I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 140.


__ADS_3

18 September 2021,


Sean berada di rumahnya, dimana dia kedatangan Felix bersama kekasihnya dan juga satu temannya Magui yang sedang berkuliah di Inggris.


Dia adalah Elisa.


Di dalam rumah Sean, fasilitas yang di sediakan juga sangat lengkap.


Makanya Felix mengajak Magui dan temannya Magui ke rumah Sean.


Meski di rumahnya Felix juga sama, tapi karena adanya teman Magui, Felix memilih rumah Sean supaya pas menjadi berempat.


"Jadi mau ngapain kamu datang ke sini?" Tanya Sean.


"Biasa, mengobrol, main PlayStation dan menonton film."


"Mau yang mana dulu?"


"Jangan bermain PlayStation!" Ucap Magui.


"Kenapa?" Tanya Sean dan Felix bersamaan.


"Kalian, apakah kalian mau mengabaikan kami?"


"Kan kalian bisa mengobrol." Ucap Felix.


"Kamu ini!" Ucap Magui pada Felix.


"Baiklah baiklah, jadi mau mengobrol atau bermain game bersama atau menonton film?" Tanya Sean menengahi Felix dan Magui.


"Main game." Ucap Magui.


"Ayo, game apa?" Tanya Felix menantang.


"Taking or kissing." Ucap Magui.


Felix langsung tertawa mendengar game yang biasa ia mainkan ini.


"Maksudnya gimana?" Tanya Sean.


Sean sedikit ambigu sekarang, dia mendengar kata kissing saja sudah sedikit panik.


"Nanti gamenya seperti ini, kertas atau tisu di simpan di mulut, lalu orang selanjutnya akan mengambil kertas atau tisu tersebut."


"Tapi orang yang menyimpan kertas atau tisu pertama di mulut, mereka berhak menahan kertas atau tisu nya."


"Nanti robek?" Tanya Sean.


"Iya betul."


Sean langsung mengerti maksudnya.


"Jadi orang orang selanjutnya akan berusaha untuk kertas atau tisu itu terus berlanjut, kalo ada yang menjatuhkannya mereka kalah, dan harus menjawab satu pertanyaan atau melakukan apa saja yang di perintahkan dari siapa yang menang."


Sean mendengar ini sepertinya menarik.


"Oke ayo."


"Kalau begitu kamu duduk disitu, aku di sini, kamu disitu, dan kamu di sana." Ucap Magui.


Dengan begitu, sebuah persegi di buat dan mereka berjarak sangat berdekatan.


Di kanan Sean ada Joao Felix di depannya ada Elisa, dan di depan Joao Felix ada Magui, di sisi kanan Magui ada Elisa.


Kemudian Magui mencari kertas atau tisu yang ada di ruang keluarga itu.


"Nah kalau begitu ayo mulai." Ucap Magui sambil menyimpan tisu di mulutnya, tisunya juga dia gigit sedikit di ujung.


Kemudian dia mengarahkan wajahnya pada Elisa agar mengambil tisu tersebut.

__ADS_1


Akhirnya Elisa juga mengambil tisu tersebut dengan sisa potongan dari Magui.


Namun itu masih cukup besar.


Kemudian Elisa mengarah pada Sean.


Sean juga melihatnya.


"Ayo cepat, kalo ga dimainkan secara cepat ini tidak menarik." Ucap Magui.


Kemudian Elisa juga memajukan kepalanya sedikit, Sean juga maju, dia kemudian mengambil tisu bagian bawah menggunakan mulutnya.


Sean menariknya dan akhirnya tisu tersebut juga tidak terpotong karena Elisa melepaskan semuanya.


Gamenya bebas, berhak menahan tisu tersebut atau melepaskan semuanya.


Jika menahan maka tisu akan sobek dan sobekan yang tersisa dan di ambil oleh orang selanjutnya akan menjadi tisu yang akan terus di mainkan.


Sean kemudian mengarah pada Joao Felix.


Saat melihat kepada Joao Felix, Sean malah tertawa.


"Bentar, bentar." Ucap Sean.


"Aku tidak kuat." Ucap Sean.


"Apakah harus aku memberikannya pada dia?" Tanya Sean sambil menunjuk Felix.


"Santai saja, aku juga normal jadi ga mungkin mengambil bagian atasnya dimana ada mulutmu." Ucap Felix.


Dengan begitu Sean memasangkan lagi tisunya dan dia menengadahkan dagunya keatas supaya Felix benar benar mengambil bagian bawah.


Alangkah terkejutnya Sean, saat Feli mengambil tisu tersebut.


Sean awalnya akan melepaskan semuanya tapi siapa sangka Felix benar benar bergerak cepat, dengan begitu, tisu juga robek.


Apalagi bahwa tisu sangat mudah robek.


Saat tisu sudah di ambil.


"Si brengsek ini curang." Ucap Sean.


Namun Felix menghiraukannya dan fokus pada Magui yang akan mengambil tisu tersebut.


Keduanya itu tersenyum.


Lalu Magui mengambil tisu di mulut Felix tapi Felix menahannya, dan akhirnya bagian tisu yang di ambil oleh Magui juga tersisa sangat sedikit.


Setelah di ambil, Felix juga melepaskan tisu yang masih ada di mulutnya dan langsung tertawa.


Sedangkan Magui langsung bergerak pada Elisa agar Elisa mengambil tisu tersebut.


Sean hanya memperhatikan keduanya dengan fokus.


Dia berharap bahwa Magui melepaskan tisu nya agar tisu nya tetap bertahan seperti itu.


Elisa juga berharap sama dengan Sean karena jika tisunya di tahan oleh Magui, maka Elisa hanya akan mengambil sisa tisu yang dimana itu hanya tinggal sangat sedikit.


Magui tersenyum saat Elisa mengambil tisu tersebut.


Magui kemudian mengeratkan tisu yang dia tahan di mulutnya.


Elisa juga segera mengambil karena tahu bahwa Magui pasti melepaskannya.


Tapi ternyata, tisu itu akhirnya robek lagi dan benar saja Magui membawa sisanya sangat sedikit.


Elisa langsung diam dan menatap Magui.


Sedangkan Sean akan mulai berdiri, namun Felix segera menahannya.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?"


"Gamenya belum selesai."


"Ayo lanjutkan Lisa." Ucap Felix pada Elisa.


Elisa juga ragu ragu, dia menatap Sean dan wajahnya sedikit memerah.


Sean benar benar tidak tahu harus apa.


"Ayo cepat, game nya gak menarik kalo ga di mainkan dalam tempo cepat." Ucap Magui.


Kemudian Magui mendorong kepala Elisa ke depan agar lebih maju.


Felix juga meminta Sean agar segera maju.


Sean kemudian maju sedikit dengan hati yang berdebar debar.


Sean berharap tidak ada kecelakaan ketika mengambil tisu yang ada di mulut Elisa.


Pasalnya tisu itu benar benar tinggal sedikit dan itu tidak menggantung melainkan benar benar menempel di bibirnya Elisa.


Kemudian Elisa benar benar maju, dia sedikit memerah wajahnya, Sean juga menyipitkan matanya sebelum mengambil tisu tersebut.


"Ayo cepat."


Kemudian Elisa semakin maju, Sean juga maju.


Saat Sean akan mengambil tisu itu di mulutnya, Joao Felix berteriak.


Dimana itu membuat kaget Elisa, tisu yang ada di mulutnya Elisa juga jatuh karena tubuh Elisa yang bergerak dengan spontan dan gerakannya juga cukup besar sehingga membuat tisunya jatuh.


Saat itu benar benar momen krusial.


Karena Sean sudah sangat dekat dan akan mengambilnya.


Sean juga tak bisa melihat ke arah tisunya karena matanya sudah menatap mata Elisa.


Tapi karena gerakan Elisa juga lah dan teriakan Felix, Sean juga kaget dan spontan maju ke depan.


Saat bibir keduanya bersentuhan.


Sean tercengang.


Dia melongo menatap matanya Elisa.


Waktu saat itu seperti berhenti.


Sedangkan Felix dan Magui juga diam karena menikmati momennya. Magui juga dengan cepat mengambil ponselnya dan memfoto adegan tersebut.


"Ehmm." Dehem Felix.


Dengan begitu Sean juga mundur tapi matanya masih menatap Elisa. Sama halnya dengan Elisa dia juga seperti Sean menatap mata Sean.


"Bagus bagus." Ucap Felix.


"Kalian kalah, jadi kalian harus mendengarkan kami." Ucap Felix.


Sean mendengar itu juga langsung menatap Felix.


"Sialan, kamu yang menganggu, kalau tidak berteriak tidak mungkin tisu nya jatuh dan itu akan berhasil."


"Terus kalau berhasil mau bagaimana?" Tanya Felix.


"Denganku?" Tanya Felix lagi sambil menunjuk wajahnya.


Sean juga diam saat mendengar perkataan Felix.


Menurut Sean, perkataan Felix ada benarnya juga, apalagi jika itu terjadi, Sean tidak sanggup membayangkannya.

__ADS_1


__ADS_2