
3 hari kemudian,
Sc Covilha yang berstatus sebagai tuan rumah menjamu tamu mereka yaitu Arouca.
Di pertandingan yang di gelar di homeground Sc Covilha itu, Arouca berhasil meraih 3 poin penuh lagi.
Skor dalam pertandingan adalah 1 -3. Dimana Sc Covilha mendapatkan hadiah penalti karena terjadinya hand ball di kotak penalti.
Dengan hadiah itu, Sc Covilha berhasil mengungguli Arouca di babak pertama. Namun tak lama selang masuknya penalti tadi, Arouca langsung membalasnya dengan gol Beto yang menggunakan sundulannya untuk mencetak gol.
Sampai turun minum, skor masih imbang 1 1, di babak ke 2. Sean juga di mainkan oleh pelatih Jorge Costa.
Sean tidak masuk starting line up karena pelatih tidak mau Sean cedera, apalagi Sean selalu memberikan dampak positif pada timnya.
Di babak ke 2, setelah masuknya Sean. Sean berkontribusi untuk 1 gol Arouca. Sean memberikan assist pada Beto yang berdiri kosong di dalam kotak penalti.
Meski sempat di tackle dari belakang oleh pemain lawan agar menganggu momentum Beto, namun itu tetap di jadikan gol oleh Beto.
Sampai menit terakhir, Lopes menerima umpan terobosan dari Santos dan memanfaatkannya dengan baik.
Lopes mencetak skor yang membuat Arouca unggul lebih jauh di menit terakhir.
Dengan gol Lopes, Sc Covilha tidak bisa berbuat apa apa di waktu yang tersisa. Mereka hanya bisa bertahan di wilayah mereka tanpa melakukan pressing.
...
Di asrama, Silva sudah kembali dari mengurus urusannya di Porto. Dia juga sudah mengurusi semua biaya pelatihan yoga Sean.
"Namamu sekarang sudah semakin di perbincangkan oleh para agen."
"Aku juga tahu bahwa ada beberapa yang ingin mengontakmu untuk menjadikan klienmu."
"Aku tidak tahu, bagaimana kamu akan menanggapinya?"
"Santai saja, aku tak akan pindah agen. Kamu dan aku sama sama memulai, jadi ini yang terbaik."
"Aku takkan pindah agen, asalkan kamu juga bekerja dengan baik."
Biasanya, untuk para pemain muda yang memiliki agen apalagi agennya masih baru, itu pasti akan di rebut oleh agen agen senior lainnya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih.
"Aku juga melihat berita berita di akun sosial media. Mereka sudah semakin mengenalmu. Jadi sekarang kita berada dalam fase yang mungkin akan meningkatkan karirmu atau menjatuhkan karirmu."
"Ku harap kamu bisa bermain lebih baik lagi."
"Sudah ada banyak sponsor yang ingin menjadikanmu kliennya namun aku belum menjawab semuanya karena bayaran mereka kecil. Aku juga berpikir untuk menerima tawaran sponsor nanti saat kamu semakin baik."
"Apakah tak masalah?" Tanya Silva.
"Tak masalah, urusan di luar biar kamu yang mengaturnya."
"Baiklah."
__ADS_1
"Kudengar ada beberapa tim dari Primeira Liga yang ingin membelimu dari Boavista."
"Ada juga dari Liga Belgia dan Belanda."
"Namun di Liga Belgia dan Belanda itu masih tim tim kecil papan bawah."
"Hah? Benarkah?" Tanya Sean yang kaget.
"Benar, mereka sudah mengirim para scouting mereka ke Portugal untuk menonton setiap pertandinganmu dan mengevaluasinya."
"Aku juga melihat ada beberapa scouting dari tim di luar dua liga itu, tapi aku kurang mengenalnya."
"Apakah kamu yakin mereka datang kesini untuk memperhatikanku?"
"Aku yakin, ini sudah ramai di perbincangkan di para agen."
Para agen memang biasanya mengetahui seluk beluk dari setiap kejadian, mata para agen ada dimana mana, jadi kejadian seperti ini tidak mungkin tidak terlihat.
"Oke baiklah, untuk sekarang kamu fokus saja pada setiap permainanmu, jangan sampai terganggu."
"Semua ini bisa meningkatkan karirmu tapi bisa juga menjatuhkanmu."
"Baik aku mengerti."
"Kalau begitu, aku harus pergi." Dengan itu Silva pun pergi meninggalkan Sean sendirian di asramanya.
Sean yang ditinggal sendirian melihat ke arah luar melalui jendelanya.
"Apakah semua ini tidak terlalu cepat?"
"Meski aku senang karena para scouting dari tim lain dan liga lain datang, ini membuatku merasa terbebani."
"Aku merasakan hal baru lagi, beginilah rasanya terbebani dengan tanggung jawab besar."
Sean merasa terbebani karena menurutnya dia masih bermain kurang dari pemuda lainnya, namun yang tidak Sean tahu adalah Sean lebih baik dari para pemuda berbakat itu dalam bermain.
Di masa yang di perhatikan oleh banyak pasang mata, Sean merasa terbebani karena memikul tanggung jawab besar dimana semua nya percaya bahwa Sean akan menjadi lebih baik lagi dari sekarang.
Meski terbebani, Sean tetap berpegang teguh pada dirinya sendiri.
"Aku harus menjadi mimpiku kenyataan, angkat harkat dan martabat keluargaku."
"Jangan sampai menyusahkan orang tua dan keluargamu. Ayo bisa. Kerja keras lagi, ini baru awal Sean, ayo!"
Sean menyemangati dirinya sendiri sambil melihat dirinya di kaca jendela yang hanya terlihat samar samar.
Setelah beberapa saat, Sean kembali untuk duduk di kursi belajarnya sambil memainkan ponselnya.
Saat sedang fokus bermain ponsel, tiba tiba ada ketukan di pintu asramanya, Sean pun keluar dari asramanya.
Dia melihat pak satpam yang biasanya bertemu, Sean juga akrab dengan satpam itu.
__ADS_1
"Ada apa pak?"
"Itu, ada yang mencarimu di luar."
Memang, karena di jaga oleh satpam, tamu yang tidak memiliki izin di larang masuk ke wilayah asrama pemain.
Asrama Sean dekat dengan bangunan kantor dari tim Arouca.
"Siapa pak?"
"Tidak tahu, tapi melihat pakaiannya itu seperti agen."
"Hah?"
"Yahh lihat saja olehmu, aku tak tahu apakah tebakanku benar atau tidak."
Dengan itu Sean berjalan mengikuti pak satpam ke gerbang depan.
Setelah beberapa saat, Sean melihat seorang pria berumuran 45 tahun menggunakan jas dan membawa tas yang di pegang di tangan kirinya.
'Benar saja agen, berarti ucapan Silva benar.' Sean terus mendekati agen itu yang sedang berdiri dekat pos dan tersenyum cerah.
"Apakah kamu mencari saya?" Tanya Sean.
"Iyaa, aku datang ke sini setelah melihat semua permainanmu dalam pertandingan pertandingan bersama Arouca."
"Terus apa tujuanmu?" Tanya Sean masih tenang namun dalam hatinya sudah merasa kesal.
'Ketika aku masih merangkak, para agen tidak ada yang menjumpaiku, sekarang aku sedang perlahan bangkit mereka menjumpaiku.'
'Wajar saja, inilah kehidupan.'
"Aku datang ke sini berniat menjadikanmu sebagai klien ku."
"Aku sudah punya agen." Ungkap Sean.
"Akui tahu." Sahutnya.
"Terus kenapa?"
"Mungkin agenmu memiliki sedikit kontak dengan klub klub di banding denganku yang sudah berpengalaman lama."
"Aku memiliki banyak kontak di klub klub jadi akan memudahkanmu nantinya untuk pindah klub."
"Apakah kamu tidak tahu bahwa agenku berasal dari Gestifute?" Tanya Sean.
Sean sengaja mengungkapkan ini, karena di Portugal perusahaan Gestifute Agency bagaikan raksasa untuk para agen.
Mendengar ungkapan Sean, agen itu terdiam.
"Dia memang agen baru, tapi dia berasal dari Gestifute. Apakah ada yang kurang dari Gestifute?"
__ADS_1
Untuk menjadi agen di Gestifute, itu memiliki banyak syarat supaya bisa bergabung. Silva yang terbilang masih muda di kalangan agen termasuk dalam orang orang yang hebat.
Sean juga sudah melihat nilai dan kemampuannya jadi tidak mungkin bahwa Silva sesederhana itu sampai sampai Gestifute menerimanya asal asalan.