I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 187.


__ADS_3

27 Mei 2022,


Sean bersama rekan satu timnya sudah berada di Prancis dari kemarin.


Mereka melakukannya untuk meminimalisir stamina yang di butuhkan di perjalanan jika harus berangkat mendadak.


Hal ini juga sama di lakukan oleh tim lawan Real Madrid yang datang di waktu bersamaan.


Saat ini, Sean berada di sebuah hotel.


Dia juga sudah berpakaian santai karena akan mengunjungi hotel yang di tinggali atau di inap oleh orang tua atau keluarganya.


Berjalan ke lobby dan berjalan ke luar beberapa ratus meter saja untuk menuju hotel dari ibunya menginap.


Setelah tiba di ruang tunggu, Sean menemukan bahwa ibunya juga sudah menunggu di bawah bersama ayah dan yang lainnya.


"Ibu, ini tiketnya." Ucap Sean sambil memberikan tiket pertandingan.


Ibunya mengambilnya dan memberikan pada ayahnya Sean untuk menyimpannya.


"Kalau begitu, apakah ibu mau makan atau berjalan jalan dulu?" Tanya Sean.


Dia sudah meminta izin pada bos bahwa dia akan menemui keluarganya, dan untung saja bos mengizinkannya asalkan tidak terlalu kecapean nantinya.


"Ibu dan ayah tidak ikut, kamu bawa aja adikmu jalan jalan bareng sama Lisa." Ucap ibunya.


Kemudian Callista dan Salma yang sedari tadi duduk mengobrol bermain pun langsung berdiri.


"Yasudah, ibu mau di bawakan apa nanti?"


"Tidak usah, di sini juga makanannya cukup bagus kok."


Mendengar ini, Sean juga menyerah untuk membujuk ibunya.


"Kalau begitu, aku akan mengajak mereka berjalan jalan." Ucap Sean sambil melirik Lisa dan Salma.


Kemudian ketiganya berjalan ke luar hotel dan langsung menelusuri jalanan.


"Kakak, kita mau kemana?" Tanya Salma penasaran.


"Salma mau kemana? Kakak turutin asal jangan jauh jauh." Ucap Sean sambil terus berjalan.


"Kalau begitu ke taman kak, katanya di situ sangat ramai."


"Kata siapa?" Tanya Sean penasaran.


"Kata kakak Lisa." Ucap Salma sambil menunjuk Callista.


"Yasudah ayo kakak ajak ke taman yang dekat dekat sini." Ucapnya.


Kemudian ketiganya menghabiskan waktu berjalan jalan dan membeli beberapa makanan makanan.


Mereka pulang di saat sore hari dan suhu cuacanya juga sangat hangat.


Sean kembali ke hotelnya dan menemukan bahwa Flo sedang bermain ponselnya.


"Dari mana kamu?"


"Bermain." Sahut Sean.

__ADS_1


"Bukannya bilang, tau gitu aku ikut."


Sean tidak bilang pada teman temannya bahwa dia akan mengunjungi keluarganya, dia hanya meminta izin pada bos saja.


Kemudian Sean dan Flo mengobrol sebentar.


...


Keesokan harinya,


Sean dan tim berangkat ke Stadium tempat pertandingan partai final akan di gelar.


Mereka berangkat pukul 6 sore, sebab pertandingan di mulai pukul 8 malam.


Di dalam bus para pemain sangat sangat santai dan merasa tidak ada beban sama sekali.


Mereka begini bukan karena percaya diri tapi agar mental para pemain tetap stabil dan tidak terlalu memikirkannya.


"Sean ayo bernyanyi." Teriak Virgil dari depan.


Sean mendengar ini langsung diam dan memasang bantal di wajahnya.


"Jangan sembunyi."


"Ayo nyanyi."


Para pemain lainnya mulai membujuk Sean.


Akhirnya Sean terpaksa bernyanyi meski suaranya sedikit sumbang, namun jelas itu membuat para pemain lainnya terhibur.


Bos di depan juga tersenyum melihat tingkat para pemainnya yang seperti anak kecil, tapi justru dia lega karena para pemain tidak merasa terbebani dengan pertandingan yang akan di gelar.


Mereka langsung memasuki ruang ganti dan memakai seragam pemanasan terlebih dulu.


Meski begitu, mereka tidak langsung melakukan pemanasan di lapangan, sebab bos akan memberikan sedikit instruksi sebentar.


Setelah beberapa instruksi kecil, bos kemudian memberikan perintah untuk melakukan pemanasan.


Laga untuk pertandingan juga tersisa 1 jam lagi.


Para pemain juga memasuki lapangan dan mulai melakukan pemanasan.


Beberapa penonton juga sudah hadir di lapangan, mungkin mereka ingin melihat jalannya pemanasan para pemain dari kedua tim.


Sean bersama tim nya melakukan pemanasan sambil bercanda.


Setelah 30 menit menjalankan pemanasan, para pemain segera kembali ke ruang ganti.


Mereka tidak langsung berganti pakaian lagi tapi mereka mendengarkan instruksi bos dulu.


"Pertandingan ini, tidak penting kalian mencetak gol berapa." Ucap bos.


"Yang penting kita harus menang, mau itu 1 gol atau 2 gol itu terserah."


"Bermainlah seperti biasanya."


"Kurangi bermain penguasaan bola. Kita tidak mungkin menang melawannya di lini tengah."


"Bukannya aku meremehkan lini tengah kita, tapi kita masih belum cukup pengalaman di lini tengahnya. Apakah benar Flo?" Ucap bos.

__ADS_1


"Benar bos." Ucap Flo yang menyadari kekurangannya.


Dia juga sedikit tidak yakin jika harus beradu penguasaan bola dengan para pemain gelandang Real Madrid


"Aku melakukannya bukannya untuk merendahkan, tapi kalian juga sangat kekurangan pengalaman di partai final besar seperti ini."


"Bermainlah sesuai dengan seluruh kemampuanmu. Semuanya habiskan di sini."


"Bayangkan ini adalah laga terakhir dari karirmu dan berikan yang terbaik." Ucap bos.


"Mengerti bos."


"Karena mengurangi penguasaan bola, perbaiki kualitas lini pertahanan dan perkuat, semakin kuat semakin baik."


"Andalkan serangan balik yang benar benar cepat."


"Manfaatkan serangan balik ini menjadi sebuah ancaman, jika bisa menjadi sebuah gol."


Para pemain juga serius mendengarkan karena mereka sangat sadar bahwa ini laga penting juga bagi karir mereka.


Jika mereka bisa menjuarai ini, profil data mereka juga akan memiliki 1 gelar tambahan yaitu juara UCL.


Setelah instruksi bos, para pemain kemudian berganti pakaian dengan seragam merah dan mengenakan jaketnya.


Mereka sudah siap untuk memasuki lapangan, namun waktunya masih ada sekitar 5 menit lagi.


Setelah 3 menit tersisa, staf official memberitahu agar para pemain memasuki lorong pemain.


Stasiun televisi siaran Indonesia juga sudah menayangkan bahwa para pemain sudah memasuki lorong pemain.


Kamera juga memperlihatkan suasana di lorong pemain seperti apa.


Setelah beberapa cuplikan, layar di televisi para penonton di Indonesia kembali di arahkan ke para penonton di stadium.


"Bagaimana prediksi anda di partai final ini?" Tanya komentator 1.


"Keduanya menjuarai liga masing masing, dan ini sulit untuk di prediksi." Ucap komentator 2.


"Apalagi ke 2 tim memiliki ambisi yang sama besar. Mereka merebut semua gelar di musim ini."


"Tentunya ini menjadi pertandingan siapa yang akan menjadi raksasa Eropa sesungguhnya."


"Melihat ke belakang, dimana Liverpool sudah mengalami 2 kelelahan dari Real Madrid."


"Dimana satu di babak 8 besar dan 1 di final."


"Mungkin ini akan menjadi titik balik mereka."


"Jadi saya akan memprediksi bahwa Liverpool yang menang." Ucap komentator 2 yang menjawab itu.


Para penonton di rumah juga mendengar prediksi dan analisis dari komentator di televisi.


"Menurutmu,.di pertandingan partai final ini, lini pertahanan Real Madrid harus mewaspadai siapa?" Tanya komentator 2.


"Menurut saya, ketiganya harus di waspadai. Ketiganya memiliki rasa haus akan gol dan kemampuannya juga tentu sebanding dengan rasa haus gol mereka."


"Jadi jika bisa menghentikan 1, mereka mungkin masih menderita, karena 2 lainnya akan leluasa dan semakin bebas."


"Jadi bagaimana menurut anda untuk mencegah ini?"

__ADS_1


"Lini tengah harus ikut membantu menekan pergerakan mereka agar sangat kurang mendapatkan suplai bola dari rekannya, dengan begini ketiganya akan sulit untuk menunjukan kemampuan mereka dan sangat membatasi mereka mencetak gol."


__ADS_2