
Keesokan harinya, Sean yang berada di asrama mendapatkan kabar lagi dari Silva bahwa surat kabar harian memposting tentang dirinya lagi.
Sean juga tak menyangka bahwa 2 kali dia bermain dia juga 2 kali masuk surat kabar harian.
Expresso : Pemain muda yang nakal.
Isinya menjelaskan bagaimana Sean yang masuk dari pergantian pemain dan tak lama dari mainnya Sean, dia langsung mencetak assist untuk Roberto. Di sana juga di jelaskan bagaimana keadaan di lapangan pada menit 90 lebih, lalu menjelaskan bagaimana Sean bergerak di perpanjangan waktu sampai menjelaskan bagaimana kejadian gol terjadi.
Di lengkapi dengan fotonya lagi yang berlari mengejar bola di wilayah pertahanan lawan.
Sean juga senang tapi masih tidak percaya.
Di surat kabar harian lainnya,
Correio da Manh : Pemuda ambisius.
Isinya sama menjelaskan seperti yang di tuliskan di surat kabar harian Expresso, namun kalimat nya yang berbeda dan ada sedikit tambahan, disana menjelaskan Sean yang tak mau kalah.
Di lengkapi dengan photo Sean yang sedang berusaha merebut bola dari lawannya, Sean juga baru sadar bahwa photo di surat kabar harian Correio da Manh berbeda.
Di surat kabar harian lainnya juga ada,
Jornal de Noticias : Tren pemuda 17 tahun berlanjut.
Isinya sangat berbeda dengan kedua surat kabar lainnya, meski ada sedikit yang sama menjelaskan kejadian Sean di lapangan. Tapi ini lebih ke arah apakah Sean mampu terus berkontribusi terhadap tim dan membawa dirinya lebih baik lagi atau tidak.
Fotonya di surat kabar harian Jornal de Noticias, adalah photo Sean yang sedang berselebrasi di kerumuni rekan rekan timnya.
Terlihat dari photo itu wajah Sean yang tersenyum bahagia.
...
Di tempat latihan, Sean dan rekannya beserta pelatih dan juga staff melakukan latihan intensitas rendah karena sudah bertanding.
Mereka juga santai dan mengobrol, pelatih juga senang karena dalam 2 pertandingan ini dia bisa memenangkan pertandingannya, meski awalnya ia berharap bahwa pertandingan menang, tapi saat melihat situasi di lapangan menjadi semakin sulit untuk menang, pelatih hanya bisa berharap imbang, namun tak di sangka pemain muda yang ia terus beri kepercayaan mengejutkannya lagi.
"Pertandingan ketiga kita akan melawan Varzim. Mereka sudah seri 2 kali, jadi kita harus memanfaatkan ini agar bisa menang lagi."
"Apalagi pertandingan ketiga kita berstatus tuan rumah, jadi manfaatkan dengan baik."
__ADS_1
Para pemain juga sangat bersemangat, mereka sudah berada di jalur yang benar dan positif kali ini, jadi mereka harus mempertahankannya dan juga terus bergerak maju supaya bisa promosi ke liga 1 Portugal.
Selesai latihan, Sean kembali ke asramanya dan membuka ponselnya sambil menunggu suhu di tubuhnya turun.
Membuka ponselnya dan melihat berita berita di sosial medianya.
Sean mengikuti banyak akun berita sepak bola, ia ingin tahu bagaimana sepak bola di lima liga utama.
Impiannya bukan hanya sekedar menjadi pemain sepak bola profesional, tapi bermain di lima liga utama dan juga mendapatkan penghargaan pribadi.
Untuk menjuarai liga itu adalah bonus bagi Sean, karena dia juga akan selalu bekerja keras dalam setiap pertandingan agar bisa menang dan juara, tapi itu tidak bergantung pada Sean saja jadi harus di bantu oleh rekan lainnya.
Jadi menjuarai liga adalah bonus.
Karena suhu di tubuhnya sudah turun, Sean juga langsung mandi membersihkan tubuhnya.
20 menit kemudian, Sean yang sudah selesai mandi dan selesai berpakaian duduk di ranjang kasurnya.
Dia mengecek saldo uangnya dan masih banyak.
"Ku gunakan untuk apa uang ini ya? Aku bosan di asrama."
"Beli PlayStation atau apa ya." Sean bingung dengan rencananya sendiri.
Tak lama, " Hallo ada apa?"
"Menurutmu, uangku ku gunakan untuk apa ya?" Tanya Sean konyol.
"Terserah padamu, tapi jika ada cukup banyak, lebih baik membuat usaha dengan brandmu sendiri di Indonesia, itu pasti laku jika di jual di negaramu."
Sean yang mendengar itu seperti mendapatkan pencerahan.
'Memang, jika begini uang juga akan berputar dan terus bertambah jika usahanya sukses, tapi usaha di bidang apa?' Sean bingung lagi.
"Menurutmu usaha di bidang apa?"
"Menurutku membuat toko pakaian saja. Karena jika membuat toko olahraga, akan sulit berkembang."
"Di setiap negara sudah pasti ada brand nike, adidas, puma dan lainnya jadi akan sulit. Lebih baik membuat toko pakaian yang pasti akan berkembang di negaramu sendiri untuk saat ini."
__ADS_1
"Atau juga bisa kamu membuat rumah makan. Apalagi asal negara mu memiliki banyak khas makanan kan?" Tanya Silva yang sudah mencari tahu tentang Indonesia lebih dalam.
Ia juga tak sabar untuk ke Indonesia dan mencicipi makanan makanan khas Indonesia.
Silva juga sudah bilang pada Sean untuk mengajaknya ke Indonesia nanti karena ingin mencicipi makanan Indonesia.
"Baiklah, tapi apakah kamu bisa mengurusnya?"
"Mudah. Aku akan terbang ke sana dan mencari orang tuamu sendiri untuk membantuku di sana. Aku juga tidak sabar untuk mencicipi makanan khas Indonesia."
"Baiklah, maaf merepotkan." Ungkap Sean.
"Tak apa, tapi kuharap saat aku terbang ke sana, kamu tidak memerlukan apa apa lagi di sini, jadi aku bisa tenang mengurus masalah usahamu nanti."
"Baik, aku hanya membutuhkan PlayStation saja." Ungkap Sean yang membulatkan tekad membeli PlayStation untuk mengisi waktu luangnya.
"Baiklah, nanti akan ku belikan dan kirim padamu." Ungkap Silva.
Sean juga mengirim uangnya pada Silva dengan cepat.
Meski uangnya masih ada sekitar 25 jutaan, itu cukup untuk membangun usaha kecil. Sean juga merintis karena jika nantinya dia mendapatkan gaji lagi, ia akan menyuntikan uangnya pada usaha miliknya untuk berkembang.
Menutup telepon, Sean rebahan di kasurnya sembari bermain ponselnya. Ia sudah mengunduh beberapa game di ponselnya untuk mengisi waktu kosongnya.
Di saat Sean sedang bermain ponselnya, Sean tidak tahu bahwa di Indonesia tepatnya di keluarganya ada masalah yang menimpa mereka.
"Suamiku, apakah kamu tidak apa apa?"
"Tidak apa apa, tapi itu usaha ku semuanya hancur." Ucap nya dengan wajah pucat.
Ayah Sean merupakan pebisnis kecil yang sudah lama merintis ketika menikahi ibunya. Namun bisnis nya hanya stagnan dan tidak maju atau mundur.
Namun sekarang, bisnis hancur karena saingannya merebut semua kliennya.
Bisnis yang di geluti oleh ayah Sean adalah bisnis kontruksi. Dimana ayah Sean mempunyai banyak pekerja yang siap untuk membangun bangunan bangunan yang di butuhkan oleh klien.
Namun perusahaan saingannya yang merebut kliennya juga merebut pegawai pegawainya, pegawai pegawai ayah Sean juga pindah karena gaji yang di tawarkan sangat tinggi dan berbeda jauh dengan gaji yang di berikan oleh ayah Sean.
"Apakah perlu memberi tahu anak kita? Supaya dia membantumu?"
__ADS_1
"Tidak usah, dia juga sudah mengirim uangnya, namun aku tidak mau memakainya bukan karena apa apa, tapi aku sengaja menyimpannya untuk nanti jika dia butuh lagi."Ungkap ayahnya.
"Aku juga tak mau dia merasa terganggu."