
3 Oktober 2017,
Estadio Municipal Arouca, tepat lapangan milik tim Arouca.
Sean dan rekan rekannya sedang melakukan latihan di lapangan Estadio Municipal Arouca.
Untuk tim senior atau tim Utama memang menggunakan lapangan inti untuk latihan, meski kadang kadang di lapangan mini milik akademi.
Meski Arouca berada di Liga Pro tepatnya divisi 2, tim timnya memiliki fasilitas latihan yang bagus dan baik juga lengkap.
Ini baru tim di divisi 2 bagaimana dengan tim divisi 1 atau Primeira Liga, di yakinkan bahwa segalanya mungkin sangat lengkap.
Mungkin juga terdapat kolam renang di fasilitas latihan.
"Sampai tanggal 10 Oktober sekarang, kita akan memiliki 2 pertandingan, 1 melawan Santa Clara yang berada di bawah kita karena kalah selisih gol dibanding kita."
"Tapi Santa Clara memiliki poin yang sama dengan kita."
"Pertandingan 1 nya lagi, akan melawan Sc Covilha."
"Sc Covilha belum mendapatkan kemenangan 1 kali pun, dan hanya 3 kali kekalahan dan 1 imbang."
"Musim kemarin mereka finish sedikit di atas Uniao."
"Pertandingan kita akan sulit, jadi mari kita fokus pada pertandingan pertama dulu. Santa Clara."
"Pertandingan dengan Santa Clara, kita diuntungkan karena bermain sebagai tuan rumah, juga pelatih Santa Clara pasti mewaspadai kita karena kita tim yang tidak di sangka sangka akan bangkit musim ini."
"Lebih baik kita tidak meremehkannya karena tim Santa Clara merupakan langganan promosi dan degradasi."
"Mereka mempunyai banyak pengalaman dalam menghadapi tim tim kuat karena pernah promosi ke Primeira Liga."
Setelah itu pelatih mulai menjelaskan beberapa skema untuk menghadapi Santa Clara.
Di mulai dengan banyak menguasai bola dan jangan terburu buru mencetak gol karena jika mencetak gol dengan terburu buru, kemungkinan kehilangan bola akan lebih besar, dan itu akan sangat membahayakan bagi Arouca.
Pemain pemain dari Santa Clara berbeda kelasnya, meski masih sama berada di Liga Pro mereka memiliki pemain yang sangat berpengalaman.
Pelatih memberi tahu bahwa pertandingan dengan Santa Clara akan menjadi tolak ukur sudah sampai mana tim Arouca berkembang.
Jika mereka bisa menang melawan Santa Clara, moral pemain akan meningkat semakin banyak dan itu juga merupakan motivasi yang baik karena bertanding melawan tim kuat lebih awal.
"Besok akan ku beritahukan starting line upnya." Ungkap pelatih.
"Mari kita bahas detailnya terlebih dulu."
Dengan itu pelatih mengacak ngacak papan taktik dan menjelaskan setiap pergerakan pemain yang harus di waspadai, dan bagaimana cara mengantisipasinya.
Jalur bola kemana dan bagaimana cara menutupinya.
Selebihnya pelatih tidak melanjutkannya karena para pemain juga pasti mengerti maksud dari ungkapannya.
Setelah selesai semuanya, semua rekan Sean dan pelatih juga staff bersalin. Sean sendirian di lapangan melakukan latihan tambahan.
__ADS_1
Sean sudah mempunyai tubuh yang semakin terisi, namun tinggi badannya lambat sekali untuk tumbuh lebih tinggi.
Tapi menurut pelatih fisik Arouca, Sean memiliki tubuh yang pas dan ideal karena tubuh seorang winger tidak perlu terlalu tinggi, 181 cm juga sudah cukup.
Sean juga akhirnya bersyukur.
Sean melatih tendangan bebasnya, dia ingin melengkapi kemampuannya dengan tendangan bebas yang bagus.
Meski tendangan di luar kotak penaltinya bagus, belum tentu tendangan bebasnya bagus.
Karena dalam tendangan bebas ada pagar yang menghalangi sedangkan tendangan jarak jauh tidak ada, mungkin ada tapi tidak sebanyak pagar untuk tendangan bebas.
Berlatih sendirian beberapa set tendangan bebas. Setelah cukup, Sean menyudahi latihannya dan membereskan pagar pemain buatan yang di pinjam dari klub.
Setelah membereskannya, Sean mengembalikannya ke ruangan peralatan, lalu kembali ke asramanya.
Sesampainya di asrama, Sean menunggu suhu tubuhnya untuk turun.
"Benar saja, jadwal pertandingan akan semakin padat."
"Harus jaga stamina."
Sean menunggu suhu tubuhnya turun sambil memainkan ponselnya.
Setelah beberapa saat, Sean pun membersihkan tubuhnya dan duduk di kursi belajarnya.
Ruangan asrama Sean memang lengkap, mulai dari lemari, tv, dan meja belajar, hanya tidak ada ruang tamu saja seperti di apartemen.
Sebenarnya ruangan Sean juga ada ranjang lain, tapi tidak ada pemain yang tinggal di asrama Sean.
Sean membuka ponselnya untuk mengisi waktu sebelum tidurnya.
Dia membuka aplikasi chat yang dia unduh, itu merupakan teman di Portugal dan ada juga yang di Indonesia.
Melihat teman teman di Indonesia mengiriminya pesan, dan grup sekolah nya yang dulu juga ramai, Sean kemudian membukanya.
Sean membaca pesan pesan yang di kirim di grupnya.
"Heii reuni kapan nihh?"
"Aku hanya punya temen dikit nih di SMA."
"Gaada gitu yang ngajakin kamu berteman?" Tanya teman Sean pada teman lainnya.
Sean membacanya sambil tersenyum, Sean akrab dengan teman temannya.
Untuk beberapa saat, pesan lain tiba tiba datang.
"Breengzeeeekk.."
"Seannn, dia membaca pesanku."
Di grup, pesan yang di kirim bisa di lihat siapa saja yang sudah membaca. Teman Sean juga tak sengaja melihat siapa saja yang membaca karena merasa tak ada yang membalas pesannya lagi.
__ADS_1
Saat mengetahui Sean membaca, tentu saja kaget karena Sean jarang ikut dalam obrolan grup.
Meski sudah masuk SMA, grup SMP Sean masih aktif seperti sebelumnya.
"Ah yang benar?"
"Ahh dia benar benar membaca pesanku juga."Ungkap teman Sean yang mengirim pesan. Awalnya dia tidak percaya, lalu melihatnya dan benar ada Sean yang membaca pesannya.
Sean melihat ini hanya tersenyum dan belum mengirim pesan.
"Sean, lakukan panggilan grupp. Cepattt!!!" Ungkap salah satu teman pria.
Sean kemudian melihat layarnya berubah dan ada panggilan grup.
Sean kemudian mengangkatnya dan melihat ada beberapa teman teman sekolahnya.
"Haha, akhirnya aku melihatmu."
"Brenggggzeeekk, potong rambutmu. Mentang mentang tak sekolah rambutmu panjang begitu." Ungkap nya saat melihat rambut Sean yang panjang.
Memang rambutnya panjang, namun belum sampai melewati bahu, hanya menutupi telinga dan dahinya saja.
Apalagi rambut Sean yang lurus, kadang kadang menutupi matanya.
Rambut Sean jika di kebawahkan mungkin sudah melebihi hidungnya.
Sean hanya tersenyum.
"Sean, bagaimana di sana?" Tanyanya.
"Baik, mereka semua memperlakukanku dengan baik." Ungkap Sean menggunakan bahasa portugal karena terbiasa.
"An***g ngomong apa kamu ini? Gangerti." Ungkap temannya.
Saat Sean mendengar ini dia juga kaget dan tertegun laku tertawa.
"Haha, maaf aku terbiasa menggunakan bahasa disini jadi lupa."
"Kukira kalian juga di Portugal." Ungkap Sean.
"Kamu sudah lancar gitu Sean."
"Kapan kamu bermain di Primeira Liga Sean?" tanya salah satu teman sepak bola Sean di sekolah.
"Mungkin musim depan, aku sekarang sedang di pinjamkan ke Liga Pro atau divisi 2." Ungkap Sean.
"Bagus."
"Aku sesekali melihat berita beritamu melalui akun sosial media Portugal dan juga beberapa sosial media tentang sepak bola di Indonesia."
"Ada juga beberapa akun sepak bola yang sudah mendapatkan verifikasi membicarakan mu." Ungkap temannya.
Sean kaget mendengar itu, bahkan Silva dan dirinya tidak tahu.
__ADS_1
Melihat Sean kaget, temannya lalu tertawa karena merasa bahwa Sean tidak tahu.
"Haha kamu pasti tidak tahu, nanti akan ku kirimkan screenshoot dan nama akunnya supaya kamu bisa lihat."