
15 Mei 2022.
1 hari setelah pertandingan melawan Watford.
Liverpool masih meraih kemenangan di laga itu. Namun kemenangan itu hanya dengan 1 gol saja.
Meski begitu, ini masih membuat Liverpool berada di puncak klasemen.
Jumlah selisih gol yang dimiliki Liverpool dengan Manchester City terpaut 23 gol saja.
Jadi tak mungkin jika Manchester City bisa mengungguli Liverpool dalam selisih gol.
Terkecuali jika nanti di laga Liverpool melawan Manchester City liga premier, Manchester City bisa mengalahkan Liverpool dan itu akan membuat mereka naik ke puncak klasemen.
1 gol atas kemenangan Liverpool dengan Watford di cetak oleh Felix, dimana dia menerima assist dari Sean.
Dengan begitu, Sean mendekatkan dirinya dengan Kevin De Bruyne.
Dimana saat ini Kevin De Bruyne belum memperoleh assist lagi sehingga jarak Sean dan Kevin De Bruyne hanya 1 saja.
Saat ini, Sean berada di rumahnya.
Dia sedang melakukan video call bersama keluarganya di Indonesia.
"Jadi kamu ingin kami pergi ke sana untuk menonton laga final itu?"
"Iya Bu, lagian Salma juga sudah beres kan belajar nya?" Tanya Sean.
"Iya memang, berarti kita langsung berangkat ke sana tanpa ke Inggris dulu?"
"Iya Bu langsung saja."
"Kumohon datang ya Bu, ini juga demi kebaikan anakmu, juga ini merupakan laga penting dan besar."
Sean meminta keluarganya untuk datang ke laga final UCL nanti melawan Real Madrid yang di selenggarakan di Prancis.
Lebih tepatnya Stadium Stade De France, Saint Denis.
Sean sangat mementingkan kedatangan mereka, sebab ini merupakan momen bersejarah dan momen penting baginya.
Dia tidak peduli apakah nantinya menang atau kalah, yang penting adalah keluarganya datang untuk menonton.
"Baiklah, tanggal berapa memangnya?".
"28 Bu, nanti akan ku kirimkan tiket menontonnya." Ucap Sean.
Dimana para pemain mendapatkan tiket khusus untuk di berikan keluarga atau rekan dan juga kerabat.
Sean meminta 4 tiket pada pihak klub sebab 1 untuk Callista, dia juga ingin Callista datang ke laga final itu.
"Kirimkan lewat apa?"
"Iya nanti ketika aku sampai di Prancis, jadi ibu datang 2 hari sebelumnya karena di pastikan penuh."
"Aku juga di sana 3 hari sebelum pertandingan kok." Ucap Sean menjelaskan karena para pemain di klub akan memakai fasilitas latihan milik klub dari liga Prancis.
__ADS_1
Ini memungkinkan agar pemain siap dan juga terbiasa, apalagi agar tidak pemain mengalami kelelahan akibat perjalanan jika datang mendadak.
"Baiklah, pacarmu ikut?" Tanya ibunya tiba tiba.
"Siapa pacar?" Tanya Sean.
"Lisa."
"Belum ku ajak, tapi aku sudah menyiapkan 4 tiket." Jelas Sean.
"Baiklah, nanti kamu tanyakan dulu, jika dia setuju, dia bisa bareng bersama kami untuk berangkatnya."
"Iya Bu, terima kasih sudah menuruti permintaan Sean."
"Ya tak masalah, jaga kondisimu baik baik jika itu merupakan laga penting dan laga besar. Kamu harus fit agar bisa bermain dengan baik nantinya." Ucap ibunya.
"Ya Bu aku tahu." Jelas Sean.
Kemudian keduanya mengobrol panjang lebar untuk beberapa menit lagi.
Setelah panggilan di akhiri, Sean menunggu jam istirahatnya Callista dan hanya tinggal 30 menit.
Sambil menunggu waktu itu, Sean bermain dengan ponselnya.
"Aku akan menghadapai raksasa Spanyol di laga final nanti."
"Jelas ini merupakan sebuah kehormatan, kebanggan dan prestasi tersendiri bagiku."
"Memikirkannya membuat ku semakin tak sabar dengan final nanti."
"3 hari lagi melawan Manchester City. Ini merupakan laga penting juga. Jika bisa imbang ini akan menguntungkan, tapi jika bisa menang tentu itu lebih baik."
"Namun jika imbang, kami harus yakin menang nanti di laga Derby melawan Everton."
Sean memandangi lemari penghargaan nya, dimana itu masih sedikit isinya.
Sean membayangkan lemarinya terisi penuh dengan prestasi prestasi yang dia dapatkan.
Di lemari itu juga terdapat 2 penghargaan pemain terbaik dalam Liga Inggris di bulan September dan juga bukan Maret.
Sean mendapatkan ini juga terharu dan bangga, dia tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan ini.
Jelas bahwa ini merupakan kehormatan bagi dirinya yang berkarir di Liga Inggris.
Beberapa saat kemudian, dimana waktu di Inggris adalah pukul 7 malam, sedangkan di Indonesia pukul 12 siang.
Sean kemudian mengirimkan pesan pada Callista, menanyakan apakah dirinya sudah beristirahat.
Sean menunggu dan 5 menit tak ada balasan.
Sementara itu, di Indonesia, di lokasi syuting lebih tepatnya.
Callista saat ini sangat kesal.
Dia sedang mengulang adegan yang sama terus menerus, ini di sebabkan oleh aktor pria itu dengan sengaja melakukan kesalahan.
__ADS_1
'Dia pasti sudah mengirim pesan, tapi istirahat belum tiba.'
'Arghhh.'
"Sutradara, saya izin dulu istirahat. Akan tidak benar jika di teruskan begini terus, dia sengaja melakukan kesalahan." Ucap Callista yang sudah tidak bisa menahan lagi rasa kesalnya.
Sutradara juga menoleh pada Callista dan memperhatikan bahwa wajah Callista sedang kesal dan juga keringat sudah berukuran akibat cuaca yang panas dan juga terus mengulang adegan yang sama, dimana ini sangat menguras energinya.
"Baiklah, kamu istirahat dulu."
"Aku akan bicara dengan Bian."
Saat Callista akan berbalik ke ruang ganti nya dan mengambil ponsel yang dia simpan di tasnya, dia mendengar suara yang sangat menyebalkan.
"Sutradara, ayo ulangi lagi, saya sudah siap sekarang." Ucap Bian dengan santainya.
Callista mendengar ini juga yang asalnya akan pergi langsung berhenti lagi.
Sutradara juga hanya menoleh pada Callista, menanyakan apakah akan lanjut sekarang atau istirahat dulu.
Callista pun akhirnya angkat bicara, "Ini terakhir kalinya, jika kamu melakukan kesalahan lagi, aku pastikan lebih baik mengganti peranku dengan pemeran pengganti saja di scene yang ini." Ucap Callista.
Sutradara juga tahu mungkin Callista sudah sangat kesal dengan keadaannya saat ini.
"Bian, awas kamu tidak benar!" Ucap Sutradara.
"Tenang, saya akan melakukan yang terbaik kali ini." Sahutnya sambil tersenyum licik.
Bian sangat tahu kebiasaan Callista yang menggunakan waktu istirahatnya untuk berkomunikasi dengan Sean.
Jadi dia sengaja menganggu waktunya agar dia tidak berkomunikasi dengan Sean.
Dia juga tahu bahwa di Inggris sudah malam, jadi ketika nanti Callista istirahat, dia berharap Sean sudah tidur dan tidak bisa saling berkomunikasi.
Callista jelas tidak tahu dengan jalan pikir lawan mainnya ini, jika tahu, dia mungkin sudah mengajukan untuk keluar dari projek film ini, meski harus membayar denda, dia tidak peduli, daripada harus bekerja sama dengan orang seperti itu.
"Kalau begitu ayo mulai." Ucap Callista yang berjalan ke tempatnya lagi.
Dimana dia duduk di sebuah kursi taman, Bian menghampirinya dan mengatakan bahwa dirinya akan membantu Callista untuk mencarikan ibunya yang pernah membuangnya.
Ini merupakan adegan yang sedang mereka lakukan.
Dan kesalahan yang selalu Bian buat adalah, dia selalu salah dalam kalimat atau isi dialognya.
Tapi kali benar dan Callista merasa sangat lega.
Namun saat dia merasa akhirnya akan selesai, Bian tiba tiba menggaruk kepalanya, dimana di dalam scriptnya itu jelas tidak ada.
Sutradara juga mengucapkan 'cut' tanda bahwa adegannya sangat buruk.
Callista yang melihat ini langsung menginjakkan kakinya ke tanah karena sangat kesal dengan suasana saat ini.
"Aku istirahat!" Ucap Callista dan langsung pergi.
"Tunggu, pak sutradara, mari kita sekali lagi, saya janji saya akan melakukannya dengan benar dan tak akan ada gerakan tambahan seperti itu lagi." Ucapnya Bian memohon dengan tulus.
__ADS_1