
Malam harinya, Felix pulang bersama Magui ke rumahnya pukul 7 lebih. Keduanya mengatakan bahwa mereka harus segera pulang.
Magui juga menitipkan Elisa pada Sean untuk mengantarnya ke apartemennya karena keduanya tak bisa mengantarkan Elisa.
Dengan begitu, Sean juga harus mengantarkan Elisa karena tak mungkin membiarkannya pulang sendirian.
Di dalam mobil, dimana mobil sedang dalam perjalanan ke apartemennya Elisa, keduanya diam dan tak mengobrol.
Itu di sebabkan oleh kejadian tadi yang membuat mereka menjadi canggung.
"Euhh..." Ucap keduanya bersamaan.
Sean berniat mengatakan sesuatu karena dia tidak bisa keadaan sepi dan canggung seperti ini.
Dia juga merasa tak enak, apalagi tadi itu tidak di sengaja.
Sementara Elisa juga mau mengatakan sesuatu.
"Kamu duluan." Ucap keduanya bersamaan lagi.
"Kamu dulu saja!" Ucap Elisa kemudian.
"Itu, maaf. Soal tadi itu benar benar tak di sengaja. Kamu tahu kan? Itu gara gara Felix?" Ucap Sean.
"Iya aku mengerti, jadi tak usah di bahas lagi." Sahutnya.
"Oke." Jawab Sean.
Sean memilih untuk berhenti membahasnya karena menurut Elisa sudah cukup dan tidak perlu di bahas lagi.
"Tadi Magui memfoto ketika kita sedang bersentuhan, aku minta tolong. Tolong katakan padanya bahwa itu harus di hapus." Ucap Elisa.
"Kenapa tidak kamu saja?" Tanya Sean.
"Aku tak enak padanya, dia selalu ada buatku, jika aku memintanya menghapus, takutnya dia mengira aku ini ngga suka dengan tingkah nya dia."
"Oke jangan khawatir, sepulang antar kamu, aku akan menelponnya dan bilang untuk menghapusnya." Ucap Sean.
Sean juga sadar dengan hal itu, akan berbahaya jika fotonya tersebar.
Meski itu hanya bersentuhan saja, tapi bagaimana dengan orang orang Indonesia jika melihatnya, hal wajar bagi orang orang sini untuk melihatnya.
Apalagi memikirkan orang tuanya, Sean langsung geleng geleng kepala.
"Sudah sampai." Ucap Sean.
Dan benar, memang saat ini Sean sudah berada di parkiran komplek apartemen Elisa.
"Terima kasih, maaf merepotkan." Kemudian Elisa keluar dari mobil, sebelum pergi dia berbalik dan menatap Sean.
"Jangan terlalu berharap dengan adanya hubungan di antara kita, aku sudah memiliki pacar. Jadi untuk kejadian tadi itu hanya sebuah kecelakaan saja. Jadi jangan terbawa perasaan." Ucap Elisa.
Sean yang mendengarnya juga tercengang, dia mengerti dari maksud kalimat yang di ucapkan Elisa itu.
'Apakah dia berpikir bahwa aku akan mulai mengejarnya dan berpacaran dengannya?'
'Oh, untung saja aku tidak terbawa perasaan apapun saat kejadian itu.'
__ADS_1
Meski memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang bagus, Sean juga merasakan sedikit rasa aneh saat melihat Elisa di rumah nya tadi.
Hanya saja dia memilih diam dan mengobrol saja dengan asyik.
Sean tidak kecewa dengan apa yang di ucapkan oleh Elisa karena dia benar benar tidak berharap apapun padanya.
"Jangan khawatir, aku tahu tentang hal itu."
"Kalau begitu, aku pulang. Selamat malam." Ucap Sean kemudian menutup jendela mobilnya dan langsung pergi.
Di dalam mobil, Sean hanya menggeleng geleng kan kepalanya ketika mengingat ingat apa yang dikatakan Elisa tadi.
"Haha, terlalu percaya diri itu benar benar akan menjadi bahan tertawaan orang lain ternyata." Ucap Sean di dalam mobil.
Sean kemudian menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal untuk menuju rumahnya itu.
20 menit kemudian,
Sean sampai di rumahnya, dia juga melepas jaket dan sepatunya.
Sebelum masuk ke kamar, Sean menelpon Felix dan mengatakan tolong untuk di hapus foto yang tadi di tangkap oleh Magui.
Felix juga langsung mengiyakannya, awalnya Magui tidak setuju tapi berkat permintaan Felix karena tak mau temannya marah atau kenapa Napa, akhirnya Magui mengalah dan menghapus fotonya.
Sean masuk ke kamarnya setelah membersihkan badannya, dia mandi dengan air hangat.
"Hah."
"Tapi kalau di pikir pikir rasanya seperti itu ternyata." Ucap Sean sambil memegangi bibirnya.
"Hah aneh, sudahlah." Ucap Sean, kemudian dia memilih rebahan di atas kasurnya sambil menunggu waktu tidur karena sudah jam 8 lebih.
Keesokan harinya,
Di saat Sean sudah selesai latihan bersama tim, Sean langsung pulang ke rumahnya.
Dia membereskan rumahnya karena kemarin belum sempat dia bereskan dan masih sedikit berantakan.
Bersamaan dengan Sean yang selesai membersihkan rumahnya, ponselnya berdering.
Sean melihat dan itu dari ibunya, Sean langsung mengangkatnya.
"Ada apa bu? Tumben." Ucap Sean.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik bu, kenapa memangnya?"
"Tidak terjadi apa apa?" Tanya ibunya.
Sean merasa aneh dengan ibunya kenapa tiba tiba seperti ini.
"Tidak bu, memangnya ada apa?" Tanya Sean lagi.
"Ibu mimpi buruk semalam, bermimpi bahwa kamu bertato setelah sukses jadi pemain bola, kamu juga menjadi suka main wanita dan mabuk mabukan karena kamu sudah sukses."
Sean mendengar ini hanya diam saja.
__ADS_1
"Apakah benar tidak terjadi apa apa?" Tanya ibunya lagi.
"Tidak bu, apakah perlu aku lakukan Vidio call agar ibu percaya?" Tanya Sean.
"Tidak perlu, syukurlah kamu baik baik saja. Kalo ada apa apa segera hubungi ibu dan cerita pada ibu ya?" Ucap Ibunya.
"Iya Bu aku mengerti."
"Oiya, film baru dari aktris itu akan tayang lagi di bioskop, ibu akan menontonnya bersama ayahmu dan berusaha untuk membeli tiket gala premiere nya supaya bisa bertemu dengannya." Ucap Ibunya.
Sean yang mendengar ini sudah tahu siapa yang ibunya maksud. Sean juga sudah lama sekali tidak berkomunikasi dengan Callista, meski bahwa Callista masih update dan nomor nya juga masih aktif.
"Oh kalau begitu selamat menikmati filmnya Bu." Ucap Sean.
"Kamu ini, mana pacarmu?" Tanya ibunya.
"Pacar apa? Mana ada aku punya." Ucap Sean.
"Kamu bilang waktu liburan kemarin kamu akan berusaha cari pacar dan mengenalkannya pada ibu, tapi mana sekarang?"
"Bu sudah ya, jangan bahas itu dulu."
"Liga juga sedang sibuk sibuknya apalagi nanti ada UCL, mana ada waktu untuk mengurusi hal itu."
"Kamu ini!"
"Ah anak ibu tidak normal." Teriak ibunya.
"Ibu jangan bicara sembarangan, bagaimana jika itu benar terjadi, ingat Bu, ucapan ibu adalah doa."
"Jadi kalo ibu mau aku segera maka doakanlah." Ucap Sean.
"Ibu selalu mendoakan kamu setiap saat wahai anakku."
"Ya ya. Bagaimana di sana Bu?" Tanya Sean.
"Seperti biasa. Bagaimana latihan mu? Lancar? Apakah sudah akrab bersama rekan rekanmu?"
"Sudah Bu, ibu jangan khawatir."
"Baiklah, kalo begitu kamu sibuk dengan urusanmu lagi, ibu takut mengganggu."
"Oke." Dengan begitu, Sean juga menutup panggilan dengan ibunya.
Sean menyimpan ponselnya di meja dan dia menyimpan kedua tangan nya di pinggangnya.
"Hah."
"Ibu mimpi buruk apakah ada kaitannya dengan aku yang berciuman itu?"
"Meski tidak benar berciuman tapi itu benar benar sudah menyentuh."
"Sepertinya Elisa bukan wanita baik makanya ibu sampai mimpi buruk." Ucap Sean.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika mimpi ibunya menjadi kenyataan.
"Tetap konsisten, fokus, fokus." Ucap Sean mencoba mengingatkan lagi dirinya tentang kerja keras yang sudah ia lalui selama ini karena dia tak mau dirinya menjadi sombong dan lupa dengan kerja keras, dimana itu akan berakibat fatal bagi hidup dan juga karirnya.
__ADS_1
Mungkin saja mimpi ibunya juga akan menjadi kenyataan jika dirinya sombong dan takabur seperti itu.
"Jauhkan aku dari sifat sombong dan takabur." Ucap Sean sambil mengusap tubuhnya.