I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 92.


__ADS_3

Pertandingan final yang sangat sangat mengasyikan dan menegangkan itu kini sudah berada di menit tambahan babak kedua.


Hanya tinggal menunggu wasit meniupkan peluit saja untuk mengakhiri laga final Portugal melawan Indonesia ini.


Di tengah lapangan wasit juga sudah bulak balik melihat ke pergelangan tangannya, dimana waktu yang di atur ada di pergelangan tangannya.


Pertandingan di lapangan juga masih berlanjut, dimana pemain Indonesia menguasai bola dan berusaha menekan wilayah Portugal.


Wasit yang asalnya berada di daerah Portugal berjalan ke arah tengah lapangan sembari memperhatikan laju pertandingan.


Saat sudah ke tengah lapangan, wasit pun meniupkan peluit nya, tanda berakhir nya pertandingan.


Para pemain Portugal langsung bersorak dan membuka baju mereka merayakan atas kemenangan mereka.


Sedangkan para pemain Indonesia hampir semua yang ada di lapangan sudah menjatuhkan badan mereka ke tanah lapangan.


Mereka sedih dan menangis.


Sean yang lebih dewasa dalam pikirannya dan mentalnya juga berbeda meski merasa sedih karena kalah di final, dia tetap berjalan ke arah teman temannya itu.


Dia membangunkan mereka dan memeluk mereka satu per satu.


Sean melakukan itu untuk meringankan beban mereka, meski Sean juga sedih, ini bukan waktunya untuk bersedih.


Sean terus menghampiri semua rekannya yang ambruk dan menangis di tanah lapangan juga membantunya berdiri.


"Tetap tegar, berlatih keras."


"Ini pengalaman."


"Bekerja keras untuk kedepannya, supaya kedepannya kita tidak seperti ini lagi." Itulah kata yang di ucapkan Sean pada pemain yang ambruk di lapangan.


Sean juga sebenarnya sedih tapi dia tak bisa menunjukannya karena dia harus kuat, Sean menanggung beban lebih besar karena dirinya yang bermain di Eropa satu satunya dan juga paling di andalkan.


Meski Sean sudah semampunya bekerja dan bermain semaksimal mungkin, tapi jika rekannya kurang mendukungnya itu akan sulit.


Sean terus berjalan, rekan rekan yang bangun dari jatuhnya setelah di bantu Sean juga masih menangis tapi mereka terlihat lebih baik karena mereka kini menangis sambil berdiri.


Itu lebih baik dari pada sembari duduk atau terlentang jatuh di lapangan.


Itu menunjukan bahwa mereka memiliki mental yang lemah.


Setelah Sean membantu rekan rekannya, beberapa pemain Portugal menghampiri Sean dan memeluknya.


Sean juga membalas memeluknya, di situlah Sean tak bisa menahan rasa sedihnya.


Dia mencoba untuk lebih kuat lagi, tapi dirinya tak bisa menahan lagi.


Karena Sean berada di antara kerumunan para pemain Portugal, Sean juga terhalang dan tak terlihat oleh rekan rekan tim Indonesia.

__ADS_1


Sean menangis di situ.


Penyerang Portugal selaku kapten dari tim Portugal juga memeluk Sean dengan erat mencoba menenangkan Sean.


Sean menangis di depan para pemain Portugal bukan karena apa apa.


Tapi lebih baik terlihat lebih lemah di depan lawan dari pada di depan rekannya dimana rekannya sangat mengandalkan.


Bagaimana jika rekannya tahu bahwa Sean juga lemah, itu akan menunjukan bahwa selama ini tingkah yang di lakukan oleh Sean hanyalah sekedar candaan belaka.


Para pemain Portugal lainnya juga menepuk bahu Sean dan mengulas punggung Sean.


Beberapa saat kemudian, Sean juga berhenti dan kembali tersenyum.


"Selamat, semoga sukses ke depannya." Ungkap Sean.


Lalu penyerang Portugal itu membuka bajunya dan memberikannya pada Sean, namun Sean menolaknya.


"Kamu akan mengangkat piala, jadi pakailah jersey mu dulu. Nanti setelah itu." Ucap Sean.


Penyerang Portugal itu tersenyum, Sean juga baru ingat bahwa penyerang Portugal ini berasal dari tim Porto U 19.


Dia bertemu di liga U 19 ketika bermain untuk Boavista.


Sean berjalan kembali ke rekan rekannya yang sedang berkumpul, namun Sean melihat mereka sudah terlihat baik dan tidak terlalu sedih.


Sean cukup senang dengan itu.


"Aku sangat menyayangkan."


"Padahal jika kita bisa imbang, kita akan langsung adu penalti."


"Kita masih ada harapan."


"Tapi apa daya, kita sudah kalah. Jadi mari kita bangkit lagi, dan lebarkan sayap kalian lebih lebar lagi agar bisa terbang lebih tinggi, wahai Garuda muda." Ungkapnya.


Para penonton yang masih menonton juga menangis dan sangat menyayangkan hal itu.


Tapi saat komentator mengucapkan kalimat tadi, para penonton setia juga di rumahnya masing masing berteriak.


"Iya ayo Garuda muda, kalian masih panjang dalam berkarir jadi berkembanglah." Hampir setiap penonton setia yang menonton di rumah juga berteriak.


Mereka juga sangat bersemangat menantikan para Garuda muda ini tampil membela tim nasional senior.


Di keluarga Sean, ayah Sean memasang wajah yang jelek.


"Kalah kan?"


"Terlalu cepat bagi Indonesia untuk menjuarai tournament dunia."

__ADS_1


"Harusnya mereka bisa memaksimalkan setiap peluang."


"Anakku lagi anakku lagi." Ungkapnya kesal.


"Rafli, Egy, apa yang mereka lakukan ketika tadi mempunyai peluang."


"Mereka malah menyia nyiakannya."


"Jika mereka berhasil, kita bisa menang lebih dari 5 gol "


Ibunya Sean yang melihat suaminya seperti ini mencoba membujuknya, "Sudah sayang, mereka masih muda. Ini juga berguna bagi mereka."


"Mereka membutuhkan pengalaman."


"Berbeda dengan anak kita, dia sudah merasakan kerasnya bermain di Eropa."


"Ini juga menjadi berkah bagi pemain lainnya karena ke depannya mereka juga akan bermain di Eropa dan bisa membantu Sean nantinya."


Ayah Sean tentu mengerti dan langsung sadar.


"Hahh... Iya benar juga, mereka sesudah ini pasti akan ada beberapa yang di rekrut tim tim Eropa."


"Ku harap saja mereka berhasil nantinya." Ungkap ayah Sean.


Adiknya Sean sudah kembali ke kamarnya setelah tahu bahwa tim kakaknya kebobolan lagi.


Di tempat tongkrongan teman teman Sean, mereka semua melemparkan botol minuman yang di buat dari plastik.


Mereka kesal dan marah karena Indonesia menjadi kalah padahal awalnya memimpin.


"Namanya juga game. Jadi sudahlah." Ungkap Albi.


Sedangkan di apartemen mewah, Callista menangis saat melihat tim Indonesia akhirnya menjadi kalah.


Dia tetap fokus pada layar televisi yang masih menyiarkan untuk pembagian penghargaan dan piala.


"Ku harap dia tidak terlalu kecewa dengan hasil seperti ini."


Kemudian Callista membuka ponselnya dan memasuki ruang obrolan dirinya dan Sean.


"Semangat!! Jangan menyerah!!"


"Kerja keras lagi, Ayo!"


Tulisnya dalam pesan yang di kirimkan pada Sean.


Setelah itu dirinya, kembali fokus pada layar televisi di mana podium kecil juga sudah di siapkan di lapangan untuk pemberian penghargaan pada tim yang juara.


Penghargaannya ada pemain terbaik, penjaga gawang terbaik, pencetak gol terbanyak, gol terbaik, dan tim yang melakukan keadilan atau selalu fair play di lapangan.

__ADS_1


Pantia penyelenggara dan beberapa panitia lainnya juga sudah berdiri di podium untuk memberikan medali dan penghargaan.


Untuk sertifikat nya itu akan menyusul, karena ini masih tournament muda, jadi masih memakai sertifikat karena ini akan menunjukan prestasi yang di miliki pemain itu untuk bersekolah atau berkuliah.


__ADS_2