
1 minggu kemuadian.......
1 minggu mendekati kelahiran cucu nya papa rey memilih kerja di rumah dari pada ke kantor, kamar angel juga sudah berpindah ke lantai bawah agar ia tidak kecapean karena naik turun tangga.
angel "papa beneran gak ke kantor kan?"
papa rey "tidak sayang, kenapa?"
angel "enggak apa-apa senang aja lihat papa dirumah"
papa rey "benarkah?"
angel "iya lah"
papa rey "fadhil umi sama abi kamu jadi kapan kesini nya?"
fadhil "2 hari lagi sepertinya pa, sekarang abi dan umi masih di kota M"
papa rey "oh gitu, kakak-kakak kamu gak ikut?"
fadhil "nanti nyusul pa soalnya kak naf sedang hamil muda"
papa rey "wah berhasil juga liburan di amerika kemarin"
fadhil "sepertinya ya gitu pa"
angel "pa emang bahagia banget gitu punya cucu banyak?"
papa rey "iya lah sayang, apalagi anak papa cuma kamu ya papa pengen punya cucu lebih dari satu, eh sama allah di kabulkan punya cucu dua sekaligus"
angel "kalau udah ada 2 papa juga masih pengen punya cucu lagi?"
papa rey "ya kalau kalian di kasih kepercayaan lagi kenapa tidak, papa sih seneng banget punya cucu banyak jadi tuh kerja keras papa waktu muda untuk memiliki rumah besar gak sia-sia kalau rumahnya rame"
angel "kan kalau besar mereka akan ikut suaminya pa yang perempuan"
papa rey "ya kalau bisa sih jangan, papa maunya anak cucu cicit papa itu berkumpul di satu perumahan gitu"
fadhil "fadhil maunya juga gitu pa"
angel "angel juga gak mau jauh-jauh dari anak-anak angel"
papa rey "tapi tetap beri mereka kebebasan dalam menempuh pendidikan dan menemukan jati diri mereka"
angel "iya pa"
saat mereka asyik berbincang tiba-tiba papa Satria datang bersama keluarganya.
papa rey "eh sat kamu gak kerja? kok kesini ngapain?"
papa Satria "noh fira noh merengek terus nyuruh gue kesini"
papa rey "mau ngapain?"
papa Satria "pengen dengerin fadhil tausiyah"
fadhil "haaaa, nggak fadhil gak punya bahan tausyiah, ah elah dis lu kan juga bisa tausiyah"
radis "lah kan lu tau paling kultum doang"
__ADS_1
fadhil "ya kan sama aja"
angel "ngidam nya kok pada minta cerita sama tausiah dari suamiku ya? kalian sengaja ya ganggu aku sama suami"
fira "cuma pengen doang beneran deh"
angel "suami lo sendiri aja suruh tausiyah sana"
fira "papa huaaa huaa angel jahat papa huaa huaaa"
angel "cengeng banget sih"
radis "ayolah dil please gue gak mau anak gue ileran"
angel "yaudah mas tausiyah aja"
fadhil "mau tema apa fir?"
fira "rumah tangga"
fadhil "haa gak salah? tungga abi aku aja deh kalau itu"
fira "huaaa papa kak fadhil jahat"
papa Satria "ayolah dil papa capek dengerin dia nangis dari pagi"
fadhil "huft, baiklah"
Setiap orang yang telah berkeluarga, tentu menginginkan kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupannya bersama istri dan anak-anaknya. Hal ini merupakan perwujudan rasa cintanya kepada mereka. Kecintaan ini merupakan fitrah yang Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan pada jiwa setiap manusia. Allah swt berfirman yang artinya :
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” [Ali ‘Imrân/3:14]
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” [at-Taghâbun/64:14]
Ketika menafsirkan ayat tersebut di atas, Syaikh Abdur rahmân as-Sa’di rahimahullah berkata: “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah ‘Azza wa Jalla memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…”.
Oleh karena itulah, seorang kepala keluarga yang benar-benar menginginkan kebaikan dalam keluarganya hendaknya menyadari kedudukannya sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, sehingga dia tidak membiarkan terjadinya penyimpangan syariat dalam keluarganya, karena semua itu akan ditanggungnya pada hari kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya : “Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya…seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka”.
Seorang kepala keluarga yang benar-benar mencintai dan menyayangi istri dan anak-anaknya hendaknya menyadari bahwa cinta dan kasih sayang sejati terhadap mereka tidak hanya diwujudkan dengan mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-ân dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.
Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan kita semua di dunia ini untuk sebuah tujuan yang mulia. Yaitu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah juga memberikan kepada kita banyak sekali hal-hal yang bermanfaat untuk bisa mewujudkan ibadah yang menjadi tujuan kita tersebut. Diantaranya adalah pernikahan.
Banyak anak-anak muda yang salah melangkah dalam pernikahannya. Baik dalam memilik pasangannya ataupun bahkan dalam konsep dasar pernikahan tersebut bahkan sampai pada apa yang akan ia inginkan dari sebuah pernikahan tersebut. Masih banyak yang belum memahami dengan benar dan belum mengerti dengan pas apa yang akan membuat ia bahagia dalam pernikahan tersebut.
Kesalahan dalam memahami konsep dasar pernikahan akan berakibat pada kesalahan arah dan tujuan pernikahannya. Pernikahan adalah solusi yang Allah berikan kepada kita semua ketika kita sebagai seorang manusia yang Allah berikan nafsu syahwat dan keinginan untuk mencintai lawan jenis. Tentu dalam hal ini dibutuhkan sebuah sarana agar menjadikan kelebihan ini menjadi sebuah sarana kebahagiaan bagi manusia. Dan Allah menjadikan kebahagiaan manusia yang memiliki fitrah seperti ini dalam pernikahannya. Sehingga Allah subhanahu wa ta’ala jadikan sebagai salah satu tanda kebesaranNya adalah menjadikan manusia menikah diantara mereka.
Dalam Kitab Uqudulujain karya Syeikh Nawawi Al-Bantani menjelaskan 7 ciri-ciri rumah tangga islami.
1. Didirikan Atas Dasar Ibadah
Rumah tangga didirikan dalam rangka ibadah kepada Allah, dari proses pemilihan jodoh, pernikahan (akad nikah, walimah) sampai membina rumah tangga jauh dari unsur kemaksiatan atau yang tidak islami. Sebagaimana tugas kita di muka bumi ini yang hanya untuk mengabdi/beribadah kepada Allah, maka pernikahan pun harus diniatkan dalam rangka hal tersebut. Beberapa contoh yang tidak islami, pemilihan jodoh tidak berdasarkan diennya (agamanya), proses berpacaran, dan tradisi-tradisi budaya yang melanggar syariat.
2. Terjadi Internalisasi Nilai Islam Secara Kaffah (Menyeluruh).
Dalam rumah tangga islami segala adab-adab Islam dipelajari dan dipraktikkan sebagai filter bagi penyakit moral di era globalisasi ini. Suami bertanggung jawab terhadap perkembangan pengetahuan keislaman dari istri, dan bersama-sama menyusun program bagi pendidikan anak-anaknya. Saling tolong-menolong dan saling mengingatkan untuk meningkatkan kefahaman dan praktik ibadah. Oleh sebab itu suami dan istri harus memiliki pengetahuan yang cukup memadai tentang Islam.
3. Terdapat Qudwah (Keteladanan) Suami Atau Istri yang Dapat Dicontoh Anak-anak.
Setiap hendak keluar atau masuk rumah anggota keluarga membiasakan mengucapkan salam dan mencium tangan. Ini merupakan contoh yang akan membekas pada anak-anak sehingga mereka tidak canggung mengucapkan salam ketika telah dewasa. Bagaimana mungkin anak akan mendirikan salat diawal waktu, sementara orang tuanya asik melihat televisi pada saat azan berkumandang.
__ADS_1
4. Adanya Pembagian Tugas Sesuai dengan Syariat
Islam memberikan hak dan kewajiban masing-masing bagi anggota keluarga secara tepat dan manusiawi. Sebagaimana Firman Allah: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nisa: 32). Suami atau istri harus faham apa kewajiban dan haknya, sehingga tidak terjadi pertengkaran karena masing-masing hanya menuntut haknya terpenuhi tanpa melakukan kewajibannya.
5. Tercukupinya Kebutuhan Materi secara Wajar.
Suami harus membiayai kelangsungan kebutuhan materi keluarganya, karena itu salah satu tugas utamanya. Seperti yang tercantum dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah 233: "...Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf".
6. Menghindari Hal-hal yang Tidak Islami.
Banyak kegiatan atau barang-barang yang tidak islami harus disingkirkan dari dalam rumah. Misalnya penghormatan kepada benda-benda keramat, memajang patung-patung, media atau tayangan yang tidak islami seperti gambar mesum dan adegan kekerasan, atau memperdengarkan lagu-lagu yang tidak menambah keimanan.
7. Berperan Dalam Pembinaan Masyarakat.
Keluarga islami harus memberikan kontribusi bagi perbaikan masyarakat sekitarnya. "Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orangyang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125). Kita tidak bisa hidup sendirian terpisah dari masyarakat. Oleh sebab itu setiap anggota keluarga islami harus memiliki semangat berdakwah. Suami harus dapat mengatur waktu yang seimbang untuk Allah (ibadah ritual), untuk keluarga (mendidik keluarga serta bercengkrama bersama istri dan anak-anak), waktu untuk umat (mengisi ceramah, mendatangi pengajian, menjadi pengurus masjid, panitia kegiatan keislaman) dan waktu mencari nafkah. Begitu pula dengan istri harus diberi kesempatan untuk bekiprah di jalan dakwah untuk memperbaiki muslimah di sekitarnya.
fadhil "gimana fir ada yang ditanyakan?"
fira "memang kalau kita bertanggal gitu harus ya berkenalan atau ngobrol bareng gitu?"
fadhil "maksud kamu bersosialisasi kan?"
fira "iya itu maksudku"
fadhil "gini fir, kita kan tinggal di perumahan nih yang orang-orang nya sibuk semua tapi tuh kita harus tetap bersosialisasi karena manusia kan gak bisa hidup sendiri pasti butuh bantuan orang lain, kalau rumah kita jauh dari keluarga dan kita butuh bantuan pasti tetangga dulu yang kita mintai bantuan kalau kitanya baik dan sering ikut bersosialisasi maka tetangga pun juga mau membantu kita, coba kalau kita gak ikut bersosialisasi di perumahan sini misalnya pasti juga gak mau nolongin kalau kita butuh bantuan"
fira "kan mereka semua sibuk siapa yang mau bantuin?"
fadhil "kamu lupa kalau setiap rumah punya art? art itulah yang dirumah dan mereka ada kalau kita butuh bantuan, kalau kitanya baik pasti majikannya bilang gini kalau ada tetangga yang rumahnya nomor 64 misalnya perlu bantuan kalian bantu ya orangnya sangat baik, coba kalau kitanya gak pernah bersosialisasi pasti majikannya bilang rumah nomor 64 kalau butuh bantuan jangan kalian bantu mereka tidak pernah bersosialisasi dengan yang lain pasti gitu"
fira "lah kan semua sibuk nih terus kapan sosialisasi nya?"
fadhil "di perumahan ini kan punya grup chat juga fir dan ada pengajian rutin ibu-ibu atau bapak-bapak juga arisan nah itu bisa sebagai tempat untuk kita bersosialisasi dengan orang-orang yang ada di perumahan ini"
papa rey "astaga papa lupa udah 2 kali papa tidak ikut pengajian"
fadhil "lusa papa ikut aja gapapa"
angel "kamu juga mas ikut papa sana"
fadhil "terus kamu?"
angel "sama umi dong, kan umi ku besok dateng"
fadhil "mana ada umi bilang 2 hari lagi"
angel "tapi umi bilang sama aku besok datang tapi sampai sini mungkin malam"
fadhil "oh gitu ya gapapa ikut papa kalau kamu ada temannya"
papa Satria "aku malah 3 kali gak ikut"
mama tamara "mama sama 3 kali juga pa"
papa rey "lah kalian memang kemana?"
papa Satria "pas ke inggris dadakan rey jadi ya gak bisa hadir cuma nyuruh bibi datang aja sama ngasih tau ketuanya kalau aku ke inggris"
papa rey "sama aku juga cuma nyuruh ujang sama udin"
__ADS_1
fira "terima kasih ya kak fadhil semoga kita semua bisa mengamalkan ciri-ciri rumah tangga islami"
fadhil "iya sama-sama"