I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 83.


__ADS_3

Di malam hari pada tanggal 7 Januari 2018, Sean berada di kamarnya dengan ponsel yang ia pegang di tangannya.


Firza yang teman sekamarnya sedang melakukan video call bersama kekasihnya setelah selesai mandi tadi.


Sean sedari tadi mendengarkan saja sambil fokus bermain ponselnya sendiri.


"Sean, kata pacar ku, katanya Callista masuk dalam berita."


"Ya jelas kan dia aktris."Sahut Sean sambil masih fokus bermain ponselnya.


"Bukan karena itu, dia ternyata sedang dalam masalah."


"Tidak tahu siapa yang mengungkapkan beritanya ke publik."


"Kasihan padahal dia masih muda." Ucap Firza.


"Dunia entertainment kan gitu." Ungkap Sean.


"Jika kita menjadi pesepak bola profesional yang besar juga nantinya akan banyak di beritakan dengan banyak rumor dan masalah masalah aneh." Ungkap Sean.


Firza yang mendengar ini merasa Sean ada benarnya juga.


Apalagi sepak bola sangat dekat dengan banyak masyarakat melebihi seorang aktris.


"Iya aku tahu tentang itu "


"Katanya dia harus membayar pinalti dari sebuah kontrak." Ungkap Firza.


"Berita macam apa itu?" Tanya Sean.


"Tidak tahu, tapi kata pacarku Callista menolak sebuah tawaran iklan yang tidak sesuai dengan keinginannya dan harus membayar pinalti dari kontrak yang sudah di tanda tangani."


"Apakah dia tidak membacanya dulu?" Tanya Sean.


Firza yang mengobrol dengan Sean juga didengarkan oleh kekasihnya Firza melalui sambungan lain.


Kekasihnya Firza hanya mendengarkan Firza dan Sean mengobrol saja.


"Aku mana tahu." Ungkap Firza.


"Terus kenapa kamu memberitahu aku?" Tanya Sean.


"Bukannya kamu sedang dekat dengannya." Ungkap Firza.


"Tidak, itu karena ulahmu saja." Jelas Sean.


Kekasih Firza yang mendengarkan obrolan Sean dan Firza sedari tadi langsung tertegun, tak mengerti maksud dari perkataan Sean barusan.


"Hei, apa maksudnya tadi?" Tanya kekasihnya Firza.


Firza yang sedang fokus dengan Sean tadi langsung mengalihkan perhatiannya pada kekasihnya lagi.


"Itu, iya itu memang ulahku." Ungkap Firza.


"Kenapa kamu ikut campur urusan orang?" Tanya kekasihnya.


"Aku kasihan padanya, dia tampan tapi tak normal." Ungkap Firza.


Jelas Sean yang mendengar ini langsung mengalihkan perhatiannya pada Firza dari yang asalnya fokus bermain ponsel.


"Apa maksudmu?" Tanya Sean.

__ADS_1


"Itu benarkan?" Tanya Firza.


"Ada perempuan yang mendekatimu tapi kami acuh tak acuh."


"Orang tuamu saja sampe bercanda mengenalkan mu pada aktris itu." Ungkap Firza.


Sean yang mendengarnya itu menyesal telah bercerita banyak.


"Sudahlah." Ucap Sean.


Firza kembali fokus dengan panggilan video bersama kekasihnya, dimana kekasihnya Firza menanyakan hal hal tentang Sean tidak tahu untuk apa.


Sean yang kembali fokus bermain ponselnya juga langsung mematikan ponselnya saat jam sudah menunjukan pukul 20.30 malam.


Sean menyimpan ponselnya dan menarik selimutnya.


"Aku tidur duluan." Ungkap Sean pada Firza yang masih melakukan panggilan video bersama kekasihnya.


Sean jelas sangat teratur dalam pola hidupnya, ntah tidur atau makan.


Waktu tidur juga Sean tidak akan melebih batas 21.15.


Tidur dengan cepat sekarang karena Sean merasa bosan dan lelah mendengarkan obrolan Firza yang semakin menjadi jadi.


Firza yang di tinggalkan tidur oleh Sean masih saja fokus melakukan panggilan.


"Ayo ceritakan tentangnya. Aku penasaran." Ungkap pacarnya Firza pada Firza.


"Kenapa kamu ingin tahu sekali?" Tanya Firza.


"Jelas tidak ada topik, jadi mending bahas temanmu saja." Sahutnya.


Firza dengan cepat menolak tapi karena terus di paksa oleh kekasihnya itu, Firza terpaksa bercerita semua tentang Sean.


Kekasih Firza mendengarkan cerita Firza dengan lengkap dan jelas.


Ada reaksi kaget dan kagum pada setiap ekspresi yang di tunjukan di wajahnya itu, namun Firza terus menceritakannya karena terus di suruh melanjutkan ceritanya sampai Firza benar benar sudah tidak punya apa apa lagi untuk di ceritakan.


"Apakah benar begitu?"


"Padahal tampan lebih darimu." Ungkap kekasihnya Firza meledek.


"Kamuu!!!" Balas Firza.


"Iya emang, tapi dia gak normal." Ungkap Firza.


"Bukan gak normal, dia sengaja huh." Balas kekasihnya Firza membela Sean.


"Kenapa kamu membelanya?" Tanya Firza.


"Biarin."


Firza dan kekasihnya itu terus melakukan panggilan video sampai di akhir pada pukul 22.48 malam.


Itu karena Firza meminta tidur.


...


Keesokan harinya,


Pagi pagi sekali, Sean berjalan dari luar hotel menuju ke hotelnya.

__ADS_1


Sean berjalan masuk karena sudah melakukan rutinan joging paginya di sekitaran hotel.


Mungkin sekitar 25 menitan Sean habiskan dalam joging pagi hari ini.


"Hari ini latihan pagi pukul setengah 9."


"Sekarang masih jam setengah 8."


"Masih ada waktu." Ungkap Sean yang berjalan masuk ke dalam lobby hotel.


Tak lama Sean sampai di kamarnya dan segera menyiapkan perlengkapan latihan yang akan ia bawa dan gunakan.


Biasanya jika di tim, seperti di Arouca.


Sean hanya akan membawa tas kecil saja, dimana tas kecil itu di isi oleh ponsel dan earphone kecil.


Sean membawa tas kecil itu dengan sebuah botol minuman kesukaannya.


Sean tidak membawa perlengkapan latihan ketika di Arouca karena semua peralatannya di simpan di ruang ganti.


Dan sedangkan di sini tidak ada ruang ganti dan lagi dirinya di sini tak lama.


Pukul 8.15, Sean berjalan ke lobby bersama Firza.


Dimana para pemain lainnya ada yang menunggu di lobby dan ada yang sudah masuk ke dalam bus.


"Sudah semuanya turun?" Tanya staf tim.


"Sepertinya udah, yang lain di bus." Sahut Hanis.


Dengan itu, Sean dan yang lainnya yang masih berada di lobby berjalan ke parkiran untuk naik bus.


Dalam perjalanan menuju tempat latihan, Sean mengobrol dengan pemain pemain lainnya.


"Kamu akan bermain di Eropa juga?" Tanya Rafli pada Egy dan Witan.


"Iya." Jawab keduanya.


"Di liga mana dan klub mana?"


"Belum tahu, tapi agenku sudah bilang ada beberapa yang mengontaknya dan memberitahu bahwa mereka tertarik." Ucap Egy.


"Selamat selamat."


"Semoga sukses nantinya "


"Aku juga ingin bermain di Eropa tapi tidak ada yang tertarik. Agenku juga tak memberitahu apapun." Sahut Rafli.


"Belum tentu, tunggu saja." Ucap Sean.


"Ku harap kita semua bermain di Eropa." Ucap Witan dengan polos.


Para pemain lainnya hanya bisa meng aamiin kan ucapan Witan di dalam hati saja.


Mereka ragu untuk mengucapkan aamiin langsung karena mereka takut harapan mereka tak sesuai dengan ekspektasi mereka.


Sean yang mendengar ucapan Witan tentunya senang, karena dengan itu kualitas para pemain tim nasional nantinya akan lebih baik lagi.


'Semoga saja mereka juga bermain di Eropa, dan ku harap di tim nasional angkatan ku nanti, mereka bisa membawa tim nasional ke panggung dunia.'


'Aku tak mau sendirian di kenal, aku butuh mereka juga.'

__ADS_1


'Harapan banyak masyarakat Indonesia jadinya tak terlalu di bebankan pada ku nantinya.' Pikir Sean yang sudah mengkhayal jauh tentang nanti.


__ADS_2