
Di ruang ganti Stade Parseiman milik tim nasional Indonesia.
Para pemain sedang duduk dengan kaki yang di telentang kan panjang ke depan, kakinya tidak di lipat agar tidak terjadinya varises.
Bukan hanya itu saja tapi agar meminimalisir rasa kaku di kaki dan agar tidak terjadinya kram.
Sambil merentangkan kakinya ke depan dengan lurus, pemain juga sambil minum air mineral untuk melepas dahaga mereka juga mengisi stamina kembali yang sudah terkuras.
Pelatih Indra masih diam saja dan mengamati pemain yang masih sibuk minum.
Setelah beberapa saat, "Permainan cukup baik kali ini."
"Hanya saja, kerja kalian kurang memuaskan."
"Dua gol yang di cetak kita hari ini, kurang sekali kontribusi dari kalian."
"Apakah kalian melihatnya? Sean bekerja sendiri untuk mencetak gol itu."
"Harusnya kamu bekerja lebih keras supaya meringankan beban pemain lainnya."
"Meski kita tak tahu apakah kita akan menang atau kalah, setidaknya kita memberikan semua yang kita punya di pertandingan hari ini."
"Contohnya Sean!" Ungkapnya.
Para pemain bingung dengan perkataan pelatih ini.
"Apakah kamu tidak tahu?" Tanya pelatih pada pemain.
"Selama babak grup sampai semi final, Sean belum mengeluarkan kemampuan sepenuhnya seperi bermain di Liga Pro Portugal sana." Ungkapnya.
Para pemain tentu saja kaget dengan perkataan pelatih, pasalnya mereka selama ini sudah merasakan bahwa Sean sangat hebat dan jarak juga sudah lumayan jauh.
Tapi sekarang mendengar lagi perkataan yang seperti ini, membuat mereka sadar bahwa mereka terlalu memandang Sean sebelah mata.
Sean yang di bicarakan hanya memasang wajah acuh tak acuh dan mendengarkan saja.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya pelatih lagi.
"Karena selama babak grup sampai semi final, kebanyakan aku menginstruksikan banyak hal pada kalian."
"Tidak seperti sekarang."
"Aku menyuruh kalian untuk bermain lepas."
"Tahu artinya bermain lepas?"
"Bebas sesukamu, jangan terlalu terpaku dengan skema dan instruksi yang ku berikan. Semuanya tergantung padamu."
"Apakah kalian tahu?"
__ADS_1
"Sean mencetak 2 gol ini saja, jujur, dia belum mengeluarkan sepenuhnya. Benar kan, Sean?" Tanya nya.
Niat pelatih menanyakan ini, tentunya Sean tahu agar para pemain lainnya mempunyai dorongan tambahan lagi supaya lebih bersemangat dan sadar akan kemampuan mereka yang masih kurang.
Sean hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja.
"Kau lihat? Aku bukan meremehkan kalian. Hanya saja setidaknya kalian harus memberikan kemampuan tertinggi dan semaksimal kalian."
"Tujuannya agar kamu bisa mencapai batas dan lanjut melewati batas itu agar kamu semakin berkembang."
"Selama ini siapa yang melihat Sean selalu melakukan latihan tambahan sendiri?" Tanya nya.
Para pemain diam.
Memang selama latihan bersama tim nasional, Sean tidak melakukan latihan tambahan di sekitar lapangan setelah latihan bersama tim nasional.
Tapi dia selalu melakukan latihan tambahannya sebelum latihan bersama tim nasional.
Itu pun di halaman yang di sediakan oleh hotel, dimana halamannya cukup untuk melakukan beberapa teknik latihan.
Seperti lari zig zag, dribble bola dan lainnya.
Hanya saja tidak bisa latihan menembak saja.
Banyak pemain tidak tahu kegiatan tambahan Sean selama ini. Mereka hanya tahu bahwa jika Sean tidak ikut dengan mereka bermain di luar, Sean pasti akan diam di kamar sendiri.
"Lihat, Sean saja yang sudah mempunyai kemampuan lebih dari kalian masih berlatih lebih keras karena dia merasa bahwa kemampuannya itu belum cukup untuk bermain di kompetisi tertinggi Eropa."
"Targetkan lah impianmu itu tinggi tinggi."
"Jangan cuma hanya ingin bermain di Eropa, tapi tak jelas dimana nya."
"Jadi ku harap kalian akan melakukan hal yang sama nantinya."
"Baiklah mari kita lanjutkan." Ungkapnya.
Kemudian pelatih memberikan beberapa instruksi, awal awal dia hanya ingin memberikan motivasi agar pemain lainnya tidak terlalu down setelah mereka menang namun dengan cepat di balas.
Instruksi yang di berikan pelatih hanya seperti biasa saja.
Di anjurkan agar pemain melakukan pertahanan yang solid, mengisi ruang yang sudah di tinggalkan oleh pemain lainnya yang sedang melakukan pressing.
Jalur operan bola juga harus di tutup agar bisa merebut bola.
Para pemain mengerti dan di dalam hati mereka, mereka menanamkan bahwa mereka harus memberikan yang terbaik di babak kedua nanti.
Setelah beberapa saat, waktu istirahat juga habis dan para pemain kembali ke lapangan dengan keadaan yang bugar tapi tidak terlalu bugar.
Itu karena istirahat yang masih kurang.
__ADS_1
Bermain selama 40 menit lebih tapi hanya istirahat 15 menit.
Setelah para pemain memasuki lapangan, kick off akan di mulai lagi.
Para penonton di Stade Parseiman juga bersorak lagi setelah menunggu selama 15 menit.
Komentator di ruang siaran televisi saluran Indonesia juga sudah menampilkan kembali pertandingan di lapangan hijau pada layar penonton.
Penonton di rumah juga fokus untuk menonton lagi pertandingan final Indonesia melawan Portugal di tournament Toulon ini.
Komentator sangat bersemangat.
"Baiklah, para penonton yang setia, pertandingan akan segera di mulai kembali."
"Aku tidak tahu apakah Indonesia bisa mengamankan kedudukan ini dan menambah skornya lagi atau mereka harus terbalas dan tertinggal."
"Maka dari itu, selama kalian menonton, kami berdua akan menemani kalian dengan pembicaraan yang terus membahas pertandingan hari ini." Ungkap komentator sambil duduk fokus pada pertandingan yang sudah di mulai.
Dimana bola sedang di kuasai oleh para pemain Portugal di wilayahnya.
Sepertinya Portugal tidak terburu buru melakukan serangan.
Mereka mencoba untuk menarik para pemain Indonesia ke wilayah mereka dan setelahnya mereka akan masuk ke wilayah Indonesia.
Namun strategi seperti itu tak akan berguna bagi Indonesia.
Para pemain Indonesia menunggu dengan sabar di wilayahnya sendiri.
Tapi ketika bola yang di kuasai oleh pemain Portugal masuk sedikit wilayah Indonesia, satu pemain Indonesia akan melakukan pressing agar mereka kembali ke wilayahnya lagi.
Hal seperti itu terus berulang, dan para pemain Portugal juga terpaksa membalikan bolanya terus menerus agar bisa memancing pemain Indonesia keluar.
Di babak kedua ini, sepertinya pertandingan ini akan beradu tentang kesabaran.
Siapa yang lebih sabar maka mereka yang di untungkan.
Para pemain Indonesia bersabar dan fokus pada setiap operan lawan, meski mereka bersabar, mereka juga tetap berusaha untuk menutup setiap celah dan ruang untuk jalur operan bola lawan agar tidak sampai pada penyerang mereka yang kini berada di wilayah Indonesia.
Namun penyerang Portugal itu hanya seperti terkurung di dalam sangkar burung saja.
Dia tidak bisa banyak bergerak bebas karena setiap bergerak, Nurhidayat akan mengikutinya, sedangkan Irianto yang akan menutup celah dari jalur bolanya nanti.
Firza dan Asnawi melakukan hal yang sama dengan Nurhidayat.
Mereka berdua mengikuti pemain Winger Portugal bergerak, meski jauh dari wilayahnya, mereka akan terus mengikutinya.
Firza dan Asnawi tidak takut wilayahnya kecolongan karena nantinya akan mengisi ruang yang mereka sudah tinggalkan.
Egy dan Sean lah yang nantinya akan mengisinya.
__ADS_1