS_3

2 hari kemudian,


Sean sedang berada di sebuah cafe yang tak jauh dari asramanya. Cafe ini di isi oleh banyak muda mudi yang sedang berkencan.


Sean di cafe tidak memesan minuman apapun, hanya membeli camilan dan air putih saja.


Meski awalnya di tertawakan karena memesan air putih, Sean biasa saja.


Sean ke cafe bukan karena ingin bersantai, tapi dia sedang menunggu pelatih yoga yang akan membantunya berlatih yoga untuk meminimalisir cedera.


Silva sempat bilang bahwa untuk membahas semuanya harus secara langsung, awalnya akan di urus oleh Silva, tapi Silva mendadak ada urusan dari keluarganya dan harus kembali ke Porto.


Sean menunggu sudah 5 menit, namun pelatih yoga itu belum datang juga.


Sean terus ngemil camilan yang ia pesan tadi sambil bermain ponsel dengan tangan satunya lagi.


Setelah beberapa saat, "Permisi, apakah anda yang di maksud oleh Tuan Silva?" Sebuah suara tiba tiba datang yang membuat Sean melihat ke arahnya.


Sean melihatnya dan itu merupakan seorang wanita yang masih muda, kira kira 21 tahun umurnya.


Sean pun berdiri dan mengulurkan tangannya lalu berjabat, "Saya Sean yang di maksud Silva." Ungkap Sean.


"Silahkan duduk." Ucap Sean yang sudah kembali duduk. Wanita itu juga duduk.


"Jadi bagaimana?"Tanya pelatih yoga.


"Saya ingin berlatih yoga untuk meminimalisir cedera nanti, mungkin selebihnya juga sudah di jelaskan oleh Silva."


"Saya hanya ingin bertanya, apakah anda bisa melatih saya secara privat saja? Saya tidak mungkin bisa ikut latihan publik karena jadwal latihan saya." Ungkap Sean karena takut tabrakan dengan jadwal latihan timnya.


"Untuk ini, biasanya lebih baik melatih secara privat. Hanya saja harganya berbeda." Ungkapnya.


"Aku mengerti masalah itu, apakah jadwalnya di tentukan oleh saya atau anda?" Tanya Sean.


"Lebih baik olehmu." Sahutnya.


"Kalau begitu 1 minggu 3 kali, sekitar jam 1 siang."


"Untuk harinya mungkin senin, rabu, dan sabtu." Ungkap Sean.


Pelatih yoga yang berparas cantik itu mengangguk mengerti.


"Apakah kamu masih tinggal di asrama?"


"Iya ada memangnya?" Tanya Sean.


"Apakah ruangannya cukup?"

__ADS_1


"Kupikir cukup, aku tak terbiasa untuk keluar, jadi lebih baik di asrama saja. Tak masalah kan?" Tanya Sean.


"Baiklah. Kita akan mulai dengan senin depan pelatihannya." Ungkap pelatih yoga.


"Oke, untuk masalah biaya nya nanti akan di selesaikan oleh Silva, jadi sebelum kita berlatih juga Silva pasti sudah mengurusnya." Ungkap Sean.


"Kalau begitu, aku tidak tahu namamu?" Tanya Sean.


"Namaku Agnes." Ungkapnya.


"Baiklah. Coach Agnes mari kita bekerja sama kedepannya." Ungkap Sean.


"Baiklah, kalau begitu aku juga pergi, aku ada jadwal melatih yang lain." Ungkapnya.


"Baik, terima kasih. Maaf merepotkan." Sean berbicara sambil berdiri untuk menghormati dan menghargai Agnes.


Dengan Agnes yang pergi, Sean juga segera kembali ke asramanya.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Sean untuk sampai di asramanya.


Di asramanya,


Sean sudah duduk di kursi belajar sambil melihat lihat jadwal pertandingan.


"2 hari lagi pertandingan melawan Sc Covilha."


"Hanya mempunyai istirahat 3 hari dan pertandingan di mulai lagi."


"Bagaimana dengan tim tim besar yang mengikuti banyak kompetisi?"


"Haha sudahlah sekarang kerja keras dulu agar bisa merasakannya nanti."


Sean kemudian menutup jadwal pertandingan dan membuka ponselnya lagi untuk mengisi waktu luang.


"Oiya, aku tidak tahu bagaimana usaha kecilku yang dijalankan orang tuaku, semoga baik baik saja."


"Aku juga belum mendapatkan gaji, gajiku mungkin di bayar minggu depan."


Sean terus berbicara sendiri sambil bermain ponselnya.


...


1 hari kemudian, sepulang latihan bersama tim Arouca dan latihan tambahan, Sean tidak langsung pulang ke asramanya.


Sean memilih untuk pergi ke toko olahraga untuk melihat lihat. Sepatu yang dia gunakan sudah sangat usang karena Sean memakainya dari umur 16 tahun.


Meski tubuhnya bertambah tinggi, sepatu Sean masih cukup, namun lama kelamaan Sean juga merasakan sakit sedikit.

__ADS_1


Sean berniat mencari sepatu dulu, dia belum mendapatkan sponsor jadi dia harus membeli sepatunya sendiri.


Berjalan di dalam toko olahraga, Sean melihat lihat sepatu bola dengan brand yang sama.


Sean suka dengan sepatu brand nike, dia tidak suka yang lain, tapi tidak tahu jika nanti ada sponsor selain nike apakah Sean akan menyukainya atau tidak.


"Ini bagus, lentur dan ringan sekali." Sean yang mengangkat ngangkat sepatunya.


Sepatu yang di pegang Sean berwarna ungu. Itu merupakan Nike Superfly Academy. Sean melihatnya saja sudah kagum, dia merasa bahwa dia cocok memakai sepatu seperti ini.


"Hanya saja harganya mahal."


Sean kembali mencari cari terlebih dulu dan mengingat ngingat harganya supaya nanti bisa langsung membelinya.


Setelah 1 jam kurang lebih, Sean keluar dari toko olahraga dengan perasaan puas karena dia sudah menemukan sepatu yang cocok untuknya nanti.


Meski harganya mahal, itu tak masalah untuk Sean jika Sean sudah mendapatkan gaji minggu depan.


Sean kembali ke asramanya berjalan kaki. Dia juga banyak di sapa oleh orang orang di kota.


Banyak orang yang mengenal Sean karena Sean bermain untuk tim dari kota mereka, juga Sean bermain dan berkontribusi banyak bagi tim sehingga banyak yang mengenalnya.


Kadang kadang anak kecil juga yang sedang bermain bola memanggilnya lalu Sean juga memperhatikannya hanya untuk melihat anak kecil itu melakukan selebrasinya.


Sean tersenyum melihat tingkah anak anak itu.


Setelah beberapa saat, Sean sampai di asramanya. Dia tidak langsung membersihkan tubuhnya seperti biasa.


Meski sudah sedikit turun suhu tubuhnya, Sean tidak langsung melakukannya. Ia memilih untuk melihat saldo uang di akunnya.


Dimana uang yang di miliki Sean tersisa sangat sedikit. Mungkin jika di rupiahkan hanya tersisa 300 ribu lagi.


Sean menutup ponselnya, namun saat hendak menyimpan ponselnya, ponselnya berdering ada panggilan.


Sean mengangkatnya, "Hallo."


"Hallo Sean, terima kasih karena sudah mau membantuku untuk membayar sedikit tagihan untuk biaya rawat di rumah sakit. Terima kasih juga sudah mengirim buah buahan." Ungkapnya.


Peneleponnya adalah Victor yang mengalami kecelakaan waktu itu.


"Haha tak masalah, jadi bagaimana kesehatanmu sekarang?"


"Sudah pulih, hanya belum bisa berlatih saja."


"Ohh, jadi bagaimana kamu bisa kecelakaan?"Tanya Sean yang penasaran, dia lupa menanyakan ini pada Ramos waktu itu.


"Itu terjadi saat aku pulang sehabis membeli makanan untuk adikku dan ibuku, aku tak melihat ke arah jalanan karena sudah malam dan mungkin sepi, tapi yang tak ku duga ada sepeda motor yang menyerempetku."

__ADS_1


"Awalnya hanya terserempet saja, tapi saku jaketku sedikit menyantol pada bagian belakang motor jadi aku terbawa oleh motor itu."


"Motornya tak berhenti, itu berhenti karena aku menabrakkan diriku pada tiang yang ada di jalan. Namun saat aku menabrakkan diri aku langsung tak sadarkan diri dan hanya sadar saat di rumah sakit saja." Ungkap Ramos menceritakan.


__ADS_2