
3 hari kemudian,
Sean yang sudah ikut berlatih bersama tim pun sudah saling mengenal namun belum terlalu akrab.
Untung saja, karena 1 kamar berisi 2 ranjang, Sean juga pindah ke kamar yang masih sendirian.
Sean juga akhirnya 1 kamar dengan Firza. Yang merupakan pemain fullback kiri. Dengan itu juga, Sean mulai mengakrabkan dirinya dengan Firza agar tak terlalu canggung.
Sekarang, waktu memang sudah malam hari, namun belum saatnya untuk Sean tidur atau jadwalnya Sean tidur.
Ini masih jam setengah 8, dan Sean juga bersantai di kamarnya.
"Seann, melihatmu santai seperti ini, lebih baik kamu menceritakan kisah hidupmu kepadaku." Ungkap Firza.
Sean yang sedang bermain dengan ponselnya sambil rebahan di atas kasur pun segera menghentikan aktivitasnya dan langsung duduk di atas kasur.
"Apakah tidak akan membosankan?" Tanya Sean.
"Tak akan, itu lebih baik dari pada tak ada kegiatan apapun."
"Okelahh."
Saat Sean mau bercerita, Firza menghentikannya.
"Ada apa?"
"Tunggu, aku akan memanggil beberapa rekan yang lainnya supaya lebih seru." Ungkap Firza. Kemudian dia menelpon menggunakan telpon kamarnya ke kamar lainnya.
Setelah beberapa saat, datanglah 4 orang, dimana itu adalah Egi, Witan, Abimanyu dan Hanis.
Meski Sean tak terlalu akrab karena baru saling mengenal, dia membiasakan dirinya dan menyapanya.
Setelah semuanya duduk di kasur, Sean mulai menceritakan bagaimana dia bisa bermain di Eropa.
Mulai dari berhentinya sekolah, mendapatkan kontrak 1 tahun setelah umur 16 tahun, lalu tidak banyak kesempatan bermain karena kurangnya dalam beberapa aspek.
Sean menceritakan bahwa dia bekerja keras setiap hari, orang lain berhenti latihan, dan dia masih berlatih.
Meski saat itu kerja kerasnya belum terbayarkan, Sean terus berlatih dengan rajin dan menambah porsi latihannya sediikit demi sedikit.
Sean menceritakan bahwa selama 6 bulan dia tidak dimainkan, lalu selama sisa 6 bulan itu Sean selalu gelisah, karena takut dia tidak mendapatkan kontrak baru.
Akhirnya, Sean juga terus berlatih dengan keras dan sampai di musim ke 2, Sean juga mendapatkan kesempatan bermain.
Sean menceritakan bahwa, saat dia mendapatkan kesempatan bermain, dirinya tidak menyianyiakannya.
Dengan hasil dari latihannya yang rajin dan tak mau menyerah itu, Sean juga tampil baik di lapangan.
"Saat itulah aku melakukan come back ku."
__ADS_1
"Pelatih mulai mempercayaiku untuk turun bermain."
"Dan setelah sering turun bernain, aku tidak melupakan latihanku sehari pun, aku masih terus berlatih dengan porsi tambahan yang membuatku semakin berkembang, meski itu hanya sedikit demi sedikit, itu juga mempengaruhi permainanmu di lapangan."
"Terus bagaimana lagi?" Tanya Witan tersenyum.
"Aku mengarungi liga U 19 sampai selesai, dan mempunyai catatan statistik yang bagus. Namun setelah mempunyai catatan statistik yang bagus, aku masih gelisah karena kontrakku akan segera habis dan aku belum mendapatkan kontrak baru."
"Lalu kamu di sana luntang lantung dong?" Tanya Witan lagi.
"Tidak, setelah liga selesai itu, rekan tim ku berlibur, aku berlatih dan tidak pulang ke Indonesia."
"Selama latihanku berhari hari sebelum masa kontrak habis, aku menelpon agen yang pernah datang menemuiku di saat liga masih berjalan saat itu."
"Aku mengatakan bahwa aku membutuhkannya, aku tak punya pilihan lain."
"Meski agen itu seperti yang kuceritakan, dimana dia tidak mempunyai pengalaman dan klien. Aku harus melakukannya."
"Akhirnya, setelah menandatangani agen. Aku berhasil mendapatkan kontrak baru dari klub dan itu kontrak profesional."
"Saat itu, agenku meminta agar klub meminjamkanku."
"Aku lalu di pinjamkan ke Liga divisi 2 Portugal atau Liga Pro."
"Aku di pinjamkan ke Arouca dan mendapatkan banyak pengalaman di sana."
"Berarti setelah masa pinjaman kamu berakhir sekarang, kamu akan bermain di Primeira Liga di Boavista dong?" Tanya Egi.
"Tidakk." Ungkap Sean dengan serius.
"Pihak klub tidak mau memainkan aku di tim utama, dan hanya ingin meminjamkannya lagi atau menjualku."
"Hah? Kenapa?"
"Karena gaya bermainku tidak sesuai dengan pelatih utama."
"Lalu kamu akan di pinjamkan lagi?"
"Tidak akan, aku sudah berbicara dengan pihak klub bersama agenku, bahwa lebih baik menjualku dari pada meminjamkannya lagi."
"Kenapa kamu tidak mau di pinjamkan?"
"Aku tak mau karena seberkembang apapun aku setelah di pinjamkan, pelatih kepala tak akan memainkan aku di tim utama, lebih baik pergi dan mencari tim yang bisa menjamin ku untuk bermain."
"Memang benar."
"Lalu apa saja yang menurutmu harus kita punya agar bisa bermain di Eropa?" Tanya Egy.
"Kamu pasti sudah tahu." Ungkap Sean.
__ADS_1
"Kerja keras, latihan yang rajin, mental harus kuat."
"Kita di Eropa adalah orang asing, dan kualitas kita juga harus lebih baik dari orang orang Eropa di sini."
"Kita juga harus mempunyai gaya bermain yang unik agar menarik."
"Tapi yang paling penting adalah, kita mau bekerja keras dan mental yang kuat supaya kita bisa bertahan."
"Aku mengerti, lalu klub mana yang akan kamu tuju selanjutnya?"
"Belum ada, agenku yang akan mengurusnya."
"Haha, sepertinya kehidupan awalmu memang pahit, tapi itu juga akhrinya terbayarkan." Ungkap Firza.
"Memang, itu karena aku mau bekerja keras." Sahut Sean.
"Aku juga berharap banyak pemain Indonesia yang bermain di Eropa, itu akan meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia."
"Ya aku harap begitu."
"Di tournament Toulon ini adalah kesempatannya. Jadi bermainlah dengan sangat sangat apik dan baik."
"Kata agenku, banyak tim Scouting dari tim tim besar yang datang untuk melihat tournament ini."
Sean menguungkapkan apa yang dia tahu.
"Apakah kamu mendengar berita bulan Oktober 2017 kemarin?" Tanya Sean.
"Berita apa?" Tanya teman teman Sean.
"Karl - Heinz Reedle, dia merupakan legenda sepak bola Jerman. Dia berkata bahwa dia sangat berhaarap ada talenta talenta muda asal Indonesia yang bisa bermain di Bundesliga."
"Lihat, dia saja sudah mengemukakan pandangannya pada negara kita, ini adalah kesempaatn juga."
"Jadi jangan sampai kita juga melewatkan kesempatan yang ada, kesempatan di sini bukan hanya milik orang orang Eropa tapi kita juga." Ungkap Sean memberikan motivasi dan semangat pada rekan rekannya.
Memang, Sean terlihat lebih dewasa karena dia sudah sering bergaul dan bermain dengan para senior atau veteran, dimana itu akan merubaha kualitas mental dan pikirannya.
"Kamu benar, ini adlaah kesempatan kita."
"Ohiya, apakah kamu akan langsung menonton piala dunia setelah tournament ini selesai?" Tanya Egi bersemangat.
"Tidak, aku belum pulang selama 3 tahun, akuu ingin pulang dan menonton piala dunia di rumah saja." Ungkap Sean.
Mendengar jawaban Sean, rekan rekan Sean hanya bisa mengangguk menutupi kesedihan mereka.
Mereka berharap bisa pergi kesana dan menontonnya langsung di stadion.
Menurut mereka, itu adalah pengalaman yang sangat berharga, tapi bagi Sean pengalaman berharganya adalah jika dia bisa bermain di piala dunia nanti.
__ADS_1