
Keesokan harinya,
Sean bersama Silva datang ke kantor Liverpool untuk menerima kontrak baru yang sudah di sediakan oleh pihak klub.
Mereka berdua datang pukul 10 pagi dan kini mereka sedang membaca isi kontrak yang sudah di berikan klub.
Pihak klub menawarkan kontrak perpanjang selama 5 tahun pada Sean.
Dengan begitu, Sean memiliki masa durasi kontrak menjadi 7 tahun.
Sean menerima hal tersebut dan tak keberatan.
Silva juga tak bernegosiasi mengenai berapa durasi kontrak tersebut karena Sean pun tak memberikan kode apapun.
Untuk gajinya, Sean dibayar senilai 65 ribu poundsterling per pekan.
Dimana itu senilai 1,2 milliar per pekan.
Sean tertegun saat membacanya, dia juga menengok pada direktur tim yang tersenyum saat melihat Sean bereaksi seperti itu.
"Itu wajar, dengan kualitas mu saat ini, kamu berhak mendapatkan gaji sebesar itu."
"Jika kamu menerima gaji itu, kamu masuk dalam 10 besar pemain muda dengan gaji tertinggi di Liga Premier."
Sean langsung diam saat mengetahui bahwa jika dirinya menerima gaji ini, dia termasuk dalam 10 besar pemain muda dengan gaji tertinggi di Liga Inggris.
Kemudian Sean dan Silva melanjutkan membaca isi kontraknya lagi.
Dimana bonus bonus juga di perkenalkan.
Jika Sean mencetak 15 sampai 20 gol dirinya akan di beri bonus senilai 30 ribu poundsterling.
Dan untuk assist tidak ada, mungkin karena direktur juga tahu bahwa gaya permainan Sean sudah berubah menjadi seorang mesin gol daripada sebagai Winger yang sering memberikan assist.
Bonus nya akan di bayarkan ketika liga berakhir.
Bonus gol ini hanya mencakup premier league saja, tidak di UCL ataupun di FA Cup.
Kemudian, bonus selanjutnya adalah jika tim meraih target seperti yang di tentukan klub pada tim, Sean akan mendapatkan bonus yang sama dengan pemain lainnya.
Tapi itu tidak di sebutkan berapa nilai bonusnya, mungkin karena target juga Sean tidak mengetahuinya, karena Bos nya lah yang di berikan target itu oleh klub.
Kemudian setelah membaca bonus bonus, pihak klub juga meminta 30 % dari biaya penandatangan Sean bersama dengan sponsor.
Silva yang awalnya sudah tahu dan berniat menegosiasikan ini pun tidak jadi karena biasanya pihak klub paling paling meminta 50:50 tapi sekarang justru pihak klub meminta 30% saja.
Dimana ini sudah sangat menguntungkan.
Direktur klub juga tersenyum tapi tidak berbicara saat melihat Silva sedang membaca biaya perawatan tentang sponsor.
Kemudian Sean dan Silva beralih ke halaman selanjutnya dimana biaya klausul pelepasan Sean naik menjadi 40 juta Euro.
Dimana asalnya saat Sean membela tim U 23 dengan kontrak yang dulu, biaya pelepasan adalah 20 Juta Euro.
Dimana sekarang naik menjadi 40 Juta Euro.
__ADS_1
Jadi jika ada yang ingin membeli Sean, pihak pembeli harus siap membayar biaya klausul terlebih dulu, lalu menegosiasikan berapa yang akan di bayarkan selanjutnya.
Silva melihat Sean dan tidak melihat tanda tanda bahwa Sean keberatan.
Silva pun dan Sean mengangguk tanda bahwa Sean menerima kontrak itu.
Kemudian Sean pun menandatangani kontrak tersebut.
"Selamat bergabung dengan tim Utama kami." Ucap Direktur.
"Pilih nomor yang kamu mau!" Ucap direktur.
"Oh jadi saya boleh ganti nomor?" Tanya Sean.
"Boleh asalkan tidak ada yang sama."
"Kalau begitu aku ingin nomor 7." Ucap Sean sambil tersenyum.
Direktur dan petinggi keuangan tertegun.
Saat ini nomor 7 di pakai oleh Milner, namun dia sudah tua. Dia juga belum tahu rencana bos tentang Milner mau bagaimana jadi tak mungkin memberikan nomor 7 sekarang.
"Tunggu sebentar kalo begitu." Ucap Direktur.
Kemudian dia keluar dan menelpon bos.
Keduanya mulai berbincang.
Tak lama, direktur kembali.
"Dia mungkin sekarang sedang ada di cafetaria." Ucap direktur.
"Jadi bagaimana nomornya ditunda dulu?" Tanya Sean.
"Iya lanjutkan nanti, sekarang urus dulu urusanmu." Ucap direktur.
Sean dan Silva saling memandang.
Pasalnya Sean hanya bercanda saat meminta nomor 7 karena tahu bahwa ada seniornya yaitu James Milner yang memakainya.
Dia tidak tahu ada situasi seperti ini.
"Bagaimana ini?"
"Apakah aku ubah saja nomornya?" Tanya Sean pada Silva.
"Mending kamu coba dulu mengobrol dengan Milner, siapa tahu dia memberikannya karena mungkin dia akan pensiun." Ucap Silva.
Sean kemudian mengangguk dan berjalan keluar, dia berjalan ke arah cafetaria tapi tidak menemukan adanya James Milner.
Saat ini, usia James Milner sudah sangat tua dan sudah memasuki tahap pensiun.
Umurnya adalah 35 jalan 36 dimana mungkin dia juga tak masuk dalam rencana bos musim depan.
Jadi Sean juga memberanikan diri untuk mencarinya meski awalnya dia hanya bercanda.
__ADS_1
Sementara itu, Bos di ruangannya sedang mencoret coret kertas sedang memikirkan bagaimana taktik untuk digunakan musim depan dengan para pemain mudanya.
"Aneh aneh, anak itu dia sungguh berani meminta nomor 7."
"Haha biarkan saja dia berbicara dengan Milner, apakah dia akan memberikannya atau tidak." Ucap Bos sambil tertawa.
Bos sudah memiliki banyak gambaran untuk musim depan.
Saat ini, Sean akhirnya menemukan Milner yang sedang mengobrol dengan staf klub di ruang kesehatan.
Sean mencari kemana mana dan akhirnya menemukannya karena banyak bertanya pada staf klub.
"Permisi." Ucap Sean.
"Ada apa?" Tanya dokter kesehatan yang sedang mengobrol dengan Milner.
"Saya ingin berbicara dengan senior." Ucap Sean.
"Aku?" Tunjuk Milner pada dirinya sendiri.
Sean mengangguk saja.
Milner sudah tahu bahwa Sean adalah pemain muda yang sudah di siapkan klub untuk rencana bos di musim depan, jadi tentunya tak merasa asing.
Karena dia juga memperhatikan talenta talenta muda klubnya, dia ingin tahu apakah klub nya akan sukses atau tidak nanti di masa depan.
Kemudian Sean dan Milner berjalan ke tempat yang lebih jauh dari dokter.
"Jadi ada apa?" Tanya Milner pada Sean sambil berjalan.
"Itu senior, saya tadi di tanya oleh direktur ingin memakai nomor berapa untuk bermain di tim utama, saya awalnya bercanda dan mengatakan ingin memakai nomor 7, tapi yang tidak saya duga adalah direktur malah menghubungi bos dan tak lama dia berkata untuk menyuruhku mengobrol denganmu."
Milner yang mendengarkan penjelasan Sean tersenyum.
"Haha, baiklah, aku akan memberikannya padamu." Ucap Milner tenang dan santai.
Sean juga tertegun karena dia awalnya menyangka akan sulit.
Namun ini terlalu mudah.
"Senior apa tadi maksudmu?" Tanya Sean lagi mencoba meyakinkan.
"Aku akan memberikannya padamu." Ucap Milner.
"Serius?"
"Iya, aku juga akan pensiun dan musim depan juga tak masuk dalam rencana bos jadi aku juga akan menjadi bagian dari staf bos untuk belajar." Ucap Milner.
Sean mendengar itu langsung meraih tangan Milner.
"Terima kasih senior, aku akan menjaga nomor ini dengan baik dan mengharumkan nya agar senior bisa bangga dan tidak kecewa memberikannya padaku." Ucap Sean.
Milner pun tertawa.
Kemudian keduanya mengobrol lebih banyak tentang beberapa hal.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Sean kembali ke kantor direktur dan berkata bahwa Milner sudah menyetujuinya.