I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 56.


__ADS_3

3 hari kemudian,


Sean yang sudah selesai berlatih bersama tim di sore hari dan latihan tambahannya itu kembali ke asrama pukul setengah 6 sore.


Dia juga sudah membersihkan tubuhnya dan sudah berpakaian siap tidur.


Namun karena waktu masih lama, Sean juga memilih untuk melakukan sesuatu yang memungkinkannya agar tidak bosan.


Sean membuka ponselnya dan akan bermain game di ponselnya yang sudah ia unduh.


Sean pun kemudian bermain, dan berhenti di saat sudah waktunya untuk melakukan ibadah.


Di saat jam 8 malam, Sean membuka kembali game di ponselnya lagi.


Dan ia juga memainkannya lagi, namun saat sedang fokus bermain, tiba tiba notifikasi pesan instagram menghalangi layar bagian atasnya.


Sean pun segera menggeserkannya dan membuang notifikasi pesan itu.


Setelah beberapa saat, Sean selesai bermain gamenya dan waktu juga sudah tepat pukul 9.


Sean memilih untuk langsung tidur agar besok tidak kesiangan.


Sean merupakan orang yang tepat waktu. Dia juga jika memiliki janji temu lebih memilih datang sebelum waktunya supaya tidak telat dan tidak membuat orang lain menunggu.


Menurutnya lebih baik dia yang menunggu daripada orang lain.


Keesokan harinya, Sean yang sudah menyelesaikan joging paginya dan berlatih yoga juga memilih untuk tidak kembali langsung ke asramanya.


Dia duduk di lapangan mini milik Arouca.


Melonggarkan sepatunya dan meminum air mineral botolan yang ia bawa setiap joging.


"Aku sudah 3 tahun lebih di Eropa dan belum pulang ke Indonesia."


"Aku juga memilih untuk tidak melanjutkan sekolah saat sampai di Eropa karena kurangnya biaya saat itu dan niatku yang hanya ingin fokus pada meraih cita citaku."


"Aku tidak tahu, apakah aku ini orang bodoh karena tidak melanjutkan pendidikan formal?"


"Mungkin iya, tapi jika nantinya aku sukses dalam meraih cita citaku, itu tak menjadi masalah bagiku."


"Jadi jika aku tidak ingin di pandang sebelah mata sekarang, dan nanti, aku harus bekerja keras untuk meraih itu."


"Menurutku dalam hidup itu ada 3 fase. Ketika miskin di pandang rendah, ketika berproses menjadi sukses di pandang sebelah mata, ketika sudah sukses menjadi bahan kebencian orang lain."


"Dan dalam fase kehidupan ini aku harus menghadapi semuanya, jadi aku harus kuat dan jangan takut."


"Kamu bisa Sean." Sean yang sedari tadi berbicara sendiri kemudian berdiri dan berjalan untuk kembali ke asramanya.


Sore harinya,

__ADS_1


Di saat latihan bersama tim Arouca, Sean melakukan latihan dengan penuh semangat. Ia sudah memperbarui mental dan tekadnya lagi.


"Heii nak, jangan terlalu bersemangat. Cepat lelah, besok kita ada pertandingan, bagaimana jika kamu kecelakaan di latihan hari ini dan besok tidak bisa bermain." Seru Rocha.


"Iyaa, kamu ingin pelatih marah, sudah 2 di tim kita yang cedera." Sambung Jubal.


Sean juga langsung memperlambat gerakan yang ia tadi lakukan dengan cepat dan penuh semangat itu.


"Aku mengerti." Jawab Sean.


Memang, besok ada pertandingan melawan UD Oliveirense. Pertandingan itu di langsungkan di Estadio Municipal Arouca.


Arouca berstatus sebagai tuan rumah dan UD Oliveirense sebagai tamu.


UD Oliveirense musim ini berada di papan tengah klasemen, sama seperti musim kemarin.


Dimana menunjukan bahwa tim ini memiliki keseimbangan yang baik, mereka bisa mempertahankan posisinya.


Meski mereka tidak naik, setidaknya mereka tidak menurun ke papan bawah klasemen.


Ini juga menunjukan bahwa tim ini bisa di bilang kuat dan tangguh.


Dalam beberapa pertandingan terakhir juga, Ud Oliveirense memiliki 3 hasil imbang dan 1 kemenangan.


Itu di hitung dengan pertandingan terakhir di musim pertama.


Waktu dalam latihan juga terus berlalu, saat rekan rekan tim kembali ke ruang ganti, Sean masih melanjutkan latihannya dengan intensitas rendah.


45 menit kemudian,


Sean yang sudah selesai mandi, ibadah dan makan pun sudah duduk di kursi belajarnya dan melihat kalender juga jadwal yang ada di berkas sebelah kalender.


"Musim ini akan semakin di percepat karena piala dunia di adakan Juni."


"Mungkin liga berakhir Mei."


"Aku bisa pulang setelah liga selesai."


"Tapi aku juga ingin menonton piala dunia langsing."


"Ah gimana nanti saja." Pikir Sean langsung karena merasa bahwa dirinya tidak mempunyai banyak waktu.


Dia juga sudah lama tidak berkumpul bersama teman dan keluarganya.


Selesai melihat jadwalnya, Sean juga berbaring dan memainkan ponselnya.


Dia membuka instagram nya dan melihat pesan pesan di instagramnya.


Ada banyak akun wanita yang memberikan pesan pada Sean.

__ADS_1


Sean tidak tahu kenapa, tapi dia juga berpikir bahwa mungkin dirinya sudah semakin di kenal.


Di lihat dari pengikut di instagramnya saja sudah mencapai 750 ribu. Akun instagram Sean hanya mengikuti teman saat di sekolahnya dan rekan rekan timnya saat di U 19 dan rekan di Arouca sekarang.


Dan itu hanya sedikit, ada juga beberapa bintang sepak bola yang Sean ikuti.


Sean mengikuti nya karena menurutnya pesepak bola itu memotivasi dirinya, termasuk Cristiano Ronaldo, dan beberapa legenda sepak bola lainnya, Ricardo Kaka.


Sean melihat bahwa pesan pesan yang di kirim oleh akun wanita itu bukan kalimat tapi sebuah gambar.


Namun Sean tidak berani membukanya karena takut itu adalah hal yang aneh.


Di saat fokus menscroll pesan pesan tampa membukanya, tiba tiba notifikasi pesan muncul lagi.


Sean melihatnya bahwa itu adalah pesan dari orang yang tidak mengikutinya dan termasuk dalam pesan permintaan atau pesan yang harus di setujui dulu baru bisa di baca.


Sean kemudian mengkliknya dan memilih untuk menyetujuinya.


Tanpa melihat siapa yang mengirim pesan, Sean langsung melihat isi pesannya.


"Maafkan aku karena saat itu tak sengaja memberikan tanda suka pada fotomu."


"Aku mengirimu pesan karena menurutku ini termasuk hal yang masih masuk akal, dari pada aku tiba tiba memberikan tanda suka tanpa memfollow dan membuatmu salah paham."


"Aku minta maaf."


Sean tertegun, tak mengerti maksud dari isi pesan ini. Ia kemudian melihat nama pengirim pesannya.


'Hah?'


'Dia?'


'Kenapa segitunya? Padahal aku menganggapnya biasa saja karena mungkin dia tak sengaja.'


'Apakah dia berfikir bahwa aku adalah orang yang terlalu sensitif?'


'Atau dia memikirkannya karena merasa bersalah?'


'Tapi bersalah karena apa?'


'Bukannya wajar memberikan tanda suka tanpa mengikuti akun seseorang.'


Sean membaca lagi isi pesan itu, dan mengerti bahwa dia pasti merasa sangat malu karena tiba tiba memberikan tanda suka tanpa mengikutinya dan tidak saling mengenal.


Sean kemudian memilih untuk membalasnya.


"Tak apa. Wajar jika memberikan tanda suka saja, meski tak saling mengenal, tak saling mengikuti, jika seseorang menyukai sebuah postingan juga mereka akan melakukan yang sama denganmu." Balas Sean.


Sean kemudian menutup kembali ponselnya dan memilih untuk melihat grup chat sebelum tidur.

__ADS_1


Ketika melihat bahwa isi dari grup adalah teman teman yang sedang berkumpul di rumah duka Dika, Sean ikut senang karena teman temannya masih saling mempedulikan.


Dia kemudian menutup teleponnya dan memilih untuk tidur karena waktu sudah setengah 9.


__ADS_2