
Minggu malam,
Keluarga Sean sudah pergi untuk melakukan penerbangan ke Indonesia.
Sean saat ini berada di rumahnya dan dia benar benar dalam keadaan yang sangat canggung saat ini.
Dimana Callista menerima permintaan tolong ibunya Sean untuk merawatnya.
Ibunya juga akan mengecek terus dengan melakukan Vidio call.
Sean tidak tahu harus memulai dari mana, karena ini benar benar tidak enak.
Sean mengambil ponselnya dan melihat ada pesan masuk dari Joao Felix.
Tak lama, Felix pun melakukan panggilan pada Sean.
"Haha, bagaimana kabarmu?" Tanya Felix.
"Sungguh di sayangkan, besok kamu tidak bisa bermain ya?" Ucap Felix meledek.
Sean melirik ke Callista yang saat ini sedang duduk di sofa sambil menonton film.
"Sialan." Ucap Sean.
"Apakah kamu sesenang ini?"
"Apakah kamu yakin bisa cetak gol?" Tanya Sean.
"Yakinlah, aku dan Mbappe akan menjauhkan diri dari mu dalam perolehan gol di tim." Ucap Felix.
Memang benar, saat ini di tim Liverpool, pencetak gol terbanyak adalah Mbappe, di ikuti oleh Sean dan Felix.
Felix juga hanya berbeda beberapa gol saja dengan Sean, tapi Sean lah yang berada di urutan ke 2 berkat hattrick nya di pertandingan saat itu.
Untuk jumlah assist, Sean lebih unggul di bandingkan keduanya, mungkin hanya beda 2 saja dalam jumlah assist.
Tapi Sean akan absen dalam beberapa pertandingan dan itu akan menjadi mungkin untuk tersusul dengan cepat dan menjauhkan diri dari Sean.
Meski begitu Sean justru senang, karena ini akan meningkatkan motivasinya lagi nanti ketika dia sudah pulih dan bisa kembali bermain.
"Oiya, kudengar dari dokter tim, kamu tadi datang bersama ayahmu, apakah benar?"
"Ya benar, ada apa memangnya?"
"Tidak, hanya bertanya. Apakah mereka ada di sana?"
"Tidak, mereka pulang tadi."
"Baiklah, aku akan menunggumu nanti setelah pertandingan besok selesai bersama Magui."
"Aku penasaran dengan kondisimu yang sekarang, karena kata dokter tim kamu perlu istirahat banyak dan jangan bergerak banyak, jadi kamu pasti perlu orang untuk membantu membawakan makanan dan memasak kan?"
Sean mendengar ini langsung gelisah. Meski Felix mempunyai tingkah yang menyebalkan, dia masih peduli pada Sean.
"Tidak perlu."
"Kenapa? Kan keluargamu sudah pulang, pasti kamu sendirian." Ucap Felix.
Sean kemudian melirik pada Callista dan Callista juga melirik pada Sean.
"Kamu sedari tadi melirik lirik terus, ada siapa memangnya?" Tanya Felix penasaran saat melihat gerak gerik Sean.
Sean semakin gelisah.
"Tidak ada, kamu jangan berkunjung dulu, kamu sibuk berlatih saja agar permainan mu semakin berkembang dan bisa menyusul ku." Ucap Sean bercanda.
"Sialan!"
"Baiklah kalau begitu, besok aku berkunjung bersama Magui sekalian bawa makanan." Ucap Felix sambil langsung menutup panggilan.
Sean melihat ini hanya diam, dia menyimpan ponselnya.
__ADS_1
'Apa yang dipikirkan Felix?'
'Apa yang harus ku katakan nanti?'
"Ada apa?" Tanya Callista.
"Teman ku akan berkunjung besok."
"Baguslah." Ucap Callista.
"Kenapa bagus?"
"Justru masalah, saat ini kamu ada di sini. Dan nanti Felix tahu bahwa ada yang tinggal bersama ku di sini." Ucap Sean lemah.
Callista tersinggung dengan ucapan Sean ini.
"Apakah aku penyebabnya?"
"Kalau begitu aku akan pulang saja dan memesan tiket sekarang." Ucapnya.
Sean mendengar ini diam.
'Jika dia pulang dan ketahuan ibu, apa yang akan di katakan ibu?'
"Jangan!" Teriak Sean karena melihat Callista masuk ke kamarnya.
Callista hanya meliriknya saja dan terus berjalan ke kamarnya.
Sean melihat ini semakin bersalah.
"Sialan!"
"Felix masalah ah." Ucap Sean sedikit keras.
Di dalam kamarnya, Callista hanya tersenyum.
"Haha, dia ternyata mempunyai sikap seperti ini juga."
Callista kemudian memainkan ponselnya dan melihat akun Instagram Joao Felix.
"Dia yang akan berkunjung."
"Ho, temannya juga ternyata setipe."
Ucap Callista, maksudnya adalah memiliki wajah yang bagus dan tampan.
Di ruang keluarga, Sean menonton film dan memilih untuk mengabaikan masalah yang akan datang nanti, dia sudah tidak peduli lagi dengan masalah nanti.
....
Keesokan harinya, sore hari.
Pertandingan antara Liverpool di tayangkan di televisi, dan Sean menonton di ruang keluarga.
Dia melihat bahwa bos memilih memakai formasi 4 4 2.
Dimana lini serang akan di isi oleh Joao Felix dan Mbappe saja.
Ke empat gelandang akan di isi oleh Jordan Henderson sebagai tambahan.
Sean juga melihat para pemain sudah memasuki lapangan.
Di saat sedang menunggu akan kick off.
Callista datang dan duduk di sofa depan Sean.
"Bisakah kamu pindah jangan di situ?"
"Aku tidak kelihatan."
Callista juga meliriknya, "Terus dimana?"
__ADS_1
Sofa yang di gunakan Sean adalah sofa yang panjang dan Sean memanjangkan kakinya.
"Tuh." Ucap Sean sambil menunjuk ke sofa yang kosong.
Dengan begitu, Callista juga pindah.
Pertandingan di lapangan juga segera di mulai.
Dimana pertandingan ini, Liverpool bertanding melawan Wolves di Anfield.
Setelah pertandingan ini, Liverpool akan melakukan pertandingan Ucl melawan Atletico Madrid, dan laga premier lagi melawan Manchester City di laga away.
Ini benar benar jadwal yang berat bagi Liverpool.
Sean menonton dengan tenang di sofanya.
"Tembak Felix." Teriak Sean saat melihat Felix mendapatkan bola di kotak penalti.
Namun Felix tidak menembaknya dan malah menggocek nya yang membuat bola pun terebut oleh pemain bertahan lawan.
"Sialan, bodoh!" Ketua Sean.
Callista di sampingnya memperhatikan Sean yang mengumpat dan tersenyum kecil.
'Apakah dia selalu begini?'
'Lucu sekali seperti anak kecil.'
Dalam pertandingan, bola yang di rebut pemain bertahan Wolves itu mereka buang ke depan.
Namun bola berakhir di kaki Trent.
Trent menggiring ke depan dan melakukan penguasaan bola.
Dia mengirim pada Henderson, Henderson juga men delay bola supaya pemain lain tertarik.
"Bagus kapten." Ucap Sean menonton televisi.
Henderson menarik 2 pemain dan mengoper kepada Virgil, salah satu dari 2 pemain Wolves juga mengejar bola ke belakang atau pada Virgil.
Tapi Virgil langsung mengoper pada Robertson.
"Giring Robbo, bawa ke depan." Ucap Sean greget.
"Bagus, itu pada Aurelien."
"Bagus." Ucap Sean saat melihat Robbo benar benar mengoped pada Aurelien.
Aurelien menguasai bola dengan tenang di lini tengah, lebih tepatnya wilayah milik Wolves.
Sean melihat ini juga tegang, akan kemana Aurelien memberikan bola lagi.
Saat ini Sean menonton dan melihat Trent yang maju di sisi kanan.
"Oper ke Trent." Teriaknya, namun karena hanya menonton televisi, jelas tidak akan terdengar oleh Aurelien.
Aurelien justru malah mengoper pada Florian.
"Ah itu kosong Trent." Ucap Sean.
"Kamu ini aneh, sudah tahu tidak mungkin terdengar, tapi kamu justru berteriak teriak begitu." Ucap Callista dari samping sambil tersenyum.
Dia juga menonton pertandingan.
Sean mendengar ini langsung canggung, dia berpikir bahwa apa yang dikatakan Callista sangat benar.
"Iya aku tahu, tapi greget." Jawab Sean.
Callista hanya tersenyum saja melihat Sean seperti ini.
Di lapangan, Florian menggiring bola maju lebih dalam dan lebih masuk ke wilayah pertahanan lawan.
__ADS_1
"Bagus Flo. Mbappe kosong oper ke dia lakukan operan 1 2." Ucap Sean.