I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 53.


__ADS_3

23 Januari 2018,


1 hari sebelum pertandingan antara Cova Piedade melawan Arouca. Laga ini akan di selenggarakan di homenya Cova Piedade atau di stadium Municipal Jose Martins Vieira.


Stadium di sana hanya bisa menampung 3500 penonton.


Di lapangan tim latihan Arouca, kini Sean dan rekan lainnya sedang berlatih latihan taktik.


Latihan taktik ini di peragakan dengan bermain game 4 vs 4. Ini supaya para pemain bisa memaksimalkan akurasi passingnya.


Di game 4 vs 4 ini juga pelatih menganjurkan agar pemainnya bergerak dengam cepat untuk mencari ruang selanjutnya setelah memberikan passing.


Ini juga di lakukan agar para pemain terbiasa dengan setiap pressing ketat yang dilakukan lawan nantinya.


Selain mencari ruang, memaksimalkan akurasi passingnya atau operan, para pemain juga harus bisa menanggung beban jika rekan rekan tim lainnya tidak menemukan ruang.


Beban di sini adalah ia harus bisa menguasai bola dan mencoba agar tidak di rebut oleh lawan.


Ini merupakan skema taktik yang nantinya akan di gunakan oleh pelatih Jorge Costa.


Memaksimalkan akurasi yang bagus dengan operan yang sangat cepat karena pemain harus segera mencari ruang lagi saat sudah memberikan operan.


Di lapangan yang luas nanti dimana 11 pemain lawan 11 pemain, pemain juga bisa memaksimalkan luas lebar lapangan yang memudahkan untuk mencari ruang.


Kekurangannya hanya jarak, dengan itu pelatih menganjurkan agar mengakuratkan akurasi passingnya, supaya jika rekan timnya berada dalam jarak yang jauh, passingnya bisa tepat diberikan pada rekan timnya dan tidak melenceng.


Game 4 vs 4 ini di jalankan selama 5 menit lalu istirahat 3 menit, setelah itu memulai lagi 5 menit.


Ini juga agar pemain bisa mengatur staminanya.


Meski para pemain sangat lelah karena sudah berhari hari berlatih seperti ini, tapi mereka juga merasakan banyak kemajuan dalam akurasi passing mereka.


Penglihatan mereka untuk mencari ruang juga sedikit lebih terbuka lebar karena sering membiasakan mencari ruang yang kosong.


Meski kaki selalu berat untuk bergerak cepat, para pemain memaksakannya namun tidak melebihi batas wajarnya karena takut cedera.


"Priit.."


Dengan peluit yang di tiup oleh pelatih Jorge Costa, para pemain berhenti melakukan game 4 vs 4 nya.


"Sudah cukup, kalian sudah terlihat banyak berkembang. Meski ini belum cukup dan belum sesuai dengan yang kuinginkan, ini lebih baik daripada sebelum sebelumnya."


"Sekarang pendinginan, waktu latihan sudah cukup."


Pelatih juga berbalik dan mengobrol dengan assisten pelatih tentang beberapa skema taktik untuk besok.


Setelah beberapa saat pelatihan tim sudah selesai, semuanya kembali keruang ganti kecuali Sean yang melakukan latihan tambahan.

__ADS_1


Latihan tambahan hari ini, Sean tidak melakukan latihan fisiknya tapi latihan tekniknya.


Mulai dari gerakan menembak yang melewati beberapa rintangan cone dan menggiring yang melewati beberapa cone.


Ini Sean latih supaya ketika menggiring bola nya dia tidak kehilangan bola terlalu jauh dari kakinya, ini juga bisa melatih memaksimalkan kecepatan menggiring bolanya.


Setelah 15 sampai 20 menit, Sean juga menyelesaikan latihannya dan kembali ke ruang ganti, dimana sudah sangat sepi.


Sean menyimpan sepatu latihannya di loker dan menyimpan kaos latihannya di ruang cuci tim.


Dia juga tak lupa mengambil baju salin dari lokernya.


Kembali ke asramanya dengan keadaan yang masih sangat lelah, Sean berjalan karena jarak juga dekat.


Selang beberapa menit, Sean sampai di asramanya. Dia menyenderkan punggungnya di kursi belajar dengan kaki yang masih di julurkan di bawah.


Menghela nafas dalam dan mengatur nafasnya dengan pelan pelan, Sean menutup matanya.


Tak lama ia juga membuka matanya, "Hampir seminggu, pelatihan seperti ini di lakukan."


"Meski sangat menguras tapi ini terlihat lebih efektif."


"Apalagi aku juga merasakan bahwa stamina ku juga semakin bertambah dari batas kapasitas sebelumnya."


"Hanya saja, aku tidak tahu apakah skema yang diinginkan pelatih akan berjalan lancar atau tidak."


Setelah beberapa saat, Sean mandi dan membersihkan tubuhnya.


..


Malam harinya, Sean yang sudah selesai melakukan ibadah membuka ponselnya karena sudah tak ada kegiatan lagi.


Dia juga ingin sedikit bersantai karena beberapa hari sudah sangat jarang bermain ponsel.


Memang, Sean sangat jarang bermain ponsel seminggu terakhir ini karena saat awal awal pelatihan skema pelatih yang baru, Sean sangat kelelahan karena belum terbiasa.


Dia hanya bisa merebahkan tubuhnya dan tertidur ketika awal awal setelah selesai latihan jadi tidak ada waktu untuk bermain ponsel.


Membuka aplikasi chat nya, dia melihat bahwa grup sekolahnya dulu sangat sepi, ia melihat pesan terakhir yang di kirim oleh teman temannya di grup sekolah.


Setelah membacanya, Sean kaget karena melihat bahwa isi pesan terakhirnya adalah salah satu teman di sekolahnya meninggal karena kecelakaan motor.


Tentu saja kaget.


Sean kemudian menelpon Alby namun tak diangkat, menelpon Gilang dan teman lainnya namun tak diangkat.


"Apakah mereka sedang di rumah Dika?"

__ADS_1


Dika adalah teman sekolah Sean yang meninggal itu, Sean berpikir begitu karena biasanya akan melayat dan ikut mengantar mengubur jenazahnya.


"Ini benar benar Dika, tapi kenapa dia bisa kecelakaan?" Tanya Sean saat sudah melihat beberapa photo di tempat kejadian kecelakaan.


Meski hanya sedikit terlihat wajahnya Dika, Sean yakin karena obrolan di grupnya juga ramai sebelum menjadi sangat sepi.


Sean melihat bahwa di photo itu, motornya sudah hancur.


Sean kembali mencoba menelpon teman temannya lagi namun tak diangkat juga.


Ia pun akhirnya menyerah dan memilih untuk membuka aplikasi instagramnya.


Setelah fokus bermain di aplikasi instagramnya, layar ponsel Sean berubah karena Alby menelponnya, Sean pun menjawabnya.


"Hallo Sean ada apa?" Tanya Alby.


"Itu, aku melihat di grup, apakah benar berita tentang Dika itu?" Sean mencoba meyakinkan lagi meski sudah percaya.


"Iyaa, sekarang aku dan yang lainnya masih di rumah Dika."


"Oh aku turut berduka, jadi bagaimana kejadiannya?" Tanya Sean.


Alby pun kemudian menceritakan kejadiannya kepada Sean.


Dimana Dika sedang dalam perjalanan pulang setelah mengantar pacarnya, namun di saat pulang dia menemukan bahwa remnya blong dan itu berada di jalur yang menurun, jadi kecepatan motor semakin meningkat.


Dika juga berusaha untuk menghentikan motornya dengan cara menggunakan kakinya yang mengerem pada jalan, namun itu hanya sedikit memperlambat dan kecepatannya masih cepat.


Karena tak ada kesempatan untuk menghentikan motornya, Dika pun melompat dari motornya, namun lompatannya tidak terlalu bagus dan sepatunya menyangkut di step motor.


Dika yang sudah kehilangan kendali itu akhirnya terseret oleh motornya, motor yang tidak ada pengemudi itu akhirnya menabrak pembatas jalan dan Dika juga ikut menabrak.


Namun karena posisi yang salah, tulang rusuk nya patah dan menusuk ke dalam, kepalanya juga terbentur keras.


Sean yang mendengarkan cerita itu ngeri.


"Sudah cukup, aku mengerti."


"Jadi kapan di kuburkannya?"


"Besok pagi, sekarang sedang menunggu keluarga yang jauh datang."


"Baiklah kalau begitu."


Sean pun menutup telpon, lalu mentransfer 3 juta rupiah pada Alby dan mengirimkan pesan pada Alby.


'Bilangin aku turut berduka dan maaf tidak bisa hadir, ini semoga membantu."

__ADS_1


Sean memberikan 3 juta meski tak banyak itu cukup, Sean juga tidak hadir dan hanya bisa membantunya dengan itu.


__ADS_2