
2 hari kemudian,
Sean berada di sebuah cafe, dia sedang bersantai usai latihannya bersama tim.
Dia juga sudah menggunakan pakaian bersih dan tubuhnya juga sudah bersih dan wangi.
Itu karena Sean membersihkan tubuhnya di ruang ganti.
Dengan begitu, Sean yang berangkat latihan menggunakan mobil juga bisa langsung bersantai ke cafe dan tidak langsung pulang.
"1 pertandingan lagi sebelum di mulainya debut ku di kompetisi bergengsi sepak bola Eropa."
"Aku sudah tak sabar untuk merasakan atmosfirnya."
"Menurut Mbappe dan Felix, tingkat intensitas permainan akan sedikit berbeda."
"Dimana ini merupakan laga penting dari semua tim meski baru di babak grup."
"Keduanya mengatakan bahwa setiap pertandingan seperti di final, karena mereka hanya memiliki 6 kesempatan ketika di babak grup."
"Jika bisa memanfaatkan 6 kesempatan dengan baik maka bisa lolos ke tahap selanjutnya."
Maksud dari 6 kesempatan adalah jumlah pertandingan yang ada di babak grup.
"Hah ini akan menjadi ujian bagiku lagi, ini akan menguji dimana batas kualitas permainanku."
"Pasalnya ini merupakan pertandingan semua klub di Eropa, berbeda dengan Liga."
"Karena di liga aku hanya merasakan atmosfir liga Inggris saja. Aku sudah merasakan atmosfir liga Portugal. Tapi belum dengan yang lainnya."
"Dengan pertandingan ini nantinya, aku juga bakal bisa merasakan bagaimana atmosfir liga spanyol, German dan yang lainnya jika bertemu tim dari negara negara itu."
Meski bersantai di cafe, pikiran Sean tak luput dari pertandingan pertandingan yang akan ia hadapi di depannya.
Sean selalu memikirkannya karena dia takut dia tidak tampil dengan baik.
"1 pertandingan berikutnya akan melawan Arsenal."
"Ini merupakan tim besar dulu, tapi sekarang mereka mungkin sedang berbenah untuk kembali ke jalur seperti dulu."
"Dimana dulu itu adalah tim yang patut di segani dan di perhitungkan."
"Meski begitu, ini akan menjadi pertandingan yang sulit, untung saja pertandingan melawan Manchester United menang."
Pertandingan terakhir Liverpool yang bertamu ke Old Trafford juga di akhir dengan skor 3 - 1.
Dimana gol terakhir Liverpool di ciptakan oleh Felix atas assist dari Sean.
Sean saat itu akan menembak namun dia sadar bahwa ruang tembaknya tertutup oleh tekelan pemain bertahan lawan, akhirnya Sean pun melakukan back heel.
Dimana bola itu dia oper kan menggunakan tumit nya dan itu mengarah ke belakang nya.
Sean melakukan itu karena dia sudah melihat posisi teman temannya sebelum bergerak menjemput bola.
Dia juga sadar pergerakan Felix yang sedang menuju ke kotak penalti.
Dengan back heel nya Sean, Felix pun akhirnya mendapatkan bola yang manis dan tinggal menembak saja.
Dan benar saja, Felix menembak dengan kaki kanannya.
__ADS_1
Dengan tendangan itu, Felix berhasil mencetak gol.
Dimana penjaga gawang lawan tidak bergerak karena mati langkah akibat gerakan Sean.
Penjaga gawang sudah siap dengan tembakan Sean, namun dia tidak siap dengan tembakan dari Felix.
Gol Manchester United terjadi setelah gol Felix.
Mereka mencetak gol melalui sepak pojok, dimana kotak penalti Liverpool di isi oleh banyak pemain dan itu benar benar di penuhi oleh para pemain Manchester United.
Dan pintarnya adalah, bola di umpan kan ke dekat penjaga gawang, sehingga penjaga gawang sulit menangkap bola karena posisi para pemain lainnya yang berdesakan di dekatnya.
Gol itu juga di ciptakan oleh sundulan Rashford yang memantul terlebih dulu ke mistar gawang, namun bola masih berhasil melewati garis putih di gawang setelah memantul mistar tersebut.
Dengan begitu, Liverpool juga gagal melakukan clean sheet.
Tapi mereka tetap bahagia karena berhasil meraih poin penuh lagi.
"Pertandingan berikutnya 2 hari lagi. Istirahat para pemain semakin menipis dan menyempit."
"Kini jarak pertandingan per pertandingan menjadi 4 hari yang asalnya 6 hari."
Sean berkata sendiri dan kemudian meminum minuman yang dia pesan.
Dia melirik kiri dan kanannya, dimana cafe tersebut di isi oleh para mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas.
Karena di cafe ini juga tersedia Wi-Fi.
Bukan hanya mahasiswa saja, ada juga remaja yang masih di bawah Sean, mungkin 18 tahunan, mereka berpacaran.
Di saat Sean sedang memperhatikan sekitar, ponselnya berdering tanda ada panggilan dan itu dari Joao Felix.
"Dimana kamu?"
"Di cafe biasa."
"Kamu ini, aku di depan rumahmu." Ucap Felix.
"Kenapa ada di sana?"
"Biasa, biasa."
Sean tahu kebiasaan Felix datang kerumahnya yaitu mengobrol dan menonton film atau bermain PlayStation.
"Kalau begitu tunggu."
"Eh tunggu, tolong sekalian pesan dulu makanan dan minuman di situ bawa pulang haha." Ucap Felix.
"Sialan." Ucap Sean.
"Jangan marah begitu, jangan lupa yang banyak juga."
"Aku datang bersama Magui."
Magui adalah kekasih Joao Felix dari Portugal.
"Kenapa banyak kan biasanya dia hanya suka makan sedikit."
"Oh itu, ini ada 1 teman Magui yang sedang berkuliah di Inggris jadi dia di ajak oleh Magui untuk bermain."
__ADS_1
"Oke tunggu." Jawab Sean.
Dengan begitu panggilan juga di tutup.
"Si sialan ini ya, kebiasaan sekali." Ketua Sean sambil berdiri dan akan beranjak ke dalam cafe untuk memesan beberapa makanan dan minuman untuk di bawa kerumahnya.
Maksud dari kebiasaan Felix dari ucapan Sean adalah, Felix kebiasaan jika datang ke rumah Sean selalu membawa Magui.
Sean bukannya tidak suka atau keberatan tapi Felix kurang ajar dan selalu memamerkan keromantisannya di depan Sean.
Bagaimana Sean bisa tahan dengan hal itu.
Apalagi kebiasaan Felix yang suka menghabiskan camilan yang ada di rumah Sean.
Sean tidak keberatan dan bukannya Sean pelit, dia justru senang karena ada yang datang bertamu.
Tapi jika kebiasaan seperti ini itu namanya keterlaluan.
Tapi karena seiring berjalannya waktu, Sean juga menerima kebiasaan itu dan me wajar kan hal itu.
Menurutnya dia harus bersikap biasa saja meski teman temannya memiliki kebiasaan aneh dan tidak tahu malu.
Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, Sean masuk ke dalam mobilnya dan segera pulang menuju rumahnya karena takut Felix dan 2 orang lainnya menunggu terlalu lama.
Sekitar 10 menit kemudian, Sean sampai di rumahnya.
Dan benar saja, ada mobil Felix yang sudah terparkir di halaman parkir depan rumah Sean.
Sean kemudian memarkirkan mobilnya dan segera keluar membawa pesanan itu.
Dia mendatangi Felix dan kedua orang lainnya.
"Ini pesanan mu Gusti Raja." Ucap Sean sembari memberikan makanan dengan penghormatan.
Magui dan temannya tertawa melihat kelakuan Sean, sedangkan Felix menatap Sean dengan menyipit.
"Sialan."
"Baiklah raja ini akan menerimanya." Ucap Felix sambil mengambil pesanannya.
Sean kemudian menegakan tubuhnya lagi, dia melihat ke Magui dan teman nya itu.
"Halo, aku Elisa." Ucap temannya Magui sembari mengulurkan tangannya.
Sean juga segera mengulurkan tangannya dan, "Sean."
"Sean si tampan tapi homo." Ucap Felix.
"Sialan, siapa bilang aku homo."
"Buktinya kamu tidak mempunyai pacar kan?" Sahut Felix sambil merangkul Magui.
"Ah sudahlah, ayo masuk." Ucap Sean sambil berjalan terlebih dahulu dan segera membuka pintu yang terkunci menggunakan sidik jarinya itu.
Dimana fasilitas rumahnya juga sudah modern dan canggih jadi Sean tidak perlu khawatir dengan keamanan rumahnya itu.
•Haha ternyata ada sgnl di sini oi tapi harus turun dikit biar sgnl nya agak kenceng.•
•Jadi tetep terus dukung ya, ini udah usaha loh, masa mau gitu terus, jangan pelit, author juga ga pelit buat kasih chptr.•
__ADS_1
•Sehat selalu.•