
3 hari kemudian,
Bersamaan dengan Liverpool yang akan bertandang ke rumah dari Atletico Madrid, Federasi Sepak bola Indonesia telah mengumumkan berapa banyak kandidat pemain keturunan yang siap di naturalisasi.
Kira kira jumlah yang siap di naturalisasi ada 23 pemain keturunan, namun hampir banyak yang memiliki posisi yang sama.
Tentunya Federasi juga harus menyeleksinya karena pemain lokal atau pemain asli Indonesia harus ada dan bermain di panggung piala dunia nanti.
Makanya dari 23 pemain keturunan ini, yang diambil mungkin hanya beberapa saja.
Pemain keturunan ini semuanya berkelahiran dari 1992 sampai 2000.
Federasi mengambil kelahiran 2000 agar mereka sudah terbiasa dengan kebangsaan mereka dan bisa menyiapkan diri jika pemain pemain senior tidak bisa bermain.
Yang paling mengejutkan bagi Sean adalah ketika dia tahu bahwa ada seorang penjaga gawang di Liga Italia yang siap di naturalisasi.
Dan ternyata penjaga gawang itu juga sudah menjadi penjaga gawang utama di tim Liga Italia.
Apalagi usianya hanya berbeda sedikit saja dengan Sean.
Pemain lokal yang melihat ini semakin tertekan, tapi berbeda dengan Sean, dia semakin bersemangat karena dengan adanya persaingan seperti ini, kita bisa melihat mental dan kualitas para pemain nantinya.
Tentunya pemain naturalisasi ya tetap di naturalisasi tapi untuk skuad tim nya nanti itu pasti akan di umumkan lagi.
Sean saat ini seperti biasa, dia menyalakan televisi dan berada di channel yang akan memutar siaran langsung dari pertandingan UCL antara Liverpool dan Atletico Madrid.
Sean saat ini sendirian karena Callista sedang keluar bersama Magui untuk berbelanja pakaian keseharian Callista di sini.
Callista jelas perlu pakaian, sebab kemarin dia hanya memakai pakaian kaos Sean karena dia tidak membawa banyak salin.
Menonton televisi dan melihat bahwa para pemain belum memasuki lapangan.
Di ruang ganti tim milik Liverpool, para pemain sudah siap dan saat ini sedang mendengarkan instruksi dari bos.
"Jangan beri kesempatan pada penyerang mereka untuk berbalik badan."
"Felix, kita tahu bahwa kamu dulu dari tim itu, tapi sekarang kamu Liverpool, bermainlah dengan baik!" Ucap bos.
"Bermain keras jika mereka keras juga jangan sampai kehilangan fokus meski hanya sebentar saja."
"Pertahanan mereka kuat, serangan balik mereka cepat, kita harus tetap waspada."
"Virgil atur lini belakang supaya bisa tetap terkoordinir dengan baik." Ucap bos.
Beberapa instruksi juga di sampaikan lagi oleh bos dan para pemain mendengarkan dengan cermat.
Ini merupakan laga penting bagi mereka.
Mereka harus menang di pertandingan ini atau setidaknya seri jika sulit untuk meraih kemenangan, asalkan jangan kalah.
"Lama sekali." Ucap Sean sambil menunggu di mulainya pertandingan.
Saat sedang menunggu, ponselnya menerima sebuah pesan.
Dan ternyata itu dari Callista, "Apakah ini lucu?" Mengirimkan sebuah pakaian dengan gambar gambar yang lucu.
"Kenapa harus menanyakan ini padaku?"
"Beli tinggal beli kan." Ucap Sean aneh.
"Iya lucu." Balas Sean singkat, menyimpan kembali ponselnya dan para pemain juga sudah memasuki lapangan.
__ADS_1
Sean kemudian fokus pada pertandingan di televisi.
Di saat sedang fokus ponselnya menerima pesan lagi.
"Kamu mau nitip makanan apa? Biar sekalian." Pesan dari Callista.
"Apa aja." Balas Sean kemudian menyimpan ponselnya dan menonton kembali.
Di layar televisi, Atletico menguasai bola.
Mereka memanfaatkan gelandang mereka yang berjumlah 5, itu karena Atletico Madrid menggunakan formasi 4 5 1.
Dengan 1 orang sebagai penyerang.
Terlihat jelas bahwa Atletico ingin menguasai jalannya pertandingan dan mempersulit Liverpool dalam penguasaan bola.
Mereka sudah di pastikan menilai kebiasaan Liverpool yang selalu menguasai jalannya pertandingan di setiap pertandingan yang di jalaninya.
Pelatih Atletico Madrid sangat sangat jeli dan peka.
Waktu terus berjalan, dimana pertandingan ini sangat alot.
Sebab pertandingan ini hanya fokus di lini tengah saja. Dimana para pemain tengah Liverpool juga bertarung dan tidak takut meski mereka kalah jumlah di lini tengah.
Bahkan cobaan tembakan saja belum ada dari di mulai nya kick off padahal menit pertandingan sudah memasuki menit ke 6.
Intensitas yang di tunjukan juga sangat tinggi, tempo permainan cepat.
Karena pressing ketat yang di lakukan oleh kedua tim pada tim yang menguasai bola.
Bos di pinggir lapangan melihat ini menggelengkan kepalanya dan kemudian melirik ke assisten nya di bench.
Assisten bos juga mengerti dan segera mencatat.
"Ah membosankan." Ucap Sean.
"Meski membosankan tapi jika dilihat lebih jelas ini merupakan pertandingan tingkat atas, ini jelas sedang mengadu strategi kedua pelatih."
Sean menonton pertandingan dengan cermat supaya dia bisa belajar lebih banyak lagi dan meningkatkan kemampuannya.
Karena hanya dengan melihat saja kemampuan otak kita mampu memproduksinya agar kita bisa melakukannya nanti.
"Ah Fabinho tempel terus dia." Ucap Sean melihat Fabinho yang telat melakukan pressing sehingga pemain Atletico leluasa menerima bola.
Pemain Atletico itu juga meneruskan bola ke sisi kanannya.
"Tekan dia Flo." Ucap Sean melihat Flo yang jaraknya dekat dengan pemain Atletico yang menguasai bola.
"Bagus Flo." Sean melihat Flo melakukan pressing pada pemain Atletico itu.
Pertandingan juga terus berlanjut, Sean menonton dengan fokus, bahkan ponselnya yang berdering menerima pesan juga ia hiraukan.
Memasuki menit 31, dimana total tembakan kedua tim juga sudah di miliki.
Namun jumlah tembakan Liverpool kalah dengan jumlah tembakan Atletico.
Ini menandakan bahwa Atletico menguasai jalannya pertandingan dan juga menyerang.
Saat ini, pemain Liverpool menguasai bola.
Aurelien memberikan terobosan pada Felix.
__ADS_1
Felix kemudian melakukan kontrol bola dan langsung berbalik, namun Sean terganggu karena ponselnya berdering.
"Halo siapa?" Tanya Sean tidak melihat siapa yang menghubunginya.
"Ini aku, aku di luar. Cepat dingin." Ucap Callista.
Sean mematikan ponselnya dan melihat bahwa peluang Felix sudah terbuang dan menjadi sebuah sepak pojok.
Sean berjalan ke pintu sambil melihat ke televisi terus.
Dia menekan sidik jarinya di pintunya dan pintu juga terbuka.
Sean masih tidak melihat ke pintu, dia fokus pada televisinya.
Sama halnya dengan Callista, dia menunggu Sean membuka pintu dengan berbalik ke arah jalan.
Saat mendengar suara pintu di buka ia langsung berbalik dengan cepat.
Namun hal tak terduga terjadi di antara keduanya.
Callista menabrak Sean dan Sean kaget langsung berbalik untuk melihat ke arah pintu.
Dia menemukan Callista sudah dalam pelukannya dalam keadaan sedikit basah karena hujan.
Sean melihat ke bawah karena tinggi Callista tidak sama dengan Sean, sama halnya dengan Callista yang melihat ke atas.
Keduanya saling menatap, waktu seakan berhenti.
Tak lama, "Ah." Ucap Sean sambil melepaskan Callista yang ada di pelukannya itu.
Callista juga malu dan langsung berlari ke dalam.
Sean menutup pintu dan melihat ke televisi lagi dimana Virgil Van Dijk sedang berselebrasi.
"Gol?"
"Sialan Lisa, kamu membuatku tidak bisa melihat gol yang tercipta." Teriak Sean kesal.
Sean yang sudah berteriak langsung tertegun, 'Aku tadi memanggilnya Lisa?'
'Aduh Sean, itu adalah panggilan mu dulu padanya.' Sean spontan saja.
Kemudian dia berjalan ke sofa dan menunggu para pemain Liverpool berselebrasi dia juga sedang menunggu cuplikan ulang terjadinya gol itu.
Sean berteriak kesal pada Callista karena dia tidak bisa merasakan euforia saat Virgil mencetak gol tadi.
Jika melihat dari cuplikan ulang, sensasinya sudah hilang.
Sementara Sean menonton cuplikan ulang, Callista di dalam kamarnya sudah berdegup kencang.
"Aku di peluk?"
"Tadi juga dia memanggilku Lisa lagi, apakah dia...?" Ucap Callista berhenti karena Sean memanggilnya meminta makanan yang dia bawa tadi ketika menanyakan makanan apa yang mau di beli.
Callista kemudian menyimpan barang belian nya di atas kasur dan membawa dua kantong yang berisi makanan.
"Ini, apakah tidak masalah jika yang begini?" Tanya Callista.
"Kenapa kamu tahu ini?"
"Kata Magui kamu suka ini jadi aku membelinya." Ucap Callista.
__ADS_1
Kemudian Sean segera membuka makanannya itu, Callista juga berjalan ke dapur untuk membawa beberapa peralatan makanan supaya makanan yang di beli ini tertata.