I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 74.


__ADS_3

Keesokan harinya,


Di Indonesia, di sebuah apartemen mewah yang rapi dan bersih. Duduk dua orang wanita, satu muda dan satu sudah berumur 30 tahunan.


Dua wanita itu adalah Callista dan agennya.


Mereka sedang mengobrolkan sebuah masalah yang mengancam karirnya Callista sebagai aktris.


Callista dengan tegas menolak tawaran iklan dari suatu brand karena mengharuskan dia untuk berpakaian mini dan terbuka.


Meski belum telanjang vulgar sepenuhnya, Callista tetap menolak karena ia mengingat perkataan ibunya agar tidak mencari uang dengan cara yang tidak tidak.


Dengan penolakan itulah, Callista akhirnya mendapatkan masalah serius. Itu di karenakan agennya yang kurang teliti memberikan suatu brand dan tidak membaca kontraknya dengan benar.


Apalagi kontrak yang di tanda tangani berjangka 2 tahun dan harus siap dengan produk apa saja yang di buat oleh brand itu.


Karena produknya mengharuskan Callista berpakaian mini, Callista di bilang melanggar hukum yang tertera di kontrak.


Untuk menyelesaikan masalah ini, itu ada 2 cara.


Callista yang menerima tawaran iklan dengan berpakaian seperti itu, atau membayar pinalti atas kontrak yang telah ia langgar.


"Lebih baik kamu menerimanya saja." Ungkap agennya.


'Jangan naif, dunia hiburan seperti ini.' Dalam hati sang agen meski dirinya berkata lain di luarnya.


Callista hanya diam tak menjawab, dia melihat ke arah agennya terus.


"Berapa biaya yang harus aku bayar jika aku membayar pinalti itu?"


"350 juta." Sahut agennya.


Callista terdiam lagi, dia tidak memiliki uang sebanyak itu, dia hanya memiliki uang sebanyak 200 juta selama berkarirnya menjadi aktris dan menerima beberapa tawaran iklan.


"Apakah bisa di bayar dengan menyicil?" Tanya Callista.


"Tidak tahu."


Agennya terlihat seperti memaksa agar Callista menerima tawaran iklan ini, itu karena jika Callista menerimanya, agennya juga akan mendapatkan banyak uang.


Dia seperti tidak peduli dengan Callista yang sudah ia bantu selama ini. Apakah agennya hanya memanfaatkannya saja atau bagaimana.


Callista memang mendapatkan agen baru setelah dirinya bergabung dengan sebuah perusahaan entertainment.


Awalnya Callista mengurus semua itu hanya dengan sendiri melalui beberapa kontak yang dikenalnya, tapi semenjak ada agen, kehidupannya juga berubah.


Bukan hanya menjadi lebih sukses, tapi juga ada sedikit masalah yang terus bermunculan ketika dirinya mencapai kesuksesan yang lebih tinggi.


"Tolong tanyakan dulu." Ungkap Callista.


Jika bisa dengan menyicil, ia tak apa menggunakan semua uang yang ia punya untuk membayar penalti itu.


Ini juga padahal bukan hanya kesalahannya, ada kesalahan agennya yang tidak teliti, tapi Callista tidak tahu apa apa lagi karena masih muda dan kurang pengalaman.

__ADS_1


Sementara itu, Di Prancis.


Sean sedang melakukan yoga di kamar hotelnya. Meski sudah tidak berlatih privat lagi, Sean sudah mengetahui semua gerakan yoga dengan benar.


Jadi dia juga tak membutuhkan pelatih lagi.


Setelah beberapa saat, Sean selesai melakukan latihan yoga nya. Dia melakukan latihan yoga karena untuknya juga supaya tidak mudah cedera.


Sean melakukan ini jika sudah selesai latihan, atau ketika sedang senggang, tapi ini di lakukan 2 hari sekali oleh Sean.


"Jika sering melakukan latihan yoga, badanku juga terasa segar dan semakin lentur."


"Kenapa tidak jadi penari saja?" Ungkap Firza yang datang dari kamar mandi.


Sean langsung tertawa mendengar ucapan Firza.


"Nanti mau di bawa kemana karir sepak bola ku?"


"Sudah sejauh ini aku berusaha dan berlatih tapi ujung ujungnya malah jadi penari, aneh kan." Ungkap Sean.


Firza juga mengacak ngacak rambutnya sambil mendengarkan Sean berbicara.


"Oiya, salah satu wanita yang kemarin nongkrong bareng kami itu menanyakan nomor telpon mu." Ungkap Firza yang pulang terlambat dengan yang lainnya.


Sean tentu tak tahu karena pulang lebih dulu bersama Raffi.


"Kenapa menanyakannya? Kamu tidak memberikannya kan?" Tanya Sean curiga.


"Santai saja, tidak. Tapi tidak tahu yang lainnya, haha." Tawa Firza.


"Ahh." Sean baru ingat bahwa tidak hanya Firza yang mempunyai kontaknya.


"Siapa saja kemarin yang pulang terakhir bareng kamu?" Tanya Sean.


"Aku, Luthfi, Abimanyu Hanish." Ucap Firza.


Sean langsung berlari ke luar kamarnya, dia berniat mendatangi kamar keempat orang itu.


Sampai di kamar tempat Hanish, Sean langsung mengetuknya.


"Hanis bukaaa." Teriak kecil Sean agar tak terlalu berisik.


Hanish pun segera membukanya.


"Ada apa?"


"Kamu jangan memberikan kontakku pada wanita wanita yang kemarin nongkrong bareng." Ungkap Sean buru buru.


"Kenapa?"


"Tidak apa apa." Ungkap Sean.


"Tapi sudah terlambat, bukan aku saja yang memberikannya, tapi Luthfi juga memberikannya tadi malam bersamaan denganku." Ungkap Hanis.

__ADS_1


"Terus Abimanyu?"


"Tidak tahu, mungkin tidak."


"Ah siall." Ucap Sean.


Sean tak mau kontaknya tersebar ke luar dengan begitu mudahnya, meski dia belum menjadi pemain besar, tapi dia tidak terbiasa jika ada wanita yang mengiriminya pesan.


Saat Sean diam di depan pintu kamar Hanis. Ponsel Sean menyala tanda ada pesan yang masuk.


Sean langsung tertegun, dia melihat ke arah Hanis dengan sedikit tajam. Hanis tentunya tak mengerti artinya.


Sean mengambil ponselnya dan melihatnya, ada pesan masuk dengan nomor tak di kenal.


'Haii, Sean. Aku Giselle.'


Sean membacanya dengan pelan, namun Hanis masih mendengar kalimat dari isi pesan tersebut. Dia kemudian langsung tersenyum tapi segera dengan cepat memasang wajah datar lagi.


Iya tahu bahwa Giselle adalah wanita yang di maksud dari salah satu wanita kemarin.


"Ini dia kan?" Tanya Sean.


"Mungkin."


"Kenapa mungkin? Bukannya yang kemarin juga Giselle. Lihat fotonya." Ungkap Sean sembari memperlihatkan foto profil Giselle yang cantik dan menawan.


"Oiya itu dia benar." Ucap Firza yang datang dari belakang, dia juga tiba tiba melihat foto di layar ponsel Sean.


"Tuhkan."


"Terus kenapa Sean?" Tanya Firza sedikit aneh.


"Jangan jangan kamu guy."Celetuk Firza.


Sean melihat ke arah Firza tapi tidak menjawabnya.


Sean langsung berbalik ke kamarnya dan duduk di kasurnya.


Di tinggalkan oleh Sean, Firza dan Hanis semakin bingung dengan tingkah Sean yang aneh sekali.


"Kenapa dia?" Tanya Hanis.


"Tidak tahu."


"Tapi dia tadi langsung panik saat aku memberitahu bahwa ada salah satu wanita yang meminta kontaknya."


"Apakah benar dia tidak suka wanita? Lihat, waktu itu saja dia pulang lebih dulu. Padahal wanita wanita kemarin..."


"Hhmmm." Jawab Firza dengan cepat.


Firza juga langsung kembali ke kamarnya meninggalkan Hanis, tak lama Hanis juga masuk lagi ke kamarnya.


Firza yang memasuki kamarnya melihat Sean sedang duduk di kasur sambil melihat ponselnya dengan serius.

__ADS_1


"Sedang apa kamu?" Tanya Firza.


Sean diam saja. Firza kemudian mendatanginya dan melihat ke ponsel Sean.


__ADS_2