Istri Nakal Pak Ustadz

Istri Nakal Pak Ustadz
eps 180


__ADS_3

fadhil menggendong angel ke kamar untuk istirahat, begitu juga dengan radis dia menggendong fira menuju kamar tamu yang biasa mereka tempati.


sedangkan yang lain mereka pergi ke kamar tamu masing-masing sedangkan para art mereka menempati rumah art dibelakang rumah papa rey.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


keesokan harinya setelah sarapan kania terus saja menagih janji pak kyai.


pak kyai "yaudah ayo ke ruang keluarga, disana kalian bisa tanya-tanya sepuasnya"


papa ferdinand "maafkan anak saya ya pak kyai kalau merepotkan pak kyai"


pak kyai "tidak apa-apa pak ferdinand"


kania "pak kyai apa boleh seorang laki-laki menceraikan istrinya saat hamil?"


pak kyai "dalam Shahih Muslim, bahwa Nabi berpesan kepada Abdullah bin Umar saat dia menceraikan istrinya ketika haid: ‘Rujuklah kepada istrimu yang sudah kamu cerai itu. Tetaplah bersamanya sampai dia suci dari haid, lalu haid kembali kemudian suci lagi. Setelah itu silahkan kalau kamu mau mencerainya, bisa saat istri suci sebelum kamu ‘gauli’, atau saat dia hamil.”


perundang-undangan di Indonesia yang mengatur mengenai perkawinan dan perceraian. Aturan pertama adalah Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Selanjutnya, yaitu aturan Kompilasi Hukum Islam (KHI).


Pada UU Perkawinan Pasal 39 Ayat 2, disebutkan bahwa perceraian boleh diajukan oleh istri kepada suami atau sebaliknya, dengan berlandaskan pada 6 alasan, yaitu:


Jika pasangan terbukti berbuat zina, atau memiliki kebiasaan mabuk-mabukan, berjudi, mengonsumsi narkoba, atau tindakan lain yang dianggap sulit untuk disembuhkan


Pasangan pergi selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin dengan tanpa disertai alasan atau penyebab lain yang diluar kehendaknya.


Jika pasangan terbukti melakukan kejahatan dan memperoleh hukuman penjara 5 tahun atau lebih.


Pasangan melakukan tindakan penganiayaan berat atau kejam yang membahayakan nyawa.


Pasangan memperoleh cacat tubuh atau penyakit yang membuat dirinya tidak bisa menjalankan kewajiban.


Terjadi perselisihan antara suami dengan istri yang sulit untuk diselesaikan sehingga keduanya tidak bisa hidup rukun dalam rumah tangga.


Sementara itu, menurut KHI, ada 8 alasan yang dapat dipakai sebagai landasan pengajuan gugatan cerai oleh suami atau istri kepada pasangannya. Enam dari 8 alasan untuk mengajukan cerai memiliki kesamaan dengan UU Perkawinan. Sementara itu, 2 alasan tambahan lainnya yaitu:


Terjadi pelanggaran taklik talak oleh suami


Salah satu pasangan memilih untuk pindah agama atau murtad yang berujung pada ketidakharmonisan dalam kehidupan rumah tangga.


dari 2 aturan hukum yang berlaku di Indonesia di atas, seorang istri yang tengah hamil, sah-sah saja untuk mengajukan gugatan cerai kepada suaminya.


kania "ya kasian wanitanya dong pak kyai kalau boleh"


pak kyai "bercerai kan kesepakatan dari kedua belah pihak, kalau memang mereka yang menginginkan mau bagaimana lagi"


syasya "pak kyai mau tanya, dosa-dosa apa yang sering dilakukan suami? biar dia tau" tunjuknya pada revan


pak kyai "suami adalah pasangan seorang istri. Suami sejatinya menjadi teladan kebaikan bagi istrinya.


Dari suami pula seharusnya seorang istri belajar teladan dalam setiap kebaikan agar kehidupan rumah tangganya harmonis.


Diantara sekian banyak dosa suami kepada istri itu antara lain sebagai berikut.


Lupa Berbakti pada Orang Tua


Kebanyakan lelaki jika sudah menikah, seringkali ia lupa berbakti kepada kedua orang tuanya. Sejatinya, menikahi seorang wanita adalah jalan untuk menjadikan diri menjadi lebih soleh dan berbakti lagi kepada kedua orang tua, tapi kebanyakan lelaki yang sudah menikah malah lupa dan seolah melupakan kedua orang tuanya. Dulu sangat perhatian dengan orang tuanya, mendoakannya, mengunjunginya, menanyakan kabarnya, menyisihkan uang untuk kedua orang tuanya tapi setelah menikah, semua itu tinggal kenangan. Jarang telepon menanyakan kabar kedua orang tuanya, jarang mendoakannya dan hal-hal baik lainnya tidak ia lakukan lagi.


Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahhu ‘Alaihi Wasalam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Buruk Sangka pada Istri


Sejatinya, istri bisa diibaratkan pakaian yang melekat di tubuh bagi seorang suami. Karena itu, seorang suami tidak bisa lepas dari istrinya, sebab istri adalah pakaian baginya. Semestinya pula, tidak pantas seorang suami berburuk sangka kepada istri yang telah ia halalkan kehormatannya dengan dua kalimat syahadat. Islam melarang seorang Muslim berburuk sangka kepada Muslim lainnya, terlebih lagi jika itu dilakukan seorang suami kepada istrinya.


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah kamu mencari kesalahan, memata-matai,janganlah kamu berdengki-dengkian, janganlah kamu belakang-membelakangi danjanganlah kamu benci-bencian. Dan hendaklah kamu semua wahai hamba-hamba Allahbersaudara.” (HR. Bukhari)


Tidak Ada Rasa Cemburu pada Istri


Inilah salah satu dosa yang seringkali dilakukan suami kepada istrinya; tidak atau kurang memiliki rasa cemburu terhadap istrinya. Bila seorang suami tak punya sifat dan sikap cemburu kepada istrinya, maka sangat mudah bagi istri yang tak solehah untuk berselingkuh dibelakang suaminya. Tentu saja, perbuatan istri itu tidak dibenarkan syariat, sebab ada lelaki lain yang dicintainya selain suaminya.


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (meremas), maka berguguranlah dosa-dosa suami istri dari sela-sela jarinya.” (HR. Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudruzi)


Meremehkan Kedudukan Istri


Tentu bukan akhlak yang mulia jika ada seorang suami yang meremehkan kedudukan istrinya.


Seorang suami yang meremehkan kemuliaan istri biasanya karena ego suami yang terlalu tinggi dan watak kerasnya yang merasa lebih memliki power dibanding istrinya.


Meremehkan istri terkadang tidak disadari seorang suami akibat candaan-candaannya yang berlebihan, atau dengan cara lainnya.


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Saling berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum perempuan. Sebab, perempuan itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Dan bagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika kamu ingin meluruskannya, kamu pasti membuatnya patah. Namun, jika kamu membiarkannya, ia kan tetap bengkok. Jadi, saling berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum perempuan.” (HR. Bukhari).


Menyerahkan Kepemimpinannya pada Istri


Dalam keseharian, bahkan dalam kehidupan sebuah masyarakat Muslim sekalipun, terkadang masih ditemui kendali kepemimpinan diserahkan kepada seorang istri. Apa artinya seorang lelaki dijadikan pemimpin jika kepemimpinannya justeru diserahkan kepada istrinya.


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda tentang satu janji bahwa tidak akan beruntung suatu kelompok jika kepemimpinannya diserahkan kepada seorang wanita. Dari Abu Bakra, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh seorang wanita.” (HR. Ahmad, Bukhari, Tirmidzi, dan Nasa’i).


Memakan Harta Istri Tanpa Izin


Suami adalah orang yang bertanggung jawab mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Setiap harta atau rezeki yang Allah titipkan kepada seorang suami tentu saja tidak menjadi dosa ketika istrinya ikut menikmati sebab memang sang suami mencari rezeki untuk menafkahi suaminya.


Sebaliknya jika istri yang mendapatkan rezeki, maka haram hukumnya bagi suami memakan harta istrinya tanpa seizin sang istri. Harta suami yang dinafkahkan kepada istri adalah sebuah kewajiban suami.


Sebaliknya, jika ada istri yang memberikan nafkah kepada suami, maka itu sifatnya adalah sedekah.


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (Qs. An Nisa:4).


Al Bukhari meriwayatkan hadis Abu Sa’id ra dalam Shahihnya, ia berkata, “Dari Abu Sa’id al Khudri ra, Zainab, isteri Ibnu Mas’ud datang meminta izin untuk bertemu. Ada yang memberitahu, “Wahai Rasulullah, ini adalah Zainab.”


Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “Zainab yang mana?” Maka ada yang menjawab, “(Zainab) isteri Ibnu Mas’ud.”


Beliau menjawab, “Baiklah. Izinkanlah dirinya.” Maka ia (Zainab) berkata, “Wahai, Nabi Allah. Hari ini engkau memerintahkan untuk bersedekah. Sedangkan aku mempunyai perhiasan dan ingin bersedekah. Namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dirinya dan anaknya lebih berhak menerima sedekahku.”


Berselisih dengan Istri

__ADS_1


Jangan merasa karena menjadi seorang suami lalu Anda sekehendak hati meluapkan emosi kepada istri. Ingat, wanita yang kini menjadi istri Anda adalah seorang wanita yang hakikatnya telah Allah pilihkan untuk mendampingi Anda dalam menjalani kehidupan yang singkat ini. Sejatinya, istri adalah patner yang bisa menjadi tempat berbagi tentang semua masalah yang dihadapi bukan sebaliknya malah di ajak berselisih demi meluapkan semua emosi atau marah.


Meluapkan emosi kepada istri bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Seorang sahabat berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Ya Rasulullah, berpesanlah kepadaku.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpesan, “Jangan suka marah (emosi).” Sahabat itu bertanya berulang-ulang dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetap berulang kali berpesan, “Jangan suka marah!” (HR. Bukhari).


Betapa penting akhlak seorang suami untuk menahan emosinya agar tidak diluapkan kepada istrinya. Dan betapa hancur hati seorang istri jika suaminya tiba-tiba meluapkan emosinya tanpa mau menjelaskan terlebih dulu apa yang menjadi sebab ia marah-marah kepada istrinya. Di sinilah seorang suami harus mampu menahan emosinya dan mengisi spiritualnya agar mempunyai kelembutan.


Pelit pada Istri


Tidak sedikit suami yang jika mendapatkan uang lalu disimpannya sendiri di dalam dompetnya. Tak serupiah pun ia bagi kepada istrinya kecuali jika istrinya melapor karena untuk membeli kebutuhan dapur, dan anak-anaknya. Prilaku seperti ini tentu saja seolah-olah sang suami tidak mempunyai rasa percaya kepada istrinya. Padahal dalam Islam tidaklah seperti itu. Seharusnya, setelah seharian suami bekerja dan mendapatkan uang, maka ia beri tahu dan diberikan kepada istrinya. Dan jika ia perlu untuk memenuhi kebutuhannya, maka mintalah kepada istrinya. Kepercayaan suami kepada istri dengan memberikan gaji atau uang kepada istri sepenuhnya akan membuahkan rasa cinta yang semakin berlipat. Sebab istri merasakan betapa ia benar-benar telah dipercaya untuk menjadi ‘bendahara’ bagi suaminya.


Karena itu, janganlah seorang suami bersikap kikir (pelit) kepada istrinya, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang bersikap seperti itu. Dari Aisyah ra yang menyatakan bahwa Hindun binti Utbah pernah mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan (suamiku) tidak memberikan nafkah yang cukup kepadaku dan kepada anak-anakku.”


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Ambillah hartanya dengan cara yang ma’ruf (baik) sebanyak yang dibutuhkan olehmu dan anak-anakmu.” (HR. Muttafaq ‘alaih)


Banyak Mencela dan Mengritik Istri


Banyak suami yang merasa tidak berdosa jika ia mencela dan mengritik istrinya. Padahal, hati seorang istri itu begitu lembut, halus dan sensitif. Karena itu, berhati-hatilah jika bicara kepada istri, sebab bisa jadi niatnya baik untuk menasihati atau memotivasi, tapi karena kata-kata yang diucapkan tidak dengan lemah lembut, akhirnya membuat istri tersakiti. Tak ada yang membuat seorang istri menangis kecuali jika hatinya terluka.


Mencela memang tidak boleh dilakukan oleh seorang Muslim kepada Muslim lainnya, terlebih lagi kepada istrinya sendiri. Mengritik boleh-boleh saja selama kritik itu justeru membangun dan memotivasi istri untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri dan keilmuan agar menjadi istri dan ibu yang solehah. Tapi tentu saja, kritik membangun itu tetap harus disampaikan dengan kata-kata yang penuh ruh kasih sayang.


Suami yang lemah lembut merupakan lelaki yang sempurna imannya sebab ia telah berbuat baik kepada istrinya. Hal ini seperti diingatkan dalam sebuah hadis.


Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya dan orang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi).


Tidak Berdoa Ketika Menggauli Istri


Islam adalah agama beradab yang mengajarkan kepada setiap pemeluknya agar berakhlak mulia dalam memperlakukan istri termasuk saat menggaulinya. Ada kelembutan, kasih sayang, dan tentu saja berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saat akan menggauli istri agar mendapat keberkahan dari Allah Ta’ala. Tapi hari ini, tak sedikit suami yang menggauli istrinya tanpa membaca doa. Sebabnya entah ia tidak memahami adab berjima’ (bersetubuh) atau memang ia lupa karena buncahan nafsu yang bergejolak.


Padahal sejak 1400 tahun lalu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah mengajarkan kepada setiap suami agar berdoa kepada Allah sebelum ia menyetubuhi istrinya.


Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”


Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Maka, bila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya setan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.” (HR. Bukhari (no. 141, 3271, 3283, 5165), Muslim (no. 1434), Abu Dawud (no. 2161), at-Tirmidzi (no. 1092).


Menyebarkan Rahasia Ranjang pada Orang Lain


Tentu bukan sikap yang teramat buruk jika ada seorang suami yang tanpa merasa berdosa menceritakan rahasia ranjang bersama istrinya kepada orang lain.


Selain secara akal sehat adalah sebuah prilaku yang tidak bisa diterima akal sehat, juga dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya.” (HR. Ibn Abi Syaibah, Ahmad, dan Muslim)


Menggauli Istri ketika Haid dan Melalui Anusnya


Di antara dosa seorang suami yang sering dilakukan kepada istrinya adalah menggaulinya saat ia haid atau menggaulinya melalui anus (*****)nya.


Istri memang pakaian bagi suaminya, tapi bukan berarti seorang suami bebas menggauli istrinya melalui anus atau menggaulinya saat istri sedang haid.


Firman Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ’Haid itu adalah suatu kotoran’. Oleh karena itu hendaklah engkau menjauhkan diri dari wanita (istri, red) di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sampai mereka suci. Bila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (Qs. Al Baqarah: 222)


Dalam beberapa hadis, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dilaknat, orang yang mendatangi perempuan pada duburnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasaa’i)


Diriwayatkan oleh Ash-habus Sunan, kecuali an-Nasa-i, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mencampuri wanita (istri) yang sedang haidh atau (mencampuri) wanita pada duburnya, atau (mendatangi) dukun, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa (wahyu) yang diturunkan pada Muhammad.” (HR. At-Tirmidzi (no. 135) kitab ath-Thahaarah, Abu Dawud (no. 3904) kitab ath-Thibb, Ibnu Majah (no. 639) kitab ath-Thahaarah wa Sunanuhaa, Ahmad (no. 9035)).


syasya "tuh mas kalau di suruh telpon papa fer sama mama ev itu ya di telpon"


syasya "awas aja iya-iya kalau besok lupa"


revan "iya janji gak lupa"


alfa "kakak ipar kena marah ya?"


kania "kamu juga tuh mas kalau disuruh tanya kabar ayah bunda selalu saja menghindar"


fadhil "kalian itu sama kenapa saling mengejek"


radis "punya orang tua sama mertua tuh di telpon meskipun hanya basa-basi tanya kabar, ya paling tidak seminggu sekali"


fira "unch suami tersayang"


pak kyai "sudah kan? tidak ada yang ditanya lagi?


fira "ada, fira mau tanya"


pak kyai "yaudah silahkan"


fira "bagimana jika orang tua memaksakan kehendaknya tehadap anak?"


pak kyai "orang tua memaksa anak menjadi seperti yang mereka inginkan. Anak tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa saja lantaran mereka takut, terlalu menyayangi orang tua, tak ingin menyakiti orang tua, dan bermacam alasan lainnya.


Anak akan menuruti keinginan orang tuanya. Jauh di dalam hati, ia tidak bahagia. Ia merasa hidupnya hampa, tertekan, dan menyakitkan. Menurutnya, orang tua terlalu kuat dalam mengatur dan memaksakan rencana hidupnya. Anak menjadi tidak bebas menentukan pilihan. Semua pilihan telah ditentukan orang tua.


Akibatnya, selama sisa hidupnya, anak tidak akan bahagia. Anak akan terus-menerus merasa tertekan. Ia menjalani pilihan orang tuanya dengan berat hati. Tekanan jiwa dan hidup yang kurang bahagia dapat berpengaruh pada kesehatannya. Tak tertutup kemungkinan, kondisi fisik dan psikis anak menurun. Tubuh dan jiwanya menjadi tidak sehat. Hidupnya menjadi tidak segar. Bahkan ia bisa kehilangan semangat hidup. Anak yang telah kehilangan harapan untuk mewujudkan cita-citanya karena orang tua akan menjalani hidupnya dengan keterpaksaan.


Memaksa anak mengiyakan keinginan orang yang lebih tua tetapi tidak memberi penjelasan yang dapat mereka pahami. Hal ini sangat tidak mendidik seolah anak dikondisikan pada posisi bahwa dirinya harus selalu mau menuruti keinginan orang dewasa. Padahal orang dewasa tersebut belum tentu baik meski anak tidak paham mengapa hal itu harus dilakukan. Ini berpotensi membuka celah anak menjadi perlahan kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri.


angel "Orang tua terkadang memberikan ekspektasi-ekspektasi tertentu kepada anak mereka. Sebagai contoh, terkadang orang tua berharap anak mereka menjadi seperti yang mereka inginkan misalkan ada orang tua yang ingin anaknya menjadi polisi, tentara, dokter, atlet, ataupun lainnya. Selain itu, ada juga orang tua yang memaksakan kehendak terhadap anak mereka. Misalnya memaksakan anak mereka untuk menjadi anak yang sangat rajin beribadah, menjadi juara kelas, jago berbahasa asing, dan sebagainya.


Sebenarnya hal tersebut sah-sah saja dan masih tergolong wajar. Sebab setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak mereka. Namun para orang tua hendaknya wajib lebih berhati-hati dengan kehendak mereka dan jangan sampai berlebihan. Pasalnya, dalam Islam sesungguhnya orang tua dilarang membebani anak mereka secara berlebihan.


Allah sendiri tidak pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu saat orang tua ingin anaknya melakukan ketaatan atau ingin anaknya menjadi seperti yang mereka inginkan, hendaknya para orang tua mempertimbangkan kemampuan sang anak. Sehingga orang tua tak boleh memberikan beban yang belum sanggup dipikul oleh sang anak.


Sebagaimana Allah berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Jangankan kepada anak, bahkan Rasulullah SAW pun menganjurkan umatnya untuk tidak membebani budak-budak yang mereka miliki di luar batas kemampuan mereka. Rasulullah SAW bersabda, “Dan janganlah kalian membebani mereka atas beban yang mereka tidak sanggup. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Jika seorang budak saja dilarang untuk dibebani, maka seorang anak pun juga tidak diperbolehkan untuk terlalu dibebani di luar kesanggupan mereka. Misalnya saja, seorang ibu ingin anaknya menjadi anak yang cerdas dan menjadi juara kelas. Lalu sang ibu setiap hari memberikan anaknya fasilitas pelajaran tambahan melalui bimbingan belajar. Maka hendaknya sang ibu menyesuaikan jumlah jam tambahan pelajaran tersebut dengan kemampuan fisik sang anak.


Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW saat Ibnu ‘Umar RA ingin ikut berjihad dalam peperangan bersama dengan Rasulullah SAW. Namun saat itu Rasulullah SAW menolak permintaan Ibnu ‘Umar RA, sebab Ibnu ‘Umar RA dianggap masih belum layak untuk berjihad dan berperang. Dalam sebuah hadis dijelaskan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari mengecek barisan pasukan pada perang Uhud. Ibnu ‘Umar mengatakan, “Ketika itu aku berusia 14 tahun.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengizinkanku (untuk ikut perang). Kemudian beliau mengecek barisan pasukan pada perang Khondaq, ketika itu aku berusia 15 tahun dan beliau pun mengizinkanku (untuk ikut perang).” (HR. Bukhari)


Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya memperhatikan kemampuan anak. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian menjadi imam shalat suatu kaum, maka hendaklah dia ringankan. Sebab di antara mereka ada anak-anak kecil, orang yang sudah tua, orang yang lemah, dan orang yang sakit. Namun jika dia shalat sendirian, maka silahkan dia shalat sepanjang yang dia inginkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)


orang tua hendaknya lebih memperhatikan kemampuan anak. Hendaknya para orang tua tidak terlalu memaksakan kehendak dan tidak membebani anak di luar batas kesanggupan mereka.


pak kyai "nah sudah ditambah sama menantu abi, jadi sudah cukup ya"


fadhil "fadhil nambah dulu bi"

__ADS_1


pak kyai "yaudah silahkan nak"


fadhil "Orang tua sesunguhnya tidak bebas berbuat apa saja kepada anak-anaknya. Ada adab atau etika tertentu yang harus diperhatikan para orang tua sehubungan adanya kewajiban anak-anak berbakti kepada mereka. Menurut Imam Al-Ghazali sebagaimana disebutkan dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444) setidaknya ada lima (5) adab orang tua terhadap anak-anaknya sebagai berikut:


Pertama, membantu anak-anak bersikap baik kepadanya. Sikap anak kepada orang tua sangat dipengaruhi sikap orang tua kepada mereka. Jika orang tua sayang kepada anak-anak, mereka tentu akan membalas dengan kebaikan yang sama. Tidak mungkin anak-anak bersikap baik kepada orang tua, jika mereka diperlakukan semena-mena. Oleh karena itu ketika orang tua bersikap baik kepada anak-anaknya, sesungguhnya orang tua telah mendidik dan membantu anak-anaknya menjadi anak yang baik pula.


Kedua, tidak memaksa anak-anak berbuat baik melebihi batas kemampuannya. Orang tua perlu memahami psikologi perkembangan agar anak-anak dapat menjalani kehidupannya sesuai dengan fase-fase perkembangannya. Tidak bijak apabila anak-anak yang masih duduk di bangku TK sudah diperintahkan berpuasa sehari penuh selama Ramadhan. Mereka memang perlu dilatih berpuasa tetapi tidak boleh seberat itu. Demikian pula tidak bijak apa bila orang tua memaksakan kehendaknya agar mereka selalu menduduki ranking 1 di kelasnya, misalnya, sementara kemampuannya kurang mendukung.


Ketiga, tidak memaksa anak-anak saat susah. Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga bisa merasakan susah, misalnya karena kehilangan sesuatu yang menjadi kesayangannya seperti binatang kesayangan atau lainnya. Pada saat seperti ini orang tua sebaiknya dapat memahmi psikologi anak dengan tidak menambahi bebannya. Misalnya, orang tua melakukan perintah-perintah yang banyak dan berat sehingga menambah beban anak. Justru sebaiknya orang dapat menghibur dan membesarkan hati anaknya bahwa Allah akan mengganti apa yang hilang dari anak itu dengan sesuatu yang lebih baik.


Keempat, tidak menghalangi anak-anak untuk berbuat taat kepada Allah SWT. Tidak sebaiknya orang tua menghalangi anak-anak ketika mereka bermaksud melakukan ketaatan kepada Allah SWT, misalnya, berlatih puasa sunnah Senin-Kamis. Tetapi memang orang tua perlu memberi arahan untuk tidak berpuasa dahulu, misalnya, ketika kondisi anak sedang sakit. Orang tua perlu menjelaskan bahwa beberapa orang diperbolehkan tidak berpuasa, misalnya orang-orang yang sedang sakit, atau seorang ibu yang sedang menyusui anaknya yang masih kecil. Untuk puasa Ramadhan memang harus diganti apabila ditinggalkan, edang puasa sunnah tidak harus diganti.


Kelima, tidak membuat anak-anak sengsara disebabkan pendidikan yang salah. Adalah kewajiban orang tua mendidik anak dengan sebaik-baiknya sehingga anak memiliki ilmu yang cukup dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan. Apabila orang tua tidak cukup membekali anak dengan ilmu dan ketrampilan yang diperlukan dan malahan memanjakannya, maka hal ini bisa menyengsarakan anak di kemudian hari. Anak bisa bodoh dan tidak mandiri dalam banyak hal sehingga tidak bisa menolong dirinya sendiri apalagi orang lain. Keadaan seperti ini akan membuat anak sengsara dalam hidupnya.


angel "Setiap orangtua tentu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Memaksakan kehendak pada anak dengan dalih kebaikan, pun menjadi hal yang tak jarang ditemui.


Dalam ilmu pengasuhan anak, pola asuh yang memaksakan kehendak pada anak ini disebut authoritarian parenting atau pola asuh otoriter. Seperti namanya, pola asuh otoriter merupakan gaya pengasuhan yang membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti semua perintah orangtua.


Orangtua yang memiliki pola asuh otoriter akan cenderung menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang besar bagi anak untuk mengemukakan pendapat. Orangtua otoriter juga umumnya bersikap sewenang-wenang dalam membuat keputusan dan memaksakan peran atau pandangan pada anak, atas dasar kemampuan dan kekuasaan diri.


Jika orangtua menerapkan pola asuh seperti ini, akan ada cukup banyak dampak negatif bagi tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak.


dampak menerapkan pola asuh otoriter dengan memaksakan kehendak pada anak:



Takut Berpendapat



Anak yang dibesarkan dengan orangtua yang suka memaksakan kehendak akan cenderung takut untuk mengemukakan pendapat, ketika memasuki dunia sekolah dan kerja. Sebab, orangtua mereka terbiasa untuk menutup rapat-rapat ruang untuk berdiskusi. Hal ini akan membuat anak merasa ragu dan takut ketika akan mengutarakan pendapatnya pada orang lain.



Tidak Bisa Membuat Keputusan



Tak hanya takut berpendapat, anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter juga akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak bisa membuat keputusan sendiri. Hal ini karena sejak kecil mereka terbiasa mengikuti semua hal yang dikatakan dan diputuskan oleh orangtuanya. Selain itu, anak akan mengalami kesulitan untuk menolak atau mengatakan tidak pada orang lain.



Agresif



Berkebalikan dengan 2 dampak buruk tadi, anak yang dibesarkan oleh orangtua yang suka memaksakan kehendak juga bisa tumbuh menjadi pribadi yang agresif. Sebab, tipe orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter biasanya lahir dari pola asuh serupa yang diterima ketika kecil. Karena terbiasa menerima pola asuh tersebut, mereka tumbuh dewasa dan menjadi orangtua yang keras pada anak dengan alasan mendidik.


Pola asuh keras ini kerap disertai dengan hukuman fisik sebagai ganjaran, jika anak melakukan kesalahan. Hal inilah yang dapat membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang agresif. Agresivitas ini umumnya terbentuk dari kemarahan atau perasaan negatif yang tertumpuk. Jadi, ketika anak sering mendapatkan hukuman fisik, mungkin saja ia menjadi marah dengan keadaan, lalu menyalurkannya dalam bentuk agresivitas pada orang lain.



Mengganggu Kesehatan Mental



Pola asuh otoriter dan kebiasaan memaksakan kehendak pada anak akan berpengaruh pada kesehatan mental anak, lho. Anak yang sejak kecil selalu dikontrol kehidupannya akan cenderung tidak bahagia dan rentan depresi. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua tidak menerapkan pola asuh seperti ini pada anak.



Kurang Memiliki Motivasi



Kebebasan anak yang dikekang oleh kehendak orangtua dapat membuat anak kurang memiliki motivasi, terutama dalam menentukan perilaku yang tepat. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah takut dan cemas, lantaran kurang terpenuhinya rasa aman dan kasih sayang dari orangtua.


papa rey "orang tua memaksa anak menjadi seperti yang mereka inginkan. Anak tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa saja lantaran mereka takut, terlalu menyayangi orang tua, tak ingin menyakiti orang tua, dan bermacam alasan lainnya.


Anak akan menuruti keinginan orang tuanya. Jauh di dalam hati, ia tidak bahagia. Ia merasa hidupnya hampa, tertekan, dan menyakitkan. Menurutnya, orang tua terlalu kuat dalam mengatur dan memaksakan rencana hidupnya. Anak menjadi tidak bebas menentukan pilihan. Semua pilihan telah ditentukan orang tua.


Akibatnya, selama sisa hidupnya, anak tidak akan bahagia. Anak akan terus-menerus merasa tertekan. Ia menjalani pilihan orang tuanya dengan berat hati. Tekanan jiwa dan hidup yang kurang bahagia dapat berpengaruh pada kesehatannya. Tak tertutup kemungkinan, kondisi fisik dan psikis anak menurun. Tubuh dan jiwanya menjadi tidak sehat. Hidupnya menjadi tidak segar. Bahkan ia bisa kehilangan semangat hidup. Anak yang telah kehilangan harapan untuk mewujudkan cita-citanya karena orang tua akan menjalani hidupnya dengan keterpaksaan.


mama cantika "Sebagai orangtua milenial, kita dituntut untuk mampu mendidik anak sekaligus menjadi temannya. Secara teori mungkin mudah, apalagi jika orangtua kita dahulu berhasil menjadi teman sekaligus panutan bagi kita. Tetapi, bagi mereka yang dibesarkan oleh orangtua dengan pola komunikasi satu arah serta kental dengan relasi orangtua dan anak yang tidak seimbang, hal ini tentu akan menjadi tantangan. Meskipun kita tidak setuju dengan pola asuh semacam itu, terkadang alam bawah sadar kita masih mengadopsi cara-cara pengasuhan generasi tedahulu, khususnya saat kita dalam kondisi emosi.


Relasi orangtua yang merasa lebih berkuasa terhadap anak tersebut terwujud dalam bentuk perintah, hukuman, larangan tanpa adanya komunikasi timbal balik dan kesepakatan terlebih dahulu. Selain itu, pengambilan keputusan sering dilakukan menurut standar ideal orangtua, mulai dari masalah mengikuti les, memilih jurusan saat kuliah, pekerjaan, hingga jodoh.


Kekerasan fisik, verbal, seksual, maupun psikologis seperti pemaksaan kehendak akan berdampak buruk pada anak tidak hanya pada saat hal tersebut terjadi, juga pada kepribadian, pola pikirnya, relasinya dengan orang lain, dan masa depannya. Karena itu, kita sebagai orangtua harus sadar bahwa anak juga manusia yang memiliki kehendak dan kelak menentukan jalan hidupnya sendiri.


Terkadang, kita menganggap mereka hanyalah “anak kecil”, baik pendapatnya, haknya, keinginannya. Seolah semua bisa kita kendalikan jika ada yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Padahal, respect atau menghargai anak salah satu kunci yangbisa menghindarkan kita dari kekerasan. Jika kita ingin melakukan sesuatu pada anak, tanya diri kita sendiri, maukah kita diperlakukan demikian? Memang benar mereka membutuhkan perhatian, bimbingan, dan perlindungan dari kita, namun semua itu bisa dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyakiti perasaan.


Ketika anak sudah mulai bisa diajak berkomunikasi, ajari mereka untuk berdiskusi tentang keputusan yang akan diambil. Hindari mengambil keputusan tentang mereka yang tidak mereka sukai karena hal tersebut merupakan pemaksaan, kecuali hal tersebut bersifat darurat seperti tindakan medis. Tentu saja, untuk mampu dapat berkomunikasi secara efektif, kita harus membiasakan diri untuk mengajak anak berdiskusi, meskipun itu sesederhana memilih menu sarapan atau pakaian. Ajak anak untuk melihat sisi baik dan buruk setiap pilihan sebelum memutuskan. Jika keputusan tersebut pada akhirnya tidak menguntungkan, disitulah anak belajar tentang konsekuensi.


Orangtua memang lebih tua daripada anak, namun tidak berarti lebih berkuasa dan sah untuk menuntut anak untuk bisa ini itu. Yakinkan diri bahwa anak itu pada dasarnya baik sehingga tidak perlu disalahkan, dihukum, disogok sebagai cara untuk mempengaruhi perilaku mereka. Jika ingin anak berperilaku tertentu, beri contoh. Jika ingin mereka menghormati kita, hormati mereka. Jika ingin mereka mendengarkan kita, dengarkan mereka. Jika ingin anak menjadi orang yang baik, bersikap baiklah pada mereka.


Yang perlu kita ingat, membesarkan anak membutuhkan proses sehingga hasilnya tidak bisa langsung dinikmati. Memanfaatkan kuasa kita sebagai orang tua memang terlihat lebih mudah, anak lebih mudah diatur, lebih patuh. Tapi, apa benar tujuan kita mendidik mereka hanya sekadar agar patuh dan mudah diatur? Mungkin kita perlu tanyakan pada diri sendiri, manusia seperti apa yang ingin kita hasilkan dari proses pengasuhan ini. Fokuslah pada menjalin hubungan dengan anak, bukan sekadar membuat anak memenuhi standar kita. Jika masalah muncul, komunikasikan dengan anak alih-alih mengontrol mereka.


papa Satria "Orang tua dapat berdiskusi dengan anak mengenai hal-hal positif, negatif, hambatan, dan pendukung yang dapat memengaruhi cita-cita anak. Terkadang, orang tua juga perlu membantu anak melihat masa depan lebih jauh.


jika orang tua melarang cita-cita anak dan memaksakan kehendaknya, dampaknya tidak akan baik ke anak. Anak akan kehilangan motivasinya. Keterbukaan anak dan orang tua juga mungkin menjadi menipis.


Anak yang terbiasa dengan sikap otoriter dari orang tua sering kali tumbuh dengan kurang inisiatif diri. Termasuk, kurang berani berkeinginan dan mengandalkan orang tua untuk menetapkan cita-citanya.


Sebaliknya, jika orang tua mendukung cita-cita anak, anak menjadi lebih terarah. Anak juga akan terfasilitasi dan memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat sukses.


Berkomunikasi dengan anak merupakan bentuk pendidikan yang paling penting. Namun tahukah Parents, ketika berbicara pada anak tidak hanya menggunakan pilihan kata (diction) yang tepat. Namun sebagai orang tua perlu memperhatikan nada suara, intonasi, dan cara menyampaikan bahasa yang baik.


Memaksa anak mengiyakan keinginan orang yang lebih tua tetapi tidak memberi penjelasan yang dapat mereka pahami. Hal ini sangat tidak mendidik seolah anak dikondisikan pada posisi bahwa dirinya harus selalu mau menuruti keinginan orang dewasa. Padahal orang dewasa tersebut belum tentu baik meski anak tidak paham mengapa hal itu harus dilakukan. Ini berpotensi membuka celah anak menjadi perlahan kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri.


Jangan hanya orang tua saja yang ingin didengar. Konsep sederhananya, jika bersedia mendengarkan anak lebih banyak, orang tua akan dimudahkan memantau perkembangan dan lebih gampang masuk ke dunia mereka. Karena kita paham bagaimana cara berpikir anak.


Orang tua jangan men-judge atau melabelkan anak dengan kalimat atau kata negatif. Meski komunikasi yang kedua ini cukup banyak dan mudah kita temui di lingkungan, kita harus paham bahwa efeknya sangat buruk bagi pembentukan konsep diri anak.


Dinamika psikologisnya bisa sampai ke tahap anak merasa kurang, tidak berharga, perasaan tidak bernilai, tidak penting, dan yang terburuk ketika muncul prasangka buruk anak sebagai efek dari ucapan yang dilarang tersebut. Bahwa dia adalah anak yang sebenarnya tidak diinginkan keberadaannya oleh orang tua.


Ketika orang tua memaksa anak. Sebaiknya orang tua berpikir untuk menawarkan pilihan kepada anak. Tentu saja pilihan yang sesuai harapan orang tua. Bukan sekadar pilihan bebas yang berpotensi menjadi boomerang bagi orang tua.

__ADS_1


fira "aku pusing dengar jawabannya"


angel "ya makanya belajar dari sekarang syafira"


__ADS_2