I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 84.


__ADS_3

9 Juni 2018,


Stade Parseiman yang merupakan tempat untuk bertandingnya laga final antara Indonesia melawan Portugal di tournament Toulon 2018.


Stade Parseiman yang memiliki kapasitas penonton sebanyak 17 ribu lebih itu kini sudah penuh di duduki oleh para penonton dari berbagai kalangan.


Entah itu anak anak, remaja, dewasa dan tua. Anak anak yang menonton pertandingan ini tentunya untuk melihat keseruan pertandingan sepak bola.


Sedangkan para orang tua, mereka ingin melihat lahirnya bintang sepak bola masa depan.


Meski tak selalu di jamin untuk jadi pemain besar seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, tapi biasanya pemain yang mendapatkan penghargaan pemain terbaik di tournament Toulon ini setidaknya mampu bersaing dengan para pemain top lainnya nantinya.


Laga final ini merupakan laga yang sangat di tunggu tunggu, bukan hanya masyarakat Indonesia yang kini sedang bangga karena tim nasional sepak bola Indonesia berlaga di final, tapi masyarakat dari negara lain juga sama menantikannya.


Di ruang ganti Stade Parseiman milik tim Indonesia.


Para pemain sudah berdiri dan sedang berkumpul mendengar instruksi pelatih Indra untuk laga hari ini.


Meski sering kali di berikan instruksi, pelatih tentunya tak mau pemainnya lupa dengan apa yang dia katakan dan bermain di lapangan tidak sesuai dengan keinginannya.


"Hari ini ku ingin kalian bermain lepas saja!"


"Jangan takut!"


"Meski kalah tak masalah, ini sebuah pelajaran yang berharga."


"Tapi jika kita kalah, kita tak bisa terlalu bangga dengan itu, berbeda dengan menang kita bisa membanggakan itu nantinya."


"Bermain lepas oke?"


"Jangan terlalu banyak berpikir."


"Instruksi lainnya akan ku sampaikan di pinggir lapangan nanti."


"Irianto! Ayo!" Ungkap Pelatih.


Irianto juga maju 2 langkah ke depan dan dikerumuni oleh para pemain.


"Baiklah teman teman seperjuangan, mari kita raih kemenangan di pertandingan ini."


"Kita banggakan kemenangan kita di mata dunia."


"Tapi jangan lupa untuk tetap berhati hati!" Ungkapnya serius.

__ADS_1


"Untuk pertandingan hari ini, kita semua minta di berikan keselamatan dalam jalannya pertandingan agar tak terjadi hal yang tak terduga."


"Untuk itu, mari kita berdoa terlebih dulu."


Dengan begitu para pemain mulai berdoa dengan khusyuk di ruang ganti. Mereka ingin sekali menang dan membanggakan semua ini nantinya.


Setelah doa selesai, tepat juga staf official pertandingan datang memberi tahu para pemain agar segera masuk ke lapangan.


Para pemain pun segera berjalan ke luar.


Di ruang siaran televisi saluran Indonesia, komentator sudah menunggu pertandingan ini di mulai.


Sambil menunggu mereka juga memperlihatkan dan memberitahu siapa saja pemain yang perlu di perhatikan.


Saat komentator sedang asyik membicarakan itu, para pemain juga masuk ke lapangan dan layar di televisi juga segera menunjukan pada lapangan hijau Stade Parseiman.


Komentator juga segera memberitahu para penonton Indonesia tentang line up kedua tim yang akan di turunkan.


Setelah memberitahu line up kedua tim, komentator juga membicarakan tentang isi kedua line up itu sambil menunggu kick off di mulai.


Kick off belum di mulai karena pemain harus bersalaman dan menentukan siapa yang akan duluan menendang kick offnya.


"Bagaimana tanggapan mu untuk pertandingan ini?"


"Pertandingan ini akan sangat mengasyikan dan membuat kita tegang tentunya."


"Baiklah sepertinya tanggapan mu biasa saja." Ungkap komentator satunya sambil tertawa.


Para penonton di rumah yang menonton juga tersenyum melihat dan mendengar guyonan kedua komentator Indonesia ini.


"Baiklah, kick off akan segera di mulai dan Indonesia mendapatkan bola kick off terlebih dulu."


"Untuk itu mari kita saksikan saja pertandingannya dan kami di sini akan menemani kalian dengan banyak omongan yang sangat rusuh nantinya." Ungkap komentator.


Para penonton di rumah tak mempermasalahkan bahasa yang di gunakan oleh komentator itu yang penting tidak terlalu bosan saja komentatornya.


Di rumah Sean, Ayah dan Ibu Sean menonton televisi dengan tayangan pertandingan bola hari ini.


Adiknya Sean juga ikut menonton karena ingin melihat kakaknya bermain meski sudah di suruh untuk belajar tapi dia menolaknya.


"Lihat!"


"Kakak bermain." Ungkap adiknya Sean sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Ayah dan Ibunya Sean sudah terbiasa dengan tingkah polos anaknya ini, dia selalu mengatakan itu di setiap pertandingan tiap kali Sean bermain.


Namun Ayah dan Ibu Sean tidak menegurnya dan hanya tersenyum saja.


"Bu, apakah kakak akan pulang setelah ini?" Tanya adiknya.


"Iya, nanti kakakmu akan pulang setelah selesai di layar televisi itu "Ungkap ibunya menanggapi dengan polos karena agar mudah di mengerti.


Meski adik Sean pintar namun agar tak menganggu imajinasi anaknya itu untuk tumbuh berkembang, ibunya juga memberitahu dengan hal yang mudah di mengerti saja.


"Yayy." Serunya berbahagia.


Ibunya tersenyum saja, sedangkan ayah Sean sudah fokus menonton karena pertandingan di lapangan juga sudah di mulai.


Di tempat nongkrong teman teman Sean, meski ada beberapa yang tidak satu sekolah SMP dengan Sean, mereka tetap menontonnya karena ini tim nasional bertanding dan juga ada teman dari teman mereka yang bermain.


"Hasilnya akan menang yang mana bi?" Tanya seorang teman pada Albi.


"Harus Indonesia." Sahut Albi dengan teguh dan serius.


Teman temannya tersenyum saja karena Albi sangat sangat cinta terhadap sepak bola sampai dia bangga menjadi temannya Sean karena Sean bisa membantu mimpinya tercapai.


Meski tidak dirinya sendiri, dia tetap senang dan bangga.


Albi sendiri yang gagal menjadi pesepak bola profesional juga kini menjadi perokok tapi masih aktif dalam sepak bola sekolahnya dan tempat tinggalnya.


Di tempat lain di sebuah apartemen yang mewah namun terlihat sedikit tak rapi ada seorang gadis duduk di sofa nya sambil menonton televisi.


Di tangannya dia memegang ponselnya dan juga minuman kalengan.


"Itu dia!" Serunya saat di layar televisi di perlihatkan wajah Sean yang bereskpresi karena timnya gagal mencetak sebuah gol dari peluang serangan balik.


Saat wajah Sean masih di tampilkan di layar televisi, gadis itu segera membuka ponselnya dan membuka kamera di ponselnya.


Dia memotret wajah Sean di televisi menggunakan kamera ponselnya dengan melakukan zoom in agar dekat dan jelas.


Setelah melakukan itu, gadis itu kembali fokus menonton pertandingan sepak bola di televisi.


Gadis itu tak lain adalah Callista.


Semenjak dari seringnya dia berhubungan dengan Sean melalui chat, Callista juga menjadi tak terlalu pemalu.


Dia secara terangan terangan mengakui pada dirinya sendiri bahwa dirinya sangat menyukai Sean.

__ADS_1


Awalnya dia hanya merasa tertarik saja tapi semenjak selalu berhubungan melalui chat dan tahu seperti apa Sean dari setiap balasan dan apa yang di ucapkan oleh Sean, dirinya bisa menilai bahwa Sean orang yang polos dan baik sehingga dia tak menyukai orang yang salah.


Pertandingan yang di tayangkan di televisi itu juga terus berlanjut.


__ADS_2