
hari ini adalah hari raya pertama bagi angel yang menyandang status sebagai istri dan ibu begitu juga dengan fadhil hari ini adalah hari Raya pertama untuk nya setelah menyandang status suami sekaligus ayah.
hari ini papa rey dan juga fadhil dengan keluarga kecilnya berangkat ke lapangan untuk melaksanakan sholat idul Fitri dengan jalan kaki karena jarak tempuh hanya 100 meter.
tetangga "wah twins sudah menggemaskan ya? pak rey pindah lagi kesini?"
papa rey "alhamdulillah cucu saya menggemaskan, kami lebaran disini karena di rumah anak saya orang-orang nya pada mudik"
tetangga "oh begitu syukurlah kalau pak rey disini, nanti bisa silaturahmi ke tetangga sama-sama"
papa rey "iya nanti mampir aja ke rumah"
angel "iya tante sisi dan om ramdan nanti ke rumah dulu aja setelah itu keliling bareng seperti biasa"
om ramdan "yaudah ayo berangkat sama-sama, kita jalan sambil takbiran"
di kompleks perumahan itu memang keluarga pak ramdan yang satu-satunya akrab dengan papa rey karena memang pak ramdan dan papa rey adalah orang lama di perumahan itu sedangkan yang lain banyak mereka yang pindah-pindah dan ada juga yang telah menjual rumah mereka.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
setelah selesai sholat idul Fitri para jamah pun mendengarkan sedikit khutbah.
Syukur alhamdulillah pada pagi hari ini kita telah selesai melaksanakan
ibadah puasa, shalat tarawih, menunaikan zakat dan dirangkai dengan jamaah
shalat Idul Fitri bersama-sama. Doa kita semua, mudah-mudahan puasa dan
ibadah-ibadah kita mampu menghantarkan kita meraih kebahagiaan duniawi dan
ukhrawi. Aamiin Ya Rabbal ‘aalamiin.
__ADS_1
Setelah kita Shalat Id di rumah ini dan saling memaafkan, mari kita teruskan
menyinari rumah kita dengan shalat, bacaan al-Qur’an dan shalawat serta
menjauhkan diri dari godaan syaitan. Sabda Rasulullah SAW : “Janganlah Engkau
jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan karena sesungguhnya Syaitan akan lari
dari rumah-rumah yang di dalamnya dibacakan Surat al-Baqarah”.
Hari ini adalah hari kemenangan. Kemenangan dari melawan syaithan dan syahwat. Hari ini adalah hari bergembira, yaitu bergembira atas ampunan Allah yang telah dijanjikan, yaitu gembira dengan kasih sayang Allah, gembira meraih surga Allah yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang diterima puasa mereka.
Hari ini adalah hari saling mengunjungi di antara kaum muslimin. Hari ini adalah hari saling mendoakan agar perjuangan selama sebulan penuh diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan sungguh tiada kata yang lebih indah dari doa di antara mereka,
“Semoga Allah menerima amalan kami dan kalian.”
Para Hadirin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala,
Sesungguhnya hari lebaran adalah hari untuk menunjukkan kesenangan. Oleh karenanya Nabi fdfa membolehkan kepada orang-orang habasyah untuk bermain-main di masjid Nabawi, bahkan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menonton permainan mereka, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
Kegembiraan yang begitu indah ini, ternyata pada sebagian orang menjadi hal yang mengganggu dan mengotori dirinya karena disebabkan oleh permusuhan yang masih berlanjut dan dendam yang masih membara di antara mereka. Ada di antara mereka yang berlebaran, namun di hatinya masih ada kejengkelan dan amarah kepada kerabatnya sendiri. Ada pula yang masih bermusuhan dengan saudara kandungnya, dan bahkan ada pula yang berlebaran namun menyimpan sejuta kejengkelan kepada orang tuanya sendiri. Di antara mereka telah lama tali silaturahmi terputuskan dan tercampakkan, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturrahmi.” (HR. Bukhari 8/5 no. 5984)
Silaturahmi adalah menyambung kebaikan kepada kerabat, dan kerabat adalah orang yang memiliki hubungan darah, satu nasab, atau satu rahim. Dan rahim terdekat seseorang adalah ibunya dan ayahnya, kakek dan neneknya, saudara kandungnya, saudara seayah dan saudara seibu, paman dan bibi dari kedua orang tuanya. Adapun menyambung kebaikan kepada selain kerabat merupakan hal yang dianjurkan dalam syariat, namun tidak bisa dinamakan dengan silaturahmi. Karena sebutan silaturahmi dikhusukan kepada kerabat dan kedudukannya lebih tinggi dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ketahuilah, selain ancaman terhalangi dari surga bagi orang-orang yang memutuskan silaturahmi, mereka juga termasuk orang yang dilaknat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam hadits yang sahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setelah Allah Azza wa Jalla menciptakan semua makhluk, maka rahim pun berdiri –dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan ‘Rahim itu bergantungan kepada ‘Arsy- (-pen) sambil berkata; ‘Inikah tempat bagi yang berlindung dari terputusnya silaturahim (Menyambung silaturahim).’ Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: ‘Benar. Tidakkah kamu rela bahwasanya Aku akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan yang memutuskanmu? ‘ Rahim menjawab; ‘Tentu.’ Allah berfirman: ‘ltulah yang kamu miliki.’ Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jika kamu mau, maka bacalah ayat berikut ini: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan telinga mereka serta dibutakan penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci? [QS. Muhammad 22-24]. (HR. Muslim 4/1980 no. 2554)
Di antara naasnya nasib pemutus silaturhami adalah ia tidak akan mendapatkan bonus ampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala yang dijanjikan setiap hari Senin dan hari Kamis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
__ADS_1
“Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan kamis. Semua dosa hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu akan diampuni, kecuali bagi orang yang antara dia dan saudaranya terdapat kebencian dan perpecahan.” Lalu dikatakan: ‘Tangguhkanlah dua orang ini hingga mereka berdamai! Tangguhkanlah dua orang ini hingga mereka berdamai! Tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai!” (HR. Muslim 4/1978 no. 2565)
di antara kaum muslim ada yang tidak saling meyapa saudaranya satu sama lain. Dan mereka tidak saling menyapa bukan lagi sebatas satu atau beberapa hari, akan tetapi ada yang sampai berbulan-bulan dan bahkan setahun penuh tidak menyapa saudaranya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Barangsiapa mendiamkan saudaranya selama satu tahun, maka sama saja dengan dia telah menumpahkan darahnya.” (HR. Abu Daud 4/279 no. 4915)
Sungguh menyedihkan dan sungguh celakalah orang-orang yang memutuskan silaturahmi tersebut. Bahkan jika seseorang yang memutuskan silaturahmi tetap melakukan shalat, akan tetapi bisa jadi Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menerima shalatnya. Maka jika setahun dia memutudkan silaturahmi, maka bisa jadi setahu penuh pula shalatnya tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tiga golongan yang shalatnya tidak akan di angkat meski satu jengkal dari kepalanya; Seseorang yang mengimami suatu kaum, sementara mereka tidak menyukainya; Seorang perempuan yang tidur sementara suaminya marah kepadanya; Dan dua bersaudara yang saling bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah 1/311 no. 971)
Para hadirin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala,
Pada hari yang indah ini, marilah kita memilin kembali tali rumpun persaudaraan dan kekerabatan yang terurai. Marilah kita menyambung sulaturahmi yang terputus. Kalahkan ego diri kita. Buat apa kita menyimpan dendam dan permusuhan terhadap orang terdekat kita? Ingatlah bahwa kehidupan kita hanya sebentar, maka janganlah kita rusak dengan dendam dan kejengkelan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, jika bertemu mereka saling berpa;ing, dan yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai salam.” (HR. Bukhari 8/53 no. 6237)
Para hadirin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala,
Ketahuilah bahwa silaturahmi adalah ibadah yang sangat mulia. Bahkan silaturahmi adalah salah satu sebab yang memasukkan seseorang ke dalam surga. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang ciri-ciri penghuni surga,
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d : 21)
“Mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang shalih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” (QS. Ar-Ra’d : 22-23)
pahala silaturahmi sangatlah besar. Dan tatkala kita telah tahu tentang hal itu, maka ujian untuk bersilaturahmi juga berat. Terkadang seseorang begitu mencitai hartanya, akhirnya dia merasa berat membantu keluarga dan kerabatnya. Jika terjadi demikian, hendaknya dia ingat firman Allah Subhanahu wa ta’ala,
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 177)
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5986)
Maka dari sini hendaknya kita menyadari bahwa silaturahmi adalah sebab dipanjangkannya umur dan diluaskannya rezeki.
__ADS_1
Terkadang seseorang mendapati seorang kerabat yang tidak menghargai pemberiannya, suka mengganggu dan menghinanya. Akan tetapi janganlah hal itu mengalanginya untuk menyambung silaturahmi.
setelah khutbah selesai para jamaah sholat idul Fitri pun bermaaf-maafan, setelah itu mereka semua pulang ke rumah masing-masing.