
setelah puas berbincang-bincang dengan para orang tua dan meminta saran mereka semua pergi meninggalkan kediaman papa rey.
fadhil "yang mau istirahat nggak?"
angel "iya aku ngantuk"
fadhil "yaudah ayo ke kamar"
angel "papa, abi umi angel ke kamar dulu"
papa rey "iya, istirahatlah"
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
sesampainya di kamar angel langsung mencium bibir suaminya dan fadhil segera mengunci pintunya.
setelah merasa kehabisan nafas baik angel dan fadhil melepaskan ciuman panas mereka.
fadhil "kau sudah membangunkan nya jadi kau harus bertanggung jawab istriku"
angel "hahaha baiklah aku akan bertanggung jawab sebelum kau puasa 40 hari sayang"
fadhil "itu harus"
dan terjadilah olahraga panas mereka siang hari.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
malam harinya kediaman papa rey kembali menerima tamu, tamu tersebut adalah papa demian sekeluarga.
papa rey "ada apa dem? tumben gak ngasih tau"
papa demian "ada yang ngidam lagi"
papa rey "ngidam apa sya?
syasya "pengen dengerin umi Aisyah ceramah"
umi Aisyah "haa umi? gak salah sya? pak kyai saja ya?"
syasya "pengennya umi"
umi Aisyah "baiklah, duduklah kamu mau tema apa?"
syasya "maunya di gazebo taman belakang temanya perempuan"
umi Aisyah "baiklah kalau gitu ke taman belakang"
di taman belakang....
digazebo berukuran 8x4 meter itu mereka duduk kecuali angel yang tiduran di pangkuan fadhil.
umi Aisyah "assalamualaikum wr. wb
Alhamdulillaahi robbil ‘alamiin, wassolaatu wassalaamu’alaa asrofil anbiyaa ii wal mursaliin Sayyidina Muhammadin, wa’ala alihi wa’ashohbihi ajma’in,
Robbis shrohli shodri wa ya shirli amri wahlul uqdatammil lisaani yafkohu kauli, amma ba’du.
__ADS_1
Puji syukur kehadirat Allah swt. yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul bersama dalam acara pengajian ini dalam keadaan sehat tanpa halangan suatu apapun.
Tak lupa sholawat serta salam kita junjungkan kepada kita Nabi Besar Muhammad saw, beserta keluarga dan para sahabatnya. Mudah-mudahan kita semua mendapatkan syafaatnya pula di Yaumul Akhir nanti. Amiiin...... amiiin....... allahuma aamiiin.
wanita adalah kunci kebaikan suatu umat. Wanita bagaikan batu bata, ia adalah pembangun generasi manusia. Maka jika kaum wanita baik, maka baiklah suatu generasi. Namun sebaliknya, jika kaum wanita itu rusak, maka akan rusak pulalah generasi tersebut.
Maka, engkaulah wahai saudariku… engkaulah pengemban amanah pembangun generasi umat ini. Jadilah engkau wanita muslimah yang sejati, wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya. Yang menjunjung tinggi hak Rabb-nya. Yang setia menjalankan sunnah rasul-Nya.
Allah telah menciptakan manusia dalam jenis perempuan dan laki-laki dengan memiliki kewajiban yang sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Dia telah menempatkan pria dan wanita pada kedudukannya masing-masing sesuai dengan kodratnya. Dalam beberapa hal, sebagian mereka tidak boleh dan tidak bisa menggantikan yang lain.
Keduanya memiliki kedudukan yang sama. Dalam peribadatan, secara umum mereka memiliki hak dan kewajiban yang tidak berbeda. Hanya dalam masalah-masalah tertentu, memang ada perbedaan. Hal itu Allah sesuaikan dengan naluri, tabiat, dan kondisi masing-masing.
Allah mentakdirkan bahwa laki-laki tidaklah sama dengan perempuan, baik dalam bentuk penciptaan, postur tubuh, dan susunan anggota badan.
“Dan laki-laki itu tidaklah sama dengan perempuan.” (Qs. Ali Imran: 36)
Karena perbedaan ini, maka Allah mengkhususkan beberapa hukum syar’i bagi kaum laki-laki dan perempuan sesuai dengan bentuk dasar, keahlian dan kemampuannya masing-masing. Allah memberikan hukum-hukum yang menjadi keistimewaan bagi kaum laki-laki, diantaranya bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada kaum laki-laki dan bukan kepada perempuan, laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari bagian perempuan dalam hal warisan, dan lain-lain. Sebaliknya, Islam telah memuliakan wanita dengan memerintahkan wanita untuk tetap tinggal dalam rumahnya, serta merawat suami dan anak-anaknya.
Berhijab merupakan kewajiban yang harus ditunaikan bagi setiap wanita muslimah. Hijab merupakan salah satu bentuk pemuliaan terhadap wanita yang telah disyariatkan dalam Islam. Dalam mengenakan hijab syar’i haruslah menutupi seluruh tubuh dan menutupi seluruh perhiasan yang dikenakan dari pandangan laki-laki yang bukan mahram. Hal ini sebagaimana tercantum dalam firman Allah Ta’ala:
وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
“dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya.” (Qs. An-Nuur: 31)
Mengenakan hijab syar’i merupakan amalan yang dilakukan oleh wanita-wanita mukminah dari kalangan sahabiah dan generasi setelahnya. Merupakan keharusan bagi wanita-wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam untuk meneladani jejak wanita-wanita muslimah pendahulu meraka dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah dalam masalah berhijab. Hijab merupakan cermin kesucian diri, kemuliaan yang berhiaskan malu dan kecemburuan (ghirah).
sesungguhnya agama islam tidak melihat seseorang hanya dari kekayaan, ketampanan, ataupun jenis kelaminnya. Semuanya sama dihadapan Allah, termasuk para wanita yang Allah muliakan derajatnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. An-nisa:124
Yang artinya “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang dia orang beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”.
Agungnya tugas dan peran wanita ini terlihat jelas pada kedudukannya sebagai pendidik pertama, yang dengan memberikan bimbingan yang baik bagi putra/putrinya, berarti telah mengusahakan perbaikan besar bagi masyarakat dan umat islam. Pentingnya peran wanita, maka hendaklah seorang wanita haruslah mampu menjadi seorang suri teladan bagi anak-anaknya kelak dan membekali nya dengan akhlak yang baik.
Seperti yang kita ketahui selama ini wanita adalah setengah dari bangsa, karena memiliki pengaruh yang sangat dominan bagi keberlangsungan sebuah bangsa, terlebih wanitalah yang akan melahirkan dan mendidik para generasi yang akan datang sekaligus pemberi pengaruh pertama kali bagi kehidupan generasi dan pemimpin bangsa. Dari sekian tugas penting yang dimiliki oleh wanita, kita memahami bahwa wanita bukan makhluk kelas dua setelah laki-laki, hal ini juga telah jelas diatur dalam Islam, yaitu dengan cara membangun sistem, membuat kaidah dan rambu-rambu yang lebih terperinci dalam pembahasan mengenai wanita.
Terkait dengan perhatian dan apa yang telah disumbangkan Islam terhadap kaum wanita, hal ini sudah jelas sekali tertulis dalam Alquran dan Hadits, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam khutbah Haji Wada:
“Perlakukan kaum wanita dengan baik.” (Al-Hadits)
Wanita bukanlah “budak peradaban”, seperti anggapan orang jahiliyah terdahulu dan perilaku budaya masyarakat sekarang yang merendahkan kaum perempuan. Anggapan seperti ini telah ditepis sejak Islam datang ke muka bumi. Bahkan Rasulullah SAW memuliakan kaum wanita dengan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya perlakuan dengan memperhatikan perasaan kaum perempuan. Perhatikan kisah Rasulullah bersama istri-istrinya, anak-anak perempuannya dan para shahabiyah.
Islam memberikan kesetaraan hak antara kaum pria dan wanita, berbeda dengan cara pandang feminisme yang dibawa oleh sekelompok aktivis wanita Barat dengan berbagai definisi yang sangat relatif dengan makna yang paling mendasar, yaitu keyakinan bahwa perempuan benar-benar bagian dari manusia, dan bukan jenis yang terpisah. Allah menjelaskan tentang penciptaan manusia, sebagaimana firman-Nya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari pada Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah mengembangbiakkan pria dan wanita yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (Mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim, Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa: 1)
Islam juga telah menyamakan hak-hak kaum pria dan wanita dalam firman-Nya : “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dapada istrinya” (QS Al-baqarah: 228)
Wanita Muslimah Menghadapi Tantangan Dunia Modern
Yollanda Vusvita Sari, M.Pd dalam rubrik Wanita Pada 16/09/15 | 08:39
Ilustrasi. (alaudeen313.deviantart.com)
Wanita dalam Pandangan Islam
dakwatuna.com – Wanita merupakan pembahasan yang sangat penting terutama terkait eksistensi wanita dalam dalam membangun bangsa ini. Seperti yang kita ketahui selama ini wanita adalah setengah dari bangsa, karena memiliki pengaruh yang sangat dominan bagi keberlangsungan sebuah bangsa, terlebih wanitalah yang akan melahirkan dan mendidik para generasi yang akan datang sekaligus pemberi pengaruh pertama kali bagi kehidupan generasi dan pemimpin bangsa. Dari sekian tugas penting yang dimiliki oleh wanita, kita memahami bahwa wanita bukan makhluk kelas dua setelah laki-laki, hal ini juga telah jelas diatur dalam Islam, yaitu dengan cara membangun sistem, membuat kaidah dan rambu-rambu yang lebih terperinci dalam pembahasan mengenai wanita.
Terkait dengan perhatian dan apa yang telah disumbangkan Islam terhadap kaum wanita, hal ini sudah jelas sekali tertulis dalam Alquran dan Hadits, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam khutbah Haji Wada:
“Perlakukan kaum wanita dengan baik.” (Al-Hadits)
__ADS_1
Wanita bukanlah “budak peradaban”, seperti anggapan orang jahiliyah terdahulu dan perilaku budaya masyarakat sekarang yang merendahkan kaum perempuan. Anggapan seperti ini telah ditepis sejak Islam datang ke muka bumi. Bahkan Rasulullah SAW memuliakan kaum wanita dengan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya perlakuan dengan memperhatikan perasaan kaum perempuan. Perhatikan kisah Rasulullah bersama istri-istrinya, anak-anak perempuannya dan para shahabiyah.
Begitulah Islam memandang wanita, lantas mengapa di era globalisasi sekarang ini kita masih saja mendengar teriakan seorang wanita yang menuntut hak-haknya. Sehingga lahirlah wacana kesetaraan gender dan feminisme? Islam memberikan kesetaraan hak antara kaum pria dan wanita, berbeda dengan cara pandang feminisme yang dibawa oleh sekelompok aktivis wanita Barat dengan berbagai definisi yang sangat relatif dengan makna yang paling mendasar, yaitu keyakinan bahwa perempuan benar-benar bagian dari manusia, dan bukan jenis yang terpisah. Allah menjelaskan tentang penciptaan manusia, sebagaimana firman-Nya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari pada Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah mengembangbiakkan pria dan wanita yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (Mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim, Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa: 1)
Islam juga telah menyamakan hak-hak kaum pria dan wanita dalam firman-Nya : “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dapada istrinya” (QS Al-baqarah: 228)
Untuk para wanita, jangan merasa tidak percaya diri, walau dalam ayat ini dinyatakan bahwa suami memiliki satu tingkat kelebihan daripada istrinya sehingga kemudian muncul anggapan bahwa Islam bias gender. Wanita memiliki keunggulan dibandingkan pria dalam hal mengurus rumah tangga dan mendidik anak. Kesemua hal tersebut sudah diatur oleh Allah, sehingga keunggulan wanita tersebut sudah sesuai dengan fitrah jasmani dan kejiwaannya yang penyayang, lemah lembut dan keibuan.
Bahkan Islam juga menyamakan pria dan wanita dalam pelaksanaan kewajiban syar’i dan ganjaran pahala yang didapatkannya. Firman Allah SWT: “Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik pria maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS An-Nahl: 97)
Islam tetap memperbolehkan wanita bekerja atau memegang jabatan-jabatan publik tetapi tetap dalam menjaga adab syar’i dan batas etika yang wajar dalam Islam. Banyak pandangan yang keliru tentang wanita bekerja, salah satunya adalah pandangan yang keliru menganggap wanita yang bekera di luar untuk memperoleh nafkah penghasilan lebih baik daripada mengerjakan kewajiban sebagai seorang istri yang berdiam di rumah dan hanya mengurus anak dan keluarga.
Jika wanita keluar rumah dengan niat untuk mencari nafkah maka ia akan mengeluarkan uang lebih banyak untuk keperluan merias diri seperti pakaian, parfum, kosmetik dan perhiasan. Misalkan pegawai kantoran, yang mau tidak mau harus merias diri dan berpenampilan menarik, dan kesemua hal tersebut membutuhkan banyak uang untuk memenuhinya. Oleh sebab itu pilihlah lapangan pekerjaan dan mitra kerja yang sesuai dikerjakan oleh wanita dan sesuai dengan etika Islam.
tidak sedikit pula wanita muslimah yang sangat menonjol pengetahuannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Aisyah RA adalah contoh wanita muslimah yang sangat dalam pengetahuan agamanya, meriwayatkan banyak hadist serta dikenal kritis dan cerdas. Asy-Syaikhah Syuhrah yang digelari sebagai Fakhr An-nisa (kebanggan perempuan) adalah salah seorang guru dari Imam Syafi’i. Ratu Rukhayah, istri dari Raja Akbar dari dinasti Mughal di India, terkenal karena kemampuannya menguasai banyak bahasa dan kecerdasannya dalam mengelola negara bersama Raja Akbar. Terdapat juga Ummu Salamah yang terkenal cerdas dan berjasa memberikan masukan kepada Rasulullah SAW pada momen Perjanjian Hudaibiyah. Kemudian Ummu Hani’ yang sikapnya dibenarkan oleh Rasulullah SAW ketika memberikan jaminan keamanan kepada sebagian orang musyrik.
syasya "umi lalu ciri-ciri wanita penghuni surga itu apa? syasya ingin menjadi salah satunya umi"
umi Aisyah "Ada satu sifat yang disebutkan oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam diantara sifat penghuni surga. Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Dan istri-istri kalian yang akan masuk surga yaitu yang berusaha meraih kecintaan suami (penyayang), yang subur (mudah beranak banyak), serta yang senantiasa kembali kepada suaminya, yaitu jika suaminya marah maka diapun segera datang kepada suaminya dan meletakkan tangannya di tangan suaminya dan berkata: ‘Wahai suamiku, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak sampai engkau maafkan aku (ridha kepadaku)’.”
(HR An Nasāi dalam As Sunan Al Kubra 5/361, Ath Thabrāni dalam Al Awshath 6/11, dishahihkan oleh Syaikh Al Albāni karena syawahidnya (Ash Shahīhah 1/578 no 287), dari shahābat Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallāhu ‘anhu).
Istri-istri Nabi SAW semuanya menjadi penghuni surga. Mereka adalah Khadijah binti Khuwailid RA, Saudah binti Zumah RA, Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq RA, Hafshah binti Umar bin Khaththab RA, Zainab binti Khuzaimah RA, Hindun binti Abi Umayyah RA (Ummu Salamah), Zainab binti Jahsy RA, Juwairiyah binti al-Harits RA, Shafiyah binti Huyaiy RA, Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan RA, dan Maimunah binti al-Harits RA.
wanita selain istri-istri Nabi SAW pun memiliki peluang menjadi penghuni surga sepanjang memiliki keutamaan dalam hal keimanan, ketakwaan, dan akhlak. Maka, peliharalah keimanan, ketakwaan, dan akhlak masing-masing.
Dalam salah satu sabda Nabi SAW disebutkan wanita lebih “mudah” menjadi penghuni surga dibandingkan pria. Beliau bersabda, “Apabila wanita (istri) telah menunaikan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara harga dirinya, dan menaati perintah suaminya, maka di akhirat dipersilakan masuk surga dari pintu mana (saja) yang dia suka (sesuai pilihannya)” (HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).
semoga kita bisa menjadi wanita penghuni surga dan kita diizinkan untuk berkumpul di surga kelak.
mereka pun mengamini apa yang umi Aisyah ucapkan.
syasya "umi kalau misalnya suami melarang kita berhijab jika sedang bersamanya apa tidak apa-apa kita menurutinya?"
umi Aisyah "kalau di rumah ya tidak apa-apa jika kalian hanya berdua dan tidak ada orang lain, lebih baik di kamar jika membuka hijab untuk suami karena di kamar kan hanya berdua"
syasya "oh gitu ya mi, terima kasih ya umi"
umi Aisyah "iya sama-sama nak"
syasya "papa ayo kita pulang aku pengen makan"
papa rey "makan disini saja sya"
syasya "syasya mau pizza"
papa rey "bisa order online kan"
angel "iya sya order online aja aku juga mau yang banyak cheese nya"
fadhil "lah kamu bangun? bukannya tadi tidur?"
angel "dengar pizza aku jadi bangun"
fadhil "yaudah mas order dulu"
__ADS_1
syasya "aku juga kak"
fadhil "iya, yaudah sekarang masuk rumah angin malam tidak baik untuk kita terima kalian ibu hamil"