
Waktu benar benar berlalu sangat cepat,
Sean dan timnya Liverpool hanya memiliki waktu sekitar 3 harian untuk istirahat dari setiap pertandingan.
Dimana ketika selesai bertanding, mereka akan beristirahat 3 hari lalu di hari ke 4 mereka mulai bertanding lagi.
Apalagi yang di bilang istirahat tidak sepenuhnya istirahat karena waktu itu diisi oleh latihan bersama tim.
Bos juga menggunakan waktu tersebut untuk mematangkan skema nya pada pola pikir setiap pemain.
Dari beberapa waktu yang sudah berlalu dengan cepat ini, Sean bersama timnya Liverpool sudah melakoni 4 pertandingan lagi.
Dimana totalnya Sean sudah menjalani 8 pertandingan di musim ini.
Dari 4 pertandingan terbaru ini, Liverpool melakoni laga melawan West Ham, Leicester, Aston Villa dan juga Crystal Palace.
Dari 4 pertandingan ini, Liverpool meraup 3 poin penuh, hanya saja, dari setiap pertandingan ini, mereka tidak bisa mencetak banyak gol.
Mereka hanya mampu menang dengan skor paling paling 2 - 1, 1 - 0, 3- 2 dan 1 - 0.
Meski begitu, para pemain tetap bersyukur, mereka tidak terlalu memikirkan berapa banyak skor yang mereka dapatkan sebab para pemain dari setiap tim juga saat ini sedang bergelut dengan stamina mereka sendiri.
Dimana jadwal mereka sangat padat.
Setelah 4 pertandingan ini, waktu istirahat para pemain di tambah menjadi 4 hari sebab para pelatih dari beberapa tim besar yang mengikuti ajang UCL dan UEL harus hadir dalam pengundian grup.
Dengan begitu, klub klub papan bawah merasakan keenakan dan kenyamanan, mereka tidak memiliki jadwal yang lebih padat dan istirahat juga di perpanjang.
Namun istirahat 4 hari ini hanya sesaat saja, karena setelah pengundian selesai, jadwal bagi tim papan tengah dan atas akan semakin padat.
Mungkin hanya istirahat 3 hari itu sudah menguntungkan karena tidak bermain setiap hari.
Bos yang menghadiri ajang pengundian juga memberitahu grupnya terlebih dulu.
Sean yang menerima pesan obrolan di grupnya melihat bahwa itu pesan dari bos, Sean melihat bahwa itu adalah tabel untuk kompetisi UCL.
Dia melihatnya dan tersenyum puas.
Pasalnya tim tim yang akan di hadapinya di grup musim ini tidak terlalu berat seperti musim kemarin.
Musim ini, Liverpool akan melawan Napoli, Ajax, dan Rangers.
Setelah Sean melihatnya, tak lama beberapa pemain juga mulai berkomentar dan mulai bersorak merayakan bahwa mereka tidak memiliki lawan yang memiliki kelas yang sama.
Kini Liverpool tidak berada di grup neraka sehingga para pemain bersorak bergembira.
"2 hari laga pertandingan di Liga, setelah itu bermain lagi di laga liga sekali lagi, lalu baru lah laga UCL." Ucap Sean sambil menyimpan ponselnya.
__ADS_1
Dia berjalan menuju kalender yang sudah tertempel atau tersimpan di atas meja.
Dia melihatnya dan disitu tertulis jadwal jadwal pertandingan Sean bersama tim nya Liverpool untuk melakoni setiap laga.
Sean sengaja menuliskannya supaya dia bisa bersiap atau mempersiapkan mentalnya karena di setiap pertandingan suasana juga akan berbeda sehingga butuh kualitas mental yang berbeda.
Meski Sean bisa di bilang melakukan ini, dia melakukan ini bukan karena meremehkannya tapi karena dia harus mengatur mentalnya juga.
Tidak mungkin Sean harus menghadapi setiap lawan dengan keadaan mental yang sama karena nantinya tidak sesuai.
Sean awal awal pernah melakukan itu, tapi dia mendapatkan arahan dari pelatihnya ketika di tim U 23.
Itu adalah awal awal Sean bermain untuk tim Liverpool U 23.
Dimana Sean memiliki kualitas mental yang sama di setiap pertandingan, dan ketika timnya kalah, Sean menerima pukulan yang sangat nyata karena ini tidak sesuai dengan apa yang di harapkan nya.
Apalagi mentalnya sudah di persiapkan sedemikian rupa.
Setelah pertandingan tersebut, performa Sean juga menurun.
Pelatih yang melihat itu juga segera berbicara dan menjelaskan.
Sean akhirnya menerima masukan tersebut dan akhirnya perlahan lahan bangkit.
Dia juga akhirnya belajar bagaimana mengatur mentalnya supaya tidak terlalu berharap dan tidak terlalu meremehkan lawannya.
Dan Sean selalu melakukan itu.
Sean mulai mengatur kembali mentalnya di menit ke 70 atau 75 babak kedua.
Ini juga dia lakukan agar dia bersiap untuk menerima segala macam hasil yang mungkin nantinya harus di terima oleh dirinya dan timnya.
Melihat jadwal dan pertandingan selanjutnya melawan Everton, lalu melawan Tottenham.
"Everton? Derby dulu?" Tanya Sean pada dirinya sendiri.
Dia memiliki semangat berbeda ketika menyangkut Derby dengan Everton, sama halnya jika menyangkut dengan Manchester United juga yang bisa dibilang rival juga.
Sean selalu memiliki kualitas semangat yang berbeda di dua pertandingan tersebut.
"Jadi setelah Derby, lawan Tottenham barulah laga UCL?"
Sean melihat lagi ke ponselnya dimana jadwal UCL juga tersedia oleh bos yang sudah mengirimkannya.
"Lawan Ajax dulu?"
"Ini bisa di bilang jadwal yang sulit dan ketat."
__ADS_1
"Di satu sisi harus mempertahankan posisi di liga, di satu sisi harus menjaga poin agar tidak tertinggal terlalu jauh nantinya."
Di UCL meski belum di mulai, para pemain sama seperti Sean, dimana mereka pasti akan mementingkan laga liga terlebih dulu.
Sean melihat bahwa di grup juga banyak pemain yang membahasnya.
Setelah beberapa saat, Sean akhirnya keluar dari grup obrolan dan mencari atau melakukan pencarian.
Dia ingin tahu skuad dari tim tim yang akan bertemu dengannya di UCL.
Ini merupakan kebiasaan baru yang Sean miliki.
Sebenarnya ini bukan kebiasaan baru, karena semenjak Sean bergabung dengan Liverpool, dia sudah memiliki kebiasaan ini.
Apalagi saat musim pertamanya kemarin bersama Liverpool tim utama, dimana jadwal dan pertandingan yang banyak, dia melakukan ini untuk mencari tahu apakah ada pemain yang perlu diwaspadai atau mentereng.
Sean awalnya juga di tertawa kan oleh beberapa rekan timnya, namun tim analis yang selalu di samping bos memberikan Sean acungan jempol.
Bahkan tim analis juga sesekali membantu Sean mengumpul informasi dari lawan selanjutnya.
Dimana informasi pemain yang akan mengawal Sean di pertandingan nantinya.
Sean sungguh berterima kasih dan itu sangat bermanfaat baginya.
Makanya, di setiap pertandingan, performa Sean selalu bagus bukan karena kemampuannya saja yang selalu berkembang, tapi juga kecerdasannya.
Dimana dia memanfaatkan data yang sudah di kumpulkan oleh tim analis.
Beberapa pemain depan yang baru ini juga sekarang seperti Felix, Kisha dan Reinier melakukan hal yang sama seperti Sean.
Mereka meminta data pada tim analis.
Meski datanya sama, tapi mereka atau para pemain tentunya memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi pemain pemain yang akan mengawal mereka nantinya.
Berbeda dengan Karim Adeyemi, dirinya tidak meminta data, sebab dirinya sedang menjalani latihan yang berbeda.
Dimana ini adalah instruksi dari bos.
Bos berniat menjadikan Karim Adeyemi sebagai mesin pencetak gol.
Dimana dirinya harus memanfaatkan setiap ruang kecil untuk mencetak gol.
Sean dan rekan lainnya melihat pelatihan Karim Adeyemi juga harus menggelengkan kepalanya.
Sebab Sean merasakan bahwa di ruang ruang kecil seperti itu, dirinya tak mungkin memanfaatkan kualitas tembakan yang baik, tapi Karim Adeyemi harus melakukan kualitas tembakan yang baik sehingga berbuah menjadi sebuah gol.
Sean harus mengakui bahwa kualitas mental Karim Adeyemi sangat baik, karena tak mungkin pemain biasa akan bertahan di pelatihan khusus seperti ini.
__ADS_1