
Sabtu siang,
Di Inggris, tepatnya di komplek perumahan milik Sean, anggota keluarga Sean sudah datang menggunakan mobil carteran.
Mereka tidak memberitahu kedatangannya pada Sean.
Karena ibunya tahu bahwa jika Sean tahu, Sean pasti akan menolak di kunjungi dan akan mengurus dirinya sendiri.
Sama seperti hal di saat Sean bermain untuk U 23, keluarga Sean tahu dari Silva.
Saat ini, Silva benar benar menjadi orang sibuk. Sean juga senang atas keberhasilan Silva dalam bekerja menjadi seorang agen.
Silva bolak balik mengurus beberapa sponsor untuk para pemainnya.
Meski kecil, Silva menerimanya karena pemain pemainnya masih belum matang, berbeda dengan Sean yang sudah bermain untuk tim besar.
Saat ini, Sean berada di rumahnya dan sedang menonton film.
Dia benar benar menikmati waktu istirahatnya ini.
Dia juga menjadi tak bisa berlatih, dia hanya melakukan pelatihan yoga dengan porsi sedikit dan secara perlahan agar urat urat di paha tidak tertarik lagi.
Sebab Sean sedang dalam kondisi yang kurang baik di bagian pahanya.
Saat sedang asyik menonton, ponselnya berdering.
'Ibu?'
"Halo bu?" Tanya Sean.
"Buka pintunya."
"Buka pintu apa?" Tanya Sean bingung.
"Ibu di depan."
"Depan?"
"Rumah mu, apakah perlu Vidio call biar kamu percaya?" Tanya ibunya.
Sean jelas tercengang, dia kemudian bangkit perlahan dan berjalan menuju pintu dengan ponselnya yang masih terhubung dalam panggilan dengan ibunya.
Sean kemudian membuka pintu rumahnya itu, dan segera dia melongo.
"Kakak!" Teriak Salma sambil berlari ke arah Sean.
Sean jelas tak menyangka keluarganya akan datang kesini.
Sean kemudian menangkap adiknya itu agar tak menabrak badannya karena jika tertabrak, Sean jelas akan memiliki sebuah benturan dan kakinya harus bergerak, dan itu akan menambah beban lagi pada cederanya.
"Kakak, aku sekarang bisa berkunjung ke sini akhirnya." Ucap Salma lucu.
"Ya ya, kamu sekarang bisa datang ke rumah kakak."
Kemudian Sean melihat ke arah ibu dan ayahnya, namun dia melihat seseorang di belakang ibunya.
Sean mengangkat alisnya pada ibunya, bermaksud menanyakan siapa pada ibunya.
Tak lama ibunya bergeser, dan Sean langsung diam.
Sama halnya dengan Callista yang diam menatap Sean.
"Kakak, lihat kakak cantik ikut bersama kita."
"Salma mengajaknya, Salma hebat kan?" Ucap adiknya.
Sean mendengarnya tapi tidak menjawab, dia masih menatap pada Callista.
__ADS_1
Dia sudah tidak berkomunikasi sama sekali, tapi tiba tiba saja datang.
"Bisakah kita masuk lebih dulu?" Ucap ayahnya yang terlihat merah karena kepanasan.
"Oh iya, ayo masuk." Ucap Sean sambil bergeser dan membiarkan ibu dan ayahnya masuk lebih dulu."
Callista masih diam di tempat, Sean juga melihatnya.
"Masuklah!" Ucap Sean.
Kemudian Sean berjalan terakhir sambil menutup pintu, adiknya sudah berlarian di rumah Sean yang besar itu.
"Wah, rumah kakak besar."
"Asik ada kolam renang." Teriaknya saat melihat lihat sekitaran rumah Sean.
"Nak, apakah sungguh kamu sendirian tinggal di rumah sebesar ini?" Tanya ibunya.
Ibunya sudah tahu bahwa Sean pindah rumah, tapi tidak menyangka akan pindah ke rumah sebesar ini.
"Iya Bu, paling paling ada teman di tim yang sering berkunjung setelah selesai latihan." Jawab Sean sambil masih berdiri karena kedua orang tuanya juga masih berdiri.
Kemudian mereka melihat melihat keadaan rumah Sean dulu, dan cukup kaget dengan fasilitas yang lengkap dan modern ini.
"Kakak, nanti aku ingin berenang ya?"
"Iya terserah kamu." Jawab Sean sambil mengelus kepala adiknya itu.
"Ayo duduk dulu." Ucap ayahnya.
Kemudian mereka berjalan ke ruang keluarga dan duduk, film yang di tonton Sean juga di pause dulu.
Ibunya Sean duduk di sofa yang panjang di sampingnya adalah Callista, sedangkan Sean duduk di sofa yang lain bersama adiknya.
Ayahnya mengambil sofa yang untuk duduk sendiri.
"Bagaimana kondisimu sekarang? Apakah ada kesakitan seperti yang dikatakan dokter?"
"Aku baik baik saja."
"Baik baik saja gimana, tadi saja kamu berjalan sedikit pincang." Ucap ayahnya memarahi.
Sean diam.
"Apakah itu karena kamu yang mengangkat kaki tinggi saat di pertandingan terakhir?" Tanya ayahnya meyakinkan.
"Iya."
"Tapi saat itu belum terasa, dan keesokan nya baru terasa."
"Aku melapor keesokan nya lagi, dan tidak melapor langsung."
"Kamu ini ceroboh."
"Maaf." Ucap Sean.
"Terus berapa pertandingan yang akan kamu absen?"
"3 pertandingan jika aku bisa sembuh lebih cepat."
"Tapi kalo lambat, mungkin 4 atau 5." Jawab Sean.
"Ucl pasti absen kan?" Tanya ayahnya.
"Iya ayah."
Ayahnya hanya menggelengkan kepalanya dan melihat ke paha Sean.
__ADS_1
"Ibu, kenapa ibu malah datang kesini?" Tanya Sean penasaran.
"Tidak boleh ibu datang?" Tanya ibunya.
"Tentu boleh Bu."
Kemudian, Sean mulai di berikan nasihat oleh ibunya dan dia harus mendengarkannya.
Sean benar benar diam mendengarkan nasihat ibunya itu.
Setelah 10 menit di berikan nasihat.
Sean penasaran dengan kedatangan Callista ke sini.
Tentunya ibunya juga menjelaskan dan Sean mengerti lalu bercerita tentang hal bahwa dia pernah berkomunikasi dengan Callista, ibunya juga senang dan tersenyum.
"Ibu akan menginap, Minggu malam kita akan pulang." Ucap ibunya.
"Salma masih harus bersekolah."
"Iya Bu, ada kamar kok." Ucap Sean.
Mereka juga tahu karena sudah melihat keadaan rumah ini dan ada beberapa ruangan kamar yang kosong tapi sudah tersedia kasur dan lainnya.
Waktu juga terus berjalan dan mereka juga makan bersama.
Sean benar benar di urus segala macam halnya oleh ibunya.
Sean juga merasakan kehangatan dan perhatian dari keluarga nya ini.
'Apakah mungkin aku terlalu egois?'
'Keluargaku se peduli ini, bahkan mereka langsung terbang ke sini, tapi aku malah masih bersikeras bahwa aku tidak apa apa.'
'Mungkin iya bahwa aku terlalu egois, aku harus sedikit lebih peka terhadap perhatian keluargaku.'
'Meski sekarang aku sebagai tulang punggung keluarga, tapi mereka tetap peduli padaku.'
Sean berpikir sambil rebahan di sofanya itu.
Ibunya juga sedang mencuci piring piring sehabis makan tadi.
Adiknya sedang berjalan jalan bersama ayahnya mengitari rumah Sean lagi.
"Ibu, aku bantu ya?" Ucap Salma berdiri dan akan berjalan ke dapur.
Namun di tolak oleh ibu Sean dengan cepat.
"Kalian mengobrol saja." Ucap ibunya.
Suasana Sean dan Callista di ruang keluarga juga sangat canggung.
Setelah beberapa tarikan nafas hening, "Sean, maaf." Ucap Callista.
"Maaf kenapa?" Tanya Sean langsung spontan.
"Maaf sejak saat itu, aku tiba tiba menghilang."
"Iya aku mengerti, kamu pasti sibuk." Jawab Sean.
Callista hanya diam mendengar jawaban dari Sean, Callista merasa bahwa Sean berbeda dari sebelumnya.
"Kita sudah dewasa, jadi tahu mana yang benar dan salah. Jadi tak usah mempermasalahkan hal yang dulu." Ucap Sean tiba tiba.
"Aku tahu, tapi ini sedikit tak enak padaku." Ucap Callista, kemudian keduanya terus mengobrol dan membahas beberapa hal.
Mereka mengobrol kan karir mereka selama 3 tahun tanpa komunikasi di antara keduanya, keduanya juga menanyakan kabar selama 3 tahun ini.
__ADS_1
Perkembangan apa yang sudah di dapat dalam 3 tahun itu.
Ibunya Sean juga meliriknya sesekali dari dapur dan tersenyum puas.