I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 55.


__ADS_3

Pertandingan antara Arouca melawan Cova Piedade sudah memasuki babak ke 2, dimana Arouca unggul 1 gol lewat gol yang di ciptakan oleh Sean di babak pertama pada menit 21.


Itu merupakan gol yang langka dan cantik. Sean menembak dengan cara tak melihat ke gawang, apalagi sebelum menembak dia melewati 1 pemain full back lalu menghindari 1 pemain bertahan dengan tubuh yang besar.


Sekarang waktu di babak kedua juga sudah memasuki menit 71.


Arouca terus melakukan skema yang mereka latih beberapa hari yang lalu dan selalu ada banyak kesalahan.


Tapi mereka tidak putus asa dan menyerah, mereka terus melakukan supaya bisa beradaptasi dengan cepat.


Stamina yang mereka pakai untuk bergerak terus mencari ruang juga sudah hampir habis, tapi pelatih Jorge Costa belum melakukan pergantian.


Para pemain Cova Piedade di buat linglung dan lelah sendiri, mereka harus melakukan pressing tapi saat mereka melakukan pressing terhadap pemain Arouca yang menguasai bola, bola sudah pindah lagi.


Mereka terus menerus melakukan pressing dan hanya kelelahan yang mereka dapat.


Mereka bisa bisa mendapatkan bola karena tim Arouca yang melakukan kesalahan operan.


Tim Cova Piedade juga sudah menghabiskan kuota pergantian mereka di saat babak kedua baru di mulai.


Pelatih tim Cova Piedade berharap jika dengan adanya pergantian pemain, situasi di lapangan akan berubah, namun yang mereka dapatkan hanyalah hal yang sama.


Tim Arouca yang terus menguasai bola dan terus berpindah pindah. Dimana menghabiskan stamina para pemain kedua tim.


Tapi karena pelatihan yang teratur dan pelatihan fisik yang baik, tim Arouca meski kelelahan tetap masih bisa menguasai bola dengan baik.


Waktu terus berlalu, dan menit 83, Sean di gantikan oleh Kuca.


Sean juga duduk langsung di bench pemain melonggarkan ikatan sepatunya meminum air mineral dan memakai rompi pemain cadangan.


Dia langsung menonton pertandingan yang masih berlangsung di lapangan.


Menit ke 87, Arouca mendapatkan kembali peluang dan peluang itu di sebabkan oleh pemain bertahan lawan yang lengah dan lalai terhadap penguasaan bolanya sehingga bisa di rebut oleh Beto.


Beto yang merebut bola itu sekarang menguasai bola dan berlari menuju kotak penalti.


Di dalam kotak penalti, saat Beto akan menembak, Beto di tackle dari belakang oleh pemain bertahan lawan.


Pemain bertahan lawan berniat untuk mencegat bolanya namun kakinya mengenai pergelangan kaki kanan Beto.

__ADS_1


Beto langsung berteriak kesakitan di dalam kotak penalti.


Sean dan para pemain cadangan juga para staff dan pelatih langsung melompat dari duduknya.


Mereka berlari kepinggir lapangan dan meminta pinalti dan kartu merah.


Wasit juga melakukan hal itu, namun yang tak di duga adalah Beto masih berteriak kesakitan.


Pelatih Jorge Costa cemas dengan keadaan Beto. Dia kemudian berteriak pada tim medis tim agar cepat memeriksa kondisi Beto.


Tim medis juga berlari ke dalam lapangan dan menghampiri Beto di kotak penalti, namun saat tim medis melihat kondisi Beto dia langsung menggelengkan kepalanya dan melirik ke arah pelatih Jorge Costa dan memberikan sinyal.


Sinyal dengan gerakan tanda silang kedua tangan dan gerakan lanjutannya adalah meminta pergantian.


Pelatih Jorge Costa langsung marah saat melihat tanda silang dari staff medis.


Roberto mengalami cedera parah jika di beri tanda begitu.


Memang tekelann itu sangat keras karena pemain bertahan lawan menekelnya menggunakan telapak kakinya yang dimana itu adalah pul sepatu sepak bola.


Mengenai pergelangan kaki Beto, dimana tidak ada pelindungnya dan hanya ada lapisan kaus kaki saja.


Pantas saja Beto berteriak kesakitan.


Beto juga langsung di kirim ke rumah sakit oleh tim medis pertandingan atas permintaan staff medis tim Arouca.


Pelatih Jorge Costa di pinggir lapangan sudah sangat marah, dia hanya bisa diam dan tidak bisa melakukan protes apapun lagi.


Jika dia bersikeras protes dan mendapatkan kartu merah, dia tidak bisa menemani tim untuk berlaga di pertandingan selanjutnya.


Pelatih Jorge Costa hanya bisa menahannya dan hanya berharap pertandingan segera usai.


Waktu terus berlalu dan dengan bunyi peluit yang di tiup oleh wasit, pertandingan pun berakhir.


Pelatih Jorge Costa langsung meninggalkan lapangan sendirian dan menunggu di ruang pers.


Dia sangat marah.


Sean dan rekan pemain lainnya kembali ke ruang ganti di temani staff kepelatihan dan asisten pelatih.

__ADS_1


Sesampainya di ruang ganti, Assisten pelatih berkata, "Santos, temui pelatih di ruang pers. Temani dia dan jaga dia jangan sampai dia terlalu emosi. Kita masih di wilayah lawan. Bahaya."


Santos juga mengerti dan segera pergi.


Meski ini acara pers tapi akan tetap ada bahaya karena para reporter akan terus memancing agar pelatih Jorge Costa melampiaskan kemarahannya.


Dimana para reporter senang dengan hal itu.


Sesampainya Santos di ruang pers, reporter juga sudah berkumpul dan pelatih lawan serta perwakilan pemain Cova Piedade juga ada.


Pelatih Jorge Costa masih duduk dan memejamkan matanya dengan tangan yang terlipat di dadanya.


Santos langsung duduk di samping pelatih Jorge Costa.


Setelah beberapa saat, staff official pertandingan juga mempersilahkan agar reporter bertanya.


"Pelatih Jorge Costa, bagaimana perasaan anda bahwa tim anda menang lagi?"


"Tentu senang." Sahutnya singkat.


"Apakah di pertandingan tadi anda menggunakan skema baru anda? Sebegitu percaya dirinya kah anda sampai sampai membiarkan para pemain beradaptasi dengan skema baru di pertandingan resmi?"


"Iya memang itu adalah skema baru yang sedang saya dan tim latih, ini memang harus kita lakukan karena kita tak mau kalah dan harus promosi."


"Para tim lawan yang kita hadapi juga sudah menilai dan membaca skema lama kami, jadi jika kami tidak mengubahnya itu akan sulit bagi kami."


"Tentu saja saya percaya dengan para pemain saya, namun ini masih jauh dari yang saya harapkan, jadi saya harap pemain saya akan terus berkembang dan beradaptasi dengan skema baru ini lebih cepat supaya tujuan promosi tim dapat tercapai."


Pelatih Jorge Costa masih santai menjawab.


"Bagaimana dengan keadaan Roberto setelah di langgar tadi? Kami melihat bahwa dia langsung pergi dengan ambulan. Apakah dia akan absen di laga laga selanjutnya?"


"Saya tidak tahu pasti tentang keadaannya. Tapi yang mungkin adalah bahwa dia sudah pasti cedera, apalagi usianya sudah tak lagi muda yang mana akan rentan terhadap cedera."


"Jika tebakan saya benar bahwa Beto sudah di pastikan cedera, Beto mungkin tidak bisa ikut di laga laga selanjutnya."


"Saya marah. Apakah kamu tahu? Kami sedang di puncak sekarang dan kami kehilangan 2 pemain inti kami."


"Pertama Osei sekarang Beto."

__ADS_1


"Bagaimana saya bisa menghadapi laga laga selanjutnya tanpa seorang penyerang tengah?"


Pelatih Jorge Costa menaikan nadanya sedikit di saat kalimat kalimat terakhirnya diucapkan.


__ADS_2