
Di dalam rumahnya Sean yang ada di Indonesia, ibunya Sean mengobrol dengan Callista di temani oleh Salma yang terus ikut mendengarkan dan berbicara asal asalan.
Ibunya Sean juga menjadi tahu, setelah dia menanyakan lebih lanjut kenapa Callista tahu tentang anaknya, Sean itu.
Ternyata setelah mengenalkannya, Callista juga mencari tahu dan sering berkomunikasi dengan anaknya.
Ini membuat ibunya kaget saat mengetahui hal ini, dia langsung berpikir bahwa pantas saja anaknya selalu menghindar ketika membicarakan Callista.
Ibu nya hanya tersenyum mendengar cerita dari Callista karena terus di paksa oleh ibunya Sean untuk bercerita.
"Jadi begitu?"
"Sejak kejadian di restoran waktu itu, hubunganmu jadi renggang?"
"Nanti ibu marahi dia kalau begitu." Ucap Ibunya Sean memasang wajah tegas.
Salma juga tertawa saat melihat ekspresi ibunya karena dia selalu senang ketika kakaknya di marahi oleh ibunya.
"Tidak perlu Tante." Ucap Callista.
"Apakah kamu sibuk?" Tanya ibunya Sean.
"Tidak Tante." Ucap Callista.
"Tunggu sebentar, peraturan pertama, mulai sekarang kamu jangan panggil Tante, tapi ibu." Ucap Ibunya Sean sambil tersenyum.
Callista tertegun dan hanya tersenyum saja.
"Kalau begitu, apakah kamu akan ada syuting lagi dalam waktu dekat?"
"Tidak, aku tidak ada job sekarang, jadi bebas dan tinggal menunggu manajer memberi kabar saja."
"Beberapa drama ku juga saat ini masih tayang, dan yang baru akan segera di tayangkan, terus film yang syuting waktu itu akan di tayangkan di akhir bulan."
"Jadi aku sudah bebas dan menyelesaikan semua job ku." Ucap Callista.
"Baiklah, kalau begitu, kamu harus ikut ibu besok ke Inggris mengunjungi Sean, apakah mau?" Tanya Ibu tersenyum licik.
Callista juga tertegun, dia tidak menyangka akan di ajak.
Padahal awalnya dia juga ingin pergi dan akan berpura pura tidak sengaja bertemu terus akan meminta maaf pada Sean atas sikap nya dulu.
"Kenapa?"
"Malu?" Tanya ibunya.
"Kakak, jangan malu, ayo ikut. Nanti Salma jagain kakak cantik dari kakak nakal itu." Ucap Salma menjelek jelekkan Sean.
Padahal Sean selalu baik pada Salma hanya saja kadang kadang suka jahil saja.
"Ayo kakak ikut ya?" Ucap Salma memelas memohon.
"Udah gapapa Salma, kalo kakak cantiknya tak mau jangan di paksa." Ucap Ibunya.
"Yah, ibu." Ucap Salma sedih.
Callista juga akhirnya angkat bicara, "Kalau begitu, Tante, eh ibu, akan berangkat jam berapa besok?"
"Jam 3, ibu akan memesan tiketnya nanti malam." Ucap Ibunya Sean.
"Emmmm." Callista berpikir.
__ADS_1
"Mau?" Tanya ibunya Sean tersenyum saat melihat tingkah Callista.
"Boleh deh, tapi hanya sebentar kan di sana?" mencoba memastikan.
"Iya, Minggu malam pulang kok." Ucap Ibunya.
"Salma juga harus sekolah, kita ke sana mengeceknya dan membantunya untuk beberapa hari saja." Ucap Ibunya.
"Baiklah, kalau begitu, aku ikut." Ucap Callista malu malu.
"Apakah perlu di jemput ke rumahmu nanti?"
"Tak usah, kita bertemu di bandara saja Bu."
Dengan begitu, mereka juga mengobrol.
Apa yang tidak ketahui Callista, saat ini fotographer lepas itu sedang menelpon klien kliennya supaya membeli berita ini darinya.
Dia sudah berhasil menjual kepada 2 kliennya, dan mendapatkan 21 juta saja dengan cepat.
Di kantor kantor media berita, saat ini mereka juga sedang memperhatikan Vidio yang sedang di putar.
"Oh ternyata, pantas saja, Callista tak pernah ada adegan romantis dan bahkan tidak pernah terlihat berpacaran."
"Yaiyalah, bagaimana mungkin para aktor itu di sandingkan dengan dia?" Ucap seorang staf pria.
"Sean maksudmu?" Tanya karyawan wanita.
"Iya jelaslah, dia menjadi bintang muda dan harapan sepak bola Indonesia, dia lebih sukses dan akan di pandang oleh dunia, sedangkan aktor aktor itu, mereka hanya di Indonesia saja kan di pandangnya." Ucap staf pria.
"Sudah sudah jangan bertengkar tentang hal itu, seharusnya kita berpikir cara mengemas berita ini supaya lebih menarik." Ucap ketua tim dari tim media berita tersebut.
Para staf itu juga akhirnya berhenti dan mulai berpikir untuk mengemas berita itu.
Sementara itu di Inggris, Sean berada di rumahnya, dia merasa bahwa mata sebelah kanan dekat dengan hidungnya terus berdenyut.
Dia juga menjadi sedikit tak nyaman menontonnya karena denyutan ini.
Sean kemudian meminum air putih karena berpikir itu di sebabkan dia kurang minum air putih mungkin, tapi denyutan itu terus terasa.
"Kenapa ini?"
"Apakah ada yang membicarakan ku?"
"Tapi mana mungkin yang membicarakan kan telinga panas bukan berdenyut di sini." Ucap Sean.
Di saat Sean sedang berpikir, ponselnya berbunyi.
"Halo sialan, buka pintunya!" Ucap Felix dalam telpon.
Sean juga segera berjalan.
Dan dia membuka pintu, melihat ada Felix, Mbappe, dan Florian.
"Haha, gitu aja cedera." Ucap Felix meledek.
"Yah, mungkin kita bisa menjauhkan jumlah gol kita darinya." Ucap Mbappe pada Felix.
"Setuju." Jawab Felix.
Mereka juga masuk ke dalam rumah, sebelum Sean bisa berbicara apapun.
__ADS_1
Mereka memperlakukan rumah Sean seperti rumah sendiri.
"Hei, brengsek, aku belum bilang kalian boleh masuk!" Teriak Sean.
"Oh jadi apakah kamu tak menerima kami?" Ucap Florian memasang wajah jahat dan mendekat, Felix dan Mbappe juga bertingkah sama.
Sean juga tegang, karena dia tidak menduga ini.
Dia pikir mereka akan biasa saja.
Sean mundur beberapa langkah dengan pelan karena sakit di pahanya itu.
"Haha." Tawa Florian di ikuti oleh Mbappe dan Felix.
"Ayo duduk." Ucap Florian.
Sean melihat ini hanya diam dan malu.
'Ketiga brengsek ini kebiasaan, selalu bertingkah pura pura begini, sok jadi preman.' pikir Sean, meski begitu Sean tetap senang karena mereka peduli padanya.
"Brengsek, ku kira serius ternyata candaan, padahal aku sudah siap " Ucap Sean mencairkan suasana dan berniat agar tak terlalu malu.
"Jangan pura pura." Ucap Felix.
"Bagaimana cedera mu?" Tanya Mbappe.
"1 bulan lebih harus istirahat."
"Wah enak sekali." Ucap Felix sambil menyandarkan punggung nya ke sofa.
"Kita harus berlatih keras, sedangkan dia harus rebahan di kasur atau sofa."
"Tukeran yuk?" Tanya Felix.
"Kalau begitu, sini kakimu." Ucap Sean.
"Mau apa?"
"Ku buat kamu cedera supaya kamu bisa beristirahat."
"Kamu pasti kena marah bos nanti kalau begitu." Ucap Felix.
"Katanya ingin istirahat." Ucap Sean bercanda.
Dia mengerti ke arah mana obrolan ini.
"Kamu akan absen melawan Atletico, Man City dan Wolves jika harus istirahat 1 bulan." Ucap Mbappe.
"Tapi jika itu benar 1 bulan ya."
"Tapi kalau lebih, kamu harus absen juga di laga UCL melawan AC Milan."
"Aduh sungguh sangat di sayangkan, kita bisa menambah pundi pundi gol dan menjauhkan jaraknya dari dia." Ucap Mbappe lagi.
"Kalau begitu, kamu akan kekurangan seorang assist." Ucap Sean bercanda.
"Ah." Kaget Mbappe.
"Tenang ada Trent dan Robbo." Ucap Florian memanas manasi Sean.
Kemudian mereka juga mengobrol, kedatangan mereka juga mengecek keadaan Sean, karena mereka tahu bahwa Sean tinggal sendirian.
__ADS_1