
2 hari kemudian,
Sean sudah menghabiskan banyak waktu bersama keluarganya.
Dia juga mengunjungi rumah neneknya dan memberikan hadiah untuk keluarga bibinya yang menjaga neneknya itu.
Selama 2 hari ini, Sean sibuk bersama keluarganya. Namun dia juga tentu tak melupakan untuk berlatih di pagi harinya agar kondisi tubuhnya tak memburuk dan menurun.
Sean menjaga ini karena dia tak mau kerja kerasnya selama ini hilang sia sia.
Berada di kamar miliknya, Sean sudah berpakaian santai.
Dia melirik jam tangannya dan melihat bahwa jam masih menunjukan pukul 1 siang.
Sea kemudian membuka ponselnya, "Katanya akan menjemput."
"Tapi mana?" Ucap Sean sambil melihat pesan yang di kirimkan oleh teman temannya itu.
Sean sudah berjanji dengan teman temannya untuk berkumpul, Sean juga melakukan ini karena nantinya dia harus sibuk berlatih lagi, jadi selagi ada waktu dia harus mengisi nya dengan berkumpul bersama teman temannya.
"Dimana?" Tulis Sean dalam pesan kepada teman temannya di grup, namun tak ada yang membalas.
"Mungkin mereka dalam perjalanan?" Pikir Sean.
Kemudian Sean berjalan keluar dari kamarnya itu, dia tidak melihat adiknya, mungkin sedang bermain bersama teman temannya.
Ibunya juga ada di rumah, namun ayahnya tidak ada.
"Mau kemana?" Tanya ibunya Sean.
"Mau berkumpul bersama teman sekolah dulu."
"Jangan terbawa pergaulan nantinya!" Ucap Ibunya mengingatkan.
"Aku mengerti Bu."
"Berangkat pakai apa?"
"Di jemput."
"Kenapa ga pakai taxi online saja?"
"Ah." Ucap Sean.
Dia lupa tentang hal ini, Sean mengatakan bahwa dirinya tidak bisa mengendari kendaraan jadi teman temannya Sean menawarkan agar di jemput oleh mereka.
"Sudahlah Bu, sudah terlanjur, kasian mereka." Ucap Sean.
"Iya, kalau begitu pulang jam berapa kamu?"
"Tidak tahu, gimana nanti."
"Oke, jangan terbawa pergaulan mereka nantinya, jangan pulang terlalu malam, jaga tubuhmu." Ucap Ibunya mengingatkan lagi, kemudian ibunya pergi.
Sean mengerti dengan kekhawatiran ibunya karena mungkin Ibunya sudah sering melihat anak seumuran Sean yang merokok dan mabuk mabuk tak jelas.
Meski hal yang wajar di Eropa sana, tapi di Eropa sana memang sudah terbiasa seperti itu dan juga culture nya jadi tak terlalu menarik perhatian.
Sedangkan di Indonesia, banyak aturan dan culture yang berbeda.
Sean kemudian berjalan ke luar rumahnya dan menunggu di halaman rumahnya.
__ADS_1
Tak lama, ada Albi datang bersama Gilang dengan dua motornya.
Sean kemudian naik ke motor Albi karena Gilang mengendarai motornya sambil merokok.
Mereka pun akhirnya berangkat menuju tujuan berkumpulnya teman teman sekolah Sean.
Tempat berkumpulnya itu adalah rumah dari seorang teman Sean.
Dimana rumah itu adalah rumah keduanya, dan terbilang sangat besar, sehingga kosong dan tidak di pakai.
Mereka berkumpul di sini, karena banyak teman sekolah Sean yang ingin ikut berkumpul reuni.
25 menit kemudian,
Sean, Albi dan Gilang sampai di tujuan.
Banyak motor sudah terparkir di halaman rumah.
"Mereka sudah datang?" Tanya Sean sambil melepas helmnya yang sudah turun dari motor.
"Iya lihat saja, banyak kan?" Tanya Gilang dari motor lain.
"Mereka ingin bertemu denganmu, jika tidak ada kamu yang berjanji akan ikut berkumpul, mungkin hanya beberapa orang saja." Ucap Albi.
"Kalau begitu, ayo." Ucap Sean.
Kemudian ketiganya berjalan masuk ke dalam rumah, namun tak menemukan siapa siapa.
"Kemana mereka?" Tanya Sean.
"Mungkin di halaman belakang." Ucap Gilang yang sudah berjalan terlebih dulu ke halaman belakang.
Ketika Gilang memasuki halaman belakang, teman teman Sean yang sedang beraktivitas juga berhenti karena mereka melihat Gilang datang.
"Kamu saja?" Tanya teman lainnya.
"Tidak, ada di belakang." Ucap Gilang sambil berjalan dengan tangan yang sedang mengambil rokok di saku jaketnya itu.
Tak lama, Sean dan Albi juga muncul. Kemunculan Sean langsung di sambut teriakan teman temannya.
Sean juga tersenyum cerah dan melihat pada Albi, maksud dari senyum dan tatapan Sean pada Albi adalah 'Lihatlah mereka.'
Albi juga hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Haha, bintang utama sudah hadir."
"Langsung mulai saja?" Tanya teman lainnya.
"Mulai apa?" Tanya seorang teman wanita.
"Mulai berpesta."
"Masih siang berpesta." Ucap Gilang ketus dengan asap yang keluar dari mulutnya.
"Haha."
Sean mendengarkan dan terus berjalan menghampiri mereka.
Sean memeluk teman teman lelakinya itu dan melakukan salaman bersama teman teman wanitanya untuk menunjukan bahwa ini adalah dirinya.
Sean melakukannya dengan menyebut nama nama mereka menunjukan bahwa Sean juga tak lupa dengan nama nama mereka.
__ADS_1
"Sayang sekali, 1 orang tak hadir." Tiba tiba ucapan itu mendapatkan perhatian banyak orang termasuk Sean sendiri.
Orang yang mengucapkan kalimat itu juga langsung malu, dia tidak sengaja keceplosan.
"Sudahlah, dia sudah tenang, jadi doakan saja." Ucap salah satu teman wanita.
Iya teman Sean ada yang meninggal 1. Dimana waktu itu Sean masih berada di Portugal mengarungi Liga Pro Portugal.
"Jadi apa kegiatannya berkumpul ini?" Tanya Sean.
"Makan makanlah."
"Mana makanannya?" Tanya Sean.
"Pesan?" Tanya Sean lagi.
"Tidak, yang wanita akan memasaknya." Ucap salah satu teman wanita.
Dengan itu kemudian para wanita juga bergegas ke dapur untuk membuat banyak makanan.
Bahan bahan sudah mereka beli dari uang yang di kumpulkan dari iuran mereka.
Sean melihat gerakan para teman wanita itu hanya menggelengkan kepalanya saja.
Saat teman laki laki sudah berkumpul semua, Albi kemudian bertanya pada Sean.
"Jadi klub mana yang akan menjadi klub mu di musim depan?" Tanya Albi.
Teman teman lainnya juga penasaran.
Sean hanya tersenyum, "Tapi bisakah kau tak mempostingnya jadi berita?" Ucap Sean.
"Bagaimana bisa? Aku kan admin akun bola." Ucap Albi.
"Baiklah, mending buat rumour saja, jangan sampai berita yang kau posting bahwa aku sudah mencapai kesepakatan dan sukses bernegosiasi dengan klub nya." Ucap Sean mengingatkan.
"Oke janji." Ucap Albi.
"Jadi klub mana?" Tanya teman lainnya.
"Liverpool." Ucap Sean.
Kemudian suasana menjadi hening karena mereka mendengar dengan jelas tentang apa yang di ucapkan oleh Sean.
Mereka tak menyangka Sean akan langsung ke klub besar Inggris.
"Apa yang kau katakan itu benar?" Teriak Gilang.
Dia sangat antusias karena klub yang dia favoritkan adalah Liverpool. Itu karena dia me menyukai lagu lagu dari The Beatles sehingga dia juga menjadi fans nya Liverpool.
"Benar." Ucap Sean.
"Tapi kan menurut aturan yang ada, kamu tidak mungkin bermain di tim utama." Ucap teman lainnya di setujui dengan anggukan Albi dan yang lainnya.
"Iya memang, aku bermain untuk tim U 23 nya dulu."
"Kenapa kau mau? Bukannya lebih baik mencari klub yang menjaminmu bermain di tim utama." Ucap teman lainnya.
"Tunggu tunggu, pasti ada alasan di balik ini semua." Ungkap Albi dengan tenang, dia memikirkan segala kemungkinan yang terjadi kenapa Sean bisa menerima tawaran dari Liverpool padahal sudah jelas bahwa ada tawaran dari klub yang lain menjamin dia bermain di tim utama.
Apalagi ada klub liga Inggris lainnya yang tertarik pada Sean tapi yang di tawarkan nya sama dengan yang di tawarkan Liverpool.
__ADS_1