
Keesokan harinya,
Sean yang berada di asrama dan juga sudah selesai latihan sedang bermain PlayStation bersama Silva.
"Kamu berkontribusi lagi di pertandingan kemarin, bagus." Ungkap Silva yang dibalas senyuman oleh Sean.
"Apakah kamu tidak bosan bermain PlayStation seperti ini terus untuk mengisi waktu luangmu. Aku saja bosan harus menemanimu yang bosan."
Silva di telpon oleh Sean untuk menemani Sean bermain PlayStation, Silva hanya berusaha sebaik baiknya untuk membuat Sean tidak bosa.
Tapi dia mulai bosan karena sudah 3 jam bermain PlayStation.
"Aku juga bosan tapi mau apalagi." Ungkap Sean.
"Sebaiknya kamu nanti liburan musim dingin pulang ke Indonesia agar mempunyai sedikit kesibukan selain latihan tim, latihan sendiri dan bermain PlayStation."
Meski Sean bermain PlayStation mulu, tetapi Sean tidak melupakan latihan kerasnya sendiri sesudah dan sebelum latihan bersama tim.
"Aku tidak tahu, gimana nanti." Ungkap Sean.
"Apakah kamu ada rencana?" Tanya Sean tiba tiba.
"Ada banyak, aku harus mencari klien lain."
Silva selalu berusaha mencari klien lain selain Sean tapi sulit karena rata rata sudah memiliki agen dan tidak mempercayainya.
Meski Sean memberi tahu mereka bahwa ada 1 pemain di bawah kendalinya yang bermain di Liga Pro, para pemain muda masih sulit percaya.
"Kalau begitu pergilah." Ungkap Sean tiba tiba.
"Kamu mengusirku?"
"Tidak, hanya saja kamu sudah terlihat sangat bosan." Ungkap Sean.
Silva juga diam.
"Pengumuman pemain muda berbakat akan di umumkan di bulan Desember. Berusahalah."
"Dengan tercantumnya kamu dalam jajaran pemain muda berbakat, itu merupakan jalur bagimu untuk mempercepat karirmu menuju tim tim besar."
"Aku tahu, kamu sudah memberitahuku." Sahut Sean.
"Bukan itu, aku berbicara agar kamu bukan hanya tercantum saja, tapi mendapatkan posisi pertama dan mendapatkan piala penghargaannya."
"Kenapa?" Tanya Sean.
"Itu termasuk penghargaan terbaik bagi pemain muda. Penghargaan itu bukan hanya sekedar sebagai pemain berbakat. Tapi sebagai motivasi untuk pemain muda."
"Mendapatkan posisi pertama dan mendapatkan penghargaannya seperti mendapatkan Ballon d Or, tapi ini hanya untuk pemain muda."
"Kamu tahu, ini hanya bisa sekali di raih sedangkan Ballon d Or bisa berkali kali." Ungkap Silva.
"Jadi penghargaan ini hanya bisa di terima 1 oleh 1 pemain. Jadi jika aku sudah mendapatkannya aku tidak bisa mendapatkannya lagi?" Tanya Sean di balas anggukan Silva.
"Kamu tahu, banyak hal positif nantinya jika kamu meraih penghargaan ini. Nilai mu akan naik dan semakin mahal, disitu juga kamu mendapatkan bayaran tinggi sehingga kamu bisa membantu orang tuaku."
"Membantu orang tuaku?" Tanya Sean yang teliti dalam mendengar.
__ADS_1
"Memang kenapa orang tuaku?" Tanya Sean lagi.
Silva juga tertegun dia tidak sengaja keceplosan.
Melihat Silva terdiam, Sean mendesak agar Silva bercerita, dengan desakan Sean, akhirnya Silva terpaksa bercerita.
Setelah Sean mengetahuinya, "Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal?" Tanya Sean.
"Aku takut mempengaruhi permainanmu nanti." Ungkap Silva.
"Terus bagaimana dengan mereka sekarang?"
"Mereka mengurus usahamu dan menambahkan uang untuk membangun usahamu dari simpananmu ayahmu juga uang yang sudah di kirim olehmu ke orang tuamu." Ungkap Silva berbicara terus terang karena semuanya sudah terungkap juga.
Sean yang mendengar semua ini hanya diam dan tak menyangka, semua nya terjadi dan dia tidak tahu apa apa.
'Kerja keras Sean, angkat nilai keluargamu dan banggakan keluargamu.'
Melihat Sean terdiam, Silva juga terdiam.
"Tapi kondisi kesehatan mereka baik baik saja kan?"Tanya Sean tiba tiba yang dibalas anggukan Silva.
Sean penuh syukur dan menghela nafas lega, dia takut ayah dan ibunya drop lalu sakit karena tertimpa musibah yang harus menghancurkan usaha ayahnya itu.
"Ohiyaa." Ungkap Silva tiba tiba.
"Ada brand dari negaramu yang tertarik untuk membuatmu menjadi model iklannya." Ungkap Silva.
"Model iklan?"
"Memang aku juga tak tahu kenapa brand itu mau melakukan itu."
"Tapi bayarannya tinggi." Ungkap Silva.
Dengan beberapa perbincangan, Sean akhirnya menolak karena tak mau fokus dulu pada sponsor, dia harus fokus untuk bermain dengan baik dan menaikan nilai harganya sehingga dia juga memiliki bayaran tinggi.
Malam harinya,
Sean sendirian di asrama, dia membuka ponselnya dan menelpon ibunya.
Setelah beberapa saat, panggilan pun terhubung.
"Hallo bu."
"Hallo nak, ada apa?"
"Apakah ibu dan ayah baik baik saja?"
"Kami baik baik saja. Ada apa nak?" Tanya ibunya khawatir.
"Tidak apa, bagaimana dengan usaha yang sekarang sedang di bangun?"
"Lancar, ibu mempekerjakan beberapa teman ibu yang dulunya 1 universitas dengan ibu."
Ibu Sean meski tidak bekerja dan tinggal di rumah, dia masih merupakan sarjana dalam jurusan bisnis management.
"Baiklah terima kasih, maaf merepotkan bu."
__ADS_1
"Tak apa, bagaimana kamu disana?"
"Baik bu, aku sudah menjadi starting line up sekarang."
"Bagus syukurlah."
"Kapan kamu pulang?" Tanya ibunya tiba tiba.
Sean juga diam dan berpikir. Setelah beberapa saat, "Mungkin setelah liga berakhir bu, Desember nanti aku tak bisa pulang." Ucap Sean dengan pemikiran yang hati hati.
"Baiklah. jaga kesehatanmu."
"Ohiyaa, ibu bertemu dengan aktris cantik itu di mall ketika berbelanja dengan adikmu untuk mencari tas barunya." Ucap Ibu Sean tiba tiba.
"Terus apa urusannya denganku ibu?" Tanya Sean aneh.
"Kamu ini tidak peka terhadap ibu."
"Anak anak orang lain umur 17 sampai 19 tahun sudah punya pacar dan sudah belajar mengenalkannya pada orang tua mereka sedangkan kamu. Huhh." Ungkap ibu nya menjadi sedikit kesal namun masih ada bercandanya.
"Ibu kan aku sedang mengejar mimpi ku, kenapa ibu bilang begitu tiba tiba. Ibu ingin aku melakukan kesalahan nantinya?" Tanya Sean.
"Tidak jangan!!" Ucap Ibu Sean tiba tiba.
Ibu Sean tahu apa arti kesalahan yaitu Sean melakukan hubungan di luar nikah.
"Ya, makanya. Jadi bagaimana ibu bertemu? Terus bagaimana reaksi ibu?" Tanya Sean.
Dengan itu, ibu Sean menceritakan kejadian di mall.
Dimana Ibunya Sean dan adiknya sedang mencari tas dan tak sengaja bertemu dengan aktris itu. Ibu Sean pun menghampirinya karena penasaran dan ternyata aktris itu baik dan menerima ungkapan pujian dari ibu Sean.
"Hanya itu saja bu?"
"Tidak." Ungkap Ibunya sedikit ada nada bangga.
"Terus apalagi?"
"Ibu mengenalkanmu padanya."Ucap Ibunya tiba tiba.
Sean tertegun, "Hah?"
"Ibu mengenalkanmu padanya."
"Kenapa ibu melakukan itu?"
"Sengaja, ibu hanya bercanda saja karena tidak mungkin aktris itu juga tertarik padamu." Ungkap Ibu Sean meledek.
"Dia cantik dan baik bahkan berbicara dengan ibu juga sopan, berbeda denganmu yang meninggalkan ibu dan tinggal jauh dari ibu. Aku punya anak yang jahat. hikkss." Ungkap Ibunya bercanda.
"Bu jangan bercanda, aku tahu ibu bercanda."
"Yasudah kamu istirahatlah dan jaga kesehatanmu. Bermain dengan baik dan selalu hati hati." Ungkap Ibunya lalu menutup telponnya.
Sean juga menyimpan telponnya dan berbaring di ranjang kasurnya.
"Aku rindu rumah dan keluargaku " Ungkap Sean.
__ADS_1