
Di wilayah kolam renang, para pemain tersenyum dan tertawa.
"Lihat, dia kaku sekali."
"Apakah kamu tidak tahu tentangnya?" Tanya Felix.
"Dia tidak bisa dekat dengan wanita." Ucap Felix.
"Kenapa kamu tahu?" Tanya pemain lainnya.
"Aku tahu dari para pemain yang pernah bermainnya di Portugal."
"Dia sulit sekali untuk dekat dengan wanita meski banyak yang mendekatinya."
"Haha." Sahut yang lainnya.
"Kerja bagus." Ucap Trent pada Robertson sambil mengacungkan jempolnya.
Kemudian mereka melihat Sean yang saat ini sedang berhadapan dengan wanita cantik di tepi kolam renang itu.
Sean berdiri dan wanita itu duduk di tepi kolam.
"Hai." Ucap Sean.
"Hai." Balasnya.
"Sendirian?" Tanya Sean.
"Iya. Kamu?" Tanya wanita itu
Sean kemudian menjawab sambil menunjuk rekan rekan timnya di belakang.
Wanita itu juga melihat ke arah yang di tunjuk Sean.
Saat melihat ke arah itu dia tentu saja kaget karena melihat banyak orang, apalagi dia mengenal wajah wajah mereka.
"Apakah mereka para pemain Liverpool?" Tanya nya.
Sean mengangguk saja.
"Kamu juga?" Tanya nya.
"Iya." Jawab Sean tersenyum.
Sean tidak tahu kenapa, tapi dia menilai wanita di depannya ini tidak sombong dan mudah di ajak berbicara.
Padahal baru saja dia mengajak nya mengobrol tapi wanita itu lebih mendominasi dan mencari topik pembicaraan.
"Oh hebat." Ucapnya.
"Aku tidak menyangka aku akan bertemu para pemain Liverpool di sini."
"Apakah kamu fans Liverpool?" Tanya Sean yang sambil berjongkok karena merasa tak enak jika dia berdiri.
Rekan rekan Sean di belakang tersenyum.
"Apakah ini yang sulit dekat dengan wanita?" Ucap Flo bingung.
"Aku juga tidak tahu, aku hanya mendengar itu dari pemain pemain ketika aku di Portugal." Ucapnya Felix.
__ADS_1
Sambil mengobrol membicarakan Sean, para pemain terus memperhatikan Sean yang sedang bertindak mengobrol dengan wanita cantik itu.
Sean juga berkenalan dengannya dan mengetahui namanya, bahwa namanya adalah Sarah.
Namanya seperti nama dari Indonesia tapi dia berasal dari Venezuela.
Sean bertanya kenapa dia bisa di sini, ternyata Sarah adalah seorang model yang akan mengikuti ajang Miss Universe untuk tahun ini.
Sean tentu kaget karena wanita cantik di depannya akan ikut ajang itu, Sean kemudian merasa minder karena wanita yang akan mengikuti ajang Miss Universe harus mempunyai pengetahuan yang luas dan banyak.
Setelah banyak mengobrol, Sean akhirnya bangkit dan mengeluarkan ponselnya.
Dia memberikan ponselnya yang dia bawa pada Sarah.
Itu karena Sarah berkata dia ingin mengobrol lebih banyak dengan Sean karena Sean menarik.
Sean awalnya bingung, lalu para pemain di belakang Sean berteriak "Ponsel, Ponsel."
Dengan teriakan itu, Sean akhirnya sadar bahwa mungkin nomor telpon.
Sarah menuliskan nomornya di ponsel Sean dan langsung melakukan panggilan, itu agar Sarah juga segera mempunyai nomor Sean.
Setelah berbicara sedikit, Sean kembali ke rekan rekannya yang kini sedang tertawa puas.
"Puas?" Tanya Sean.
"Aku merasa malu." Ucap Sean.
"Tidak, itu berjalan baik sepertinya." Ucap Flo.
"Iya kerja bagus." Ucap Trent.
"Baiklah ayo kembali." Ucap Robertson.
Sean mengangguk tanda bahwa dia akan pergi, di jawab dengan senyuman saja oleh Sarah.
Dengan perginya Sean, Sarah yang sendirian di tepi kolam renang itu tersenyum.
Meski masih ada banyak orang yang berenang, tapi hanya Sarah saja yang berada di tepi kolam renang.
"Menarik, dia polos sepertinya." Ucap Sarah, dimana dia belajar cara menilai orang dari gerakan mata dan gestur tubuh.
Dia melihat bahwa tadi Sean sangat canggung, tapi Sean memberanikan diri dan itu di ketahui oleh Sarah.
"Sepertinya dia juga seumuran denganku." Ucapnya.
"Baiklah, nanti akan ku lihat dan cari dia di media sosial."
"Namanya Sean kan kalau tidak salah ingat."
...
Keesokan harinya,
Sean bersama para pemain Liverpool lainnya berada di lapangan.
Mereka sedang melakukan pemanasan ringan untuk menyesuaikan kondisi tubuh dengan suhu di sini.
Para pemain juga tahu bahwa hari ini hanya sekedar latihan ringan jadi mereka sangat sangat santai.
__ADS_1
Bos juga sambil mengobrol dengan asisten.
"Cukup." Ucap pelatih fisik yang memandu jalannya pemanasan.
"Kemari dulu." Ucapnya.
Dengan begitu para pemain berkumpul di sekitar pelatih fisik.
"Aku ingin tahu kondisi tubuh kalian saat ini. Jadi jalankan rangkain pelatihan ini dengan intensitas rendah."
Dengan begitu pelatih fisik memperagakan bagaimana latihan fisik yang harus di lakukan oleh para pemain.
Ini dia lakukan agar bisa menilai ada berada di mana kondisi para pemain, dan dia juga harus melaporkan pada bos dan membuat rencana ulang nantinya jika ada pemain yang di bawah standar.
Setelah pelatih fisik memperagakan gerakan latihannya, para pemain mulai melakukannya.
Dimana pelatih fisik mengatur waktu nya.
Berjalannya waktu, semuanya selesai dan para pemain di minta berkumpul lagi.
"Fabinho, kamu terlalu banyak lemak. Apakah liburan mu sangat nyaman dan menyenangkan?" Ucap Pelatih fisik.
"Hendo meski kamu berada di atas standar sedikit, tapi usiamu sudah lebih dari 30 jadi bekerja lebih keras supaya bos tidak kecewa."
Setelah menilai beberapa pemain, pelatih fisik kembali pada bos dan melaporkannya.
Singkat cerita, pelatihan juga selesai.
Para pemain kembali ke hotel dan mulai mandi, mereka juga tinggal menunggu makan malam saja karena tadi latihan di sore hari.
Di kamarnya, Sean dan Flo mengobrol sambil menunggu waktu makan malam.
"Bagaimana? Apakah dia menghubungi mu?" Tanya Flo pada Sean.
Sean hanya menjawab dengan mengangguk saja.
"Terus apakah kamu saling berkomunikasi?"
"Iya, tapi sepertinya dia berbeda kepercayaan denganku." Ucap Sean.
Flo langsung mengerti bahwa Sean adalah seorang yang berbeda kepercayaan dengannya juga.
"Jangan patah semangat, siapa yang tahu kedepannya."
"Aku tahu, apakah kamu tidak berkomunikasi sekarang?" Tanyanya Flo.
"Dia sedang melakukan pengukuran tubuh untuk membuat sebuah gaun yang akan di pakai nya nanti."
"Sudah sejauh itu kah kamu berkomunikasi, sampai sampai dia juga bilang padamu tentang hal sepele seperti itu."
"Aku tidak menanyakan apa apa, dia sendiri yang berkata bahwa dia akan melakukan pengukuran tubuh untuk gaunnya."
"Ya berarti dia menganggap mu dan mungkin kamu menarik jadi dia ingin kenal lebih dekat dengan mu." Ucap Flo.
"Apakah benar begitu? Aku rasa tidak." Ucap Sean.
"Kenapa tidak?"
"Karena dia terlalu cantik sungguh, jika dia akan menjadi Miss Universe, pengetahuannya juga pasti luas, sedangkan aku, sekolah juga tidak karena harus mengejar impianku menjadi pemain sepak bola."
__ADS_1
"Tidak ada yang tidak mungkin, siapa tahu Tuhan memberikan dia padamu karena untuk melengkapi hidupmu."
"Dia pintar dan kamu bodoh. Haha." Ucap Flo dengan tertawaan yang meledek.