
10 Juli 2021,
Sean berada di sebuah rumah yang ukurannya sangat besar, dimana ada kolam renang, ruang gym dan fasilitas lainnya.
Dimana rumah ini sangat sangat besar dan sangat lengkap.
Klub memberikan fasilitas seperti ini untuk kenyamanan para pemainnya juga, ini membuat Sean juga sangat sangat puas dengan perawatan yang di berikan
Kemarin sore, Sean sudah bertemu dengan para pemain baru.
Termasuk Joao Felix dan para gelandang yang baru.
Aurelien Tchouameni ternyata sudah dekat dengan Mbappe karena mereka berasal dari negara yang sama yaitu Prancis.
Saat semua pemain baru itu datang, Sean juga berkenalan dengan mereka semua dan semuanya benar benar sangat rendah hati.
Meski mereka bermain untuk tim utama di tim tim sebelumnya, mereka tidak merendahkan Sean yang berasal dari tim U 23 Liverpool.
Mereka justru bangga dan senang.
Para pemain yang di promosikan dari U 23 juga ada Curtis Jones dan Harvey Elliot yang usia nya masih sangat muda.
Sudah banyak para pemain muda berbakat dan hebat yang kini mengisi tim U 23 lagi, sehingga banyak pelapis untuk nantinya.
Di rumahnya, Sean saat ini sedang berada di dalam kolam renang.
Dia sedang menenangkan otot ototnya setelah tadi dia melakukan latihan mandiri di halaman rumahnya.
Meski halamannya tidak sebesar tempat joging atau lintasan lari di lapangan, tapi itu cukup untuk dirinya joging di halamannya.
Dia juga mengolah teknik teknik bola di sana.
Untuk memperdalam sentuhannya pada bola.
Sean tidak mau kerja kerasnya selama ini menurun karena dia tidak berlatih 1 hari.
Apalagi semenjak Sean cedera saat itu, Sean benar benar bekerja sangat keras supaya jauh lebih berkembang dari pada saat itu.
Dia tidak ingin cederanya terulang lagi.
"Hah, besok berangkat Training Camp."
"Ini training camp pertama dalam karirku."
"Ku harap aku bisa bertahan dengan intensitas yang di berikan nanti."
"Ini semua juga demi perkembangan ku kedepannya."
Sean berbicara sendiri di dalam kolam renang.
Setelah merasa otot ototnya sudah rileks, Sean kemudian beranjak dari kolam renangnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Sean berada di ruangan bersantai atau bisa di bilang ruang keluarga.
Meski di sebut ruang keluarga, Sean hanya tinggal sendiri saat ini, dan ini benar benar sepi.
Berbeda dengan Joao Felix, dia mendapatkan perawatan rumah yang sama dengan Sean tapi dia tidak tinggal sendirian.
Itu karena kekasihnya ikut dengannya ke Inggris dan tinggal bersama.
Sean juga sempat berkenalan dengan kekasihnya itu.
Di ruangan keluarga, Sean sudah bersantai dengan pakaiannya yang sangat santai.
Dimana dia menggunakan celana pendek dan baju pendek, dimana kedua warna celana dan bajunya berwarna hitam.
Namun itu membuat Sean sangat elegan dan karismatik.
Karena wajahnya yang putih dan tampan.
Rambutnya yang terurai di atas dahi nya karena potongan rambutnya dengan model French Crop.
Sean bersantai dengan memainkan ponselnya, namun saat asyik sedang bermain ponsel, Sean menerima sebuah panggilan.
Panggilan itu dari Curtis Jones yang menanyakan, apakah Sean sedang sibuk atau tidak.
Sean menjawab bahwa dirinya tidak sibuk, Curtis Jones lalu menanyakan apakah Sean bisa menemaninya untuk berbelanja mencari sepatu.
Sean tentunya langsung setuju karena dia juga tak ada kegiatan.
Meski Sean awalnya menolak karena ingin membelinya sendiri, tapi klub justru menjelaskan bahwa jika Sean juga bisa membeli yang baru tapi mobil ini tidak bisa di kembalikan pada klub.
Karena merasa sayang dengan mobil yang nantinya tak terpakai, Sean akhirnya memilih untuk menerimanya dan memakai pemberian klub.
Singkat cerita, Sean sudah bersama Curtis Jones di dalam mobil. Namun tidak hanya ada Curtis Jones tapi juga ada Harvey Elliot yang ikut.
Di dalam mobil ketiganya mengobrol membicarakan hari esok yang akan melaksanakan training camp.
Tak terasa waktu terus berlalu dan mereka juga sampai di toko olahraga dari sebuah Apparel Nike.
Curtis Jones dan Harvey Elliot memilih milih sepatu nya mereka.
Mereka belum mendapatkan sponsor jadi belum menerima sebuah sepatu gratis.
Berbeda dengan Sean yang menerima sepatu gratis tiap tahunnya atau tiap 6 bulannya dari Apparel Nike itu.
Sean juga saat menandatangani kontrak kemarin, menerima sebuah sepatu barunya.
Itu adalah sepatu pertamanya yang ia dapatkan dari kontrak.
Sepatu itu berwarna ungu hitam.
Itu terlihat sangat elegan dan. Model sepatu yang di berikan pada Sean adalah Nike Mercurial Superfly 8 Academy.
__ADS_1
Itu terlihat sangat sangat bagus karena warna nya sangat pas dimana Ungu dan Hitam.
Sean juga sangat puas dengan sepatu ini, ini hampir mirip dengan sepatu sebelumnya yang ia pakai.
Setelah memakan banyak waktu, Curtis Jones dengan Harvey Elliot akhirnya selesai membeli sebuah sepatu bola.
Keduanya membeli model sepatu yang sangat sama hanya warnanya saja yang berbeda.
Model yang mereka beli adalah Nike Mercurial Air Zoom.
Warna nya adalah Kuning Putih dan Elliot membeli yang berwarna Merah Hitam.
Setelah selesai pembelian tersebut ketiganya juga memilih untuk bersantai dulu di sebuah cafe.
Mereka juga mengobrol kan banyak hal di ketika di sebuah cafe, Harvey Elliot yang dimana umurnya masih sangat muda juga sangat sangat terbuka dan tak malu untuk berbicara.
Inilah perbedaan orang Indonesia dan Eropa.
Dimana para pemain Eropa, meski masih muda mereka selalu terbuka pada seniornya sehingga kualitas permainan mereka juga lebih baik dari Indonesia karena mereka juga mendapatkan banyak pelajaran dan masukan dari senior seniornya.
Coba saja, para pemain Indonesia yang berkarir di Eropa berani terbuka dan berani menanyakan banyak hal pada seniornya di klub, pasti kualitas permainan mereka juga akan berkembang karena mendapatkan pelajaran dari seniornya yang sudah memilliki banyak jam terbang dan pengalaman.
Malam harinya, setelah Sean dan keduanya pulang dari sebuah cafe di sore hari, Sean memilih untuk diam di rumahnya dan beristirahat.
Sean melakukannya karena dia merasa besok harus sangat sangat fit agar tidak menganggu jalannya latihannya nanti di Amerika.
Apalagi di sana bukan hanya latihan biasa, dimana latihannya akan sangat sangat keras dan juga adanya beberapa pertandingan yang harus di ikuti.
Di dalam kamarnya, Sean meluruskan kakinya di atas kasur dengan tangan yang masih asyik memainkan ponselnya.
Sean sedang melihat lihat foto dari postingan yang sudah lama ia posting.
Dia melakukannya untuk mengingat semua yang dulu pernah dia lakukan.
Dia bangga dengan semua yang sudah dia lalui dahulu.
Sean juga membaca beberapa komentar di setiap foto foto yang ia lihat itu dan tersenyum senyum sendiri.
Banyak sekali komentar yang di berikan adalah dari para wanita.
Sean juga mengklik beberapa akun wanita yang berkomentar itu dan melihat profil nya melihat foto foto yang di posting wanita wanita yang berkomentar itu.
Meski kebanyakan adalah wanita cantik, Sean tidak tertarik pada mereka.
"Hah sungguh merepotkan mempunyai wajah tampan ternyata." Ucap Sean tanpa sadar.
Tapi tak lama setelah mengucapkan kalimat tadi, Sean diam.
Dia merasa aneh.
'Apa yang tadi ku ucapkan?'
__ADS_1
'Ini aneh, aku terlalu percaya diri dengan penampilanku.'