
Siang hari esok harinya, Callista mendapatkan sebuah panggilan dari manajernya.
Manajernya mengatakan bahwa Callista sedang panas dalam sebuah berita.
Kemudian manajernya juga menceritakan isi berita tersebut. Callista jelas kaget saat mengetahui ini ada sangkut pautnya dengan Sean.
Namun dia tidak banyak bicara ketika menghadapi manajernya itu.
Setelah panggilan di tutup, giliran Sean yang mendapatkan panggilan dari ibunya mengatakan bahwa dirinya masuk dalam berita.
Sean jelas tercengang, namun ibunya malah senang dengan hal ini.
Selain kabar itu, ada kabar gembira bagi para pecinta sepak bola Indonesia.
Kini Federasi Sepak bola Indonesia telah melakukan pembicaraan dengan para pemain keturunan yang berada di Eropa.
Mereka juga mengkonfirmasi kesiapan mereka untuk membela timnas Garuda.
Dengan begitu, para pemain itu harus segera melengkapi dokumen mereka untuk melakukan naturalisasi dan akan di sumpah secepat cepatnya.
Ini juga di harapkan agar para pemain bisa bermain beradaptasi nantinya.
Dan tak mungkin bagi para pemain ini akan bermain di babak perebutan tempat ke 5 atau play off itu.
Karena mereka jelas tidak terdaftar sama seperti Sean.
Melakukan ini saja sudah menunjukan keyakinan Federasi tentang timnas Indonesia bakal lolos ke piala dunia itu lewat perebutan slot play off ini.
Dimana lawan selanjutnya juga sudah di tentukan yaitu Peru.
Karena perebutan play off ini merupakan pertandingan antar konfederasi dan Indonesia mendapatkan Peru.
Sean mendengar dan melihat kabar itu di Internet itu juga bahagia, karena akhirnya Federasi memiliki tanggung jawab besar dan itu di laksanakan dengan baik.
Beginilah seharusnya, jika Federasi yakin maka para pemain juga ikut yakin dan termotivasi.
Saat ini, Sean sedang memainkan ponselnya di sofa, Callista juga sedang menyiapkan makan siang untuk Sean karena Callista sudah melihat jadwal makan Sean yang di tempelkan di kulkasnya dengan sebuah kertas.
Dimana jadwal makan pagi jam segini, makan siang jam segini, makan malam jam segini.
Callista awalnya aneh, tapi itulah Sean. Dia disiplin hampir dalam segala hal, bahkan tidur pun jadwalnya selalu ia tepati.
Ponsel berdering, Sean mengangkatnya.
"Aku sekarang dalam perjalanan bersama Magui." Ucap Felix dalam panggilan.
"Aku membawakan makanan." Ucap Felix lagi.
Setelah itu, Felix langsung menutup panggilan tanpa menunggu Sean menjawab.
Sean tertegun.
"Orang ini."
Sean kemudian bangkit dari rebahan di sofanya dan kemudian duduk, biar nanti ketika Felix dia bisa cepat membukakan pintunya.
__ADS_1
Di dalam perjalanan menuju rumah Sean, Felix dan Magui berkendara dengan santai karena jarak juga tidak terlalu jauh dan tidak memakan banyak waktu.
"Kamu tadi memesan jus buah kan?" Tanya Felix pada Magui.
"Iya pesan, kenapa memangnya?"
"Hanya bertanya, itu kesukaannya dia. Jadi kita harus membawakannya, dia juga selalu baik pada kita jadi kita juga harus baik padanya" Ucap Felix pada Magui menjelaskan tentang Sean.
Tentunya Magui juga merasakan apa yang di rasakan Felix, mereka selalu di perlakukan dengan baik oleh Sean meski kadang kadang bercandaannya selalu berlebihan tapi itu membuat pertemanan mereka menjadi semakin erat dan dekat.
"Kasihan dia, keluarganya tidak bisa lama untuk mengurusnya di sini. Jadi kita harus menolongnya." Lanjut Felix.
"Kenapa kamu sebegitu pedulinya?"
"Tentunya kamu tidak tahu banyak, semenjak dia di Portugal sampai sekarang, dia bekerja keras, bakat nya dalam sepak bola hanya terbilang biasa atau di atas rata rata sedikit, tidak seperti pemain lainnya. Dia bisa sampai kesini semua berkat kerja keras dan juga disiplinnya."
"Dia hidup sendirian semenjak usia 17 di Portugal sampai sekarang, apakah kamu yakin bisa bertahan sendirian di usia mu yang begitu muda dimana jauh dari keluarga?" Tanya Felix.
Magui juga terdiam.
"Aku peduli padanya karena dia patut di contoh, akan sulit menemukan orang seperti dia. Mungkin hanya ada 1 dari 100 orang yang bisa seperti dia."
"Kita harus menghargainya, meski dia terlihat selalu tenang dan kalem di luarnya, dia mungkin merasa kesepian karena tak ada siapapun di sampingnya."
"Coba kamu bayangkan, mengalami cedera dan harus menjalani pemulihan, tidak boleh banyak bergerak dan di batasi, dia harus melakukannya sendiri, mungkin dia sangat kesulitan."
"Bagaimana jika terjadi kecelakaan lagi? Ini mungkin akan membuatnya semakin terpuruk, sudah hidup sendiri, mengalami cedera, menjalani pemulihan dan mengurusnya, bebannya sangat berat dan mungkin pikirannya atau mental nya akan terganggu."
Ucap Felix menjelaskan kenapa dia peduli pada Sean, bukan karena dia temannya tapi Sean selalu memperlakukannya dengan baik jadi dia harus membalasnya ketika Sean kesulitan.
Dia jelas membayangkan bagaimana sulitnya menjalani semua ini dari usianya 17 tahun sampai sekarang dengan kerja keras.
Dimana tidak mungkin semua kerja keras akan terbayarkan tapi Sean selalu percaya dan terus bekerja keras.
Magui juga lebih memperdalam pandangan baiknya pada Sean.
Tak lama, Felix sampai dan dia langsung memarkir mobilnya di sebelah mobil Sean.
Rumah Sean tidak ada gerbangnya dan langsung halaman parkir saja, tapi keamanannya dapat di percaya.
Sean di dalam rumah juga mendengar suara mobil dan segera berdiri dan berjalan ke pintu untuk membukanya.
Felix juga langsung masuk setelah Sean membuka pintunya.
Dia berjalan ke ruang keluarga dan, "Bby, simpan makanan dan minuman yang kita bawa di sini." Ucapnya sambil menunjuk meja di ruang keluarga kemudian dia duduk di sofa dengan punggung yang bersandar ke bantalan sofa.
"Hah, aku kemarin cetak gol, kamu lihat kan?" Tanya Felix santai sambil menutup matanya.
"Yah aku tahu."
Berbeda dengan Magui, Magui yang sudah selesai menyimpan makanan melihat ke arah dapur.
Dia hanya tertegun melongo.
Kemudian dia segera duduk di samping Felix dan menggoyangkan tangan Felix untuk memberitahunya.
__ADS_1
Felix melirik Magui, Magui kemudian memberikan kode untuk melihat ke arah dapur.
Felix juga melirik ke arah dapur dan melihat seorang wanita, dia hanya melongo, tak lama dia langsung berteriak.
"Sialan kamu Sean, ku kira kamu sendiri di rumah ternyata ada seorang wanita." Teriaknya sambil berdiri dan mendekat pada Sean yang sedang berjalan ke arah ruang keluarga.
Callista di dapur juga hanya tersenyum mendengar ini.
Magui kemudian berjalan ke arah dapur dan berkenalan.
"Siapa itu?" Tanya Felix pelan.
"Wanita dari Indonesia." Ucap Sean.
"Pacarmu?" Tanya Felix.
Sean hanya diam tidak menjawab.
"Oiya aku lupa, kamu sedang dekat dengan Sarah, tak mungkin dia pacarmu, pasti saudaramu yang datang kemarin bersama orang tua mu kan?" Tanya Felix.
"Jangan bahas dia." Jawab Sean dengan pikirannya yang kembali mengingat suara suara *******.
"Kenapa?" Tanya Felix.
Kemudian Sean duduk dan bercerita pada Felix tentang panggilan semalam dan suara suara ******* itu.
Felix jelas lebih tahu tentang hal ini dia juga langsung marah dan kesal.
"Wah, untung saja kamu tahu lebih awal, kalau tidak ah sudahlah." Ucap Felix mencoba menghentikan pembahasannya karena tak mau temannya sakit hati lagi.
"Tapi siapa dia? Jujur padaku!" Ucap Felix.
Sean melirik Callista yang saat ini di dapur bersama Magui, mereka sedang mengobrol.
"Dia?" Tanya Sean lemah.
Felix diam menunggu Sean melanjutkan.
"Dulu ketika tournament Toulon di Prancis, aku dekat dengannya, tapi saat aku akan berangkat ke Inggris dan memulai karir di tim U 23, hubungan renggang dan hilang komunikasi."
"Kemarin dia datang bersama orang tuaku untuk menjengukku sambil meminta maaf karena tiba tiba menghilang." Jelas Sean.
Felix mendengarkan dengan teliti cerita Sean ini.
Dia juga tersenyum.
"Baguslah kalau begitu!"
"Bagus apanya?"
"Akhirnya temanku kini punya pacar kan?" Ucap Felix sedikit keras agar terdengar ke dapur.
Magui mendengar ini hanya tersenyum, dia juga sudah tahu Callista ini siapa nya Sean ketika tadi mengobrol.
Sean mendengar perkataan Felix hanya melirik ke arah Callista di dapur.
__ADS_1