
Di kamar hotelnya yang mewah, Sean duduk sendirian di ranjang kasur sambil memegangi ponselnya.
Dia melihat ke layar ponselnya yang kini sedang ada dalam ruang obrolan, dan membacanya berulang ulang.
Dia bingung harus membalas apa untuk pesan yang di kirim Giselle.
Dimana Giselle meminta untuk bertemu sebelum Sean kembali Indonesia.
Sean jelas tidak tahu mengapa, pasalnya dia baru saja bertemu 2 kali.
Pertama saat di sebuah cafe bersama pemain yang lainnya.
Yang kedua saat Firza mengirimkan chat pada Giselle untuk meminta bertemu, dan akhirnya Sean terpaksa harus pergi menemuinya dan bertemu di cafe kemarin.
Sean yang datang sendiri tentunya canggung dan tak bisa membuat topik obrolan sama sekali.
Terlihat jelas dari wajahnya juga Sean canggung dan bingung dengan keadaan atau situasi berduaan seperti itu.
Bahkan Giselle yang merupakan perempuan juga tertawa saat melihat Sean seperti itu.
Dia sampai meledeknya bahwa Sean terlalu tegang dan panik.
Sean berusaha sebaik dan sebisa mungkin untuk menutupinya tapi tetap saja itu tak bisa dan akhirnya malah berujung tertawaan Giselle.
Di obrolannya juga, Sean hanya menjawab secara singkat setiap pertanyaan yang di ajukan oleh Giselle.
Terlihat jelas bahwa Sean tidak suka dengan suasana seperti itu.
Namun tak tahu dari mana keberanian Giselle datang, dia juga dengan percaya diri terus mengajak mengobrol Sean.
Waktu itu Sean juga harus pulang jam setengah 9 setelah bertemu Giselle.
"Tidak tahu, aku ikut dengan tim pulangnya, jadi aku tak tahu kapan bebasnya." Balas Sean pada chat nya Giselle.
Sean kemudian menunggu di ruang obrolannya sambil memperhatikan jam yang terus berlanjut di layar ponselnya.
Saat jam menunjukan pukul 20.45, Sean langsung mengirimkan pesan lagi pada Giselle.
Dia ingin tidur lebih dulu dari pada terus melanjutkan obrolan, apalagi dirinya juga tak terlalu tertarik meski Giselle sangat sangat cantik dan menawan.
Setelah mengirimkan pesan begitu, Sean langsung berusaha untuk tidur.
Sedangkan teman teman yang lainnya masih di luar tak tahu dimana.
...
Keesokan harinya,
Sean pulang dari joging paginya di sekitaran hotel, hari ini latihannya juga sore hari dan itu pun intensitas rendah.
Kembali ke kamar hotelnya dan menunggu suhu tubuhnya turun, Sean pun langsung mandi.
Selesai mandi, Sean melihat Firza yang sedang melakukan video call bersama kekasihnya dari Indonesia.
Sean lalu muncul di belakang Firza dengan keadaan tubuh bagian atasnya yang masih terbuka.
__ADS_1
Kekasih Firza di video tentu saja melihat ini, dan dia hanya tersenyum malu.
Firza juga tahu dan segera memberi tahu Sean agar segera memakai bajunya.
Sean juga segera melakukannya dan duduk di ranjang kasurnya.
"Za, apakah itu kekasihmu?" Tanya Sean.
"Iyaa, cantik kan?" Tanya balik oleh Firza.
"Bukannya lebih cantik yang kemarin di cafe?" Tanya Sean dengan suara yang agak keras supaya terdengar oleh kekasihnya Firza.
Firza yang mendengar itu langsung memasang wajah aneh, dan itu pun di lihat oleh kekasihnya.
"Apa yang di katakan temanmu itu benar?" Tanya kekasihnya itu.
"Tidak, dia berbohong." Ungkap Firza panik.
"Sean kamu ini penghancur hubungan ya." Ketus Firza.
Sean yang mendengar ini tersenyum.
"Ah bukannya kamu juga bilang bahwa Anastasha cantiknya ga ketahan, bahkan kamu ingin sekali menidurinya." Ungkap Sean.
Kekasih Firza yang mendengar ini semakin curiga, apalagi sekarang Sean tiba tiba mengungkapkan sebuah nama wanita.
Firza yang mendengar ini semakin panik. Anastasha adalah perempuan yang waktu itu mengobrol di cafe.
"Tuhkan, kamu berbohong." Ungkap kekasihnya Firza.
Sean melihat ini semakin tersenyum, sekarang giliran Sean untuk mengerjainya, pasalnya dia sudah di kerjai oleh Firza dengan mengirim pesan pada Giselle dan Callista.
"Ah semalem juga kamu pulang malem za, abis ketemu kan? Barengan sama yang lain? Jujur aja Za!" Ungkap Sean.
Firza yang mendengar ini semakin panik, dia tidak menyangka Sean akan membalasnya seperti ini.
Firza segera menyimpan ponselnya tanpa mematikan panggilannya, dia langsung berjalan ke ranjang kasur nya Sean.
"Sean kumohon jangan dulu ya."
"Dia sensitif."
"Nanti kalau dia marah bisa lama."
"Aku tak bisa." Firza memohon pada Sean agar tak menganggu nya lagi.
Sean tersenyum.
"Baiklah Za." Ungkap Sean dengan keras supaya terdengar oleh kekasihnya Firza.
Firza yang mendengar ini memasang wajah aneh, sedangkan Sean semakin tersenyum.
Sean yang tersenyum kemudian memilih diam dan mengeluarkan ponselnya. Firza juga kembali mengobrol dengan kekasihnya dan mencoba menjelaskan karena dia terus di tanyai oleh kekasihnya untuk jujur.
Sean yang sudah membuka ponselnya juga membuka aplikasi Instagram.
__ADS_1
Dia melihat ada banyak notifikasi komentar di foto fotonya.
Dia hanya membaca sebagian dan memilih untuk melihat berita berita sepak bola.
Saat Sean sedang asyik dengan ponselnya, Firza kemudian tiba tiba berbicara lebay pada kekasihnya.
Sean yang mendengar ini juga langsung menghentikan bermain ponselnya dan memperhatikan Firza.
Firza yang di perhatikan juga sadar dan diam selama beberapa detik lalu tersenyum dan memilih melanjutkan bersikap lebay lagi di depan kekasihnya.
Sean yang melihat ini hanya diam.
'Apakah begini rasanya berpacaran?'
'Anehh.' Pikir Sean.
Dia pun kemudian memilih untuk melanjutkan bermain ponselnya lagi.
Waktu di ponsel Sean juga menunjukan pukul setengah 10 pagi.
Dimana jika di Indonesia sekarang pukul setengah 4 sore.
Perbedaan waktunya adalah 6 jam.
Di Indonesia, Callista yang sudah melakukan foto shoot untuk sebuah iklan dari produk dan brand tertentu duduk di sebuah kursi istirahatnya.
Dia lelah karena sedari pagi dia melakukan banyak foto shoot untuk membayar cicilan pinalti waktu itu.
Callista sudah mengambil beberapa iklan yang terbilang cukup mudah dan murah, dia pun mengambilnya dari pada tidak ada sama sekali dan harus terbelit hutang dia jelas tak mau.
Duduk di kursi istirahatnya, Callista mengambil ponsel dari tasnya.
'Sedang apa dia?'
'Aku sudah tidak bertukar pesan beberapa hari ini' Pikir Callista.
Callista pun membuka ruang obrolannya bersama Sean di sebuah aplikasi chat.
Bukan di Instagram lagi karena semenjak Firza membajak akun Sean. Sean terpaksa harus berterus terang dan menjelaskan semuanya.
Untung saja Callista baik hati dan tidak mempermasalahkannya, justru dia terlihat cukup humble.
Sean juga tak merasakan seperti yang di lakukan Giselle padanya, dimana sering mengirimnya pesan.
Callista melihat pesan terakhir dia dan Sean di dalam obrolannya 2 hari yang lalu dan tidak ada pesan baru.
'Apakah aku duluan tak masalah?'
"Sedang apa?" Tanya Callista dalam sebuah pesan yang di kirimkan untuk Sean.
Sean yang di Prancis juga segera menerima pesan itu dan melihatnya dari Callista.
'Perempuan perempuan lagi.'
'Aduh.'
__ADS_1
Sean kemudian mengkliknya dan melihat apa isi pesannya.