I'M Footballer

I'M Footballer
Chptr 29.


__ADS_3

Keesokan harinya,


Sean bangun lebih siang dan tidak bisa melakukan rutinan joging paginya karena dia pulang larut malam saat mengikuti acara perayaan yang di lakukan bersama rekan timnya.


Melihat jam sudah jam 9, Sean bersiap untuk berangkat latihan hari ini.


Silva yang masih di Indonesia belum memberi kabar apapun pada Sean. Sean juga tak menelponnya dan membiarkannya saja.


Pukul 10,


Di tempat latihan Arouca, staff kepelatihan membicarakan Sean yang sudah masuk 3 kali surat kabar harian, meski sekarang posisi penempatan Sean di surat kabar harian tidak di tempat utama lagi.


Itu karena liga 1 Portugal juga sudah di mulai, dimana nilai jual tim tim liga 1 Portugal lebih besar, jadi berita yang ada di posisi utama surat kabar harian adalah berita dari tim liga 1.


Sean yang sudah bermain 3 pertandingan, 2 kali melalui pergantian dan 1 kali starting line up sudah memilki 5 gol 1 assist.


Dimana Sean termasuk dalam jajaran pencetak gol terbanyak di liga 2 dari tim lainnya.


"Kalian terlihat kelelahan sekali." Ungkap para staff saat melihat para pemain yang terlihat sangat kelelahan.


"Sampai jam berapa tadi malam kalian melakukan barbeque?"


"Set 12." Ungkap Roberto yang ikut dalam perayaan.


Para staff hanya menggelengkan kepalanya, untung saja intensitas latihan setelah pertandingan adalah intensitas rendah, kalo bukan intensitas rendah, sudah di pastikan para pemain langsung pingsan.


Dengan datangnya pelatih, pelatihan langsung di mulai.


Mulai dari pemanasan, latihan fisik, latihan teknik, latihan taktik, dan pendinginan.


Untuk latihan setelah pertandingan biasanya tidak akan di adakan mini game.


Setelah matahari sudah berada di tengah tengah, suhu juga sudah sangat meningkat, pelatihan pun berakhir.


Sean yang kembali ke asramanya memilih untuk bersantai untuk menunggu suhu tubuhnya turun dulu.


Mengisi waktu luangnya, Sean membuka ponselnya seperti biasa.


...


Malam harinya,


Sean sedang berada di asrama sambil bermain PlayStation, tadi siang dia berjalan jalan di luar, ia juga kemudian kembali ke asramanya pada sore hari.


Tidak banyak yang bisa di lakukan Sean karena dia tidak mempunyai tujuan lain selain menjadi pemain sepak bola profesional.


Ketika sedang fokus dan asyik bermain PlayStation, ponselnya berdering.


Sean mengangkat telpon itu, " Hallo."


"Sean, ku dengar kamu mencetak hattrick?" Tanya Silva yang tidak tahu dapat kabar dari mana, mungkin dia melakukan search di internet.


"Iyaa, aku bisa mencetak hattrick karena aku bermain di awal dan mempunyai banyak waktu dan kesempatan." Ungkap Sean.

__ADS_1


"Bagus, lanjutkan."


"Kalau begitu, ku tutup lagi." Ucap Silva.


"Tunggu."


"Ada apa?"


"Kamu menelpon ku hanya untuk menanyakan ini?" Tanya Sean.


"Iyaa, memangnya apa lagi?"


"Bagaimana urusan di sana?"


"Sedang dalam proses."


Silva juga tahu apa yang di maksud Sean yaitu usaha kecilnya.


"Aku akan kembali mungkin besok siang dari sini."


"Begitu cepat?"


"Sepertinya kamu tidak ingin aku kembali ke Portugal." Ungkap Silva.


"Tidak, hanya saja aku merasa bahwa urusannya lebih cepat selesai."


"Iya di bantu oleh orang tua mu dan kenalan orang tuamu jadi cepat."


"Baiklah kalau begitu, aku tutup." Ungkap Sean.


Sean pun menutup telponnya tanpa kalimat tambahan lagi.


"Ketika Silva kembali aku harus merencanakan lagi rencana harian agar aku tidak bosan di asrama terus."


Sean kembali bermain PlayStation, sampai pukul set 9, Sean mulai berbaring di ranjang kasurnya mencoba untuk tidur.


Keesokan harinya,


Sean yang sudah berlari pagi seperti biasanya kembali ke asramanya dan meminum air putih.


"Pertandingan selanjutnya melawan Uniao."


"Aku tidak tahu, di posisi ke berapa Uniao berada sekarang?"


"Musim lalu, Uniao berada di urutan terakhir."


Laga berikutnya Sean, Arouca akan melakukan away ke kandang Uniao. Uniao musim kemarin menempati urutan terakhir dalam klasemen.


Sean tidak tahu Uniao yang sekarang.


Meski musim kemarin Uniao berada di urutan terakhir, Uniao masih tim yang kuat hanya saja lawannya lebih kuat jadi Uniao hanya bisa menderita kekalahan dan menempati urutan terakhir.


Saat Sean sedang beristirahat, telponnya berdering, Sean pun mengangkat teleponnya.

__ADS_1


"Hallo."


"Sean maaf menganggu, aku tidak tahu apakah aku harus memberitahumu kabar ini atau tidak."


"Ada apa?" Sean menjadi tegang.


"Mungkin sekarang kamu tidak lagi bersama kami, tapi kami sudah berteman jadi aku mengabari ini."


"Victor tim kami mengalami kecelakaan tadi malam, aku tidak tahu apakah kamu akan ikut menjenguknya di rumah sakit?" Ucap Ramos.


Ramos dan Victor adalah teman Sean di tim U 19 Boavista, meski tidak terlalu dekat, tapi teman tetaplah teman apalagi pernah satu tim dan pernah bekerja sama.


Victor juga sama dengan Sean berposisi sebagai winger, hanya saja Victor winger kanan.


"Aku minta maaf sebelumnya, liga sudah di mulai, dan jarak juga lumayan, apalagi aku tidak punya kendaraan."


"Aku ingin menjenguknya hanya saja aku tidak bisa."


"Kalau begitu, bisakah kau belikan bingkisan seperti buah untuk Victor, uangnya akan ku transfer padamu, dan tolong sampaikan karena aku tidak bisa menjenguknya."


"Iya baiklah, maaf aku juga mengganggumu karena Victor juga temanmu jadi mungkin dia juga butuh bantuan dari teman temannya."


Ramos berkata begitu karena saat di tim U 19, Victor menceritakan kisah hidupnya yang hanya mempunyai seorang ibu dan 2 adik, dimana kedua adiknya masih kecil dan ibunya juga sudah sakit sakitan.


Teman teman di U 19 juga selalu bersikap baik pada Victor.


"Kalau kamu butuh apa apa lagi tolong hubungi aku, aku akan berusaha untuk membantunya." Ungkap Sean.


"Baik, terima kasih."


"Nanti ku kirimkan nomor rekeningku." Ucap Ramos.


"Jangan lupa tambah sedikit sebagai biaya perayaan cetak hattrick dan mendapatkan kontrak profesional." Ungkap Ramos yang sambil tertawa.


Memang ketika Sean mendapatkan kontrak profesional dia tidak memberi tahu rekan rekan tim U 19 nya, mungkin sekarang mereka juga sudah tahu dan sudah melihat berita berita Sean di surat kabar harian.


Setelah menutup telponnya, Sean menunggu Ramos mengirimkan nomor rekeningnya. Meski Sean memiliki sedikit uang lagi, Sean tidak sungkan untuk memberikan lebih banyak untuk membantu Victor.


Dia juga tak masalah jika tak memiliki uang karena dia juga bisa makan di kantin dekat asrama.


Setelah beberapa saat, Ramos juga mengirimkan nomor rekeningnya.


Sean langsung mengirimkan uangnya pada Ramos dan menutup ponselnya setelah selesai.


"Aku lupa tidak bertanya Victor kecelakaan apa?"


"Mungkin dia kecelakaan di jalan."


Sean membersihkan tubuhnya setelah suhu tubuhnya turun sehabis joging tadi.


"Masih ada waktu sebelum latihan hari ini." Sekarang jam sudah menunjukan jam 9 lebih, Sean juga segera bersiap menuju tempat latihan tim Arouca.


Setelah beberapa saat, Sean berangkat dari asramanya menuju tempat latihan Arouca.

__ADS_1


__ADS_2