
10 Juni 2022,
Sean sudah menghabiskan banyak waktunya untuk tinggal di rumah.
Meski begitu, kebahagiaan ia dapatkan sebab dia merasakan hangat nya kekeluargaan di rumahnya.
Berbeda dengan ketika dirinya tinggal sendirian.
Sean sangat menikmati liburan ini meski tidak seperti yang lain, dimana mereka akan berlibur ke suatu tempat dengan waktu yang lama.
Di sela sela kebersamaannya bersama keluarga, Sean juga tak lupa untuk terus mempertahankan kondisi tubuhnya.
Dimana ia akan melakukan lari pagi, fitness kecil atau kadang dia juga datang ke sebuah gym di daerah dekat rumahnya.
Sean juga berlatih yoga dan juga mengolah bola agar dia tidak kehilangan sentuhannya.
Sean melakukan semua ini agar dia bisa terus berkembang meski itu hanya sedikit.
Selama beberapa hari ini, Sean masih belum ada kesempatan untuk bermain keluar.
Meski sudah di ajak oleh teman temannya yang dulu, Sean merasa bahwa dia sedikit malu.
Sebab Sean berpikir bahwa teman temannya juga mengalami perubahan dan pendewasaan dalam pola pikir, sehingga tidak seperti dulu lagi.
Sean juga tidak bermain dengan Lisa sebab Lisa mendapatkan sebuah tawaran baru dalam sebuah projek web series.
Dimana ini akan memakan banyak waktu syutingnya.
Sean tentunya tidak keberatan dengan keputusannya itu, sebab itulah pekerjaannya.
Untuk saat ini, Sean berada di kamarnya dengan musik yang dia nyalakan di ponselnya.
Terlentang di atas kasur sambil menikmati alunan musiknya.
Entah apa yang di pikirkan nya saat ini.
"KAKKKKK!!!" Teriak Salma dari luar kamarnya.
Sean yang sedang menikmati musik juga harus mematikan musiknya dan segera membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?"
"Bisakah kakak antar aku ke sebuah toko?"
"Mau beli apa?"
"Alat alat tulis buat sekolah."
"Ibu kemana emangnya?" Tanya Sean.
"Ibu bilang minta kakak anterin aja."
"Yaudah, tunggu di ruang tamu." Ucap Sean sembari berbalik ke kamarnya dan bersiap.
Setelah beberapa saat, Sean mengantar adiknya ke sebuah toko dimana menjual alat tulis.
Selesainya membeli alat tulis, Sean juga merasa bosan kemudian menanyakan pada adiknya ingin berjalan jalan dulu atau tidak.
__ADS_1
Dengan persetujuan adiknya, Sean kemudian mencari sebuah tempat bermain.
Mereka memasuki mall dengan banyaknya permainan.
Sean juga hanya tertawa saat dirinya menyadari bahwa dirinya seperti anak kecil ketika bermain mainan seperti ini.
Namun saat melihat adiknya serius dan bahagia, Sean tentu ikut berbahagia.
Pulang ke rumah ketika sore hari, Sean langsung di sambut dengan makanan yang sudah di siapkan oleh ibunya.
Mereka akhirnya makan bersama dan mengobrol beberapa topik.
Sean tentunya tak menolak dan juga ini sebagai balasan karena Sean juga kurang berkomunikasi secara langsung dengan keluarganya.
Meski beberapa hari yang lalu mereka terus melakukan ini, Sean tak bosan sebab topik yang di bahas selalu ada.
"Kapan kamu kembali?" Tanya ayahnya.
"Masih lama yah." Sahut Sean.
"Bagus kalau begitu kamu harus memikirkan rencana hidup mu sekarang."
Mendengar ini, Sean langsung tertegun.
Dia tak tahu apa tujuan dan maksud ayahnya mengangkat topik pembicaraan seperti ini.
"Rencana hidup bagaimana?" Tanya Sean.
"Bukannya seperti biasa, aku ke sana dan menjalani hidup." Ucap Sean tenang dan polos.
Ayah dan ibunya mendengar ini malah melihat ke arah Sean dengan tatapan aneh.
"Sejauh mana hubungan kamu dengan Lisa?" Tanya ibunya.
"Pacaran." Sahut Sean langsung.
"Apa saja yang sudah kalian lakukan?" Tanya nya lagi, meski ibunya sudah tahu saat itu, tapi saat liburan kemarin, Ibunya lupa bertanya.
"Tidak ada, tidak melakukan apa apa." Ucap Sean tenang.
Ibu dan ayahnya mendengar ini hanya menggelengkan kepala dan menghela nafas.
Sean yang melihat kedua orang tuanya seperti ini semakin bingung.
Namun setelah diam beberapa saat, dia akhirnya mengerti kenapa ayahnya mengangkat topik pembicaraan seperti ini.
Namun dia tidak langsung mengatakan apa apa lagi dan memilih untuk diam menunggu ayahnya atau ibunya berkata lebih dulu.
"Apakah kamu bosan tinggal di sana sendirian?" Tanya ayah nya.
Sean yang mendengar ini langsung meyakinkan pemikiran sebelumnya tentang kenapa ayahnya mengangkat topik seperti ini.
"Bosan dan kadang tidak." Sahut Sean.
Keduanya langsung terdiam mendengar jawaban anaknya ini, keduanya merasa bahwa anaknya sangat polos.
"Apakah kamu sudah bertemu kedua orang tuanya?"
__ADS_1
"Sudah yah, kenapa memangnya?"
"Kalau begitu, hubungi Lisa kita mengobrol bersama." Ucap ayahnya.
Sean mendengar ini langsung tertegun.
"Mau apa ayah?"
"Ngobrol saja mengakrabkan hubungan keluarga nantinya."
"Yasudah nanti aku bilangin." Ucap Sean pasrah.
Kemudian ketiganya terus mengobrol mencakup hubungan Sean dengan Callista.
Di tekan dengan pertanyaan pertanyaan dengan Callista terus, Sean langsung kesal dan memilih untuk memindahkan topik yang lain.
Alhasil ketiganya mengobrol kan perusahaan dan karir sepak bola Sean.
Apakah Sean akan pindah klub atau bagaimana nantinya.
Namun Sean menjelaskan bahwa dirinya saat ini masih nyaman bermain untuk Liverpool.
Ayahnya juga menjelaskan bahwa jika Sean pindah klub, ayahnya akan langsung terbang menemuinya dan memarahinya.
Sean tahu bahwa ayahnya sangat memfavoritkan Liverpool.
Kembali ke kamarnya dan memilih untuk meluruskan kakinya di atas kasur.
Sean bermain ponselnya dan mencari cari berita berita yang ada.
Malam harinya,
Callista yang baru pulang dari lokasi syuting membuka ponselnya dan menerima pesan dari Sean yang sudah di kirim dari sore hari.
Dia membaca pesan nya dan langsung tertegun.
Kemudian tak lama pipinya memerah dan ragu apakah akan mengatakan kepada kedua orang tuanya atau tidak.
Setelah menenangkan dirinya, Lisa kemudian menjelaskan apa yang dikatakan Sean ke kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya mendengar berita ini dan langsung senang.
Callista melihat kedua orang tuanya berbahagia seperti aneh namun di lubuk hatinya dia juga merasa bahagia.
Kembali ke kamarnya dalam keadaan bahagia, Lisa kemudian berkomunikasi dengan Sean melalui video call.
Mereka mengobrol kan kegiatan keduanya selama hari ini dan membicarakan beberapa topik.
Lisa juga menceritakan beberapa gosip yang terjadi di antara para aktris dan kejadian kejadian lucu di lokasi syuting.
Sampai pukul setengah 10 malam, keduanya harus tidur.
Sebab Sean yang menjaga pola tidurnya, juga Callista yang harus bangun pagi dan pergi ke lokasi syuting.
Selama obrolan tadi melalui video call, Callista mengajak Sean untuk datang ke lokasi syuting untuk merasakan bagaimana atmosfir di sana.
Bercandaannya Lisa membuat Sean tertawa saat Lisa mengatakan bahwa siapa tahu Sean bisa menjadi seperti aktor.
__ADS_1
Namun keduanya tak mempermasalahkan lebih lanjut tentang aktor atau aktris maupun karir, sebab keduanya sudah saling mengerti dan bahagia dengan keadaannya yang begini.
Mereka juga saling menerima kesibukan nya masing masing dan harus terbiasa dengan itu, supaya jika kedepannya memang benar memilih untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, keduanya sudah terbiasa.