I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 103.


__ADS_3

Keesokan harinya,


Pukul 1 siang, Sean sudah tiba di cafe sesuai dengan jam kemarin.


Dia di temani oleh Silva.


Pertemuan kemarin dengan orang itu lebih dari jam 1 siang, namun sekarang Sean sengaja datang lebih awal karena tak mau di tunggu.


Lebih baik dia yang menunggu.


Di saat keduanya sudah pesan, keduanya juga mulai mencicipi pesanan yang mereka pesan.


Waktu juga terus berlalu, namun orang itu belum datang juga.


"Apakah kamu ingat dengan benar apa yang di katakan nya kemarin? Awas salah." Ucap Silva.


Dia benar benar tidak tahu, meski dia agennya, dia juga bingung kenapa orang itu tidak mencarinya tetapi malah menemui si pemainnya langsung.


Makanya hal seperti ini terjadi.


"Aku ingat dengan benar, tunggu saja sebentar." Sahut Sean sambil meminum jus yang dia pesan.


Setelah 30 menit kemudian, dimana tepatnya pukul 2 siang.


Datanglah seorang pria menghampiri keduanya, tapi orang yang datang bukan orang yang kemarin.


Sean dan Silva bingung karena tidak tahu siapa orang yang mendatanginya.


"Ikut saya!" Ucap pria yang baru datang.


Sean dan Silva langsung mengikutinya.


Ternyata orang itu berjalan ke arah parkiran dekat cafe tersebut. Keduanya terus mengikuti, dan tak lama mereka melihat bahwa ada sebuah mobil sederhana yang terparkir.


"Masuk ke dalam mobil saja." Ucapnya pria tadi.


Sean dan Silva langsung masuk ke dalam mobil. Keduanya duduk di belakang, karena orang yang menemui Sean kemarin duduk di depan.


Setelah keduanya masuk, orang yang menemui Sean kemarin berkata, "Aku tidak ingkar janji kan, aku telat karena ada urusan." Ucapnya.


"Langsung jalan Tuan?" Tanya supir, dimana supir itu adalah orang yang mendatangi Sean dan Silva tadi.


"Langsung saja." Jawabnya.


Kemudian mobil juga melaju, untuk tujuannya Sean dan Silva tidak tahu.


Di saat mobil sedang melaju.


Orang yang kemarin mendatangi Sean berkata, "Maaf karena hanya bisa di mobil saja, terus terang saja. Kamu agennya dia kan?" Tanya nya.


"Iya." Sahut Silva.


Silva juga sekarang benar benar merasa kaget saat benar benar melihat wajah orang di depannya ini.


Awalnya dia benar benar tak percaya kemarin tapi sekarang semua rasa tidak percaya itu hilang.


Dia gemetar karena senang, ini adalah sebuah kehormatan dan kebanggan bisa berbicara dengannya dan memperkenalkan pemainnya.


"Kalau begitu, klub apa saya yang meminatinya? Pasti banyak kan? Apakah ada dari Premier League?" Tanya nya.


"Ada, hanya saja, klubnya tidak sebesar klub yang tuan latih." Ungkap Silva.

__ADS_1


Silva memanggilnya Tuan juga tidak tahu kenapa itu terjadi dengan spontan.


"Haha santai saja, jangan panggil aku Tuan. Panggil aku bos." Ucapnya.


"Oh jadi ada, kalau EFL ada?"


"Ada bos, 3 klub. Brentford, Aston Villa, Norwich."


"Kalau yang tadi kamu sebutkan Premier League apa?"


"Brighton."


Bos yang mendengarkan hanya tersenyum, jelas bahwa jika klubnya di bandingkan dengan Brighton sungguh jauh sekali.


Sean yang mendengarkan tentu saja sudah tahu, tapi dia tidak berkomentar apapun, dia hanya mendengarkan pembicaraan keduanya saja.


"Jadi kenapa kamu menolak?" Tanya bos pada Sean.


"Hal yang sama dengan di lakukan tim bos padaku, mereka ingin aku bermain untuk U 23 terlebih dulu."


"Terus kenapa kamu menerima tawaran dariku?" Tanya bos lagi mencoba meyakinkan.


Meski dia sudah yakin, dia ingin tahu alasan kenapa Sean menerima tawaran darinya.


"Pertama, klub yang ada latih sekarang itu adalah klub yang ku favoritkan bersama ayahku sedari dulu."


"Kedua, meski hanya untuk tim U 23 nantinya, fasilitas latihan dan arah pengembangan untukku nantinya akan lebih baik jika di arahkan oleh staf yang benar benar bagus."


"Ketiga, karena mu bos."


"Kamu merupakan orang yang paling banyak di sukai oleh para pemain muda karena sangat menghargai dan menyayangi para pemain muda mu."


"Kamu juga selalu memberikan menit bermain bagi mereka, sehingga kamu sangat di sukai oleh banyak pemain muda."


Silva mendengarkan saja di pinggir Sean.


Bos hanya tersenyum saja mendengar penjelasan Sean.


"Berapa lama lagi Sean memiliki kontrak di klub Boavista?" Tanya Bos pada Silva.


"2 tahun."


"Berapa gajinya dia saat ini?"


"3000 euro."


"2600 pounds?" Tanya bos.


"Iya bos."


"Baiklah."


Bos kemudian diam sebentar.


Kemudian dia menanyakan hal selanjutnya, dia menanyakan pada Sean apa yang di perlukan Sean ketika sudah di transfer.


Sean awalnya bingung dan menatap pada Silva. Silva menjelaskan pada Sean dan akhirnya Sean mengerti.


Sean hanya menginginkan tempat tinggal saja yang cukup nyaman, dan untuk transportasi tidak di perlukan.


Kemudian Sean juga menolak ketika di tawarkan untuk bersekolah lagi.

__ADS_1


Setelah banyak pembicaraan yang mereka obrolkan, mobil itu berhenti tepat di depan cafe tadi lagi.


Sebelum Sean dan Silva keluar.


"Tunggu 3 hari lagi, setelah itu kamu bisa langsung pergi ke Inggris untuk melakukan tes kesehatan."


"Juga menandatangani kontraknya." Ucap Bos.


Sean dan Silva kemudian turun dari mobil itu dan berjalan ke cafe lagi.


Mereka kemudian duduk dan memesan minuman saja.


"Bagaimana?" Tanya Sean.


"Yah, sekarang tinggal tunggu saja selama 3 hari."


"Setelah tawaran di terima, kita bisa melakukan tes kesehatan di sana." Ucap Silva.


"Apakah perlu berangkat ke Inggris sekarang dan menunggu di sana?" Tanya Sean.


"Yah ayo lakukan." Ucap Silva.


Keduanya telah membuat rencana lagi untuk kedepannya.


Di dalam mobil, bos juga sudah melakukan panggilan pada tim keuangan untuk segera melakukan tawaran transfer pada Boavista.


Staf keuangan kaget saat mengetahui tujuan bos menggunakan uang klub untuk membeli pemain seperti ini.


Namun meski kaget, staf keuangan juga tersenyum karena nilai pemain ini belum benar benar naik dan ini akan cukup memudahkan baginya untuk bernegosiasi nanti.


...


Malam harinya, Sean dan Silva sudah berangkat menggunakan kereta api yang memang biasa di gunakan untuk tujuan dari Paris ke Inggris.


Keduanya langsung berangkat karena sesuai dengan rencana mereka untuk menunggu kabar di Inggris nantinya.


Sementara itu, Sean dan Silva berada dalam kereta api untuk ke Inggris.


Pihak Boavista, tentunya ketua Boavista kaget saat mengetahui adanya tawaran untuk pembelian Sean.


Meski memang benar benar ada beberapa yang menawar, namun banyak sekali yang tidak sesuai harganya.


Dan juga dia mengetahui bahwa jika klub seperti ini tidak mungkin cocok untuk Sean, ketua juga sudah melakukan panggilan dengan Silva sebelumnya bahwa Sean tidak akan menerima dulu.


Ketua juga hanya bisa menunggu, dan tawaran tawaran juga kemudian menaikan harganya.


Namun ketua itu tidak menerimanya karena Silva belum memberitahu mana yang akan di pilih Sean.


Saat tadi, dia mengetahui bahwa ada tawaran baru untuk Sean, dan itu membuatnya kaget.


Dia tidak menyangka klub besar seperti itu akan membeli Sean.


Kemudian dia melihat tawaran yang di berikan nya ialah 9 juta euro.


Ketua tersenyum.


Itu karena klub klub sebelumnya hanya menawar paling tinggi 8,1 juta euro saja.


Bahkan ada yang menawar paling kecil, itu adalah 6,5 juta euro.


Ketua juga segera melakukan panggilan pada Silva untuk menanyakannya apakah Silva dan Sean sudah berbicara dengan klub itu atau belum.

__ADS_1


Saat mengetahui jawaban Silva bahwa Sean sudah siap pindah ke sana, dia juga tak ragu dan langsung menerima tawaran klub itu.


__ADS_2