
Sore hari menjelang malam hari, Sean dan para pemain yang lain masih nongkrong di cafe.
Para perempuan yang di ajak oleh Luthfi juga masih ada dan ikut mengobrol.
Mereka mengobrol ke sana dan ke sini tapi tetap saja nyambung karena komunikasi mereka dalam bahasa Inggris juga cukup baik sehingga tidak sulit.
Setelah beberapa saat, jam 7 malam, Sean izin ingin pulang lebih dulu pada teman temannya yang masih asik mengobrol.
Sean sedari tadi juga hanya ikut mendengarkan dan jarang sekali mengobrol. Itu karena Sean menghargai teman teman yang lainnya yang sangat ingin sekali dekat dengan para perempuan itu.
"Kalau begitu, aku dan Sean juga pulang duluan ya?" Ungkap Raffi saat tahu Sean akan pulang.
"Yahh, Seann. Kenapa harus pulang? Ini masih jam 7."
Sean hanya diam dan tersenyum saja, dia tidak terbiasa.
Setelah beberapa obrolan singkat, akhirnya Sean pulang dengan Raffi terlebih dulu.
Di perjalanan menuju hotel tempat menginap tim, Sean dan Raffi juga mengobrol.
Raffi banyak bertanya mengapa Sean pulang lebih dulu, tentu saja alasannya sangat berbeda dengan Raffi.
Raffi pulang lebih dulu karena ia juga mempunyai pacar yang harus ia kabari dan hubungi. Ia juga menjaga perasaannya untuk pacarnya.
Sean yang ditanya itu oleh Raffi, "Aku tak terbiasa dengan perempuan."
"Kamu tahu? Aku juga tak tahu bagaimana caranya agar dekat dengan wanita." Ungkap Sean polos.
Raffi melongo menatap ke arah Sean. "Yang benar?" Tanya Raffi yang hanya di jawab oleh anggukan Sean.
"Terus ada tidak wanita yang memberimu pesan atau apa?" Tanya Raffi.
"Tentu saja banyak, ketika di Portugal juga ada banyak. Namun aku tak tahu bagaimana caranya."
"Bahkan ibuku malah mengenalkanku pada gadis yang ia temui di Indonesia."
"Aneh kan?"
"Haha, itu karena ibumu juga takut kamu tidak normal."
"Ibumu mungkin ingin melihat anaknya ada sedikit romantisme meski kamu sedang mengejar karirmu."
"Apalagi kamu jauh dari orang tua dan keluarga, ibumu tidak ingin kamu sendirian."
"Aku masih muda Fii." Sahut Sean langsung.
__ADS_1
"Aku tahu, tapi ibumu yang jauh darimu tetap khawatir, mereka pintar menyembunyikan kekhawatirannya karena tak mau kita juga ikut khawatir."
"Belajarlah dan cobalah."
"Aku tahu, kamu juga ingin sekali hanya saja kamu tak tahu caranya, dan itu menjadikanmu seperti sekarang."
"Terlalu membebani hidupmu untuk mengejar karir sampai kamu juga lupa tentang romantisme."
"Kelamaan bisa juga kamu akan kena mental nantinya, karena terbiasa tidak dekat dengan wanita."
"Hormonmu juga akan terpengaruh, jadi cobalah." Ungkap Raffi sambil tersenyum.
Sean yang berjalan di piinggir Raffi hanya mendengarkan semua ucapan Raffi tapi tidak menjawabnya.
Tak berselang lama, mereka juga akhirnya sampai. Sean langsung masuk ke kamarnya dan Raffi juga masuk ke kamarnya sendiri.
Sesampainya di kamar, Sean tak lupa menunaikan ibadahnya terlebih dulu.
Setelah beberapa saat, Sean yang sudah menyelesaikan semuanya merasa santai. Dia pun duduk di ujung ranjang kasurnya sambil mengeluarkan ponselnya.
Sean membuka grup chat teman sekolah nya dan melihat ada beberapa photo teman temannya yang sedang menonton bareng pertandingan tadi.
"Ternyata mereka juga menonton, ku kira mereka tidak menonton." Ungkap Sean yang tak tahu bahwa teman temannya menonton dari pertandingan pertama.
Membaca pesan pesan di grup sekolahnya, Sean kemudian mengetik beberapa kata.
"Bagaimana apakah seru menonton di televisi?" Tanya Sean di ruang obrolan dengan menggunakan beberapa emot mengejek.
Tak berselang lama, ada balasan.
"Seruu, tapi kayanya lebih seru nonton langsung." Balas Gilang.
"Haha, mau di belikan tiket nonton emang nanya gitu?" Tanya Alby yang yang tiba tiba membalas.
Dengan balasan kedua itu, tak lama beberapa balasan juga datang yang mengomentari pertanyaan Sean.
Sean membaca semuanya dan tersenyum.
"Menonton pertandingan langsungnya mending nanti ketika aku sudah di tim besar atau kamu sudah kuliah, sekarang mana mungkin kalian di izinkan ke luar negeri menonton bola oleh orang tua kalian."
"Jika nanti aku sudah ada di tim besar dan mempunyai banyak rezeki, akan ku traktir kalian untuk berangkat ke sini dan menonton langsung." Balas Sean ke obrolan grupnya. Ia mengatakan begitu karena ia serius, Sean tidak akan melupakan teman temannya yang masih ada di saat Sean sedang kesepian sendiri di Eropa.
Meski hanya melakukan pesan melalui sebuah ponsel, itu sudah cukup bagi Sean agar merasa dirinya tak sendirian.
"Haha baiklah, ku doakan kau semakin cepat suksesnya."
__ADS_1
Balasan satu demi satu juga muncul.
"Ohiya Sean, sudah kah kamu menemukan tim untukmu musim depan?" Tanya Alby yang selalu ingin tahu tentang klub Sean. Dia menanyakan ini karena dia juga mempunyai akun sosial media bola yang lebih mengarah pada Sean dan dia harus tahu lebih cepat dari siapapun.
"Belum ada, tapi menurut agenku Silva. Di tournament ini banyak sekali pengintai. Doakan saja semoga ada beberapa pengintai dari tim tim yang tertarik padaku." Ungkap Sean.
"Baik, sudah kupastikan kamu akan di rekrut klub."
"Permainanmu di setiap pertandingan juga bagus."
"Tapi Sean, ku lihat di pertandingan tadi melawan Prancis sepertinya sangat sulit?"
Sean yang membaca pertanyaan Alby ini bingung harus menjelaskannya bagaimana.
"Ya memang sulit, itu bukan karena mereka termasuk dalam tim raksasa Eropa saja. Tapi karena kualitas individu setiap pemainnya juga bagus."
"Kita bermain cepat di pertandingan berniat untuk mengungguli mereka, namun Prancis juga bermain cepat dimana ini bikin kita pusing."
"Yah memang, kualitas Eropa dan Asia memang sangat berbeda." Ungkap Alby.
"Pertandingan selanjutnya melawan Togo kan Sean?" Tanya Gilang tiba tiba.
"Ya ada apa?"
"Sepertinya kalian akan menghadapi tim cengcelengan." Ungkap Gilang.
"Si bodoh ini." Ungkap Alby.
"Kenapa aku bodoh?"
"Kamu tidak tahu ya, meski mereka tim yang sudah 2 kali itu akan lebih mempersulit Indonesia di pertandingan nanti."
"Mereka juga tak mau mengalami 3 kekalahan, dan mereka akan bermain lebih berani dan keluar."
"Benar kata Alby, tidak mungkin tim Togo akan membiarkan Indonesia menang dengan mudah."
"Tapi doakan saja agar Indonesia menang dan lolos babak selanjutnya. Ini juga merupakan prestasi yang bisa membuat nama negara harum." Ungkap Sean.
"Haha pasti. Ohiya Sean, ku lihat berita berita di sosial media bola Eropa yang membahas tournament Toulon kali ini banyak yang membahas Bukayo Saka dari Inggris, Diego Lainez dari Mexico."
"Mereka juga bermain sangat baik."
"Yah ku tahu, mereka berdua juga masuk dalam daftar nxgn kalau tak salah ingat." Jawab Sean.
"Itu masih ada di depan, jadi Indonesia harus menang agar aku bisa bertemu keduanya. Aku juga menjadi semakin semangat jika bertemu banyak pemain muda yang berbakat, aku bisa belajar dari mereka nantinya."
__ADS_1