
Hari Minggu di siang hari, Sean melakukan latihan yoga ringan nya.
Dia sudah menjalani 2 hari dengan penuh perhatian dari keluarganya.
Dia juga sangat senang dan bahagia.
Dalam 2 hari ini, Sean juga akhirnya memiliki banyak waktu bersama keluarganya.
Untuk mengobrol dan menonton bersama di rumahnya.
"Tidak bisakah kamu berhenti saja 1 hari, bagaimana jika terjadi apa apa?" Ucap ibunya.
"Bu, ini hanya latihan yoga saja, supaya bisa cepat sembuh juga kata dokter, asalkan aku melakukannya dengan benar dan ringan." Ucap Sean sambil masih menggerakkan gerakan yoga.
"Kamu ini, sudah di bilangin." Ucap ibunya.
Kemudian Salma mendekat dan memperhatikan wajah Sean.
"Ada apa?"
"Tidak ada." Ucapnya sambil berlari dan tertawa.
Sean terus melakukan gerakannya latihan yoganya.
Di saat sedang fokus melakukan gerakan yoga, ibunya Sean tiba tiba berteriak saat melihat adiknya Sean jatuh ke kolam renang.
Sean yang mendengar teriakan itu kaget dan gerakannya juga menjadi berantakan.
"Argh." Teriak Sean kesakitan, karena dia merasa tertarik lagi di bagian pahanya.
Ibu nya Sean yang mendengar teriakan itu langsung kaget, ia buru buru menolong anak bungsunya dulu di kolam renang.
Kemudian berjalan ke arah Sean dan bertanya ke pada Sean, ada apa.
Sean hanya menjelaskan bahwa gara gara teriakan tadi dia kaget dan melakukan gerakannya secara kuat tanpa di sadari.
Akhirnya urat tertarik lagi.
Ibunya Sean langsung merasa bersalah.
"Kamu hati hati makanya, Salma. Lihat kakakmu jadi sakit lagi." Ucap ibunya.
"Ibu, aku kan bisa berenang, kenapa ibu harus berteriak tadi?" Tanya Salma pada ibunya.
Ibunya Sean juga tertegun diam, dia lupa dengan hal ini.
"Aku sengaja melompat ke kolam renang karena aku ingin berenang, kan kata kakak juga boleh." Ucap Salma.
Ibunya masih diam saja.
"Sudah sudah, bagaimana kamu sekarang?" Tanya ayah Sean pada Sean.
Sean melihat ke pahanya dan menggerakkan nya sedikit demi sedikit, dan itu terasa sangat ngilu seperti ada yang robek.
"Kalau begitu, ayo ke ruang kesehatan tim mu dulu, laporkan dulu pada dokter tim." Ucap ayahnya.
Sean kemudian memilih menurutinya dan ayahnya mengantar Sean ke ruang kesehatan klub menggunakan mobil.
Tak lama, Sean juga sampai dan langsung ke ruang kesehatan.
Di ruang kesehatan, Sean menjelaskan pada dokter apa yang dia rasakan saat ini.
__ADS_1
Dokter tim juga mencatat dan melihat lihat.
"Ini tidak parah dan tidak perlu di operasi, tapi jika rasa seperti robek tadi semakin menyebar dan semakin terasa, itu harus di operasi." Ucap dokter tim.
Sean mendengarnya jelas kecewa dan sedih.
"Tapi kalau tidak terasa, mungkin kamu hanya perlu beristirahat lebih lama dari sebelumnya." Ucap dokter tim.
Sean tidak menjelaskan kenapa dia bisa seperti ini karena dia takut di marahi oleh bos jika bos tahu bahwa Sean ceroboh.
"Jadi kira kira berapa lama waktu istirahatnya?" Tanya ayahnya Sean.
"Mungkin 1 bulan beberapa Minggu."
"Dan selama 1 bulan penuh dari sekarang, saya anjurkan untuk tidak bergerak terlalu banyak."
"Awalnya aku menganjurkan latihan yoga untuk mempercepat kesembuhannya, tapi sekarang jangan dulu, karena jika terjadi itu akan menyebabkan rasa robek itu menjadi semakin lebar."
Sean mendengarkan terus penjelasan dari dokter tim.
"Kalau begitu terima kasih dokter, apakah ada yang perlu di perhatikan lagi?" Tanya ayah Sean sangat khawatir.
"Kalau bisa di dampingi ya, Sean harus benar benar mengurangi banyak aktivitas supaya urat uratnya juga kembali tenang."
"Jadi selama di dampingi cobalah untuk mengurusnya, jangan sampai Sean banyak bergerak."
"Bergerak secukupnya saja selama 1 bulan penuh, jangan latihan yoga pula." Ucap dokter benar benar menegaskan kalimat latihan yoga.
Sean menatap ayahnya.
"Terima kasih kalau begitu, jadi bagaimana, apakah kamu akan melaporkan pada bos mu?" Tanya ayah Sean pada Sean.
"Tidak perlu pak, saya akan melaporkannya nanti dan berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkan bos bahwa Sean bisa kembali 1 bulan penuh supaya bos tidak terlalu khawatir dan kecewa nantinya." Ucap dokter tim yang tahu perasaan dari ayahnya Sean.
"Terima kasih dokter." Ucap Sean sambil berdiri dan bersalaman.
"Oiya, kalau bisa 5 hari sekali kunjungi saya untuk melaporkan kondisi mu secara rutin agar aku bisa terus memantau dan memberikan arah lagi." Ucap dokter pada Sean.
"Mengerti dok." Jawab Sean.
Dengan begitu, Sean dan ayahnya juga kembali pulang.
Sesampainya di rumah, ayah nya Sean menjelaskan keadaan Sean pada ibunya Sean itu.
Ibunya Sean merasa bersalah.
Dia tidak tahu harus bagaimana, dia juga berencana pulang malam ini dan tiket sudah pesan.
Apalagi Salma harus bersekolah.
"Bagaimana ini, apakah batalkan penerbangan?" Ucap ibunya Sean.
"Salma harus bersekolah." Jawab ayahnya Sean.
"Iya Bu, aku tak apa."
"Nanti ada teman teman di tim yang membantu." Ucap Sean mencoba meyakinkan.
"Bagaimana kalo ayah dan Salma pulang duluan."
"Biar ibu di sini nemenin kamu." Ucap ibunya.
__ADS_1
"Bu, Salma kasihan." Ucap Sean melihat Salma yang sedang main dengan Callista.
Ketiganya diam dan berpikir bagaimana agar Sean ada yang mengurus di sini.
Kemudian tak lama, ayahnya memberikan kode pada ibunya Sean.
"Salma kemari nak, main sama ayah." Ucap ayahnya Sean pada Salma.
Ibunya Sean berjalan ke arah Callista.
Sean melihat ini langsung merasa ada yang aneh dan berpikir bahwa apakah mungkin ibunya akan membiarkan Callista tinggal di sini.
'Apakah benar begitu?'
'Ibu, apakah perlu sampai segitunya?'
Ibunya Sean berjalan ke arah Callista dan kemudian duduk di depannya.
"Lisa, ibu boleh berbicara sebentar?" Tanya ibunya Sean.
"Boleh Bu, ada apa?" Tanya nya.
"Apakah kamu sibuk dan ada pekerjaan tidak beberapa Minggu ke depan?" Tanya nya.
Callista tidak tahu keadaan Sean yang sekarang, dia tidak mendengar pembicaraan tadi karena asyik bermain dengan Salma.
Callista berpikir dan kemudian mengeluarkan ponselnya.
Dia melihat pesan yang di kirim dari manajer di Indonesia dan hanya mengatakan bahwa dia sedang ada dalam sebuah berita saja, tidak mengatakan adanya pekerjaan.
"Tidak ada Bu." Jawabnya.
"Boleh ibu minta tolong?" Tanya nya.
"Minta tolong apa?"
"Ibu kan tadi sudah beli tiket penerbangan ke Indonesia, tapi keadaan Sean jadi kurang membaik. Kata dokter dia harus ada yang menjaga dan mengurusnya agar Sean tidak banyak bergerak supaya cepat pulih."
"Bisakah kamu tinggal di sini lebih lama? Ibu dan ayah sama Salma harus pulang karena Salma juga harus bersekolah." Ucap ibunya Sean.
Ibunya Sean meminta tolong seperti ini karena dia percaya bahwa anak nya Sean tidak akan berbuat macam macam.
Dia juga tidak bisa meminta tolong pada siapapun lagi selain Callista.
Callista juga yang mendengar ini justru malah semakin tegang, dia merasa gugup.
'Aku harus tinggal berdua dengannya?'
'Apa yang akan terjadi nantinya?'
'Aku harus mengurusnya?'
'Ini seperti suami istri dong ya?' Pikir Callista.
"Bagaimana Lisa?" Tanya ibunya Sean.
Callista hanya diam saja dan berpikir.
'Apakah ibunya Sean tidak khawatir pada kami berdua jika terjadi sesuatu?'
"Ibu percaya sama kalian, kalian tidak mungkin melakukan macam macam kan?"
__ADS_1
"Jadi ibu hanya bisa minta tolong padamu Lisa."