
sore harinya papa satria dan papa ferdinand sekeluarga tiba di kediaman papa rey.
kania "aaaa ada umiiiiii"
umi Aisyah "iya nak umi di sini, kamu apa kabar?"
kania "alhamdulillah baik umi, umi sendiri bagaimana kabar nya?"
umi Aisyah "alhamdulillah umi baik juga nak"
kania "alhamdulillah"
fira "umiiiii, umi kapan sampai"
umi aisyah "eh nak fira, tadi pagi nak"
mama tamara "kalian ini bikin heboh"
mama evilia "oh ya ini ada sedikit oleh-oleh"
angel "terima kasih mama ev"
mama evilia "iya sama-sama"
papa rey "yang cowok-cowok kita ke taman belakang aja yuk dari pada dengerin ibu-ibu heboh disini"
angel "yaudah nanti angel buatkan minumnya"
kania "kak nafisa ada ngidam nggak?"
kak nafisa "ada sih kenapa?"
kania "gapapa mau tanya aja kakak udah ngidam apa aja?"
kak nafisa "hanya bakso jumbo aja sama spagetti"
kania "serius?"
kak nafisa "iya"
fira "kak naf susah makan nggak?"
kak nafisa "banget, kalian emang pernah ngidam apa aja?"
kania "kita banyak kak salah satunya ya dengerin kak fadhil ceramah, bahkan pak kyai dan umi juga pernah kita mintai ceramah"
kak nafisa "kalian serius?"
kania "iya kak"
kak fatimah "kok tiba-tiba aku pengen denger fadhil ceramah ya, rasanya sudah lama sekali tidak mendengar dia tausiyah lagi"
angel "hah aku bosan dia terus saja tausiyah kak"
kak nafisa "iya juga ya kak lama sekali kita tidak mendengar tausyiah fadhil, wajar dek kamu bosan pasti fadhil sering menceramahi mu kan"
angel "banget apalagi kalau aku.... eh gak jadi deh"
umi aisyah "sudah-sudah sana kalau mau dengerin fadhil ceramah di taman belakang biar twins umi yang jaga"
mama evilia "mama juga jaga twins aja ya"
mama tamara "mama juga kalian ke belakang aja oke"
angel "yaudah fir lo bantuin gue ambil camilan dan minuman ya"
fira "oke ngel"
kak fatimah "kakak ke belakang dulu ya dek"
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
di taman belakang rumah papa rey....
papa satria "loh kalian ngapain kesini? udara malam tidak baik untuk ibu hamil loh"
papa ferdinand "iya kalian ke rumah sana"
kania "enggak ah orang aku kangen sama suamiku"
papa rey "astaga kalian ini, kalau mau kangen-kangenan sana ke kamar ngapain kesini"
papa ferdinand "tau nih sana fa bawa istrimu ke kamar"
kania "gak orang kania mau di sini"
tak lama angel dan fira datang ke taman belakang dengan membawa camilan dan minuman.
fadhil "sayang kamu juga kesini? anak-anak gimana?"
angel "sama umi dan mama ev juga mama tam mas"
papa rey "kalian ini kalau bermesraan sana ke kamar"
angel "loh bukan nya kak fatimah dan kak nafisa pengen dengerin ustadz tampanku tausiyah ya? kok diam-diam aja"
kak dav "dek kamu mau dengerin fadhil tausiyah?"
kak nafisa "kak fatimah yang ingin denger aku ngikut aja tadi"
kak rasyid "bener sayang kamu mau denger fadhil tausyiah?"
__ADS_1
kak fatimah "iya mas, gak tau kenapa aku tiba-tiba pengen aja gitu"
fadhil "mbak-mbak ku yang cantik ini sudah malam loh kalian mending istirahat"
kak fatimah "mas adekmu jahat banget sih hiks hiks hiks"
angel "lah kok nangis? jangan-jangan...."
pak kyai "jangan-jangan apa nak?"
angel "eh bukan apa-apa bi, besok aja deh abi tanya ke kak rasyid hehehehe"
pak kyai "kamu ini nak"
kak rasyid "dek tausyiah dong kakak mu nangis ini loh"
angel "mas turuti aja deh seperti nya kak fatimah hamil muda tapi belum sadar dia nya" bisik angel pada fadhil
fadhil "yaudah iya-iya mau bahas apa?"
kak fatimah "apa aja yang penting dengerin kamu tausiyah dek"
kak nafisa "istri sholihah"
fadhil "Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
Bismillahirrohmaanirrohiim, Alhamdulillaahirobbil aalamin, Ashadu allaa ilaaha illolloh, Wa’ashadu anna Muhammadarrosuululloh, Allohumma solli alaa sayyidinaa Muhammad wa alaa aali sayyidinaa Muhammad, Amma ba’du.
Seorang istri merupakan pendamping bagi suaminya, sekaligus ibu dari para generasi yang akan menegakkan izzah dan dakwah Islam di muka bumi. Tugasnya yang sangat penting dan vital tersebut menjadikan ia harus memiliki ilmu yang mumpuni sehingga tujuan tercapai dengan sesuai dengan harapan.
Ketika Umar ibnul Khathab radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab,
لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَاناً ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ
“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856).
Seorang istri sholehah akan selalu memberikan perhatian dan penampilan terbaik saat sang suami menjalankan tugasnya. Ia menjalankan semua perannya karena berharap pahala semata dari Allah Subhanahu wa taala.
Saat suami dan anak-anak menghadapi kesulitan, maka istri sholehah akan menjadi bagian dari pemberi solusi. Istri hendaknya dapat mengambil peran untuk membantu mereka dalam menyelesaikan permasalah yang dihadapi.
Ibunda Khadijah adalah salah satu contoh profil seorang istri sholehah. Sikap tenang, riang, dan tanpa mengeluh atas segala problematika yang dihadapi serta selalu menjadi pendukung terbaik bagi dakwah suaminya menjadikan beliau berhak mendapatkan cinta Allah dan sebuah istana di surga yang penuh nikmat. Ibunda Khadijah mampu menggantikan segala kegundahan yang dialami Rasulullah dalam menjalani dakwah, menyebarkan agama Islam.
Tentu untuk menjadi seorang istri sholehah, tidak langsung terbentuk secara singkat dan instan. Banyak ilmu, proses pematangan, dan ujian yang harus dipelajari dan dilalui agar ia benar-benar memiliki kompetensi dan terbukti sebagai seorang istri yang shalehah.
Dalam HR Ahmad, Nabi SAW pernah bersabda, "Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga *********** dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau'."
Dalam pernikahan, suami bisa menjadi surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhoan suami menjadi keridhoan Allah. Istri yang tidak diridhoi suaminya karena tidak taat, dikatakan sebagai istri yang durhaka atau kufur nikmat.
Dalam HR Bukhari Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Ia melihat wanita merupakan penghuni neraka terbanyak. Seorang wanita bertanya mengenai alasan hal tersebut. Nabi menjawab di antaranya karena wanita banyak yang durhaka pada suaminya.
Dalam surat An-Nisa ayat 34, Allah SWT berfirman, "Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya."
Dari Abu Hurairah ra, Ia berkata, "Pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci"."
Rasulullah SAW pernah bersabda tentang sifat wanita penghuni surga. Ia berkata, "Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni Surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya yang apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, 'Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha'."
Dikisahkan pada zaman Rasulullah, ada seorang wanita yang datang dan mengadukan perlakuan suaminya kepada Rasul. Dari Hushain bin Mihshan, bahwasanya saudara perempuan dari bapaknya (yaitu bibinya) pernah mendatangi Rasulullah karena ada suatu keperluan. Setelah ia menyelesaikan keperluannya, Nabi bertanya, "Apakah engkau telah bersuami?" Ia menjawab, "Sudah." Beliau bertanya lagi, "Bagaimana sikapmu kepada suamimu?", Ia menjawab, "Aku tidak pernah mengurangi (haknya) kecuali yang aku tidak mampu mengerjakannya." Mendengar hal itu Nabi menjawab, "Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) Surgamu dan Neraka."
Kewajiban lain dari seorang istri adalah benar-benar menjaga amanah suami di rumahnya. Baik menjaga harta suami hingga rahasia-rahasianya, dan bersungguhnya-sungguh mengurus urusan-urusan rumah. Rasulullah SAW bersabda, "Dan wanita adalah penanggungjawab di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban."
ciri-ciri istri sholehah adalah..
Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى
“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)
Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.
Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma’ bintu Yazid radhiallahu ‘anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?” Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ
“Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Adabuz Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid (pendukung) yang menjadikan hadits ini shahih atau paling sedikit hasan)
Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ
“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”.
(HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarah Muslim.”)
Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta‘ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.”
(HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ
“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.”
__ADS_1
(HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)
Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan yang syar‘i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut terhadap berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)
إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ
“Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).”
(HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436)
seorang istri (nusyuz), jika istri terus bermuka masam di hadapan suami, padahal suami sudah berusaha berwajah seri, berkata dengan kata kasar, padahal suami sudah berusaha untuk lemah lembut, zaman sekarang istri yang bekerja lebih sibuk dengan urusan kerjanya daripada suami, lebih sibuk dengan HP nya dari pada perhatian kepada suami, atau ada nusyuz yang lebih terang-terangan seperti selalu enggan jika diajak ke ranjang, keluar dari rumah tanpa izin suami, menolak bersafar bersama suami, maka hendaklah suami menyelesaikan permasalahan ini dengan jalan yang telah dituntukan oleh Allah Ta’ala.
Padahal Allah Ta’ala berjanji kepada para hambanya baik laki laki maupun perempuan beriman yang melakukan setiap amal sholih dengan niat karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah, maka akan diberikan pahala surga, sebagaimana firmanNya,
مَنْ عَمِلَ صٰلِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 97)
Janji Allah ini ditujukan kepada orang yang beramal sholih. Yang dimaksud dengan amal sholih ialah amal perbuatan yang mengikuti petunjuk Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, baik dia laki-laki ataupun perempuan dari kalangan anak Adam, sedangkan hatinya dalam keadaan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan bahwa amal yang dilakukannya itu merupakan amal yang diperintahkan serta disyariatkan dari sisi Allah. Maka Allah berjanji akan memberinya kehidupan yang baik di dunia, dan akan memberinya pahala yang jauh lebih baik daripada amalnya kelak di akhirat
Memberikan doa untuk suami adalah sebuah kewajiban untuk seorang istri. Bukan hanya mendoakan, istri juga harus senantiasa menjaga sikap dan tutur kata ketika berbicara pada suaminya. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Rasulullah yang berbunyi:
فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ.
Yang artinya: Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) Surgamu dan Nerakamu.
Dikarenakan suami adalah tulang punggung keluarga yang telah bekerja keras untuk menghidupi anak dan istrinya. Untuk itu, sudah sepatutnya sebagai seorang istri hendaknya selalu mendoakan kebaikan dan keselamatan untuk suami.
nah ini ada sedikit kisah wanita sholehah...
seorang wanita atau istri sholehah yang taat kepada suaminya, tidak mendatangi panggilan orang tua dan keluarganya di saat ibunya sedang sakit parah, lantaran si wanita tersebut mengemban amanah / pesan suaminya yang pergi jihad yang melarangnya untuk keluar rumah sebelum suaminya pulang. Namun meskipun tidak menjenguk ibunya yang sedang sakit parah dan bahkan sampai meninggal dunia, Ibu si wanita sholehah ini diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT lantaran memiliki anak yang patuh dan taat kepada seorang suami.
Ketika Rasulullah SAW masih hidup, tersebutlah seorang istri yang shalihah. Wanita setia ini begitu taat serta setia terhadap suaminya. Suatu hari, suaminya pergi berjihad untuk agama, sang suami hendak pergi memenuhi panggilan suci untuk berjihad dirinya beramanat pada istrinya.
“Istriku tersayang yang kucintai, aku akan pergi untuk berjihad meninggikan kalimat-kalimat Allah, sebelum aku kembali pulang dari berjihad, kamu jangan pergi kemanapun dan jangan keluar dari rumah ini”.
Setelah berpesan demikian pada istrinya, berangkatlah si suami menuju medan jihad.
Beberapa hari kemudian, datanglah seseorang kepada wanita tersebut yang mengabarkan bahwa ibunya sedang sakit parah. Orang yang diutus tersebut mengatakan pada wanita sholihah itu untuk segera menjenguk ibunya.
“Ibumu saat ini sedang sakit keras, jenguklah dia sekarang”
Dengan gelisah wanita tersebut menjawab; “Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, bukannya tidak mau menjenguk, tapi saya dilarang keluar rumah sebelum suami saya pulang, tolong sampaikan permohonan maaf dan salam saya pada Ibu”. Dan si utusanpun pulang tanpa membawa wanita tersebut.
Malam berlalu dan suami yang berjihad belum juga pulang. Keesokan harinya datang kembali seorang utusan yang mengabarkan bahwa ibu wanita tersebut meninggal dunia. Betapa sedih perasaan wanita sholehah ini, air matanya berlinang mendengar kabar ibu yang dicintainya telah pergi untuk selama-lamanya, bahkan disaat terakhirnya dia tidak berada disampingnya.
Utusan tersebut berkata “sekarang Ibumu telah tiada, datanglah untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum beliau akan dikebumikan hari ini”. Namun istri yang shalihal ini sambil mengangis tersedu menjawab “Bukannya saya tidak mencintai ibu saya, tapi saya memegang amanah suami saya untuk tidak keluar rumah hingga dia pulang dan memberi saya izin”.
Dengan berat utusan tersebut pulang. Mungkin karena kesal dan heran dengan sikap wanita tersebut yang tidak mau datang walaupun ibunya sakit keras hingga meninggal dunia, si utusan pun akhirnya mengadukan permasalahan ini kepada Rasulullah SAW.
Dengan nada sedikit kesal ia berkata kepada Nabi SAW “Wahai Rasulullah, wanita itu sangat keterlaluan, dari mulai ibunya sakit hingga meninggal dunia dia tidak mau datang untuk menemui ibunya”
Rasulullah SAW bertanya “Kenapa dia tidak mau datang menemui ibunya?”
“Wanita itu mengatakan bahwa dia t idak mendapat izin untuk keluar rumah sebelum suaminya pulang berjihad” Jawab utusan yang mengadu ke Rasulullah SAW tersebut.
Lalu Rasulullah SAW tersenyum, kemudian Beliau berkata “Dosa-dosa ibu wanita tersebut diampuni oleh Allah SWT karena dia mempunyai seorang puteri yang sangat taat terhadap suaminya”.
Itulah kisah seorang istri yang sholehah yang patuh dan taat kepada suaminya yang pada akhirnya mampu mengantarkan ibunya ke surga karena dosa-dosa ibunya telah di ampuni oleh Allah SWT lantaran memiliki anak yang sholehah, taat kepada suami.
nah begitulah sedikit kisahnya.....
disamping banyaknya keistimewaan yang Allah berikan, tersimpan pula berbagai ujian berat yang harus dijalankan oleh para wanita, diantaranya wanita harus merasakan derita saat menjalani kehamilan, sakitnya melahirkan, letihnya mengurus rumah serta mendidik anak. Hingga akhirnya Allah memberikan kabar gembira bagi para wanita, melalui sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam :
“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad)
Amalan pertama yang bisa membuat wanita masuk surga dari pintu mana saja adalah salat. Seperti yang kita ketahui, salat merupakan bagian dari rukun islam. Salat jugalah yang kelak menjadi amal pertama yang akan dihisab.
“Amal yang akan dihisab pertama kali dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Jika baik salatnya, baik pula seluruh amalnya. Jika buruk salatnya, buruk pula seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi)
puasa Ramadhan hukumnya wajib untuk dilaksanakan, kecuali bagi wanita yang sedang haid dan nifas. Selain itu juga ada keringanan bagi wanita yang sedang hamil dan menyusui. Puasa Ramadhan merupakan amalan penting yang memiliki banyak hikmah dan keutamaan, diantaranya agar kita bisa mencapai derajat takwa.
yang kedua Puasa di bulan Ramadhan tak cukup hanya dengan meninggalkan makan, minum, serta hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa. Kita juga dilatih untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa, seperti berdusta dan melakukan perbuatan yang sia-sia, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam,
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.” (HR. Thabrani)
yang ke tiga Sebelum datang Islam, seluruh manusia memandang hina kaum wanita. Orang-orang Yunani menganggap wanita sebagai sarana kesenangan belaka. Orang-orang Romawi memberikan hak atas seorang ayah atau suami untuk menjual anak perempuan atau istrinya.
Kemudian cahaya Islam datang menerangi kegelapan itu dengan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, memerangi segala bentuk kezaliman dan menjamin setiap hak para wanita tanpa kecuali, seperti sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729).
Ah, betapa islam sangat memuliakan para wanita layaknya mutiara yang harus dijaga. Untuk itu, banyak aturan islam yang dibuat demi melindungi dan menjaga kemuliaan wanita itu sendiri, diantaranya perintah menutup aurat, menjaga kehormatan di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur dengan mereka, lebih banyak tinggal di rumah, menjaga pandangan, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah, tidak merendahkan suara, dan lain-lain
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb [33]: 33)
yang ke 4 Sebagai seorang istri, kita diperintahkan untuk taat kepada suami dalam berbagai hal selama tidak bertentangan dengan syariat. Bahkan, setelah ijab kabul terucap, suamilah yang harus lebih dahulu ditaati dan dipenuhi hak-haknya dibandingkan kedua orang tua kita.
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
“Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai)
nah sekarang sudah cukup larut kita akhiri tausyiah kali ini wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
__ADS_1